
Bulan sabit sudah terlihat di langit malam penuh bintang. Malam yang dingin dan tenang, semua orang masih beraktivitas seperti biasa. Gadis berambut gelombang itu duduk di atas atap menekuk kedua kakinya, matanya melihat cahaya dari lampu-lampu setiap rumah.
Otaknya berputar dan hatinya kembali gelisah, khawatir dan takut. Ini masih jam delapan malam, tanda orang-orang di luar sana masih berlalu lalang di jalan raya tanpa ada sadar bahwa besok ada peperangan besar. Lidya sudah berpikir jernih dan menaruh pesan setiap teman-temannya bahwa untuk memberitahu orang-orang sekitar rumah mereka menuju tempat lebih aman, evakuasi.
Lidya menatap bulan sabit itu menelan silvanya, bibirnya terangkat,"apa besok adalah waktu yang tepat buat berperang? A-aku benar-benar takut kalau hal yang ku takutkan itu. Benar-benar terjadi."ucapnya dengan mata yang penuh gelingan air mata.
Penglihatan Lidya menjadi buram karena air mata, bibirnya sedikit bergetar. Hati yang selalu tetap tegar meski harus mendengar cemooh dari teman-temannya atau di bully oleh Tina, Sarah dan Ferdi. Ia tetap kuat dan berusaha untuk biasa saja.
Akan tetapi ini sangat berbeda. Dinding yang sudah menjadi tameng dan susah di hancurkan. Secara perlahan roboh begitu saja. Air bening terus membasahi pipi mulus Lidya. Perih, mengingat esok apa yang terjadi. Dengan cepat Lidya menghapus air matanya dan mencoba tegar.
Angin malam semilir membiarkan rambut Lidya yang tergerai di mainkan oleh angin. Matanya menatap ke depan membayangkan teman-temannya tadi yang berhasil mendapatkan gantungan jangkrik, emas. Seulas senyum terukir jelas di sudut bibirnya dan pipinya tiba-tiba merona.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Semua orang tengah fokus menyerang musuh, Alone Imagination. Pemuda berambut panjang sebahu itu dengan mudahnya melumpuhkan musuhnya. Di bantu oleh Ilham, ia menanah musuhnya tepat sasaran tanpa ada kata meleset sedikit pun.
"Ball fire magic!"
"Aquil air!"
Semua penyihir pun tak kalah gesit menyerang musuh lemah itu. Zaidan berhasil mengalahkan beberapa musuh dengan pedangnya. Dari arah belakang ada yang menyerang Zaidan tanpa di sadari olehnya. Pandu yang menyadari hal itu melumpuhkan kaki musuh tersebut sehingga membuat Zaidan menoleh dan membuat musuh pingsan.
Pandu melihat beberapa aura yang ada di dalam tubuh manusia itu, keluar. Aura kebencian, kesendirian, keputus asaan, semua aura menyedihkan keluar dari tubuh musuh-musuh tersebut. Serta kekuatan mereka juga menghilang.
"Jadi, kita apakan mereka semua?"tanya Pandu melihat yang lain.
"Kita biarkan saja, mereka disini!"kata Ilham acuh.
"Aku nggak terima!"tolak mentah-mentah Muntia, penyihir bertudung merah itu. Ilham melirik sinis ke arah Muntia.
Zaidan berkata,"Hoi, hoi. Jangan berantem mempersalahkan itu."celetuknya. Ilham menatap sinis ke Zaidan seraya berkacak pinggang.
Bahwa ada salah satu anak buahnya seenaknya memerintahkan seperti itu padahal Ilham adalah ketua dalam kelompok ini.
"Hei! Kau siapa yang seenaknya memerintahkanku,aku ini ketua kelompok!"ucap Ilham dibalas tatapan datar dari Zaidan. Ia sekarang tidak ingin bertengkar maupun adu mulut dengan Ilham.
Zaidan menepuk bahu Ilham menyunggingkan seulas senyum tulus. "Aku tahu, kau adalah ketua kelompok ini. Huh, sebaiknya kita istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan mencari keberadaan monster jangkrik itu."
Pemuda berkacamata, rambut yang panjang diikat meletakkan pedangnya ke sarung. "Aku setuju dengan Zaidan. Lebih baik kita istirahat terlebih dahulu dan..."ucap Fiko, seorang kesatria baik hati dan memiliki pedang naga api biru.
Iris mata biru gelapnya melihat sekeliling penuh dengan musuh yang sudah tidak sadarkan diri. "Kita harus menyembuhkan mereka akibat pertempuran kecil tadi."mata Ilham terbelalak mendengar keputusan secara sepihak oleh Fiko.
Pemuda itu langsung memerintahkan penyihir-penyihir itu menyembuhkan luka musuh. Tentu saja membuat Ilham kesal serta membuang waktu buat melawan jangkrik itu kalau harus beristirahat.
"Cih! Seenaknya saja kau memerintahkan yang lain padahal aku ketua di kelompok ini!"protesnya dibalas senyuman tipis dari Zaidan.
Zaidan berdiri di belakang Ilham,menoleh sedikit ke Ilham,"Ketahuilah kalau mereka semua(alone imagination)nggak salah sama kita. Mereka itu cuman di peralat sama musuh kita sebenarnya,"kata Zaidan membuat sebelah mata Ilham menyipit.
__ADS_1
"Aku setuju denganmu,Kak Zaidan."sahut Pandu meninggalkan Ilham yang berdiri di sana penuh kekesalan.
"Cih!"
-
-
-
-
-
Matahari perlahan berpindah ke barat dan sinarnya sudah tidak terlalu terang seperti tadi. Mereka bersepuluh kembali melanjutkan perjalanan mencari monster jangkrik. Ilham melipat kedua tangannya melirik teman-temannya menaiki alat penyihir dengan senyuman. Sedangkan ia tidak.
Semua menikmati pemandangan dari atas dengan senyuman menerkah sembari berbincang-bincang supaya lebih akrab dengan teman baru. Pandu menatap ke depan dan berpikir dengan kejadian esok saat peperangan terjadi. Ia harap Lidya tidak takut atau menangis membayangkan sebuah peperangan besar.
Ingat saat waktu di rumah gadis itu, Lidya terus menangis di dekapannya sampai ia menyakinkan dirinya untuk kuat.
"Kalau aku dan lainnya sudah membawakan gantungan kunci jangkrik itu,"ucapnya mengepalkan tangannya,"aku akan membuatmu tersenyum sumringah."lanjutnya. Beberapa helaian rambut Pandu menari-nari tertiup angin.
Ketika mereka asik berbincang-bincang dan melihat keindahan alam tiba-tiba saja seekor jangkrik muncul tepat di hadapan mereka sambil mengeluarkan suara menyeramkan. Mereka semua terkejut bukan main sampai kendaraan mereka hampir menubruk badan jangkrik itu.
Jangkrik berukuran besar itu menyerang mereka. Dengan segera para penyihir menyerang serta Weny mengeluarkan perisai pelindung. Kendaraan mereka sedikit mundur kebelakang membuat para kesatria hampir terjatuh.
Matanya terpejam,ia menarik tali busurnya menciptakan anak panah. Kedua matanya terbuka dan mulai berseru.
"Arrow Rain Storm!"seru Ilham melepaskan anak panahnya ke langit. Seketika cuaca cerah secara perlahan meredup tergantikan awan hitam dan jatuhlah ribuan anak panah ke monster itu.
Jangkrik tersebut mengerang kesakitan membuat seulas senyum terukir jelas di sudut bibir Ilham. Pandu yang melihat kekuatan Ilham terpukau.
"Hebat!"
Zaidan tersenyum simpul melihat kekuatan Archer itu sangat hebat, ia seperti penyihir bisa menurunkan hujan panah dari langit. Sayangnya, pemuda itu sombong. Fiko melompat dan mengayunkan pedangnya ke monster jangkrik itu membuat tangan kanan jangkrik tersebut, patah.
Pandu juga tidak ingin kalah sama teman-temannya yang jauh lebih kuat darinya. Pemuda itu melumpuhkan kedua kaki jangkrik tersebut sambil berseru pada yang lainnya.
"Waktunya masak sate jangkrik teman-teman!"serunya setelah melumpuhkan kedua kaki jangkring itu membuat semangat mereka memburu.
Muntia mengeluarkan serangan jarum kompasnya ke jangkrik tersebut sedangkan Ilham memanah tepat tubuh jangkrik. Zaidan bagian memotong. Fiko dan penyihir api bagian kompornya sedangkan penyihir angin, Weny menjadi dorongan.
"Shooting Quail Air!"
Angin puyuh berada di belakang Zaidan mendorong pemuda itu terbang ke monster jangkirk tersebut. Pedangnya ia hunuskan tepat di tubuh jangkring tersebut di susul oleh Fiko dan penyihir api membuat sebuah ledakan tercipta.
dom!
