Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus Dua Lima: Akhir Peperangan


__ADS_3

"Tomma, aku hancurkan kau sampai tidak terisa."ucap Lidya terbang ke atas. Ia melihat semua teman-temannya menyerang Tomma bersamaan dan beberapa dari mereka harus mati.


Lidya melihat monster tumbuhan dengan kekuatan paling tinggi dan bentuk monster tersebut sangat persis dengan apa yang di lihatnya ketika di alam bawah sadarnya. Keysa berubah menjadi wujud aslinya yaitu Tomma. Sama persis dengan lambang gantungan "unknown".


Lidya sudah tidak mau peperangan ini menjadi panjang. Vana dan lainnya menyusul, mereka langsung menyerang Tomma dengan sigap wanita itu menyerang begitu lihai dan membunuh salah satu dari mereka.


Mata kuning Lidya terbelalak,"Dyah?" air mata sudah membendung di kelopak matanya. Suaranya tercekat, ia melihat serangan monster dan Tomma begitu kuat. Pangeran tumbuhan pun hampir tidak sanggup untuk mengalahkan Tomma.


Wanita penuh kebencian dan pembalasan dendam itu mengeluarkan bayangan hitam sama persis dengan kekuatan milik Meika. Aska melotot tidak percaya,"tidak mungkin!"


Tangan Lidya mengepal kuat ingin mengakhiri semuanya dengan segera. Kedua matanya terpejam berusaha mengumpulkan energi kuat yang ada di dalam tubuh Lidya. Beberapa cahaya muncul di sekeliling Lidya dengan warna berbeda; Biru, Ungu, Merah, Kuning,Hijau dan Emas.


Lalu keenam cahaya tersebut menjelma menjadi orang dengan tampilan berbeda-beda dan salah satu dari mereka ada Jay. Pasti kalian bertanya kenapa Jay berada di sana? Jawabanya adalah Jay termasuk dalam kekuatan hebat, ia bisa membuat semua orang kembali bahagia sesuai dengan kekuatan kharismanya. Dan di sana ada seorang pemuda bermuka datar tanpa ekspresi, pemuda ini pernah bertemu dengan Lidya. Nakula, ia memiliki gelang special.


Gelang yang di pakai Nakula bukan gelang biasa. Accesories itu menyimpan kekuatan besar. Tomma menyerang Aska dengan tinjuannya membuat pemuda itu terjatuh.


"Uhuk,uhuk!"Aska terbatuk-batuk mengeluarkan darah, ia menatap wanita itu memang iblis dan harus di musnahkan.


Tomma ingin membunuh dengan duri tumbuhannya ke Aska. Tiba-tiba Aska tertutup dengan bunga yang tiba-tiba muncul kemudian ada seorang gadis berambut panjang dengan pakaian bak Putri. Tomma sama sekali tidak mengenal gadis tersebut.


"Sebentar lagi kau akan musnah Tomma!"ucapnya geram, "aku akan mengikatmu kuat!"lanjutnya mengikat Tomma dengan kekuatan tumbuhan milik Tera.


"Rasakan apa yang aku rasakan waktu di bangunan terbengkalai itu!"amarah Tera sudah naik ke ubun-ubun sudah waktunya ia membunuh gadis gila yang telah berani menculiknya dan membuat tubuhnya terluka parah.


Pangeran Johnny membantu Tera buat mengikat erat. Sedangkan monster tumbuhan penuh kegelapan, para imajinasi yang tersisa berhasil membunuhnya. Kini giliran Tomma seorang.


"Lepaskan aku!"teriak Tomma menatap tajam ke arah gadis berparas cantik di depannya ini, akan tetapi tidak dengan perlakuannya yang keji. Sepertinya Tomma sama sekali tidak bercemin akan perlakuannya selama di bumi dan tempat tinggalnya, Planet Elementer.


"Melepaskanmu, aku tidak akan pernah melepaskan. Iblis sepertimu."kata Vin yang sudah berada di sebelah Tomma, hanya berjarak satu meter darinya. Namun, aura ketakutan dari tubuh Vin mengarah ke Tomma.


Mata merah wanita itu terbelalak merasakan aura yang dulu tidak pernah ia rasakan selama ini. Aura ketakutan yang menusuk-nusuk, bulu kuduk Tomma seakan berdiri. Dalam hati Tomma terus menggerutu, aura apa ini kenapa aku merasakan kekuatan dari imajinasi lemah. Selama ini kekuatanku paling tinggi di antara mereka, tapi kenapa baru kali ini aku merasakan kekuatan mereka yang seolah tinggi dari kekuatanku. Seperti itulah yang di rasakan Tomma.


"Karena kau di penuhi oleh aura kebencian dan pembalasan dendam. Oleh sebab itu, kau bisa merasakannya. Aura negatif dan aura negatif, bisa di rasakan kalau orang itu memiliki aura negatif."jelas Johnny.


"Dan kau pantas di musnahkan, iblis."kata Vin datar.

