Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Lima Puluh Dua:Curhat


__ADS_3

    Cuaca hari ini begitu cerah, langit biru bagai laut dengan kapas-kapas putih terbang dan membuat siapa saja yang tidur di atas kapas terbang itu,tidur dengan nyenyak disambut angin sepoi-sepoi yang tenang. Air mancur terlihat sangat Indah di tengah taman berbentuk lingkaran. Banyak orang-orang berlalu lalang di taman tersebut dan ada juga yang berselfi ria atau duduk-duduk menikmati suasana cerah, menemani anak-anak bermain.


  Langkah kaki berjalan santai mengelilingi taman dengan mengantong kedua tangan di jaket abu-abu, topi jaket yang selalu ia pakai menutupi sebagian wajahnya.  Meski ia setiap hari merasa ceria seolah tidak terjadi apa-apa tetapi kejadian yang menimpanya di sekolah masih membekas di hatinya. Helaan nafas kasar, langkahnya berjalan dan kepalanya mendongak melihat seluruh taman.


Matanya menyipit melihat seorang gadis yang di kenalnya duduk sendiri, kepala menunduk sambil memainkan jari-jari tangannya. Ada rasa dilema, takut dan kegelisahannya. Gadis itu memakai pakaian berlengan panjang dan ada topi di pakaiannya, celana robek-robek. Pemuda itu memutuskan menghampiri gadis itu yang bisa ditebak adalah Lidya.


   Mendengar ada langkah kaki menghampiri dirinya,mendongak kepala melihat siapa yang datang ia melihat cara berpakaian pemuda yang sudah berdiri di depannya, tersenyum miring. Lidya menggeser tempat duduknya menyuruh Yusuf duduk di sampingnya tanpa berkata.


   Yusuf sempat bingung dengan Lidya, selama liburan ia tidak pernah terlihat sama sekali dan ini pertama kali ia bertemu dengan Lidya keluar rumah. Ya, jatah liburan semester ganjil dan tahun baru akan berakhir hanya tinggal menghitung hari,tahun baru akan tiba dan memulai sekolah di tahun baru.


  Ia melirik gadis itu yang hanya diam seolah keberadaan pemuda tersebut, tidak ada. "Kau kenapa,lid?"tanyanya hanya keheningan di antara mereka sesekali keadaan sekitar yang ramai lah yang memecahkan keheningan di antara mereka. Suara-suara anak kecil yang bermain bahagia dan suara rengekkan tidak dibelikan barang yang diinginkan.


  Lidya masih diam dan terus memainkan jarinya. Bibir pemuda itu terangkat, menoleh melihat pipi tiris gadis itu dan rambut yang menutupi daun telinga. Beberapa helaian rambutnya bergoyang karena angin. "Apa yang terjadi?kau bisa bilang padaku atau seorang gadis yang selalu mengatakan curhat..."ucap Yusuf mengerutkan dahinya dibalik tudung jaketnya, sedikit berpikir,"...Ya,Curhat. Kau bisa curhat padaku tentang masalahmu."lanjutnya yakin dan menyuruh Lidya curhat padanya. Pemuda itu tersenyum.


"Aku akan mendengarkan sebaik mungkin."kata Yusuf lagi kali ini dengan perasaan senang dan ceria.


  Lidya menoleh menatap Yusuf yang tersenyum, tudung pemuda itu sedikit terangkat jadi ia bisa melihat pemuda tersebut. Ketika awal bertemu di bus Yusuf adalah pemuda yang datar, tidak pernah tersenyum ataupun berbicara banyak hal. Berkat kekepoan Lidya saat di halte---hujan begitu derasnya mengguyur tidak ada henti seperti suasana hati Yusuf yang hampa. Menganggap dirinya hantu atau hanya parasit saja.


Yusuf kala itu menceritakan semua unek-uneknya pada orang yang baru ia kenal beberapa menit lalu. Tidak peduli dengan apapun apakah orang itu akan menceritakan pada teman-teman semua permasalahan Yusuf. Kata-kata itu keluar begitu saja seperti angin bertiup kencang menerbangkan benda apapun yang ada di hadapannya.


  Sekarang, di suasana cerah ada suasana mendung yang gelap di hati Lidya. Ia takut sekaligus bingung dengan mimpi buruknya kemarin. Yusuf mendengarkan semua cerita dari Lidya. Menyimak ceritanya sambil menyimpulkan. Percaya dengan tahayul pada jaman modern seperti ini--itu lucu.


Tetapi bagi gadis bernama Lidya, mimpi kemarin seperti tidak main-main. Ia mendengar seorang gadis mengatakan,"itu siapa?"suara tersebut seperti suara dirinya. Ini memang membingungkan sangat membingungkan. Ia sendiri sudah kualahan dengan khayalannya apalagi bercampur dengan khayalan orang lain---menjadi kenyataan.


  Tidak hanya itu saja, suara pangeran tumbuhan juga terdengar begitu jelas bahwa ia menyebutkan nama Tomma. Nama laki-laki tetapi ia malah mendengar suara gadis yang menyimpan dendam lama pada pangeran tumbuhan. Johnny Evans pangeran tumbuhan dan Teratai putih lah yang menjadi tempat bersemayam pangeran tumbuhan.


  Yusuf yang mendengar itu terkejut bukan main memang ia tidak tahu tentang hal itu tetapi baginya,ini sulit sekali. Tomma, itu siapa--pikirnya bingung. Karena Joe,khayalan Lidya masih belum ada.

__ADS_1


  Satu benda bening keluar dari kelopak mata indahnya, jatuh membasahi pipi kulit langsat. Pemuda itu menelan ludah,tidak tahu apa-apa tentang semua yang ada di dalam mimpi Lidya. Yusuf menghapus air mata gadis itu lembut. Kedua mata mereka bertatapan,"tidak usah khawatir. Pasti itu hanya mimpi buruk saja. Tidak akan terjadi apa-apa kok. Kan kau masih punya teman-teman yang kuat dan tidak lemah."hibur Yusuf menepuk bahu Lidya pelan.


"Ta-tapi Suf. A-aku takut jika itu beneran dan kekuatan Tomma sangat kuat. A-aku tidak tahu, kekuatan Tomma seperti apa?ia ingin bertempur menantang Pangeran dan menghabiskan semua teman-teman pangeran di bumi."ucap Lidya masih tidak percaya pada Yusuf. Hati kecilnya juga berharap kalau Yusuf benar bahwa itu semua adalah mimpi,mimpi buruk. Yang ingin membuat Lidya ketakutan setengah mati.


  Ia memejankan kedua mata sejenak mencoba tenang dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghela nafas. Menatap Yusuf dengan senyuman,"terima kasih, Suf. Aku sedikit tenang."ucapnya membuat lega Yusuf.


Ia juga senang melihat Lidya sudah tidak ketakutan seperti tadi. Dalam benaknya juga bingung,siapa Tomma? Apakah ia laki-laki atau perempuan dan seberapa kuat kekuatannya sehingga membuat Lidya berpikir yang tidak-tidak.


  Yusuf diam memandang ke depan melihat orang berlalu lalang dan berselfi ria di air mancur itu. Cuaca semakin hari semakin cerah dan membuat rasa haus terasa. Sudah lama hening dan tidak melakukan apapun. Yusuf bangkit berdiri membuat Lidya bingung menatap pemuda itu bangkit dan otaknya menebak bahwa Yusuf akan pulang.


  Yusuf menoleh ke Lidya yang menatapnya bingung. "Mau ke cafe?"ajaknya menyunggingkan senyuman tulus.


Lidya terkejut mendengar ajakan dari Yusuf ia kira akan pergi pulang dan membiarkan dirinya disini. Tebakkannya salah. Lidya mengangguk pelan mengiyakan ajakannya dan bangkit berdiri, berjalan beriringan mengelilingi taman sejenak kemudian pergi ke Cafe.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


  Tidak lama kemudian datang Yusuf membawa nampan berisikan dua gelas white coffe. Pemuda itu tidak suka dimanjakan oleh pelayan cafe dan mengantarkannya ke meja, ia memilih ke kasir dan membawa pesanannya ke meja daripada merepotkan orang lain. Aneh, pikir Lidya.


  Hal itu bagi Lidya wajar saja karena dalam diri pemuda tersebut ada Joe. Imajinasi yang satu ini memang sedikit merepotkan dan terkadang di luar dugaan Lidya sendiri. Ya, Joe itu sifatnya tidak bisa di tebak begitu saja dan paling dasarnya Joe Sugar, teman imajiansi paling polos dan suka sekali bermain bersama anak-anak sesuai pekerjaannya sebagai teman khayalan anak-anak di bawah umur 10 tahun. Jika anak itu sudah berumur 10 tahun dengan berat hati ia akan meninggalkan anak tersebut tidak peduli sedekat apapun ia dengan anak itu, Joe tetap akan pergi dan mencari anak baru lagi.


Sesuai peraturan dalam dunia Zarm--dunia dimana semua orang pemuda-pemudi  di tugaskan mencari seorang anak-anak dan menemani mereka sebelum menginjak umur 10 tahun.


Seulas senyum terukir di sudut bibir Lidya membuat Yusuf yang melihat itu heran. "Kenapa kamu senyum begitu,Lid?"tanyanya membuat lamunan Lidya buyar ketika melamun tentang tempat tinggal Joe Sugar bersama teman-teman pemuda itu di Zarm.


Ia mengedipkan matanya sebanyak tiga kali lalu menggeleng, "Ti-tidak apa-apa kok,Suf. Aku hanya kepikiran untuk melanjutkan nulis ceritaku di dunia oranye. Kau tahu kan,kalau aku banyak tanggungan di aplikasi itu."dusta Lidya ke Yusuf.


Pemuda itu mengangguk-angguk mengiyakan perkataan Lidya barusan. Mereka meminum white coffe masing-masing tidak ada topik pembicaraan yang ingin dibicarakan. Musik di cafe berganti musik semangat agar tidak putus asa. Lidya dan Yusuf yang mendengar musik itu menjadi bersemangat.

__ADS_1


  Yusuf tersenyum dan menatap Lidya,"Lid,bentar lagi kan tahun baru. Aku akan open house dan kau bisa datang kerumahku. Ajak teman-temanmu sekalian SMK Cemerlang."ucap Yusuf tiba-tiba.


Lidya terkekeh mendengar ajakan itu. Makan bersama, tentu saja ia mau sekalian silaturahim pada teman-teman Yusuf di SMA Negeri satu. Ia akan bertemu dengan Farah, Selena dan juga Kevin di rumah Yusuf.


"Baiklah. Aku akan mengajak mereka ke rumahmu. Tinggal hitung hari kan? Aku sudah punya harapan."kata Lidya terkekeh.


Sebelah alis Yusuf terangkat, kepo. "Harapan apa?"


"Harapan, aku bisa melihat semua teman-temanku bahagia dan di beri kesehatan. Tentunya tidak akan pernah kata menyakitkan dalam kehidupan, suka duka kita hadapi dan lewati bersama. Tidak ada kekacauan. Cukup, Eric saja yang membuat jantungku melompat dari tempatnya karena ia saja membuat semua orang gempar."kata Lidya sedikit bercanda dan menyebut nama Eric. Pemuda yang sering tertimpa kesialan di setiap kehidupannya.


Yusuf yang mendengar itu hanya tertawa. Bicara tentang Eric, ia sebenarnya juga prihatin dengan pemuda itu karena selalu ada-ada saja yang membuat suasana kocak. Bola yang tiba-tiba datang dan mengenai kepalanya. Tali sepatunya yang tiba-tiba terikat di sepatu orang membuat Eric jatuh dan makanan di genggaman miliknya ambyar sehingga harga diri Eric rendah.


"Aku kasihan padanya."ucap Yusuf setelah tertawa mendengar cerita Eric yang hampir semuanya lucu.


Lidya menghela nafas dan mengangguk,"aku juga. Ia orang yang belum beruntung. Mendapatkan kekuatan yang baginya terkutuk selalu saja apes. Andai saja ia memiki keberuntungan supaya tidak apes."harapan Lidya bagi Eric. Kedua matanya melirik ke arah luar jendela.


"Ya, andai Eric dekat dengan Bening. Ia tidak akan lagi apes dan harga dirinya kembali sedia kalah sebelum kutukan itu di renggut dari dirinya. Lagipula Bening memiliki kekuatan harapan."ucap Yusuf tiba-tiba membuat Lidya tercengang mendengar solusi keluar begitu saja dari Yusuf.


"Kau benar?"


"Benar apa?"


"Yang kau katakan itu benar. Jika Eric dekat dengan Bening maka ia tidak akan terkena apes."


"Kapan aku mengatakan itu?"polosnya keluar dalam diri Yusuf. Nah ini nih yang membuat Lidya sangat menyukai imajinasi Joe dari ribuan imajinasi miliknya. Ingin sekali mencubit pipi Joe tetapi ia sekarang menjadi Yusuf. Jadi tidak bisa mencubit gemas Joe.


*Jangan Anggap Kami Lemah*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2