
Rasanya tulang punggung remuk setelah jatuh dari atas akibat tanah yang tiba-tiba bergetar membuat tanah bergeser. Tubuh kecilnya berusaha untuk bergerak meski ada rasa nyeri, indera penciumannya menghirup udara yang busuk seperti ia berada di gorong-gorong saluran pembuangan. Pakaian yang di kenakannya pun basah dan di pastikan pakaiannya kotor.
Tempat yang ditempati sekarang begitu lembab secara perlahan ia membuka mata, samar-samar melihat ke atas ada lubang besar tempat mereka bertiga jatuh tadi. Setelah pandangannya kembali jelas ia bangun posisi duduk dan merenggangkan ototnya serta leher yang terasa kenger.
Nyeri bekas cekikan Kak Alvan kembali terasa ini membuat gadis itu kembali memegangi lehernya. Syall yang membalut lehernya basah nan kotor. Sial, kalau begini caranya leherku nggak bakal sembuh--batinnya mendongak melihat sinar matahari masih bersinar terang.
Lidya melihat kedua temannya yang masih pingsan dan berpikir berapa lama ia pingsan setelah trategi itu. Dan Lidya juga tidak tahu kalau ia bisa memprediksi bahwa ada sesuatu yang akan datang lalu mengulang kejadian sebelum Kota Selatan menjadi Kota Mati. Menurutnya ini sangatlah aneh atau mungkin itu adalah Anugerah yang tiba-tiba muncul dalam diri Lidya. Entahlah ia sendiri juga tidak tahu.
Penglihatannya melihat kalau ia dan dua temannya berada di gorong-gorong pembuangan air dimana air kotor terbuang serta banyak tikus yang lari kesana kemari, tidak hanya itu saja sampah pun juga ikut ada di sini membuat aroma busuk tercipta. Lidya mencapit hidungnya dengan dua jari ia mencoba untuk terbiasa dengan aroma busuk yang ada disini sambil mencari cara buat ke atas.
Gadis itu menggoyangkan tubuh kedua temannya membangunkan mereka. "Tio, Putih. Kalian berdua bangunlah."ucapnya tapi keduanya masih saja tidak mau bangun. Tak kehabisan akal Lidya mencubit pipi Tio dan Tera seraya berteriak kencang membuat suara Lidya menggema di lorong pembuangan air comberan.
"Bangun!"
Setelah Lidya berteriak kencang tenggorokannya terasa kering dan suaranya hampir hilang tentu saja ini menbuat semua merepotkan. Lidya jadi kesal sendiri seharusnya ia tidak perlu berteriak membuang suara,apa daya ini sudah terjadi. Tio membuka matanya perlahan kepalanya terasa amat pusing seperti terbentur suatu benda berat mendarat mulus ke kepala.
Pemuda berambut biru tersebut bangun seraya memegangi kepalanya lalu Tera juga ikut bangun sembari menutup hidung dan mulutnya sepertinya Tera ingin muntah akibat bau busuk.
"Pusing sekali."keluh Tio di balas tatapan tak biasa dari Lidya. Pemuda tersebut melihat sekeliling yang gelap dan bau menyerbak tidak sedap.
"Bau air comberan yeak!"ucapnya jijik seketika Tera berteriak kencang membuat gendang telinga pecah saat itu juga. Lidya kasih isyarat untuk diam tentu saja membuat kedua temannya menatapnya bingung. Merasa tahu apa yang di pikirkan oleh dua temannya.
Lidya menggunakan bahasa isyarat yang mudah di pahami oleh semua orang, mereka berdua menatap Lidya serius kalau suaranya habis gegara teriak kenceng membangunkan mereka. Keduanya mengangguk paham, mengerti. Membuat Lidya bernafas lega kalau mereka paham kalau nggak paham entah sampai kapan ia akan terjebak ke sini.
Dahi Tio berkerut, "Siapa sih yang berani menjatuhkan kita? Musuh nggak tahu diri!"celotehnya kesal di tosek oleh Tera tidak peduli aduhan sakit dari Tio.
"Jelaslah musuh itu nggak tahu diri mana mungkin musuh tahu diri. Kalau begitu dia bukan musuh tahu!"protesnya menatap sinis Tio.
Lidya menunjuk ke atas lalu menunjuk ke Tera dan Tio. Mereka berdua mengangguk.
"Yo, kita harus bangkit setelah jatuh dan kasih pelajaran tuh musuh."ucap Tera bersemangat api membara di balas Tio sebelum keluar dari sini. Pemuda itu membuka buku yang ada di bajunya.
Akibat Tio jatuh ke gorong-gorong air comberan buku yang di bawanya seperti tidak layak disebut buku, sangat kotor. Ini menbuat Tio jengkel dan mengutuk musuh itu jadi kodok. Tio membuka buku tersebut tentang buku Puzze Sandi.