__ADS_1


"Tidak! Justru kau juga iblis dan kau pantas untuk ikut di musnakan!"balas Tomma melirik ke arah Vin yang menatapnya dengan datar.


Tio tersenyum tipis. Elle angkat bicara selama ini ia hanya diam disana memerhatikan pertarungan. Ah lebih tepatnya selama awal pertarungan sampai titik sini, Elle sama sekali tidak ikut berperang maupun bertarung. Lalu selama ini Elle berada di mana? Elle hanya membantu dalam jarak jauh, membantu para imajinasi menyerang musuh dengan kekuatan teleportnya.


"Kekuatan kegelapan tidak harus di penjara atau di musnahkan. Jika pemilik kekuatan itu mengerti apa yang harus ia lakukan. Kekuatan kegelapan memang sering di anggap orang lain adalah kekuatan kutukan dan jalan yang sesat. Tetapi jangan salah mengartikan sesuatu yang buruk. Tidak semua pemilik kekuatan kegelapan itu baik seperti Vin."jelas Elle pada Tomma.


"Kalau aku berada di posisimu. Aku akan mengutuk diriku sendiri karena aku menyalahkan kekuatan kegelapanku masuk ke jalan sesat sepertimu."kata Vin nada berteriak.


Johnny menatap Tomma lekat tanpa ekspresi,"aku akan mengakhirimu, Tomma. Peperangan kita akan sampai sini dan tidak ada kata peperangan lagi."ucap Johnny mengumpulkan kekuatan tumbuhan.


Tomma hanya tertawa jahat, ia masih sempat tertawa jahat padahal posisinya sekarang sudah penjemputan ajal. Aska angkat bicara bahwa gantungan kunci unknown berada di dada Tomma. Johnny ingin membunuh Tomma akan tetapi niatnya ia urungkan sementara waktu,membuat wanita berhati iblis itu menyunggingkan senyuman miring.


"Kenapa? Kenapa kau menghentikannya?"tanya Tomma, "aku tahu. Kau tidak akan pernah rela membunuhku bukan. Oh ayolah, kalau kau memberikan aku kekuasaan sebagai Ratu. Aku tidak akan pernah mengajakmu berperang, Johnny."katanya nada sombong. Johnny berdecih kesal menganggapi perkataan Tomma yang selalu tinggi.


Lidya turun dengan mulus menghilangkan sayap elangnya. Ia menatap wajah wanita itu menahan amarah. Akar tumbuhan yang melilitnya tidak akan mudah untuk terlepas. Tomma tersenyum miring melihat Lidya yang ternyata masih hidup, "penulis imajiansi lemah ya?untuk apa kau datang kesini. Membunuhku? Hahaha, tidak semuda itu. Aku sudah kuat dan bekas luka-luka ku pun sudah hilang."


Memang yang di katakan oleh Tomma adalah hal fakta. Luka-luka dari serangan Tasya dan dari pukulan imajinasi lain pun sudah sembuh tanpa ada luka sedikit pun. Karena Tomma menggunakan kekuatan paling dahsyat secara tidak langsung luka-lukanya pun tertutup dan sembuh.


"Tidak untuk selamanya, Tomma. Luka itu akan terbuka dengan sendirinya."kata seorang wanita yang menyunggingkan senyuman. Tomma tertawa, menurutnya itu tidak masuk akal dan tidak mungkin, luka-luka itu akan kembali. Belum berapa menit, Tomma sudah merasakan di sekujur tubuhnya perih.


"Perutmu juga akan merasakan tiga pukulan kuat dan mengeluarkan darah. Sama seperti Lidya waktu itu."kata seorang pria datar nan misterius. Perut Tomma mengeluarkan banyak darah membuat semua orang yang ada disana segera mengeluarkan isi perut mereka melihat luka-luka yang tiba-tiba muncul. Ini seperti film horor.


Tomma mengerang kesakitan, mulai sekarat. Tumbuhan yang melilit Tomma mengeluarkan duri-duri tajam sama seperti ia menyiksa Tera di bangunan terbengkalai itu. Tomma ingin keluar dari lilitan tumbuhan itu namun tidak bisa.


"Bu-bunuh aku!"pinta Tomma sambil berteriak.


"Ini lah siksa bagimu, Tomma. Karena kau tidak pernah sadar atas perilakumu!"ucap pangeran Johnny yang tidak kuasa menahan tangis melihat wanita yang di depannya tersiksa. Ia sengaja tidak membunuh Tomma 500 tahun dan memilih mengikat, menghilangkan kesadarannya sekaligus menyegel kekuatan Tomma.


Akan tetapi kini sudah berbeda. Meski Johnny dan Tomma adalah musuh tetapi orang yang masih punya hati, tidak akan tega melihat siksa di hadapannya. Lidya hanya bisa berdiri mematung melihat Tomma mengerang kesakitan ia juga tidak tega melihat orang tersiksa tepat di depannya.


Lidya juga tidak mau pemandangan seperti ini menjadi momok menakutkan di masa depan.


Seorang pria memakai baju putih bersinar dengan rambut panjang berwarna putih datang. Mata biru cerahnya menatap musuh yang sudah waktunya di musnakan.


"Pangeran, waktunya kau membunuh Tomma!"perintahnya dibalas gelengan kepala, air mata mengalir deras. Semua yang melihat kejadian ini tidak tahu harus merasakan senang, sedih atau marah. Suasana ini sangat membingungkan.

__ADS_1


"Aku tidak bisa!"tegas Johnny mengepalkan tangannya kuat.


"Yang pantas untuk membunuhnya,"ia menoleh ke arah Lidya dan Tio bergantian,"Lidya dan Tio."lanjutnya membuat Lidya dan Tio kaget.


"Mereka pantas untuk membunuhnya sebab Tomma. Telah menghancurkan tempat tinggal umat manusia di bumi menjadi seperti ini. Jadi aku sebagai pangeran tumbuhan dari Planet Elementer, meminta Lidya dan Tio yang melakukannya."kata Johnny menyentuh dadanya, menundukkan kepala mempersilahkan mereka berdua membunuh Tomma.


Pria bernama Jeremy itu menyuruh Tio dan Lidya membunuh Tomma dengan apa yang mereka rasakan saat ini. Dengan sendirinya mereka berdua mengeluarkan aura kemarahan luar biasa terutama Lidya. Gadis itu masih marah atas kematian Pandu dan menyesal karena tidak bisa menjawab pertanyaan Pandu tentang perasaannya.


Lidya mengeluarkan pedang Blackness Lights, kekuatan Cahya dan Gavin menyatu. Ia menodong pedang itu ke Tomma begitu pun Tio. Aura kedua pedang yang di pegang oleh Tio mengeluarkan kegelapan yang luar biasa. Dea berdiri di belakang Lidya dan Tio.


Dea memberikan dorongan kekuatan angin ke arah mereka. Lidya dan Tio menusuk Tomma tepat jantungnya, mereka bertiga terbang ke langit. Tomma memuntahkan darah. Lalu Melvi mengeluarkan kekuatan es yang menusuk tubuh Tomma di udara. Mata merah wanita itu melotot dengan kondisi seperti itu Tomma masih belum mati.


Tio dan Lidya mendarat mulus,Lidya menyuruh pangeran tumbuhan buat ikut membunuh Tomma. Akhirnya Johnny mengeluarkan serangan terbaiknya yaitu menusuk Tomma dengan kekuatan miliknya sama persis saat Tomma membunuh Pandu.


Seketika tubuh Tomma yang penuh darah dan luka mengeluarkan cahaya bercampur kegelapan seperti pecahan kaca retak kemudian menjadi asap hitam dan menghilang.


Awan gelap perlahan menghilang menunjukkan sinar matahari yang mulai menyorot ke bumi dan sinar itu menunjuk ke Lidya dan Tio. Kedua remaja itu tersenyum sumringah. Teman-teman yang disana penuh dengan luka, pakaian robek tersenyum. Elle berlari memeluk Lidya yang sangat cantik.


"Kau berhasil Lidya. Kau berhasil!"teriak Elle kegirangan.


Johnny ikut tersenyum melihat pemandangan baru disini. Lalu ada sesuatu yang jatuh dari langit mengenai kepalanya. Pemuda itu melihat ke bawah dan mengambil sebuah gantungan hitam bergambar seorang wanita dan di belakangnya pohon besar.


Di tempat pengungsian,semua orang kagum dan senyuman yang hilang kini kembali. Perlahan cahaya dari langit muncul. Beberapa orang meneteskan air mata, air mata kebahagian.


"Terima kasih ya allah. Mereka sudah berhasil mengalahkan monster itu."ucap Mama Lidya sangat bersyukur. Cantika, Hana dan Bening tersenyum. Caca memeluk teman-temannya bahagia. Charlie dan Iva saling beradu pandang dengan seulas senyum menerkah. Iva memeluk kakaknya dengan perasaan riang. Charlie membalas pelukan adiknya itu dan mengecup kening Iva tanda sayang pada adiknya.


Veno tersenyum dan Radit---Radit pemuda malas itu hanya memandang mereka dari jarak jauh. Ia sedari tadi merasa mengantuk, di sebelahnya ada Abimanyu yang jengkel dengan sikap Radit, tiba-tiba malas saat ada peperangan. Untung saja, oranye eyes milik Abimanyu berfungsi untuk membuat mata musuh beralih.


Lidya melepaskan pelukan Elle, tersenyum,"aku tidak menyangka kita berhasil mengalahkan Tomma."


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Tamat....


Tapi boong hehehe/*plak*. Masih ada beberapa chapter kok, nanti kalau udah ketemu nama epilog baru selesai. Silahkan tekan like, Vote dan comment. Kalau di awal ada nama prolog berarti di belakang ada nama epilog ya kawan-kawan 😊.

__ADS_1


__ADS_2