
Pagi hari ini sangat cerah dan sejuk, saat subuh datang rintik hujan kembali jatuh dari langit untung saja hujannya tidak terlalu deras dan paginya semua orang bisa menghirup udara segar dan sehat juga. Suasana hati Lidya hari ini sangat senang sekali, ia sering banget mendapatkan suasana senang tanpa alasan yang jelas. Kadang juga, emosi yang luar biasa tidak terkontrol pernah terjadi pada Lidya. Sebuah emosi marah yang meluap-luap sampai tangis pecah dalam diam, ia pernah merasakannya --- hati kecil seperti tersayat pisau menimbulkan luka begitu dalam. Tidak tahu mengapa itu terjadi.
Jika dipikirkan sekali lagi,ada kaitannya dengan masa kelam Lidya. Meski Lidya sudah memaafkannya kejadian-kejadian masa lalu dan melupakannya sangat jauh. Akan tetapi memories kelam tersebut datang dengan sendirinya sehinnga membuat gadis itu sedih. Film lama seolah kembali berputar.
Di tariknya kursi makan lalu duduk dengan senyuman hangat buat seluru keluarga. Mama yang menyiapkan makanan setiap hari menatap anak gadisnya kembali ceria sekarang. Wanita itu meletakkan sepotong roti berlumur selai strawberry diatas piring Lidya.
"Mama udah tahu. Kalau kau hari ini bangunnya agak siang. Jadi mama sengaja mengambil roti dari kulkas."kata mama duduk disamping kursi ayah. Ayah masih sibuk menyeruput secangkir kopi hitamnya.
Awan selesai sarapan pagi dan ia segera pergi ke sekolah karena temannya pasti sudah menunggu. Mama berteriak,"hati-hati Awan!"ucapnya dibalas jempolan 'Siap' ke Mama dan tidak lupa mengucapkan salam.
Ayah meletakkan cangkir kopinya yang sudah habis. Pria berkulit cokelat dengan potongan rambut rapi, berdiri dan pamit untuk bekerja di pabrik sebagai pegawai. Ayah melihat Lidya yang sudah memakan habis rotinya tidak tersisa. "Lidya, bareng ayah aja ke sekolah."ucapnya dibalas angguk Lidya. Ayah mulai pamit ke Mama.
Hari hanya bisa mengamati orang sekitarnya dan menunggu pukul 7. Lidya pamit ke mama lalu pergi ke sekolah diantar oleh ayah menaiki sepeda motor matic. Selama perjalanan Lidya menghirup udara yang segar ini sebanyak mungkin karena baru pertama masuk musim hujan setelah musim kemarau yang panjang.
Tak perlu waktu lama sudah sampai di tempat tujuan. Lidya mengecup punggung tangan ayah lalu masuk ke sekolah dengan senyuman sumringah. Dalam perjalanan menuju kelas Lina yang kebetulan lewat menyapa Lidya dengan senyuman tak kalah bahagia.
"Hai Lid?"
"Hai Lin."
"Wah, senangnya ada apa?"tanya Lina. Lidya hanya terkekeh pelan dan menggeleng,"tidak apa-apa. Hanya senang saja."jawabnya sambil mengamati wajah Lina yang tak kalah senang darinya.
"Sedangkan kau?terlihat lebih bahagia daripada aku. Ada apa?"kini Lidya yang giliran bertanya pada Lina. Gadis berambut panjang itu menunduk kebawah malu-malu, menggeleng pelan. "Tidak apa-apa kok."jawabnya. Dibalas kerutan dahi dari Lidya, ia begitu ragu dengan jawaban Lina barusan sepertinya temannya ini menyembunyikan cerita darinya. Tapi tidak apa-apa, ia perlu menunggu waktu saja sampai Lina bisa membuka mulut, mengapa ia terlihat senang melebihi hari kemarin?.
Ini pasti gara-gara laki-laki bernama Jay, pikirnya.
Lidya tersenyum,"okay, aku ke kelas dulu ya Lin."Lina mengangguk tersenyum malu, "iya!"gadis berbadan kecil itu berjalan santai menuju kelasnya yang berada di belakang sekali melihat murid-murid berlalu lalang menuju kantin atau mengobrol ringan di depan kelas.