"Kita sudah mengumpulkan empat gantungan yang artinya bagian empat puzzle sudah terkumpul. Di sini tertulis kalau kalian menemukan bagian puzzle lain salah satu bagian puzzle untuk mengakhiri permainan puzzle akan sulit. Di karenakan bagian puzzle itu misteri."ucap Tio membacakan deretan kalimat yang ada di buku tersebut. Tera menaikkan sebelah alis bingung apa yang ada di dalam buku itu.
"Maksudnya bagian akhir puzzle misteri. Bukannya permainan puzzle itu sangatlah mudah."ucap Tera di balas gelengan kepala Tio.
"Ini beda karena nenekku sering kesusahan menyelsaikan permainan puzzle apalagi bagian akhirnya."kata Tio membuat kedua gadis itu tak percaya.
"Ya. Ini ada kaitannya di dalam buku nenekku untuk menutup kembali pintu imajinasi."kata Tio lagi. Tera sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Tio.
__ADS_1
Dalam hati Lidya berarti Tio bertugas untuk menutup pintu imajinasi sedangkan ia tugasnya melawan musuh yang ada kaitannya dengan ceritanya, yang sengaja di gantung dan tidak ada kelanjutannya. Memang seperti itu bagian akhirnya tidak ada kelanjutannya tapi kenapa musuh Tomma itu bangkit yang Lidya tidak tahu wujud Tomma itu seperti apa. Apakah dia monster atau ia menjadi manusia? Ini masih menjadi misteri.
Lidya memberitahu Tio kalau keluar dari sini,Tio harus ikut dengan Lidya ke rumah untuk mengambil gantungan kunci untuk menutup kembali pintu. Tio mengangguk mantap. Tera mendongak ke atas mengeluarkan kekuatan tumbuhan dan mereka bertiga keluar.
Sungguh penampilan mereka jadi berantakan meski begitu wajah mereka terlihat ada semangat buat melawan musuh. Suara seperti lebah terdengar jelas, ketiga remaja tersebut berbalik sembari melihat ke atas sepertinya mereka akan berjumpa lagi dengan monster.
Lidya sangat kagum pada musuh satu ini ia seolah tahu bahwa lawannya belum mati. Ia memegang lehernya sedikit nyeri. Tera yang tahu kalau leher Lidya kembali sakit ia memberikan kalung tumbuhan ke Lidya. Gadis itu menoleh ke Tera.
"Kalung tumbuhan itu obat. Jadi tumbuhan itu akan menyembuhkan nyeri di lehermu."jelas Tera dibalas senyuman manis Lidya tanda terima kasih banyak.
Tera kini yang memimpin kelompok karena suara Lidya habis jadi ia akan senang hati menggantikannya. "Kalian semua berhati-hati. Lid, lebih baik kau sembunyi di tempat aman aku tahu kalau kau masih manusia normal tidak memiliki kekuatan. Aku tidak mau kau mati."kata Tera melirik ke Lidya.
Gadis itu hanya bisa mengangguk saja ia berlari mencari tempat yang aman buat ia berlindung dari musuh. Dalam hatinya ia ingin sekali bertarung melawan musuh. Tio yang sedari tadi melihat langit sorotan matanya menangkap binatang besar seperti lebah datang ke arah sini.
"Lebahnya datang!"serunya. Tera berbalik dan menyerang lebah besar itu.
Lebah tersebut meluncurkan sengatannya seperti senjata api. Tio dan Tera berhasil menghindari sengatan lebah itu. Tera terus menyerang lebah raksasa bertubi-tubi. Tio yang sedari tadi menghindari serangan lebah menjadi wujud menjadi laba-laba raksasa.
Lidya yang melihat serangan gila mereka berdua berdecak kagum. Tio membuat sarang laba-laba raksasa dan menyuruh lebah itu datang kesana. Pemuda itu mengira kalau lebah tersebut bodoh. Lebah raksasa yang sudah di rasuki aura hitam dan bola matanya memerah sangatlah berbeda pada hewan umumnya di sebabkan ada pengendali di balik itu.
Lidya sempat berpikir kalau pengendali aura hitam itu adalah imajinasi yang ia ciptakan. Aura hitam sama saja seperti bayangan hitam yang pernah membuat orang-orang menjadi jahat. Di sisi lain sifat bayangan itu sangat mudah untuk di suruh jadi ada orang lain yang mengendalikan orang itu seperti ia mengendarai mobil.
Lebah besar tersebut menyerang mereka berdua dengan sengatannya, Tio yang tidak sempat mengelak terkena sengatan lebah tersebut membuat ia jatuh pingsan berubah menjadi manusia lagi.
Lebah itu seolah tertawa melihat lawannya sangatlah lemah dan masih bersikeras melawan musuh yang jelas lebih kuat dari mereka semua. Tera mendengar ada suara gadis yang masuk ke dua telinganya mengejek.
"Menyerahlah imajinasi lemah, kau tidak pantas untuk hidup jadi serahkan diri padaku agar kau bisa tidur selamanya."ucap gadis asing tersebut.
