Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Lima Puluh:Pulang Kemah


__ADS_3

Semua teman-teman di perkemahan menunggu kedua temannya yang sedaritadi belum datang membuat Selena khawatir dan berpikir yang tidak-tidak. Ia ingin sekali pergi ke pintu garis antara area terlarang dan Drak Shadows ini tetapi dilarang oleh Pak Ganda.


Cantika melirik ke Shena dan membisik bahwa ia sedaritadi tidak melihat keberadaan Yusuf. Gadis berambut lurus berponi tersebut baru sadar bahwa Yusuf tidak ada. Melvi menoleh kebelakang melihat Cantika dan Shena,"ada apa Shen dan Can?"tanya Melvi nada dinginnya. Kedua matanya menatap dua gadis itu serius.


Shena menatap ke Melvi, mulutnya terangkat,"Yusuf. Ia menghilang Melvi!"ucapnya khawatir.


  Lidya melihat ada asap putih yang perlahan menuju ke area perkemahan. Ia menyuruh semua teman-temannya melihat asap putih tersebut lamat-lamat. Mata Lidya menyipit perlahan asap putih itu pudar dan mendapati dua orang yang ditunggu-tunggunya datang dengan seulas senyum mengembang.


Selena melihat temannya sudah datang berteriak girang bisa melihat Farah tersenyum lebar, ia menghampiri Farah,"Farah!"memeluk Farah erat. Kevin hanya menatap datar melihat tali pertemanan Farah dan Selena sangat kental sekali. Mereka bertiga kembali ke kelompok sebelum itu Farah dan juga Kevin menatap Pak Ganda tersenyum tipis.


  Pria itu memandang Kevin dan Farah bergantian, tangan mereka masih menempel seolah tidak bisa lepas. Pak Ganda menarik nafas dalam-dalam menatap keduanya serius. "Apa kalian sudah mendapatkan bunga warna-warni yang bapak maksudkan tadi?"tanyanya datar, menunggu jawaban mereka.


   Lidya dan lainnya terlihat tegang mendengar pertanyaan Pak Ganda yang bisa dibilang sangat sulit. Jika ia tidak diberitahu oleh Pak Ganda tadi mungkin ia tidak akan balik kesini dan terus menerus mencari bunga warna-warni yang nyatanya tidak ada keberadaannya.


Kevin tersenyum penuh arti,"Bunga Warna-warni itu artinya berkerja sama. Jika tidak bekerja sama maka bunga warna-warni itu tidak ada dan tidak akan pernah ada."ucap Kevin menatap Pak Ganda dengan wajah ciri khasnya yaitu datar dan serius.


Farah mengangguk mantap mengiyakan perkataan Kevin barusan. "Bunga warna-warni tidak ada di area terlarang Drak Shadows 36 ini. Maka dari itu kami berdua berpikir bahwa itu sebuah teka-teki yang menurut kami berdua, membingungkan."ucap Farah membiarkan pendapat tentang teka-teki yang dibuat oleh Pak Ganda.


  Pria bertubuh kekar bak militer tegas itu tersenyum tipis mendengar jawaban dari Kevin dan Farah. Menurutnya mereka berdua kecepatan berpikirnya seperti aliran listrik. "Kalian berdua lepas dari hukumanku karena berhasil memecahkan teka-teki dan berjalan menelusuri area terlarang Drak Shadows."ucapnya memberikan senyuman.


"Seriusan pak!"seru Kevin mata berbinar-binar mendengarnya, seulas senyum yang tidak pernah Kevin tunjukkan terlihat. Semuanya melihat senyuman Kevin merasa bahagia. Tangan Farah dan Kevin yang tadi menempel sekarang sudah lepas seolah kutukan kecil itu hilang. Kevin dan Farah sangat senang, mereka menatap Pak Ganda dan bilang berterima kasih.


  Farah menghampiri Selena, Lidya dan Vana, memeluk mereka bertiga bergantian. "Aku senang bisa bertemu kalian!"serunya setelah memeluk mereka bertiga. Mereka bertiga tertawa kecil. Lidya menepuk pundak Farah pelan,"kami juga senang,kau bisa datang tepat waktu. Kau tahu,"ucapnya berhenti sejenak melirik kearah Selena,"Selena sangat mengkhawatirkanmu dan ingin menyusul ke area terlarang loh."lanjutnya.

__ADS_1


Farah menggeleng melihat Selena bisa senekat itu tanpa berpikir panjang. Vana menatap mereka datar dan menyuruh Farah kembali ke tenda untuk makan siang, Farah mengangguk.


*****


    Keesokkan harinya semua murid SMK/SMA dan SMP berkumpul menjadi satu mendengarkan ucapan terima kasih telah mengikuti kemah gratis. Semua murid merasa sangat senang bisa berkemah yang bisa dibilang seru apalagi saat permainan yang tidak terduga membuat jantung mereka berdetak lebih kencang.


  Setelah acara penutupan mereka semua membereskan tenda dan barang-barang mereka menuju kembali ke bus masing-masing. Tera membantu lainnya membawa barang-barang menggunakan kekuatan tumbuhan miliknya.


"Akar tumbuhan!"seru Tera mengeluarkan beberapa akar dari telapak tangan membawa barang-barang bawaan di tangan tumbuhannya lalu Tara menyalurkan barang-barang itu ke para pemuda yang berbaris di pintu depan.


Shena mengeluarkan kekuatan miliknya menggendong banyak sekali barang yang berat. Gadis itu tidak peduli dengan tenaga yang sudah terkuras separuh. Sebuah kendaraan skateboard yang pernah ia kendaraai datang menghampirinya lalu tidak lama muncul seorang pemuda memakai kacamata bulat, membawa remot kontrol buatannya.


"Barang-barangnya taruh di skateboard itu. Aku akan mengantarnya sampai depan dengan remotku ini jadi kau menuju ke bus saja daripada tenagamu terkuras."ucap Arkan menyuruh Shena menaruh barang bawaannya ke skateboard miliknya. Gadis berambut merah tersebut menatap kendaraan itu sejenak lalu menaruh barang-barangnya ke atas skatboard yang sudah berjajar tiga.  Rambut merah bergelombangnya perlahan menjadi hitam dan rambut normal, tidak lupa poni yang selalu menutupi dahi Shena.


  Kevin menata barang-barang dibawanya langsung masuk ke dalam bus. Menurutnya itu lebih mudah daripada harus bolak-balik sedikit merepotkan memang. Ia menciptakan asap tebal dan barang-barangnya menghilang.


  Di tempat bagasi mobil yang kebetulan ada seorang pria membantu menata barang, terkejut melihat ada barang yang tiba-tiba di sana. Kevin tersenyum tipis dan ia berjalan ke pintu utama setelah memindahkan barang menggunakan asap teleport yang sering digunakannya.


   Lidya dan Bening menggendong tas besar mereka berdua, kedua tangannya menenteng tas bawaan, "Aduh, sisanya gimana nih?tangan kita udah penuh."ucap Bening mengkerutkan dahi bingung sambil menghela nafas sebal.


Tiba-tiba dua benda didepan Lidya dan Bening terbang diselimuti cahaya biru di sisi benda itu. Tidak hanya itu saja tas tenteng yang berada di tangan Bening dan Lidya ikut terbang. "Biar aku saja,yang mengantarkan barang-barang kalian menggunakan magicku."suara yang dikenal oleh Lidya dan nada bicara sedikit menggemaskan menoleh mendapati Yusuf yang menggoyangkan satu jari telunjuknya. Tersenyum manis kearahnya,Bening mengikuti arah pandang Lidya.


Melihat pemuda berjaket abu-abu memakai tudung jaket menutupi separuh wajahnya membuat Bening penasaran dengan pemuda itu. Lidya tersenyum,"terima kasih, Yusuf!"ucapnya dibalas anggukan Yusuf. Benda-benda itu terbang menuju ke pintu utama.

__ADS_1


   Anak kembar Arka dan Arsa juga membawa barang mereka yang sudah enteng sebab Arka menggunakan kekuatan menggandakan diri menjadi 6 orang termasuk Arka jadi bawaan mereka berdua ringan. Fitri membawa barang-barang berlari mondar-mandir dengan kecepatan kilat ia merasa senang karena sama dengan olahraga pagi.


  Merasa sudah semua barang-barang diletakkan di bagasi bus, semua murid dari berbagai sekolah mulai naik ke dalam bus berjalan menuju ke sekolah masing-masing. Di dalam bus Lidya, semua murid memilih karaoke bersama. Suasana menjadi ceria detik itu juga, Lidya juga ikut bernyanyi karena lagu favoritnya dimainkan dan tentunya dinyanyikan bersama teman-temannya. Ketua osis yang dikenal dingin juga ikut bernyanyi. Ferdi selaku biang kerok mengeluarkan suara paling sumbang saat reff lagu dimulai membuat sebagian murid protes.


"Fer, kau bisa diam tidak! Suaramu sunbang banget bikin telingaku sakit!"protes Tina menutupi kedua telinganya sambil bersembunyi dibalik punggung Sarah. Jay dengan sigap menutupi kedua telinga menggunakan earphone yang sengaja di bawanya jadi ia fine-fine aja.


  Vin jangan di tanya ia menyibukkan diri bermain game di smartphone miliknya. Beni dan Arkan tidur dengan nyenyak karena mereka berdua menyuruh Pandu mematikan pendengar mereka sejenak. Pandu sendiri memilih menoleh kebelakang melihat keheboan yang terjadi sesekali terkekeh.


    Lidya hanya bisa menggeleng lalu ia mengeluarkan buku kecil dan pulpennya yang selalu ia bawa kemanapun dan dimanapun, ia pergi. Tinta pulpen sudah mencoret sebuah huruf abjad yang rapi di kertas kosong tersebut. Lidya menulis bahwa perkemahan selama empat hari adalah perkemahan yang tidak pernah ia lupakan meski ia pisah dengan teman-temannya yang penting ia bisa berteman di sekolah berbeda-beda.


Aku sangat senang bisa mendapatkan teman seperti mereka. Bagiku mereka sangat seru meskipun ada yang menjengkelkan seperti Vana dan juga Kevin, dua makhluk itu ingin sekali aku protes---karena mereka selalu saja memasang wajah datar dan tidak suka apa yang di putuskan oleh ketua kelompok. Namun dibalik wajah datar mereka terdapat kebaikan yang tersembunyi yang hanya orang tertentu saja, yang tahu.


Selena dan Farah, pertemanan mereka sangat kuat bagiku mereka berdua seperti kakak adik. Agung, pemuda berambut paling mencolok di anggota kelompok Selma, dia orang paling asik yang pernah aku temui dan paling kocak kalau tidak ada Agung mungkin suasana canggung akan terjadi selama 4 hari perkemahan.


Ada juga kedua pemuda kembar, Arka dan Arsa. Aku sempat tidak bisa membedakan mana Arsa dan mana Arka,mereka sangat identik sekali untung saja ada beberapa kebiasaan berbeda jadi aku bisa membedakan mereka berdua meskipun ada rasa ragu, takut tertukar.


Fandra, pemuda paling pintar dan pemimpin seperti Beni. Aku tidak tahu kekuatan aslinya itu apa yang jelas ia peka dengan gadis. Seolah Fandra bisa membaca raut wajah seseorang seperti Hana, hehehe.


  Seulas senyum terukir jelas di bibir kecil Lidya setelah menulis tentang teman-teman barunya. Dalam hati ia ingin bertemu mereka suatu hari nanti ke depan.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2