Diletaknya tas di bangkunya dan mengeluarkan buku kecil berserta tempat pensil. Ia ingin menulis sesuatu di sana dan mengambil handphone di saku seragamnya, mengecek tentang cerita novel yang dipublik. Kedua matanya fokus kearah layar handphone sesekali melirik ke buku catatan kecilnya, mencocokkan kalau ceritanya sesuai dengan konsep yang dibangun sejak lama. Ia tidak ingin membaca komentar para pembaca dan merasa kecewa meski harus mengerjakan tugas diselahnya harus menulis di dunia oranye.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh tapi tidak ada suara bel masuk berbunyi membuat Lidya terheran-heran sendiri. Ia menoleh ke kanan dan kirinya semua murid tengah sibuk dengan handphone masing-masing. Lidya menoleh kebelakang melihat Anggi sang seketaris kelas tengah asik membaca sebuah novel.
"Anggi!"panggil Lidya membuat pemilik nama itu meletakkan novel dimeja dan membenarkan posisi duduknya, menatap Lidya. "Apa?"
"Kenapa Bel sekolahnya tidak berbunyi padahal ini sudah pukul tujuh lebih lima menit?"tanya Lidya mengecek jam di handponenya. Anggi menggeleng tidak tahu lalu melanjutkan baca novel romance.
Tina tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan konyol dari Lidya barusan. "Eh gadis lugu tidak tahu malu!"ejeknya membuat Lidya menoleh kearah Tina sebal, "Bunyi Bel aja di tanya serius amat. Kalau Bel masuk tidak berbunyi sampai jam tujuh itu tandanya Bel sekolah lagi rusak. Pikir dong pakai otak!"lanjutnya menunjuk kepala nada mengejek.
__ADS_1
Lidya mendengus sebal,"apa salahnya coba. Aku hanya bertanya doang."protesnya kembali menghadap ke depan dan menulis di buku kecilnya tentang Tina. Ia benar-benar sebal sekali dengan gadis ini. Tapi ia segera mengurungkan niat menulis kejelekan Tina dan menulis kalimat lain.
'Aku ingin teman fantasiku hidup'
Lidya menggeleng cepat dan segera mencoret kalimat yang tiba-tiba berada di pikirannya barusan. Ia mengganti cepat kalimat tersebut menjadi sebuah doa supaya Tina dibukakan hatinya agar tidak menganggunya lagi.
Gadis bernama Tina itu berdiri dari bangkunya mendekati Lidya tengah menulis sesuatu di sebuah buku kecil yang ia tebak adalah buku harian Lidya. Ia dengan cepat mengambil buku catatan refleks Lidya menarik buku itu dari tangan Tina.
Tatapan mereka berdua saling beradu pandang. "Berikan bukuku kembali."ucap Lidya sedikit geram dan masih menatap tajam mengarah ke Tina. Gadis itu tersenyum tipis kearah gadis lugu tersebut telah menatangnya,"Tidak akan gadis lugu. Aku tahu, kau menulis sesuatu tentang diriku."ucapnya menarik buku itu dan kembali ditarik oleh Lidya,"Dasar sok tahu!"jawabnya menarik buku itu dari tangan Tina.
Tina menarik buku kecil tersebut begitu kuat sehingga terlepas dari tangan Lidya. Gadis tersebut terkejut, kalau buku tersebut sudah berpindah tangan ke tangan Tina. Tina tersenyum penuh kemenangan. Sarah yang berada di bangkunya tersenyum simpul dan bertepuk tangan.
Prok prok
"Bagus Tin!"serunya mengangkat jempol kearah Tina. Gadis bernama Tina itu menatap Lidya tajam masih senyum licik lalu mencium buku milik Lidya.
Satu kelas Multimedia satu hanya bisa diam, menonton. Dalam pikiran mereka mending nonton ketimbang mencampuri urusan mereka,nonton gratis. Beni selaku ketua kelas hanya bisa menonton begitu pun Pandu. Mereka berdua tidak bisa apa-apa sekarang.
"Tenang, aku hanya membaca buku kecil ini beberapa lembar saja. Tidak banyak-banyak."katanya mulai membuka buku kecil itu setiap lembar. Lidya berdiri dibangku dan tatapannya masih memaku ke arah Tina. Ia mengepalkan tangan kanan ingin menonjok Tina sekarang juga.
Ini tidak adil, benar-benar tidak adil.
"Hahahaha. Ternyata Lidya dulu suka sama seseorang tapi sayang sekali tidak bisa memilikinya."ucap Tina sekeras mungkin, menggeleng dan terus membuka lembaran selanjutnya. Beberapa murid satu kelas tertawa mendengarnya.
Ferdi angkat bicara masalah tentang itu. "Mana mungkin ada orang yang menyukai Lidya. Dia kan gadis pas-pas an nggak level banget sama orang itu."komentar Ferdi.
Jleb!
membuat kedua mata Lidya melotot dan tangannya mengepal lebih kuat, ia menunduk kebawah. Hatinya sakit seperti ribuan panah yang menancap dan terluka parah.
"Eh ada lagi ternyata!"seru Tina dengan senyuman menerkah, "disini ada konsep cerita yang dibuat Lidya di dunia Oranye. Yang membuatku ingin mengatakan cerita yang dibuat oleh Lidya, benar-benar jelek."ucapnya menjatuhkan buku catatan Lidya ke lantai. Tina memasang wajah terkejut dan menutup mulut dengan kedua matanya, "ups jatuh!"ucapnya.
"Otomatis ceritanya bakal hancur lebur tanpa sisa."kata Tina berakting sedih.
Lidya yang sudah tidak kuasa menahan emosinya mendekati Tina dengan kepalan tangan kuat. Beni, Pandu, Fitri dan Anggi berdiri. Gadis yang sudah tidak bisa menahan emosi karena kesabarannya sudah melampaui batas, ia mengangkat tangan dan sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi mulus Tina.
Plak!
__ADS_1
Semua murid terkejut bukan main melihat seorang gadis pendiam bisa melakukan hal itu pada Tina.
"Keterlaluan,Kau Tin!"ucapnya lantang. Tina benar-benar terkejut apa yang dilakukan oleh gadis pendiam di depannya,gadis lugu sudah menampar pipinya hingga merah dan sedikit bengkak.
Tina membelalakan matanya,"Kau yang keterlaluan! Kau telah menampar pipiku hingga merah seperti ini!"protes Tina menunjukkan pipi merahnya ke Lidya.
"Aku nggak peduli dengan itu. Karena kau sudah menyebarkan luas semua rahasiaku pada orang lain!"jawab Lidya menunjuk semua murid,"Andai, Andai, Andai! Ada orang yang berhasil membuka rahasiamu di hadapan orang sebanyak ini. Apa kau tidak marah?"lanjut Lidya masih dalam mode berapi-api. Nafasnya naik turun, membuang muka. Ia sudah muak melihat wajah Tina.
Kini Sarah menghampiri Tina yang memegang bekas tamparan dari Lidya. "Hei gadis lugu!"panggil Sarah sudah di samping Tina. "Harusnya kau juga sadar. Telah membuat salah satu temanmu terluka seperti ini!"Lidya menatap Sarah tajam, ia tidak mengatakan apapun.
Akhirnya Sarah membalas menampar pipi Lidya dengan keras pula hingga Lidya jatuh tersungkur ke lantai. "Anggaplah itu sebuah balasan dari Tina."balas Sarah lalu ia mengantar Tina ke UKS. Lidya terkejut dan ia mendapatkan tamparan keras dari Sarah sampai jatuh tersungkur seperti ini. Ia mencoba tegar dengan cobaan ini yang terulang kembali di kehidupan Lidya kali ini di SMK.
Fitri dan Anggi kembali duduk. Mereka berdua takut menghampiri Lidya karena mereka melihat kemarahan yang sangat luar biasa seperti gunung meledak. Beni melihat sekeliling dan mencoba menenangkan para murid.
"Apa dia monster?"
"Monster berwujud wanita?"
"Pantas aja,tidak ada seorang pria yang memilih gadis seperti dia."
"Dia pantas mendapatkannya."
Beni berdiri diatas meja,"semua perhatikan aku dan dengarkan baik-baik. Kalian sebaiknya berteman baik sama Lidya. Jangan pernah membully Lidya karena dia punya tekanan tinggi."kata Beni memberitahu teman sekelasnya.
Ada beberapa murid yang tidak setuju dengan perkataan Beni ketua kelas. "Apa kau gila Ben? Apa kau tidak bisa melihat dengan jelas! Kalau Lidya pantas mendapatkan ejekan karena perbuatannya sendiri."
"Iya!"
Beni menghela nafas berat, ia rasa tidak bisa membuat keputusan secara cepat harus membutuhkan proses. Gadis itu masih diam di sana tidak melakukan apapun. Pandu menghampiri Lidya lalu duduk di sampingnya mencoba tenang.
"Yang sabar, Lid. Dan jangan merasa down dijauhi sama anak lain. Aku akan menjadi temanmu mulai hari ini."ucap Pandu tersenyum manis dan mengulurkan tangan, berjabat. Lidya masih diam menatap tangan Pandu. Lalu ia bangkit berdiri dan pergi keluar kelas. Pandu melihat Lidya yang berlari kecil keluar kelas.
"Lidya!"teriak Pandu tapi tidak direspon sama sang pemilik.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...
__ADS_1