__ADS_1
Setelah pertaruangan melawan monster itu selesai. Kelompok Ilham sudah datang kembali ke SMA Strength di sambut oleh teman-teman lainnya. Semuanya tersenyum dan Lidya segera menghampiri mereka bertiga.
"Apa kalian sudah mendapatkannya?"tanya Lidya pada lainnya. Setelah Lidya mengatakan itu semuanya tiba-tiba ambruk,pingsan. Membuat gadis itu berteriak panik.
"Aaa!"
Beberapa murid segera membantu mereka yang tiba-tiba saja ambruk. Membuat hati kecil Lidya semakin nggak bersemangat membuat teman-temannya kelelahan. Wajah Lidya menekuk tidak semangat.
Lalu ada seseorang yang menujukkan gantungan kunci emas tepat di depan wajahnya. Membuat Lidya melihat gantungan kunci itu terkejut. Pandu tersenyum tepat di wajah Lidya.
"Pa-Pandu!"panggil Lidya dibalas kekehan Pandu.
"Kami sudah berhasil mendapatkan gantungan kunci sesuai kau inginkan."katanya.
"Kenapa kau tidak ping--"belum sempat Lidya berucap satu telunjuk mendarat tepat di bibir Lidya. Membuat gadis itu diam mematung menatap Pandu.
"Ssttt. Mereka sudah menghabiskan tenaga mereka sedangkan aku...hanya menggunakan sedikit. Jadi aku tidak terlalu berlebihan."katanya.
Seulas senyum terukir jelas di bibir Lidya. Pandu ingin memeluk Lidya dengan segera gadis itu menyuruh Pandu untuk mengantarkan gantungan kunci itu ke Tio menggunakan portal milik Elle. Pandu mendengus sebal padahal ia ingin sekali memeluk Lidya sesuai apa yang ia pikirkan tadi sebelum bertemu monster jangkirk.
Elle sudah menyiapkan portal menuju ke Tio lalu Pandu memasuki potal tersebut. Lidya yang melihat tingkah laku Pandu tadi tiba-tiba saja tertawa dan kedua pipi Lidya memerah.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bulan sabit itu masih berada di sana dan beberapa kali ingin ditutup oleh awan hitam yang ingin menutupi separuh cahaya bulan dari langit malam. Lidya tersenyum mengingat kejadian tadi sore.
Ia tidak pernah merasakan sesuatu aneh di dalam hatinya. Sesuatu yang sempat hilang darinya. Jantung Lidya tiba-tiba berdebar-debar setiap mengingat kejadian tadi dan seolah jari Pandu berada di bibirnya, menyuruhnya untuk diam tentang perasaan yang sulit untuk di jelaskan.
Sebelum peperangan di mulai rasanya Lidya ingin mengulang kejadian teman-temannya. Ha,tentu saja mengungkit masa lalu itu tidak akan ada ujungnya sama sekali.
"Lid, sepertinya Pandu itu menyukaimu?"
"Tidak. Mana mungkin dia menyukaiku? Pasti dia sudah memiliki gadis lain tentu saja bukan diriku."kata Lidya saat waktu itu di acara sekolah menanam tanaman hijau.
Dan Lidya baru ingat saat ia jalan-jalan sama Pandu kalau pemuda tersebut sempat mengatakan. Aku Cinta kamu atau aku suka kamu. Dengan cepat Lidya menggeleng dan membuang pikiran itu dari benaknya. Ini pertama kalinya ia memikrikan seorang laki-laki lagi.
Lidya berusaha untuk mengusir pemikiran itu sejauh mungkin ia dan Pandu hanyalah teman. Ya, hanya teman tidak lebih. Yakin, kalau kata-kata itu hanyalah gurauan.
"Aku sama Pandu hanyalah teman, tidak lebih. Tapi kenapa hati ini seolah nggak terima aku mengatakan itu?. Hmm..."ucap Lidya menatap bulan sabit lamat-lamat.
"Pan, apakah kau merasakan hal yang sama?"ucapnya terus memandang bulan sabit dari atas atap rumah. Tidak peduli dengan hawa dingin yang membuat tubuh kecil Lidya kedinginan tanpa ada teman, teh hangat maupun jaket.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...
Kasih like, coment, vote juga ya. Semoga kalian suka sama ini ceritanya sampai tamat. Muhehehe, bentar lagi mau tamat, nggak tahu eps berapa? Ikuti terus ya, ceritanya, 😊.
__ADS_1