Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Tujuh puluh satu:Tama, Black Eyes


__ADS_3

"To-tolong aku!"ucap gadis kecil itu ketakutan menutupi separuh wajahnya dengan boneka bearnya.


  Tiga pria tersebut perlahan mendekati gadis itu dan ingin mencekalnya. Kedua mata Tama terbelalak lebar dan berubah menjadi hitam.


Elements Eyes---Black Eyes, Assasint.


  Pemuda tersebut mendongak ke atas melihat ada salah satu jendela yang terbuka lebar, ia segera melompat menuju jendela tersebut untuk meletakkan jajanannya yang dibeli tadi.


  Di dalam rumah tersebut ada seorang pria kurus tengah memasak telur ceplok sembari menyanyi dengan suara cemprengnya. Lalu pria itu berhenti bernyanyi karena merasakan ada suatu benda yang datang dari jendela. Menoleh untuk memastikan ke arah jendela itu dan ternyata benar, ada suatu benda yang datang dari jendela berupa pisang cokelat di dalam kresek putih itu.


  Ia tersenyum penuh arti mematikan kompornya lalu mendekati makanan yang di letakkan di atas meja dekat sekali dengan jendela. Air liur pria tersebut mulai menetes karena ada jajanan gratis yang datang, entah siapa yang mengirimkan jajanan ini di kost kecil lantai lima.


"Hmm jajanan yang enak sekali. Gratis juga, rezeki anak sholeh."ucap pria tersebut menggosok kedua tangan dan mengangkat kresek putih tersebut.


Sut


Tiba-tiba datang sepercik surat berbentuk pesawat datang dari luar. Pria itu awalnya bingung siapa yang meluncurkan pesawat kertas kearahnya dilihatnya di luar jendela tidak ada siapaun disana dan jendela tetangga pun banyak yang di tutup. Tidak membuang waktu lama pria tersebut membuka surat itu yang ternyata ada tulisan sederhana.


Jangan makan pisang cokelat ini, karena nanti aku akan kembali. Oh iya,aku pinjam beberapa pisau dapurmu...


  Pria itu menoleh ke arah tempat pisau dapurnya, kosong. Tidak ada sisa untuknya. Raut wajahnya berubah menjadi takut dan pikirannya bertanya-tanya, sejak kapan ia masuk ke kesini tanpa ada suara sedikit pun. Ia menelan berat ludahnya karena merasa takut, kresek orang misterius itu---ia menaruh kembali di atas meja, membiarkannya kesana.


Di lanjutnya membaca secarik kertas di genggamannya itu,


Nanti kalau udah selesai aku kembalikan. Dan jangan lupa bersihiin pisaunya kalau ada setetes darah.


   Setelah selesai membaca pria itu pingsan, tidak sadarkan diri. Kembali ke Tama, ia sedang memerhatikan dari atas melihat gerak-gerik musuh.


"Tolong aku hiks."tangis gadis kecil itu ketakutan.


  Salah satu pria berhasil mencekal pergelangan tangan kecil gadis itu dan ia seperti menyalurkan sesuatu buruk di tubuh gadis tidak berdosa tersebut. Sebuah pisau meluncur mengarah ke pria yang mencekal tangan gadis itu.


  Seolah tahu ada benda yang datang pria tersebut berhasil menghindar dan pisau yang datang tadi menancap tepat di depan kaki pria itu. Tama turun dan melepaskan tangan pria itu dari gadis kecil tidak berdosa.


  Mata hitam Tama bisa merasakan ada aura jahat dari ketiga pria dihadapannya yang bisa dibilang sangat kuat. Gadis kecil itu berdiri dibelakang punggung Tama sambil mengintip dibalik punggung pemuda itu.


Salah satu pria meluncurkan tinjuan mengarah ke Tama dengan cepat Tama menahan tinjuan pria itu dan menjegal kakinya hingga terjatuh. Kedua pria di hadapannya terkejut dan menatap Tama membunuh. Aura mereka berdua semakin bertambah kuat.


  Tama segera menggendong gadis kecil itu dan berlari menyelamatkan diri, mencari tempat aman. Tama berlari dan melompat melewati atap rumah. Gadis kecil itu memejamkan matanya dan memegang boneka bearnya erat.


    Pedang aura hitam mengarah cepat ke pemuda itu. Berkat kekuatan element eyes ia bisa menghindar dari pedang hitam tersebut tapi sepertinya Tama salah langkah karena ada pedang lain yang berhasil melukai tangannya.


  Tama segera mencari perlindungan yang aman. Ia melihat ada gang sempit yang diampit dua gedung dan tempatnya gelap dengan segera ia berdiam disana. Sesekali melihat keadaan apakah dua pria yang selimuti aura hitam itu masih mengejarnya.


"Mama hiks!"gadis kecil itu menangis di gendongan Tama.


Tubuh Tama berubah menegang sebab kedua pria tadi sudah sampai disini dan mereka mencoba mencari keberadaannya.


   Tama melihat sekeliling mencari celah untuk keluar dari persembunyian dengan selamat tanpa melukai gadis kecil yang di gendongnya. Ia mengambil batu berukuran satu genggam tangannya kemudian ia lemparkan sejauh mungkin untuk mengalihkan perhatian kedua pria tadi.


  Dan yang benar saja, kedua pria itu memperlihatkan diri mereka dengan bodohnya mereka mengejar tipuan yang Tama buat. Dengan cepat Tama berlari keluar dari tempat persembunyiannya dan mengaktifkan radar untuk menemukan ibu, gadis kecil ini.


   Di pos polisi seorang wanita paruh baya tengah menangis tersedu-sedu karena kehilangan anak gadisnya. Polisi yang menjaga pos tersebut berusaha menenangkan wanita itu dan mencoba untuk mencarinya sampai ketemu.

__ADS_1


  Tama sudah sampai ke tempat tujuan hanya tinggal beberapa meter dari pos polisi itu. Ia melihat wanita paruh baya tengah menangis, yakin kalau itu adalah ibu gadis ini. Tama menurunkan gadis itu melihat secara lamat-lamat wajah polos itu begitu ketakutan. Tama menyuruh gadis itu menatapnya dan menyemangati gadis tersebut dengan bahasa isyarat yang mudah di pahami.


Tama mengangguk yakin dan mengkode mata menyuruh ke wanita yang di pos itu.


Gadis kecil itu tersenyum, mengangguk pelan,"terima kasih kak telah menolongku. Hehe."ucap gadis kecil tersebut berbalik dan berlari memanggil ibunya.


"Mama!"


  Wanita tersebut bebalik, menghapus air matanya melihat Putri kecilnya sudah datang dengan selamat. Wanita itu berjongkok menyamai tinggi gadis itu dan merentangkan kedua tangannya memeluk Putri kesayangannya.


"Syukurlah kau tidak apa-apa. Maaf kalau mama tidak menjagamu dengan baik."


Gadis itu menatap ibunya senang, "aku tidak apa-apa ma. Berkat kakak yang ada disana!"kata gadis itu menunjuk dimana tadi ada seorang pemuda yang berjongkok menyamai tinggi gadis kecil. Yang kini tiba-tiba menghilang.


"Loh, kakak tadi dimana ya?"


"Ah gak apa-apa yang penting kamu selamat."ucapnya memeluk kembali putrinya.


Siapapun yang menolong putriku dari bahaya? Terima kasih.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


   Seperti angin kencang menerjang apapun di hadapannya,Tama berlari dan melompat setiap gedung plus atap rumah. Ia berhasil merasakan kembali aura hitam kedua pria tadi berada di dalam supermarket.


  Tama berhasil sampai di supermarket, berlari kecil hendak membuka pintu langkahnya berhenti seketika.


"Ternyata ada yang ingin menghancurkan rencanaku seperti ini."ucap seorang gadis yang tidak jauh dari Tama.


  Tama menatap tajam kearah gadis asing ini yang berani membuat tubuhnya tidak bisa di gerakkan. Gadis itu terkekeh dan melihat pemuda yang ingin mengacaukan rencananya lamat-lamat.


Dan gadis tersebut melihat bahwa pemuda yang berhasil di tangkapnya ini memiliki kekuatan elements eyes.


"Oh ternyata kau memiliki kekuatan elements eyes. Hmm, bagaimana kalau kau bergabung denganku?"ucapnya seraya menawarkan pada Tama untuk masuk ke pihaknya.


  Tama hanya bisa menatap gadis itu tajam dan penuh arti. Gadis itu menghela nafas kasar dan melepaskan kekuatan membuat lawannya kaku, tidak bisa bergerak.


  Tama menatap gadis asing itu dengan tatapan tajam, kedua tangan mengepal lalu pemuda tersebut berusaha menggunakan bahasa isyarat walau sangat berat untuk menggerakkan kedua tangannya. Tentu saja membuat gadis di hadapannya tertawa membuat pemuda itu mengerit bingung.


"Hahaha, ini sangat tidak mungkin. Hmm, kekuatan elements eyes dan itu adalah Black eyes berada di tangan makhluk bisu sepertimu. Hahaha!"ledek gadis itu membuat Tama semakin kesal dan harga dirinya seketika turun.


  Tama menatap gadis itu tajam dan menginsyaratkan pergi dari hadapannya. Gadis itu hanya tersenyum mengabaikan suruan Tama untuk pergi. Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari dalam rumah sakit refleks Tama langsung masuk ke supermarket dan kekuatan yang mengehentikan Tama---pudars seketika. Kedua mata terbelalak melihat apa yang telah terjadi.


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


"Mana ya? Tama. Dia perginya lama sekali sampai kopiku udah habis."ucap Dea melihat luar jendela cafe tidak ada tanda-tanda keberadaan Tama.


  Yusuf juga meraskaan seperti yang dirasakan oleh Dea. "Apakah sebaiknya kita menyusul Tama?"tanya Yusuf dibalas anggukan Dea.


"Ya,aku harap dia baik-baik saja."ucapnya bangkit berdiri.


Drrrt...


Suara gemetar ponsel milik Yusuf dari saku celananya, ia mengecek itu dari Lidya. Dibukanya pesan itu terkejut membuat Dea khawatir.


"Ada apa Suf?"tanya Dea sedikit panik.


"Kita harus cepat menyusul Tama karena kata Lidya, temannya melihat banyak bayangan hitam di kota."kata Yusuf.


Mata Dea terbelalak,"apa!"


   Banyak orang berlarian menyelamatkan diri dari serangan bahaya yang ditimbulkan oleh Tama dan gadis asing di hadapannya.  Pemuda itu melemparkan beberapa senjata mengarah ke gadis tersebut tetapi dengan cepat ia berhasil mengindar dan menyerang balik ke Tama.


  Pemuda itu melompat menghindari dari aura hitam yang diciptakan oleh gadis itu. Jika terkena sedikit aura hitam itu bisa-bisa kehilangan kendali menjadi jahat dan menyalurkan aura hitam tersebut ke orang-orang tidak bersalah. Sama persis yang dilihat oleh Tama, tiga orang pria mendekati gadis kecil untuk menyalurkan aura hitam ke tubuh mungil gadis kecil itu.


   Musuh terus mengeluarkan aura hitamnya terus menerus mengarah ke Tama. Pemuda itu terus menghindar, bagaimana Tama bisa tahu kalau sampai ia terkena aura hitam milik gadis dihadapannya akan mengubahnya jahat sedangkan waktu ia dikejar oleh dua pria diselimuti aura hitam sama persis dengan gadis itu hanya melukai tangan kanannya.


  Karena aura hitam pria tadi itu hanyalah kekuatan saluran yang mengubah seseorang menjadi jahat. Punggung pemuda itu tiba-tiba diselimuti oleh aura hitam yang dibalik aura tersebut tercipta sebuah pedang. Jaket Tama berubah menjadi sebuah jubah pelindung membuat gadis di depannya tercengang.


"Sial! Kenapa aku tidak menyadari kalau dia itu assasint!"ucapnya.


Tama mengeluarkan pedang yang bertengger di punggungnya. Sling, mengarahkan pedang ke lawannya sekarang. Gadis itu tidak mau kalah dengan assasint bisu di depannya, ia juga menciptakan sebuah pedang berukuran besar dari pedang Tama.


"Mari kita lihat siapa yang akan menang."tantang gadis itu.


  Mereka berdua saling beradu pedang menimbulkan suara adu kedua pedang tersebut.


Sling-sling


  Mereka berdua terlibat adu pedang yang sama kuat. Tama melompat ke belakang menghindar dari hunusan lawan, berjongkok dan pedangnya sebagai tumpuan melihat musuh bertambah kuat. Ia melihat aura hitam yang berada di dalam manusia itu perlahan masuk kembali ke tubuh gadis tersebut.


"Aku akan bertambah kuat jika kekuatanku semakin hari-semakin banyak. Dengan cara, aku membuat semua orang menjadi jahat dan menyalurkan kekuatan yang sudah aku sebarkan ke satu orang ke orang lainnya. Hahaha. Jika itu terjadi, aku bisa menghancurkan dunia."ucapnya tertawa jahat mencoba menyerap kembali aura hitam yang disebarkan olehnya.


"Tidak akan kubiarkan, kau menanamkan kekuatanmu pada orang yang tidak bersalah!"teriak seseorang dari belakang. Gadis itu melihat ke atas seorang pemuda dengan mata abu-abu datang disusul oleh pemuda berjaket abu-abu juga.


"Serangan burung, Magic Joe!"seru Yusuf mengeluarkan sihirnya dengan menciptakan sekelompok burung dan menyerang bersamaaan mengarah ke gadis yang membuat kekacauan.


    Yusuf dan Aska berdiri membelakangi Tama. Yusuf menoleh kebelakang melihat Tama berubah total menjadi imajinasi yang singgah di dalam tubuhnya.


"Ternyata kau sudah menggunakan kekuatan penuh."tebaknya dibalas angguk Tama. Aska menoleh ke Yusuf.


"Aku akan mengeluarkan aura jahat itu dari tubuhnya seperti aku melihat bayangan hitam yang aku lihat kemarin."kata Aska menyiapkan kuda-kuda bertarungnya.


*Jangan Anggap Kami lemah*


Bersambung...


 

__ADS_1


__ADS_2