Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Tujuh Puluh Tiga: Nonton Bioskop Bareng


__ADS_3

     Di sore hari jalanan nampak ramai,banyak sekali kendaraan berlalu lalang menuju kembali ke rumah. Sepatu kiked berwarna biru-putih terus melangkah santai. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana, mata cokelatnya menatap ke depan melihat banyak pejalan kaki terburu-buru menuju rumah mereka.


  Ia melihat gedung besar, penuh sekali orang keluar masuk yang selalu ramai pembeli, sebuah mall. Pemuda berambut panjang sebahu itu berjalan memasuki mall dan memanjakan mata melihat benda-benda yang begitu banyak terpajang setiap toko. Ia naik ke eskalator menuju ke lantai tiga dimana letak bisokop berada.


  Rencananya besok hari sabtu ia akan mengajak seseorang untuk menonton bersama. Pandu berjalan menuju tempat bioskop dan pintu kaca dibukakan oleh pegawai mall serta memberi sapaan ramah membuat Pandu tersenyum ke pelayan itu lalu menuju ke locket.


"Selamat datang di bioskop 24,apa ada yang saya bantu mas?"tanya pegawai wanita itu ramah.


Pandu melihat daftar film yang ada di bioskop ini, terdapat 5 film yang bagus-bagus. Di dalam hatinya ia bingung orang yang diajak olehnya, menyukai film apa. Tidak mungkinkan, ia bertanya pada orang itu sebab Pandu akan membuat kejutan.


"Hmm, mbak. Saya boleh tanya sesuatu?"tanya Pandu pada wanita di hadapannya.


"Tentu saja."jawabnya singkat masih tersenyum ramah.


"Hmm, biasanya kalau ngajak orang yang sepesial itu. Nonton apa ya?"tanya Pandu nada polos membuat wanita itu tertawa kecil mendengarnya. 


  Wanita tersebut menggeleng dan mengambil ticket bioskop lalu menyodorkan ke Pandu. "Ini adalah ticket special buat orang yang mas ajak. Pasti dia akan senang sekaligus takut."ucapnya.


Dahi Pandu berkerut melihat ticket yang sekarang berada di tangannya, dalam hatinya film bergenre horor dan fantasy. Ia menatap wanita itu dan memberikan selembar uang.


  Saat Pandu selesai memesan tiket buat besok ia tidak sengaja bertemu dengan Lina yang berjalan seorang diri di Mall besar.


"Eh Lina, temannya Lidya ya?"sapanya sambil menebak.


Gadis itu terkejut melihat seorang pemuda yang sudah tidak asing di penglihatannya. Ia berpikir sejenak seraya menunjuk ke pemuda itu,"Pandu kan?"ucapnya pelan dibalas angguk Pandu, Lina menyunggingkan senyum mengembang kalau ia tidak salah menebak.


"Hmm, habis kemana Pan?"tanya Lina.


"Ini selesai beli tiket bioskop buat besok."jawabnya.


"Wah, nonton sendiri atau nonton bareng."ucap Lina sedikit menggoda Pandu. Pemuda itu hanya terkekeh.


"Ada deh,"ucapnya menarik nafas sejenak menatap Lina,"oh, kau sendirian di Mall?"tebaknya dibalas angguk Lina.


"Iya, tadi aku juga selesai membeli tiket bioskop terus jalan-jalan bentar di Mall. Tahu-tahunya bertemu denganmu disini."kata Lina membuat Pandu tersenyum penuh arti.


"Nonton sendiri atau nonton bareng sama seseorang nih?"ucap Pandu meniru nada bicara Lina membuat pipi Lina merah merona dan segera membuang muka dari Pandu.


"Diamlah, aku malu tahu!"


"Hehehe. Ternyata mau ngajak sama orang special."kata Pandu.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


     Kamar yang sangat berantakan di lantai banyak sekali gulungan kertas berserakan dimana-mana. Terlihat seorang gadis sibuk menggambar sesuatu di meja belajarnya dan membuang kertas itu di lantai sebab gambaran dibuatnya, tidak sesuai apa yang di imajinasinya.  


  Ia mennggaruk kepala frustasi, menempelkan kepala diatas meja menghela nafas kasar. Hari ini ia tidak bisa menggambar seperti biasanya sebab moodnya sangat hancur. Jangankan menggambar, menulis cerita saja ia tidak mood padahal waktunya untuk update di dunia oranye.


"Argh, kenapa aku tidak bisa fokus gambar sih? Gagal mulu dari tadi."keluhnya sesekali menghela nafas kasar. Mengangkat kepala menatap dinding yang penuh gambaran imajinasinya dan buku novel yang belum ia kembalikan ke perpustakaan sekolah.


   Ia menoleh melihat luar jendela, langit berwarna oranye yang sebentar lagi akan tergantikan malam. Angin semelilir masuk ke dalam kamar Lidya membuat beberapa helaian rambutnya bergoyang. Mengecek laci meja belajarnya disana terdapat pensil yang ditemukan oleh Aska di hutan waktu itu.

__ADS_1


  Pensil yang ditemukan oleh Aska bukanlah pensil biasa melainkan pensil yang memiliki kekuatan. Diambilnya pensil itu dan Lidya kembali mencoret bukunya dengan pensil memiliki kekuatan. Gadis itu menggambar satu kentang yang ia kasih kedua mata, satu mulut, topi hitam, kedua tangan, kedua kaki.


  Tidak lama kemudian gambar tersebut muncul dari kertas itu dan tersenyum ke Lidya memberi hormat layaknya kapten.


Lidya tersenyum,"wah kamu lucu sekali, tuan kentang."ucap Lidya membuat kentang tersebut merasa gembira. Kentang tersebut melihat kamar Lidya yang sangat berantakan penuh dengan gulungan kertas di mana-mana. Lidya melihat arah pandang tuan kentang yang berhasil ia ciptakan beberapa menit lalu.


Tuan kentang itu melompat turun dari meja belajar dan berusaha membawa satu bola kertas tetapi ia tidak bisa melakukan itu apalagi kertas yang berada di lantai lebih dari satu. Lidya berpikir sejenak dan mendapatkan sebuah ide cemerlang.


  Ia menggambar ulang tuan kentang lebih dari satu, selesai dengan menggambar. Lidya tidak sengaja langsung memberikan sebuah perintah pada gambar tersebut,"Prajurit Kentang bereskan semua kertas yang berserakan di kamarku! Dan bantu pemimpin kalian yaitu Tuan kentang!"titahnya.


  Sebuah sinar kecil keluar dari kertas tersebut dan sebanyak 20 kentang prajurit keluar dari kertas. Berjalan dan melompat ke bawah membantu Tuan Kentang mengangkat kertas-kertas itu, dimasukkan ke dalam sampah yang ada di ujung kamar. Lidya melihat semua itu hanya bisa sweetdroop.


Ia menatap kembali ke kertas tadi, padahal disana terdapat 5 kentang prajurit tetapi saat memberikan perintah menjadi 20 kentang prajurit. Lidya menatap pensil bergambar laba-laba itu seksama.


Pensil ini sangat hebat--batinnya.


Drrrt


Drrrt.


Terdengar ponsel bergetar tanda ada notifikasi masuk dengan segera Lidya mengecek ponselnya. Takut kalau ada kerusuhan seperti kemunculan seorang gadis yang ternyata memiliki kekuatan jahat, aura hitam.


Dibukannya notif tersebut ternyata dari Pandu membuat Lidya menghela nafas lega. Dibukannya notif tersebut.


Pandu:


Lid, besok kamu ada waktu nggak?


Lidya:


Tidak ada. Memangnya kenapa?


Pandu:


tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengajakmu pergi besok, selesai magrib. Apa kau tidak keberatan,Lid?


Lidya:


Hahaha, tenang saja. Aku tidak keberatan kok. Aku malah senang, lagipula aku bosan di rumah terus membuat pikiranku mudah jenuh. Kau tahu, sekarang aku lagi membuat kamarku berantakan penuh kertas. Pengen gambar yang menarik tapi berkali-kali gagal.