Tera menatap lebah raksasa di hadapannya penuh amarah, ia menunduk ekspresinya sekarang tidak bisa di deskripsikan dengan kata-kata. Lidya yang melihat pertarungan itu sangat gugup dan terus berdoa agar masalah ini cepat kelar, ia tidak tahu bagaimana keadaan teman-temannya yang lainnya.
Tanpa babibu Lebah tersebut mengarah ke Tera dengan kecepatan tinggi seraya menjatuhkan sengatan ke tubuh Tera. Ketika lebah itu sudah berada dekat dengan Tera gadis berambut pendek hitam itu masih berdiri menunduk membuat jantung Lidya berdetak kencang dan menegang.
Ia mengatupkan bibirnya dan menyatuhkan kedua tangan di dekat dadanya. Saat Lebah itu tinggal berapa meter dari Tera tiba-tiba keluarlah tumbuhan berjumlah banyak menutupi lebah raksasa itu tentu saja membuat Lidya menganga takjub.
Tera menatap tumbuhannya sudah menangkap lebah besar itu. Ia mengenggam tangannya kuat membuat tumbuhan tersebut mengkerut. Mata Lidya tiba-tiba bisa melihat aura hitam yang ada di lebah itu sudah melemah.
"Tumbuhan berduri!"Seru Tera.
Tumbuhan yang merangkai lebah besar tersebut keluar banyak duri berukuran besar. "Siksa lebah raksasa itu sampai mati!"perintahnya dan banyak duri yang tercipta pada tumbuhan siksa lebah,lama kelamaan aura hitam tersebut sudah menghilang membuat tumbuhan Tera meledak bagai bom.
Melihat keberhasilan yang di capai oleh Tera membuat seulas senyum terukir jelas di wajah gadis itu. Tera berjalan pelan menuju ke tempat di mana ia berhasil membunuh Lebah Raksasa buat mengambil gantungan kunci berbentuk Lebah,Biru.
__ADS_1
Ketika berjalan secara tiba-tiba keluar jangkrik berukuran besar menculik Tera. Lidya yang melihat itu melotot dan berusaha untuk mengejar Jangkrik raksasa yang tiba-tiba muncul dan menculik Tera. Ia tidak bisa berteriak, ia hanya bisa jatuh tertunduk menangisi apa yang terjadi.
"Ke.."
"Kesal!"ucapnya dalam diri.
-
-
-
-
*
Di sisi lain Charlie yang ada di rumah sakit Adera bersama teman lainnya merasakan suasana hati yang tidak bisa di deskripsikan. Tubuh Charlie sering berubah-ubah menjadi kuning, hitam, ungu,hijau. Pandu yang melihat itu bertanya pada adik kelasnya itu.
"Hei, kenapa yang terjadi pada cahaya tubuhmu?"tanyanya dibalas gelengan kepala tidak tahu. Charlie sekarang ikutan berekspresi yang sulit di artikan.
Perlahan bibir Charlie terangkat dan sedikit bergetar,"Ka-Kak Li-Lidya."ucapnya membuat Pandu melotot tidak percaya.
"Kenapa? Ada apa dengan Lidya?"tanya Pandu sangat khawatir pada gadis itu. Bagaimana pun juga ia akan sering ada di sisinya, ia sangat mencintai Lidya.
"Pan. Kalau kau ingin menyusulnya pakai portalku dan ia berada di Kota Selatan."kata Elle menawarkan.
Portal tercipta dan pemuda bersama beberapa temannya masuk ke dalam portal itu. Setelah sampai di mana Kota Selatan semua terkejut begitu banyak kekacauan serta orang mati berada di mana-mana. Pandu menambahkan indera penglihatan dan pendengarannya.
Tapi tidak ada suara apapun membuat ia khawatir. Ia melihat ada seorang gadis yang sudah ia kenal jatuh tertunduk sepertinya menangis. Dengan segera Pandu menghampiri gadis yang menangis.
Cantika melihat ada seorang pemuda berambut biru tergeletak di sana. Cantika, Charlie dan Iva menghampiri Tio yang tidak sadarkan diri.
"Dia tersengat lebah dan sengatan itu ada racunnya."kata Charlie dengan segera mereka menuntun Tio sampai ke rumah sakit. Elle yang melihat suasana kota Selatan sangat menyeramkan dalam hatinya ia ingin sekali bertemu dengan musuh yang menciptakan kerusuhan tidak ada hentinya.
"Lidya!"ucap Pandu di samping Lidya. Gadis itu menoleh melihat Pandu berada di sampingnya tanpa babibu Lidya memeluk Pandu dalam isak tangis diam. Setelah itu Lidya memberi isyarat kejadian yang sangat menegangkan melawan musuh.
Pandu mengangguk mengerti dan tidak percaya kalau musuh menculik Tera. Ini diluar perkiraannya.
"Sudah jangan nangis. Nanti kita semua akan menyelamatkan Tera dari musuh. Sekarang kita jenguk teman-teman yang terluka."ucap Pandu berusaha untuk menenangkan Lidya. Lidya hanya mengangguk dan sedih mendengar beberapa temannya terluka.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung...