
Pemuda itu terus berjalan dan mencari buah-buahan tetapi selama ia berjalan tidak ada yang ia temukan. Pemuda tersebut menggaruk kepala tidak gatal melihat sekelilingnya dan menggunakan mata tembus pandang,melihat sungai tidak jauh dari tempat ia berdiri.
Langkahnya ia percepat menuju sungai yang ia temukan. Di belakang ada seorang pemuda tengah mengikutinya diam-diam ia mengikuti Beni ke sungai.
Pemandangan yang indah dan tenang, air sungainya pun masih jernih dan bening. Beni melihat ke sungai itu di dalamnya banyak sekali ikan yang berenang bebas. Seulas senyum menerka di bibirnya. Ia bisa mancing disini sementara waktu. Mungkin teman-temannya sudah kembali.
Pemuda itu mencari sesuatu yang bisa ia buat pancingan. Beni mencari ranting pohon yang kuat dan tali,Beni menepuk jidatnya pelan. Mana bisa ia memakai tali kalau dari tumbuhan bisa patah jadi ia akan mencari batu yang memiliki pucuk lancip.
Beni mencari batu yang di carinya selama beberapa menit kemudian ia berhasil menemukannya dan diikatnya daun agar tidak kendor. Setelah selesai dengan senjata tombak buatannya sendiri ia menuju kembali ke sungai mencari ikan. Sebelum menangkap ikan, Beni membasuh muka dan meminum air sungai yang sangat menyegarkan.
Lalu ia masuk kedalam sungai dan mengambil tombaknya. Ia melihat begitu banyak ikan disini. Beni menancapkan tombaknya dan diangkatnya. Ia berhasil mendapatkan satu ekor sambil berseru.
"Yes, aku berhasil mendapatkan satu ekor. Aku butuh tujuh ekor lagi."ucapnya dengan api membara, bersemangat. Ia menaruh ikannya ke tepi sungai lalu mencari lagi,kali ini ia terlihat kesusahan hampir bisa mendapatkan satu lagi tapi ikannya udah kabur.
"Kok jadi susah?"tanyanya pada dirinya sendiri. Beni mengangkat tombaknya lagi ternyata ikatnya mulai kendor. "Cih, memang kalau bukan tali itu susah."gerutunya kembali ke tepi sungai dan membenarkan ikatan di tombaknya.
Pemuda yang sedari tadi mengawasi Beni keluar dari tempat persembunyiannya dan berdiri tepat di belakang Beni. Dahi pemuda itu mengkerut ia bisa merasakan kalau ada seseorang di belakangnya, menoleh mendapati Riko sudah berdiri di belakangnya.
"Riko?"panggilnya pelan sedikit terkejut melihat kehadirannya disini setelah menolak ajakan Beni dan menjawab pertanyaan ketus. "Kau berubah pikiran ya?"tanyanya kembali berbalik membelakangi Riko dan membenarkan tombaknya.
Riko mengintip sebentar dan menghadap ke sungai yang bersih disini. Ia melihat bayangan di air itu, muka datar dan serius, serta cuek. Menghela nafas kasar melirik ke arah Beni yang masih sibuk dengan tombaknya.
"Kau tidak perlu susah-susah masuk ke sungai dan mencari ikan yang berenang sangat cepat dengan tombak yang tidak berkualitas itu."ucapnya dingin nan terkesan menyindir.
Beni berhasil membenarkan tombaknya dengan pengikat yang kuat. Menoleh melihat Riko meliriknya dengan tatapan tidak suka. "Sembarangan aja kalau bicara. Ini tombak adalah senjata zaman dulu biasanya orang zaman dulu menggunakan tombak, panah sebagai alat memburu hewan untuk mereka makan. Kalau tidak ada senjata berarti mereka tidak akan makan yang bernutrisi. Ubi pun tidak cukup untuk seluruh tubuh mereka."jawab Beni ikutan ketus.
Ia sudah muak dengan sikap sebenarnya dari Riko,apa dia memang memiliki sifat cuek dan suka menyindir seseorang tanpa di saring terlebih dahulu. Beni kembali masuk ke dalam sungai berjalan mencari ikan sedangkan Riko hanya menatap Beni dengan tatapan dingin, tidak peduli.
Ia melihat Beni begitu lama menangkap ikan lalu berhasil mendapatkan satu ekor ikan dan ikan itu ia taruh di tepi sungai berjajar dengan ikan, penangkapan awal. Riko tidak bisa menunggu Beni selama ini membuang waktu saja.
__ADS_1
Mendongak ke atas matahari pun ingin menyudahi hari yang menyebalkan ini, berlaku untuk Riko. Andai saja aku tadi bertukar dengan mobil milik Zian mungkin aku tidak akan terjebak di hutan ini gara-gara kekuatan Aska yang tiba-tiba muncul--batin Riko menggerutu.
Riko menatap ke depan dengan serius dan fokus,mulutnya terbuka perlahan, "Penghentian waktu!"serunya dengan suara berat.
Daun bergoyang dihembus angin berhenti, burung yang melintas berhenti, ikan yang ada di sungai berhenti dan air juga berhenti mengalir. Yang bergerak hanya Riko dan Beni.
Pemuda itu terkejut apa yang sebenarnya terjadi semua makhluk berhenti. Ia menoleh ke arah Riko yang masih berdiri di tepi sungai dengan wajah datarnya. Kedua mata Beni melebar tidak percaya, di pikirannya bertanya-tanya dan menebak kalau Riko memiliki kekuatan Pengendali waktu.
Akhrinya Beni berhasil mendapatkan ikan yang cukup berkat kekuatan milik Riko. Ia memasukkan semua ikan ke dalam tas yang ia buat dari dedaunan. Beni menyuruh Riko mengambil air buat minum. Waktu kembali normal semuanya sudah menjadi sedia kala, Riko sama sekali tidak mengomentari perkataan Beni. Ia langsung mengerjakan apa yang Beni katakan.
Pemuda itu tidak ingin adu mulut dengan Beni lagi nanti telinganya bisa panas belum lagi omelan dari gadis pelari cepat itu, Fitri. Mereka berdua berjalan ke tempat perkemahan, titik penemuan yang tadi ia kasih tongkat sebagai tanda kalau mereka sudah sampai ke tujuan.
Beni takut kalau nanti teman-temannya tersesat jadi ia kasih tanda itu. Di pertengahan jalan tiba-tiba terdengar suara amukan dari hewan yang besar membuat langkah mereka berhenti mendongak.
"Suara apa itu?"tanya Beni mencari asal suara hewan tersebut.
Beni menggunakan kekuatan tembus pandangnya mengecek ke depan mencari hewan besar apa yang berbunyi tadi. Pemuda itu tidak bisa melanjutkan mata tembus pandangnya karena tempatnya sangat jauh. Ternyata Arkan, Anggi sudah sampai di tempat perkemahan.
Beni menyuruh Riko mempercepat langkahnya menuju perkemahan. Di tempat titik awal,perkemahan. Arkan dan Anggi sudah meletakkan kayu bakar di sebelah mobil--keduanya terkejut mendengar suara menyeramkan yang sangat keras dari jalan dimana Aska dan Lidya berada di sana.
Mata Anggi melebar,"jangan-jangan mereka dalam bahaya,Arkan."ucapnya menggigit jarinya mulai ada rasa kegelisahaan dan jalan mondar-mandir.
Arkan mengambil peralatannya untuk mengecek kejadian yang sebenarnya. Ia membuka pintu mobil Pandu dan menyalakan mobil sementara. Anggi melihat apa yang dilakukan oleh Arkan,"sedang apa kau Arkan? Apa kau akan mencari mereka dengan mobil Pandu?"tanyanya dibalas gelengan.
"Bukan,"jawabnya cepat dan menekan tombol di samping setir mobil,"aktifkan kamera pelacak segera!"perintah Arkan pada mobil tersebut.
Sensor mobil itu menerima perintah Arkan secara otomatis sensor tersebut mengaktifkan apa yang di perintahkan. Mobil itu mengeluarkan seekor kupu-kupu robot lalu kupu-kupu tersebut keluar dari mobil menuju ke tempat asal suara itu.
Anggi melihat kupu-kupu tersebut mengarah ke jalan Lidya dan Aska, mulai memburu hewan. Mulutnya menganga melihat apa yang belum ia tahu tentang mobil Pandu ini. Ia berbalik dan menatap Arkan tidak percaya.
__ADS_1
"Kau kasih apa aja ke mobil Pandu. Kenapa ada kupu-kupu robot yang bertugas sebagai kamera pelacak?"tanyanya sedikit bingung menata kalimat.
Arkan memindahkan map yang ada di mobil pandu ke jam tangan androidnya jadi mobil Pandu bisa dimatikan. Ia menoleh kearah Anggi dengan senyuman tipis, "aku melakukan upgrade ke mobil Pandu dan si pemiliknya tidak keberatan."
"Berapa lama kau mengupgrade mobil ini?"tanyanya serius.
"Ya, tiga bulan. Dan ini pertama kalinya terjun ke area. Rencananya mobil ini aku kasih senjata di sisi badan mobilnya."ucapnya tersenyum.
Mata Anggi terbelalak kaget mendengar jawaban Arkan yang santai begitu dan ingin merancang lagi di mobil Pandu kali ini senjata. "Gila!"pekiknya.
Dua pemuda itu sudah sampai dan mereka segera menaruh semua barang-barang yang mereka bawa ke bagasi mobil. Arkan menoleh kebelakang melihat Beni dan Riko sudah sampai. Riko mengambil botol besar kosong yang kebetulan berada di belakang kursi mobil. Ia menuangkan semua air di dalam botol tersebut. Arkan turun dari mobil menghampiri Beni.
"Aku tadi mendengar suara hewan yang mengaum suara keras. Dan darimana suara itu berasal?"tanya Beni to the point.
Anggi menunjuk ke arah jalan dimana Aska dan Lidya menuju kearah sana.
"Hmm, Fitri dan Pandu sudah datang kesini?"Arkan menggeleng,"sepertinya mereka tidak akan datang kesini deh."
Beni kembali menggunakan kekuatannya dan melihat dua orang yang ia cari sedang berlari menuju tempat kejadian. Untunglah Pandu memiliki kekuatan yang hampir mirip dengan Beni hanya saja perbedaannya kekuatan Pandu bisa menambahkan atau melumpuhkan fungsi panca indera dan anggota tubuh lainnya, tanpa menyentuh musuh.
"Mereka sudah menuju ke sana jadi kita harus pergi kesana!"ucap Beni dibalas angguk Anggi dan Arkan. Mereka bertiga menuju ke tempat lokasi. Riko memandang mereka bertiga sangat memperdulikan orang lain daripada nyawa mereka sendiri.
Mereka memutuskan sesuatu tanpa merangkai strategi dan berlari ke tempat dimana kedua anak yang sekarang dalam bahaya.
Mereka ternyata bodoh bertindak tanpa strategi dan langsung membuat keputusan tanpa berpikir panjang kalau begitu, musuh akan mudah untuk mengalahkan kalian--batin Riko tersenyum tipis.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung....
__ADS_1