  Lidya menunggu Pandu membaca pesannya yang sangat panjang. Lidya sendiri tidak tahu, mengapa ia langsung membicarakan masalah sepele ke Pandu padahal pemuda itu sama sekali tidak bertanya padanya.


Pandu:


Hahaha, kebetulan sekali. Ya sudah, besok aku akan menyusulmu saat selesai sholat magrib. See you :)


Lidya:


See you juga :)


  Setelah menjawab pesan singkat dari Pandu. Beberapa gambaran kentangnya sudah berada di depannya membuat Lidya sedikit terkejut sebab terlalu fokus menatap layar ponsel. Tuan kentang memberikan hormat dan diikuti oleh prajurit lainnya kemudian gambar tersebut menghilang dengan sendirinya. Lidya menoleh melihat kamarnya sudah bersih dari kertas yang banyak itu.

__ADS_1


He-hebat batinnya.


Lalu ia teringat pesan Pandu, gadis itu segera keluar kamar meminta izin ke orang tuanya untuk pergi besok.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


   Waktu yang ditunggu-tunggu sudah datang. Seorang pemuda mengenakan pakaian hem kotak-kotak berwarna merah-hitam, memakai celana hitam, sepatu berwarna merah seperti pakaiannya. Rambut panjangnya ia kuncir kuda dan disisi kanan-kirinya dibiarkan tidak di kuncir.


Lalu keluarlah seorang gadis memakai baju sederhana. Memakai kaos oblong putih di tutupi oleh blazer hitam, celana jens biru dan sepatu sandal berwarna putih. Tidak lupa dengan tas selempang kecil berwarna hitam. Lidya pamit dengan Mama, salim dan Pandu juga tidak lupa pamit ke mamanya Lidya.


"Jangan pulang malam-malam. Jaga Lidya ya nanti ia nangis kalau kamu tinggal."kata mama sedikit bercanda. Lidya yang mendengar itu mengerucutkan bibirnya.


"Mama bicara apa sih? Nggak gitu tahu!"tidak terima.


"Tenang saja, te. Aku akan jaga Lidya."kata Pandu pamit berjalan menuju ke mobil yang sudah menuggu di susul oleh Lidya.


-


-


-


-


    Mobil putih berbelok di parkiran yang penuh dengan mobil. Selesai memikirkan mobil mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam mall. Dalam perjalanan Lidya begitu kepo dengan Pandu mengajaknya di mall besar.


Dengan santainya Pandu menjawab, "nonton bioskop."


Mata Lidya melebar tidak percaya, ia sangat senang bisa nonton bioskop karena ia jarang sekali nonton bioskop lebih tepatnya tidak pernah. "Wah serius! Selama hidupku, aku tidak pernah nonton bioskop padahal aku ingin sekali pergi kesana."kata Lidya.


"Eh seriusan? Berarti aku yang pertama kali mengajakmu pergi nonton bioskop."ucap Pandu sedikit tidak percaya dan merasa senang bisa melihat wajah berseri-seri Lidya.


"Memangnya kau mengajakku nonton apa?"tanyanya.


Mulut Pandu mengantup dan memalingkan wajahnya membuat Lidya bertambah penasaran. Pandu melirik sedikit kearah Lidya, "ada deh, kepo."ucapnya membuat Lidya sedikit kesal.


"Ih, nonton film apa? Please beritahu aku."pintanya memegang tangan Pandu membuat langkah pemuda itu berhenti. Tangannya merasakan genggaman lembut dari tangan Lidya, ia melihat pergelangan tangannya yang di genggam oleh gadis yang membuat ia menyimpan rasa padanya.


"Ayolah, beritahu aku!"pinta Lidya sekali lagi dengan puppy eyesnya.


Pandu memejam matanya dan menggeleng,"Tidak!"tegasnya membuka perlahan matanya dan melirik kearah Lidya menghela nafas kecewa.


"Ya!"ucapnya pelan nada kecewa.


Pandu tersenyum miring penuh kemenangan. "Sambil nunggu filmnya main, kita jajan dulu. Filmnya tinggal setengah jam lagi."ucap Pandu berjalan duluan. Lidya menatap punggung Pandu kesal.


"Ish."


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2