Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Delapan puluh:Tidak Ingat Apapun (Alvan)


__ADS_3

  Seulas senyum menerka di bibir Meika melihat ada seorang gadis yang memasuki area bertarung setelah seorang pemuda yang sombong tersebut masuk. Ini bertambah menarik bagi Meika apalagi gadis di sebelahnya Roro pengendali kekuatan element Eyes; Purple Eyes---kekuatan pengendali boneka.


"Siapa gadis itu? Entah kenapa terlihatnya sangat menarik. Aku jadi ingin mengeluarkan bonekaku untuk menghancurkannya."Kata Roro terkekeh melihat Lidya turun lapangan rasanya ia tertarik pada gadis tersebut.


Ia juga merasakan ada aura yang tidak bisa di deskripsikan dengan kata-kata. Meika menoleh kearah Roro yang tergiur dengan pertarungan ini, "Mau menghancurkan kota dengan boneka hewanmu itu?"tebak Meika menoleh melihat pertarungan yang sebentar lagi bakal seru.


"Kau pernah kalah saat mereka berada di hutan belantara waktu itu. Untung saja kekuatanku bertambah sebab aku sudah menanamkan aura hitam pada orang-orang."lanjut Meika nada kesal.


"Kau juga kalah dengan mereka. Kalau bonekaku semua dikalahkan oleh kekuatan lemah seperti mereka, pintu imajinasi itu akan bisa tertutup rapat. I-itu tidak akan pernah terjadi!"kata Roro mengepalkan kedua tangannya menatap layar itu menunjukan bahwa pemuda-pemudi disana yang sudah mengalahkan boneka tupai saat di hutan. Serta berhasil mendapatkan satu gantungan kunci.


"Meika, ayo kita serius bertarung dengan mereka!"titahnya dibalas anggukkan mantap dari Meika.


  Di SMK Cemerlang pemuda bernama Alvan menatap ke depan melihat ada seorang gadis berdiri di hadapannya tanpa ada kekuatan. Ya, ia bisa merasakannya dengan jelas tidak ada kekuatan dari dalam dirinya --- manusia biasa. Alvan tertawa terbahak-bahak membuat yang lainnya bertanya-tanya bahwa Alvan semakin lama sudah tidak waras.


"Wah-wah lelucon apa lagi ini. Sekarang yang berdiri di depanku adalah manusia yang tidak memiliki kekuatan."ucapnya mengejek Lidya. Yang lain terkejut, terkejut bukan karena Lidya tidak memiliki kekuatan melainkan terkejut Lidya masuk ke area bertarung.


  Pandu menatap Lidya khawatir ia tidak bisa membiarkan gadis itu terluka dengan kekuatan aura hitam yang jahat. Siapapun yang melukainya ia ingin bersumpah mencari tahu siapa yang berusaha menghancurkan dan membunuh orang tidak bersalah. Di jadikan budak. Ia tidak akan pernah mengampuni orang dibalik semua ini. Aska juga sama seperti Pandu bedanya ia sebagai kakak harusnya menjaga seorang adik dari marabahaya bukannya berdiam diri di genggaman musuh seperti ini.


  Ia tidak bisa mengingkari janjinya waktu itu bahwa ia akan melindunginya dan tidak akan membiarkan adiknya terluka. Memang Aska bukan kakak kandung Lidya setidaknya ia bisa menempati janji itu tidak seperti ini, menjadi seorang penonton. Pandu dan Aska mencoba memberontak, kembali menyerang Alvan tapi usahanya tetap sial. Kekuatan dalam tubuh mereka seolah terkekang dan mati rasa.


Sial.


Lidya menatap tajam kakak kelasnya,"Kak Alvan!"teriaknya memanggil kakak kelasnya yang masih tertawa mengejek, "harusnya kakak lah yang sadar! Bahwa teman-temanku bukanlah budak melainkan kakak lah yang sebenarnya menjadi budak sungguhan!"lanjutnya lantang menunjuk mengarah ke Alvan.


"Aku sadar. Bahwa harusnya aku turun area pertarungan sejak awal dan aku tahu... Bahwa aku hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan seperti teman-temanku. Jadi lebih baik, Kak Alvan melepaskan teman-temanku dan bertarung dengan diri kakak Alvan sendiri karena kekuatan dalam tubuh Kak Alvan ada yang mengendalikan."Jelas Lidya penuh keyakinan menatap tajam ke Alvan.


  Mata Alvan membulat sempurna ia sedikit tersadar apa yang ia lakukan pada teman-temannya. Aura yang menyelimuti tubuh Alvan memulai memudar membuat mereka bingung. Meika yang melihat itu merasa kesal dan berpikir kenapa gadis itu bisa menyadarkan orang yang sudah dipenuhi oleh kekuatannya segampang itu.


Meika tidak menyerah begitu saja ia menambah kekuatannya yang sudah di tanam di tubuh Alvan, kekuatan penuh. Roro juga mulai kesal sama seperti Meika, "kita bunuh saja gadis itu supaya jalan kita tidak terhalang olehnya."


        Awan hitam semakin menghitam,sekarang bercampur dengan suara petir yang memekikkan telinga.


Kraak... Duar!


  Semua orang berlindung di rumah masing-masing bersembunyi di tempat aman. Petir terus menyambar, aura hitam milik Alvan mulai keluar dari tubuhnya dan membuat kesadaran Alvan benar-benar menghilang serta kedua matanya kini berubah menjadi berwarna ungu. Vin dan Lidya terkejut melihat wujud sesungguhnya dari Aura hitam itu.


  Jay dan lainnya meringis kesakitan seperti ada yang benar-benar mengekang kekuatan dari tubuh mereka berenam mencoba melepaskan kekuatan itu keluar dari tubuh mereka. Vin berdecih ini memang seperti perkiraan dia yaitu kekuatan yang memiliki kekuatan sejenis dirinya.


"Aku akan menghabiskan kalian semua!"ucap Alvan, suaranya berubah menjadi suara seorang gadis yang lebih dari satu. Fitri dan Anggi yang melihat itu menganga tidak percaya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"tanya Fitri pada dirinya sendiri.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


   Kekuatan aura hitam itu mengarah cepat ke Lidya, gadis itu hanya bisa membulatkan kedua matanya. Vin dengan sigap mengeluarkan kekuatan iblisnya ia langsung mencekal aura hitam yang membentuk tangan. Mata Alvan memincing dan memperbanyak tangan dari kekuatan aura hitamnya mengarah bebarengan menuju Lidya.


  Vin memerhatikan tangan-tangan aura hitam menuju bebarengan mengarah ke Lidya dengan cepat pemuda itu mengeluarkan kekuatan sepuluh pedang iblis dan memotong tangan-tangan aura hitam tersebut. Membuat sang lawan meringis kesakitan.

__ADS_1


"Argh!"


"Kekuatan apa itu?"tanya Nando tidak percaya.


"I-itu?"kata Aska tidak bisa menjelaskan kekuatan dari pemuda bernama Vin.


Seulas senyum terlukis di bibir Jay, "kekuatan itu bisa disebut kekuatan iblis. Auranya sangat menyeramkan siapapun yang dekat oleh Vin maka kau akan merasakan kesan horror yang mengakibatkan semua bulu kudukmu merinding. Dan terkesan kepribadiannya penyendiri dengan alasan tidak ingin membuat yang lainnya takut."jelas Jay begitu rinci.


Beni melihat Vin sangat berbeda saat di dalam kelas memang ia tidak pernah bersosialisasi dengan teman kelasnya tetapi ia sering jail dengan teman kelasnya. Terutama pada anak yang nakal seperti Ferdi dan kedua temannya; Sarah dan Tina. Setiap hari Vin keluar kelas tanpa mengajak satu teman pun pergi bersama nya dengan alasan yang dikatakan oleh Jay, tidak mau temannya takut karena aura iblis yang singgah di tubuhnya.


  Melihat Vin berubah sepenuhnya menyerupai iblis dengan kedua mata merah serta kuku panjang diselimuti aura hitam begitu pekat. Menurut Beni, kekuatan Vin sudah bertambah kuat apa mungkin Vin berlatih keras setiap hari tanpa diketahui teman sekelasnya.


  Vin mencoba melindungi Lidya dari aura hitam dan gadis itu melihat teman-temannya yang sedang memerhatikan aksi Vin melawan Alvan. Lagi-lagi terdengar suara petir.


Duar!!


Tetapi tidak ada satu tetes air hujan yang turun. Lidya menatap Vin yang sibuk menyerang lawannya sesekali ia berteriak kesakitan akibat pedang iblis yang di genggam oleh Vin. Setiap Alvan meringis kesakitan ia membuat keenam teman-teman terkekang dan seolah menarik sesuatu dalam mereka berenam.


"Vin. Tolong selamatkan lainnya dari aura hitam yang mencengkeram mereka."pinta Lidya. Vin menghentikan melawan aura hitam dari Alvan,menoleh melihat Lidya memintanya menolong teman lainnya dari aura hitam itu.


"Kalau aku pergi kau akan terluka,"kata Vin,"aku tidak bisa membuat prajurit iblisku karena kekuatanku sudah terkuras."kata Vin.


"Hmm tapikan kau masih bisa membuat satu prajurit atau dua prajurit iblis."ucap Lidya melihat keenam temannya sudah menderita di dalam aura hitam itu.


"Bisa, hanya satu prajurit saja. Tapi aku harus membantunya karena satu prajurit saja tidak bisa mematahkan aura hitam dari tubuh mereka. Bisa dibilang..."menghela nafas sejenak,"...prajurit iblisku masih berkekuatan lemah."lanjutnya.


"Tidak apa-apa. Yang penting kau sudah berusaha menyelamatkan mereka dan melindungiku, terima kasih Vin."ucap Lidya tersenyum manis membuat Vin ikut tersenyum dalam mode iblis miliknya menunjukkan deretan gigi tajam. Mata merah Vin menghadap ke depan dan membangkitkan satu prajurit berambut panjang dengan kuku tajam memiliki gigi yang tajam.


  Alvan yang meringis kesakitan sesekali melihat bahwa mangsa uniknya sudah tidak di lindungi oleh pemuda sombong yang memiliki kekuatan yang menyeramkan. Ia juga melihat Vin dan seseorang bersamanya nampak lebih menyeramkan dari Vin mengarah ke keenam pemuda yang mulai melemah dan kekuatannya tidak mau keluar dari tubuh mereka.


Sial--umpatnya dalam hati.


"Aku akan menghabisi gadis di hadapanku terlebih dahulu."ucapnya tertawa terbahak-bahak. Ia mengeluarkan kekuatan penuhnya mengarah ke arah Lidya dengan kecepatan penuh.


  Vin dan prajuritnya masih mengarah ke teman-temannya. Lidya menatap aura hitam itu penuh keyakinan aura hitam tersebut mencengkeram tubuh kecil Lidya ke tembok. Lidya meringis kesakitan merasakan rasa nyeri yang tercipta di punggungnya.


"Lidya!"teriak teman-temannya.


Dengan cepat Vin dan prajurit iblisnya membebaskan ke-enam pemuda tersebut dari cengkraman aura hitam. Alvan berjalan ke depan menghampiri gadis itu yang merontah melepaskan diri dari cengkraman aura hitam.


"Hahaha, tidak ada gunanya meronta-ronta seperti itu. Manusia lemah."ucapnya menghampiri Lidya.


Lidya menatap monster di hadapannya penuh kesal dan amarah. "Jangan seenaknya kau memanggilku manusia lemah apalagi tidak memiliki kekuatan."ucapnya membuat Roro merasa kesal ia sudah mengendalikan tubuh pemuda itu, Alvan sepenuhnya. Ia sudah berdiri di hadapan gadis tidak tahu diri tersebut, ia mencekik leher gadis itu.


"Lebih baik aku membunuhmu disini."ucap Roro penuh penekanan.


"Kau tidak pantas disini hanya membuang waktuku saja, gadis sialan!"ucap Meika penuh penekanan. Lidya yang mendengar suara Meika tersenyum dan meringis kesakitan karena musuh di hadapannya perlahan mencekik lehernya bertambah kuat.

__ADS_1


  Seorang pemuda melompat dan mengayunkan pedang icenya ke arah Alvan, "Tebasan pedang ice!"serunya. Refleks tanpa menoleh Alvan menyerang menggunakan kekuatan aura hitamnya membuat tubuh Melvi terpental dan menatap dinding sekolah.


"Melvi!"teriak Fitri berlari cepat menghampiri Melvi, ketua osis.


Anggi yang diam saja memutuskan untuk bertindak memasuki ke area kembali. Lidya berusaha melepaskan genggaman kuat dari musuh agar ia bisa bernafas. Meika dan Roro menatap gadis itu senyum kemenangan, "berakhir lah gadis sialan!"


  Roro menambah cengkraman tangannya mencekik Lidya hingga gadis itu hampir kehabisan nafas. Tetapi tiba-tiba kekuatan pengendalian bonekanya terasa mati rasa membuat kedua mata Roro terbelalak. Meika juga merasa kalau aura hitam yang berada di pemuda itu seperti di hisap sama persis waktu di Hutan belantara waktu itu.


   Seulas senyum tipis terlukis di wajah Aska, ia menyentuh punggung Alvan dalam sekali sentuhan tubuh pemuda itu ambruk serta aura hitam perlahan menghilang. Nando, Jay, dan Vin melongo melihat kekuatan Aska yang hebat.


Tubuh Lidya terasa sangat lemas dan ia mulai ambruk dengan segera Pandu menangkap tubuh Lidya yang lemas. Anggi yang ingin membantu terlambat dan menarik nafas lega kalau semua ini sudah berlalu.


   Vin mengecek tubuh Alvan sudah menjadi normal seperti sedia kala. Beni menarik nafas panjang,"kita gotong mereka ke UKS."kata Beni.


Fitri yang duduk dan mencoba membangunkan Melvi terbaikan ia berteriak ke teman-temannya yang lain. "SESEORANG BANTU AKU MEMBAWA KAK MELVI YANG PINGSAN!"teriaknya yang cempreng begitu menggelegar dan menbuat beberapa kaca di sekolah pecah akibat teriakan merdu Fitri.


"Ya ya,tenang saja kami akan membantumu Fit. Tidak perlu berteriak sampai kaca sekolah pecah loh."celetuk Anggi membantu Fitri membawa Melvi ke Uks dengan mengalungkan tangan Melvi ke pundak.


Pandu menggendong Lidya menuju ke uks. Jay, Nando dan Beni membawa Alvan ke uks. Vin menoleh ke Aska dengan senyuman, "kekuatanmu hebat dan matamu jadi abu?"puji Vin sambil menunjuk mata Aska yang masih berwarna abu.


Aska menutupi sebelah mata abunya, "mata ini. Bagiku mata ini sangat membantu orang lain dan kekuatanmu juga hebat kok."ucapnya terkekeh.


Vin tersenyum miring menatap Aska tajam dan mengeluarkan sedikit kekuatan iblisnya membuat Aska diam dan menahan rasa takut.


  Beberapa teman Lidya, teman Alvan dan beberapa anggota osis menuju ke UKS menjenguk temannya yang terluka. Cantika melihat Lidya merasa sangat kasihan dan terus memanggil nama Jimin di hatinya. Tera baik-baik saja dan merasa terlindungi karena dinding itu berhasil menyelamatkan dan membuat benteng. Jadi ia tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.


"Jimin. Ah..aku harap Lidya baik-baik saja, aku yakin itu.. Jimin."kata Cantika berhasil di dengar oleh Anggi.


"Kak Can. Siapa itu Jimin?"tanyanya membuat Cantika setengah melamun menatap Lidya terbaring di atas kasur terkejut. Menoleh mendapati adik kelasnya bertanya soal Jimin.


"A-aku tidak tahu. Siapa itu Jimin. Akhir-akhir ini aku sering memanggil nama itu dari sebelumnya."jawabnya membuat Anggi berkerut.


  Alvan sudah tersadar ia melihat beberapa temannya dan juga melihat adik kelasnya Jay serta teman lainnya,Menggerombol. Nando menatap tajam kakak kelas menyebalkan itu.


"Apa kakak sudah baikan?apa kakak mengingat sesuatu kejadian tadi di lapangan?"tanyanya serius.


"Tidak. Aku tidak mengingat apapun!"katanya membuat semua terkejut.


"Apa!"


"Benar. Aku memang tidak mengingat apapun? Memangnya apa yang terjadi?"tanyanya balik membuat Nando kesal dan menarik pergelangan Alvan kasar membuat yang lainnya khawatir.


"Nando!"teriak Jay mengikuti temannya yang masih emosi.


"Lihatlah itu akibat perlakuanmu!"ucapnya kasar menyuruh melihat bangunan SMK Cemerlang hampir roboh akibat dirinya. Alvan hanya menganga tidak percaya dan terus bertanya dalam hati.


Apakah aku penyebab semua ini?

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung....


__ADS_2