
Angin berhembus membuat daun-daun pohon bergoyang, suara burung-burung berkicau, tupai liar yang naik ke atas pohon. Suara pijakan kaki terdengar menginjak ranting kecil. Beberapa daun menghalangi jalan di singkirkan.
Kedua mata cokelatnya menatap ke depan dan berusaha mendengar air mengalir di sekitar sini. Pemuda tersebut berjalan pelan dan hati-hati diikuti gadis di belakangnya mencari buah atau daun yang bisa mereka makan sampai di titik awal(tempat untuk kemah sementara).
Ia menatap punggung Pandu yang masih mencari suara air mengalir. "Pandu, apakah masih jauh?sungai di sekitar sini?"tanyanya.
"Aku rasa seperti itu, kita sudah jauh dari tempat titik awal. Hutan ini begitu luas."jawab Pandu menatap sekeliling hutan yang pepohonnya semakin lama semakin tinggi.
Fitri diam ia takut mencoba kekuatannya disini, takut--kalau tersesat. Menghela nafas sejenak,"lebih baik kita mencari tumbuhan yang bisa kita makan aja. Dan mungkin disini ada tumbuhan yang memiliki banyak air, nanti kita peras airnya."Saran Fitri dibalas angguk Pandu.
Di tempat Arkan dan Anggi, mereka berdua masih belum mendapatkan kayu bakar yang cocok. Anggi mendongak melihat dahan kayu berukuran sedang berada,tidak jauh dari tempat ia berdiri.
"Arkan, bagimana kalau dahan itu?aku rasa cocok buat kayu bakar."kata Anggi dibalas angguk Arkan.
"Baiklah. Tapi bagaimana cara kita memotongnya?kita tidak memiliki senjata apapun."kata Arkan dibalas senyum miring dari Anggi.
"Hmm, memang Beni pantas menjadi ketua kelas dan pintar memilih orang. Aku memiliki kekuatan piring tajam atau sudah kusebut Cakra."kata Anggi bergaya seperti super hero. Ia menyilangkan kedua tangannya dan menyebut senjata handalannya yaitu cakra.
Benda tersebut muncul di kedua tangan Anggi membuat Arkan melongo melihat keahlian Anggi. Kedua mata gadis itu menatap ke dahan kayu itu yang kini jadi sasaran. Ia melemparkan satu cakra ke dahan pohon itu tapi belum bisa patah.
Cakra tersebut kembali ke Anggi, "sepertinya aku akan melemparkan dua cakra sekaligus untuk memotong dahan kayu itu."gumamnya menatap kembali ke dahan kayu tersebut. Ia melompat dan melemparkan dua cakra,"Cakra pemotong tajam!"serunya serius.
Kedua cakra itu melesat cepat ke dahan pohon itu menembus angin saking cepatnya gerakan cakra. Arkan tidak bisa melihat secara jelas dan dua cakra tersebut sudah kembali ke tangan Anggi. Ia menatap dahan pohon itu masih berada disana, tidak patah sama sekali.
"Nggi, dahan pohonnya belum patah."katanya dibalas pekikkan Anggi.
"APA? TIDAK MUNGKIN!"
Mereka berdua menatap dahan pohon tersebut lama. Anggi sedikit geram mana mungkin dua cakranya tidak bisa mematahkan dahan pohon berukuran sedang. Gadis itu menunduk,menggrutu kesal.
__ADS_1
Krek!
Suara seperti retakkan kayu terdengar, Arkan dan Anggi kembali menatap dahan pohon itu. Lalu dahan tersebut patah dan jatuh ke tanah. Anggi yang melihat itu merasa senang selama ini ia tidak pernah menggunakan dua cakranya saat memberi pelajaran dua bocah tengil di sekolah, Ferdi dan Tina.
Mereka berdua menuju ke dahan pohon itu dan Anggi mengeluarkan dua cakranya lagi memotong kayu yang mudah untuk di bawah kembali, ke titik awal.
"Kau hebat, Nggi. Aku tidak percaya kekuatanmu sangat hebat seperti murid SMA Negeri satu."puji Arkan membuat kedua pipi Anggi memerah dan terkekeh malu.
"Jangan memujiku nanti aku sombong."ucapnya setelah selesai memotong kayu itu menjadi enam bagian.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Sebuah jebakan sudah selesai di buat untuk menjebak hewan. Gadis berambut gelombang tersebut sudah kasih jebakan kecil untuk hewan juga, ia membersihkan kedua tangannya dari tanah melihat Aska juga sudah selesai membuat jebakan.
"Kita harus nunggu lama. Mungkin besok hari, kita baru dapat hewan buruan."kata Aska dibalas angguk pelan Lidya.
"Kira-kira yang lain udah dapat atau tidak ya?"tanya Lidya dibalas gelengan Aska. Mereka berdua berjalan kembali balik ke tempat dimana mobil Pandu berada.
"Kenapa berhenti?"tanyanya.
"Tunggu, aku merasakan sesuatu."ucapnya berbalik dan melihat sekeliling hutan. Ia kembali merasakan keanehan sama seperti waktu di jalan tadi sebelum memindahkan semua ke hutan.
Tidak tahu, apa yang dirasakan oleh Aska sebelumnya ia tidak pernah merasakan ini. Nando memiliki kekuatan paling kuat, bisa mengangkat barang-barang berat sedangkan Jay, berkharisma membuat semua orang jatuh hati padanya. Tapi kalau dirinya sendiri, masih belum menentu, apakah ia memiliki kekuatan atau tidak.
Aska merasakan ada suatu keanehan, ia mendongak melihat pohon satu ke yang lainnya. Ada beberapa bayangan hitam sama persis seperti yang ia lihat tadi di jalanan, tidak ada yang berbeda sedikit pun.
Lidya hanya bisa diam melihat Aska tengah melihat sesuatu di sekitar hutan ini yang entah itu apa. Ia sama sekali tidak tahu. Memang belakangan banyak sekali kejadian aneh membuat banyak pertanyaan di kepalanya.
Pemuda itu menatap ke salah satu pohon di sana ada tupai yang naik. Mata Aska berubah menjadi abu-abu lagi dan melihat ada aura hitam di tubuh tupai tersebut dan melihat mata merah menyala. Bayangan hitam itu seolah menjadi makhluk menyeramkan, kedua mata merah serta mengeluarkan tembakan yang entah itu apa. Membuat Aska melangkah mundur, ia melihat sekeliling.
__ADS_1
Dugaannya salah, ternyata tidak hanya tupai liar itu melainkan hampir banyak binatang disini yang di masuki oleh bayangan hitam. Menjadikan mereka monster, ia bisa melihat jelas dengan mata abu-abunya.
"Aska? Kau tidak apa-apa kan? Apa yang kau lihat?"tanya Lidya mulai khawatir mengenggam dua tangan erat.
Aska tanpa banyak bicara ia berbalik dan menarik tangan Lidya mengikuti jejaknya. Ada satu bayangan yang mengikuti mereka berdua, Aska bisa merasakan hal itu. Kedua matanya masih berwarna abu-abu melirik ke arah belakang.
Ternyata tupai tadi yang menjadi obyek pertamaku melihat bayangan hitam ini, batinnya terus berlari.
Lidya yang tidak kuat mengikuti langkah kaki Aska menyuruh pemuda itu berhenti. Ia mengambil nafas sebanyak-banyaknya untuk menata nafasnya yang ngos-ngosan.
Aska tidak punya waktu lagi ia melihat tupai itu hampir sampai ke tempat mereka, takut kalau ia melukai Lidya. "Lid, sebaiknya kau harus kembali ke lainnya!"perintah Aska sambil melihat obyek itu yang semakin mendekat.
Lidya melihat pandangan Aska tidak melihat apapun disana, "kau sendirian disini dan apa yang kau lihat?"tanyanya dibalas sedikit bentakan dari Aska supaya Lidya cepat pergi dari bahaya.
"AKU BILANG PERGI! DISINI BERBAHAYA!"
Lidya terkejut mendengar kalimat bentakan dari Aska. Tanpa babibu ia berlari meninggalkan Aska sendirian disana, berlari dan mengeluarkan banyak air mata membasahi kedua pipinya.
Aska melirik penuh salah setelah membawa teman-temannya ke hutan dan tidak bisa kembali lagi. Sekarang bertambah satu, ia terpaksa membentak Lidya demi keselamatannya.
Bayangan itu sudah dekat dan sudah mengangkat cakarnya ingin mencengkram mangsanya. Dengan cepat Aska berhasil mengelak dan menjauh dari bayangan hitam itu. Bayangan tersebut menatap tajam ke arah Aska dan ia berubah menjadi besar berbentuk monster tupai menyeramkan.
Mengeluarkan suara menyeramkan.
Gadis itu berhenti berlari saat mendengar suara menyeramkan dari arah dimana Aska berada.
"A-aska?"ucapnya pelan dengan air mata yang terus merembes, menoleh ke belakang.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung...