Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Episode Dua puluh Tiga:Vin menolong penumpang bus


__ADS_3

  Gadis berambut panjang bergelombang itu terkekeh dan berlari menuju halte bus kecil yang ada di dekat sekolahnya. Saat ia melihat Lina salah tingkah karena Jay lucu juga tapi disisi lain ia juga sebal karena tidak membuat perjanjian terlebih dahulu malah Jay duluan yang ngajak Lina pulang bareng. Romantisnya,batinnya.


Ia menunggu bus dengan beberapa murid disini dan ada juga murid dari SMP Sebelah menunggu. Untung pulangnya tepat barengan biasanya SMK dulu lalu SMP pulang. Lidya merasa ada aura negatif yang ingin datang menuju halte ini, bulu kuduk Lidya sudah merinding. Murid-murid yang menunggu di halte juga merasakan hal yang sama memasuki aura horor.


Ada beberapa murid SMP yang ingin menunggu di halte langsung lari entah kemana sambil berteriak ketakutan. Lidya melipat kedua tangannya berharap bus cepat-cepat datang dan pergi dari sini.


Slut...


  Mata Lidya membulat sempurna ketika merasakan aura negatif tersebut berdiri di belakangnya. Ia menelan ludahnya sendiri,detak jantung berdenyut-denyut. Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya membuat gadis itu terlonjak kaget, memejamkan mata dan berteriak,"Aaa! Jangan makan aku! Hantu!"


  Murid lainnya menatap Lidya aneh lalu mereka semua tertawa terbahak-bahak. Lidya membuka mata perlahan melihat semua orang mulai kakak kelas sampai adik kelas(SMP) mentertawainya. Lidya menunduk malu benar-benar malu.


"Lidya!"panggil seseorang, suaranya sudah tidak asing lagi di pendengarannya. Ia mencoba membernaikan diri untuk menatap siapa yang memanggilnya. Ternyata itu Vin tengah tersenyum kearahnya.


Dia tampan, pikirnya lalu ia cepat menggeleng berusaha menyingkirkan kalimat itu dari dalam pikirannya.


Lidya tersenyum menahan malu sudah berteriak ketakutan di tempat umum dan aura negatif itu tiba-tiba menghilang begitu saja. "Kau pulang sendirian?"tanya Vin.


Lidya sedikit bergumam, "iya, aku pulang sendiri seperti biasa Vin. Tadi aku menyusul Lina temanku untuk pulang bareng kebetulan arah jalannya sama denganku tapi aku memilih waktu yang salah."jawabnya sambil menatap kedepan dan sekali menengok ke kanan dan ke kiri, tidak ada bus atau angkot yang melintas.


"Owh."jawab Vin singkat.


Keduanya terdiam dan menunggu bus datang lalu tidak lama kemudian bus datang dan Lidya segera naik ke dalam bus tersebut. Vin duduk di sebelah Lidya. Bus melaju dengan kecepatan normal dan di dalam bus sedikit sempit karena ada beberapa murid yang berdiri.


  Lidya sedikit heran apa yang barusan terjadi disini. Ia menoleh kearah Vin yang tengah asik menekan-nekan layar handphonenya. Biasanya ia kalau dekat dengan Vin, ia akan merasakan aura negatif tapi kini tidak ada aura negatif sama sekali dan semua orang terlihat anteng tidak memasang wajah ketakutan.


Terutama murid-murid yang tadi memasang wajah ketakutan dan sekarang wajah biasa saja, ada yang diam, ada yang mengobrol bahkan ada yang tertawa. Benar-benar aneh, pikir Lidya.


Tak lama kemudian perlahan semua penumpang turun dan bus kembali melaju. Hari ini Lidya tidak turun lebih dahulu dan jalan menuju rumahnya pun berlalu, ia berencana pergi ke perpustakan. Lalu ada anak laki-laki yang memiliki pelindung yang menutupi semua tubuhnya, kuning transparan. Ia memberikan uang ke supir bus dan sepertinya anak itu akan turun.


Lidya mengucek kedua matanya dan melihat anak itu lagi, pelindung tubuh itu masih terlihat jelas di penglihatannya. Apa yang terjadi padaku?. Bus berhenti dan anak itu turun dari bus lalu kembali berjalan melanjutkan perjalanan sebentar lagi Lidya akan turun di perpustakan.

__ADS_1


  Suasana di dalam bus perlahan berubah menjadi bak horor. Tidak sedikit penumpang bus merasa merinding apalagi Lidya merasakan energi negatif yang sangat kuat, ia memberanikan diri menoleh ke Vin. Pemuda tersebut terlihat anteng dan asik dengan aktivitasnya bermain handphone miliknya. Mata Lidya melihat aura hitam yang ada di dalam tubuh Vin sangat banyak dan aura tersebut memenuhi seluruh bus.


"Aku merinding sekali."kata seseorang.


"Iya,sama. Apa jangan-jangan disini ada hantu?"


Ada seorang pria dari bangku belakang berlari menuju ke supir dan menyuruhnya untuk cepat melaju busnya agar tujuan pria tersebut sampai. Sang supir tidak bisa melajukan bus ini karena jalanan sangat ramai, pria tersebut memaksa dan bilang kalau ada makhluk hitam menyeramkan berada di bangku belakang. Seketika penumpang yang ada di belakang teriak histeris, semuanya menuju ke depan, berdesak-desakan ketakutan.


"Pak! Cepat!"desak pria tersebut.


Lidya bangkit berdiri dan berteriak kencang tidak peduli kalau ada orang yang protes padanya. "Pak, jangan cepat-cepat karena suasana ini nanti kita semua bakal celaka!"


Pria bertubuh besar yang tadi memaksa sang supir melajukan bus kebih cepat menoleh kearah Lidya, marah. "HEI ANAK KECIL. KAU LEBIH BAIK DIAM. GARA-GARA ADA ORANG YANG ADA DI DEKATMU. SUASANA YANG TENANG MENJADI TIDAK TENANG."kata pria itu menindas Vin di kendaraan umum seperti ini. Dan sepertinya Vin mengabaikan perkataan pria tersebut.


Apa mungkin selama ini Vin mendapatkan cemohan akibat aura negatif yang singgah di dalam tubuhnya.


"Oh iya. Anda juga tidak berpikir kalau supir bus ini melajukan kendaraannya. Apa anda tidak berpikir dengan keselamat diri dan orang lain. Gara-gara anda bilang ada makhluk hitam menyeramkan di bangku belakang dan membuat berdesak-desakan seperti ini. Itu sama saja orang yang berada disini juga tidak nyaman dan tenang karena keributan yang anda ciptakan."kata Lidya bijak dengan kalimat formal. Pria yang menindas Vin dan membuat buru-buru sang supir diam, tidak bisa membalas perkataan Lidya. Pria tersebut seolah beku dan malu apa yang ia bicarakan tanpa berpikir panjang.


"APA!"


suasana horor bercampur tegang membuat semua orang ketakutan dan mereka sedang berhadapan dengan maut. Supir berusaha mengendalikan bus supaya tidak terjadi yang tidak diinginkan, kecelakaan. Gadis itu bangkit berdiri dan menyuruh semua orang duduk di bangku masing-masing sambil berpengangan erat.


Tin... Tin.. Tin


Suara klakson bus terus berbunyi agar kendaraan yang ada di depan sedikit melajukan kecepatan dan kadang orang-orang tidak mematuhi peraturan yang seenaknya melewati jalan bus.  Meski begitu itu sama saja membuat kendaraan lain juga ikut terimbas.


Ya allah, tolong kami semua!,Lidya berdoa dalam hati. Ia ingin mengatakan sesuatu pada Vin tapi pemuda tersebut hilang entah kemana?.


"Vin!"teriak Lidya memanggil pemuda bernama Vin dan ternyata ia sudah duduk di bangku belakang dengan senyuman menyeramkan. Merasa tahu, Lidya menyuruh semua orang menghadap kedepan dan memejamkan mata supaya mereka tidak melihat paras jelek dari aura negatif. Lidya memegang erat pegangan tangan yang ada di depan kursi erat, memejamkan mata.


  Sekarang waktunya Vin mengeluarkan semua aura jahat keluar dari tubuhnya. Wajah tampan Vin tertutup dengan aura hitamnya berubah menjadi menyeramkan:Gigi tajam, kuku tajam dan kedua mata merah. Aura hitamnya sudah menyelimuti di dalam bus sampai luar bus.

__ADS_1


Vin sudah dalam mode aura negatifnya, menatap kedepan mencoba menerawang jauh dan disana ada lampu merah dimana banyak sekali kendaraan yang berhenti di lampu merah. Setelah menerawang kedua mata merah menyala mengisi semua ruangan bus seperti aura hitam yang menyebar.


Ia melangkahkan kaki maju kedepan,"aura negatif buatlah bus ini berhenti tepat di depan lampu merah. Selamatkan orang-orang yang ada didalam bus ini. Meski aku di jauhi oleh orang dan di benci semua orang karena aura ini. Jangan buat itu halangan bagiku aura negatif. Tidak semua aura negatif itu jahat kalau bisa aura negatif jadi positif."ucap Vin suara berat melewati seluruh penumpang membuat penumpang itu merinding dan ada sampai menangis ketakutan.


Vin berhenti di depan belakang supir yang tatapannya terus kedepan. Wajah Vin perlahan berubah jadi dirinya sendiri,"Pak supir, sekarang injak pedal remnya!"perintah Vin. Supir dengan rasa ketakutan pun memberanikan diri menginjak pedal rem yang blong.


Roda empat yang berputar melaju langsung berhenti. Semua penumpang memegang pegangan begitu erat, Vin membuat bantal dari aura negatifnya mencegah benturan.


Cit.....


Bunyi rem berdecit semua orang memejamkan mata dan bus tersebut akhirnya berhenti tepat di perempatan jalan pas dengan lampu merah. Beberapa penumpang kepalanya membentur kursi bus untungnya Vin membuat bantal dari aura negatifnya. Salah satu penumpang membuka mata tanpa ada arahan dari Vin maupun Lidya. Penumpang itu berteriak ketakutan,"AAA!"


Vin mendelik melihat salah satu penumpang yang membuka mata tanpa arahan. Dengan segera ia menghilangkan bantal aura negatif nya masuk ke dalam tubuhnya. Lidya membuka matanya dan terkejut apa yang ada didepannya, ia ingin berteriak namun sadar ini aura negatif jadi bantalnya pun ikut bermuka seram.


Vin segera turun dari bus untuk menghilangkan suasana horor akibat auranya. Suasana kembali normal dan Lidya membayar uang ke supir dan turun menyusul Vin. Ia melihat Vin berjalan dengan tangan di saku celana dan kepala menunduk. Lidya berlari menghampirinya,"Vin, tunggu aku!"teriak Lidya.


Vin berhenti tanpa membalikkan badan menghadap ke Lidya. "Vin, terima kasih. Berkat kau, aku dan penumpang bus selamat dari bahaya."ucapnya berterima kasih tersenyum.


"Untuk apa? Kau berterima kasih padaku dan gara-gara aku semua orang dalam bahaya. Aura negatif ini membuat semua orang takut dan menbuat semuanya buru-buru."kata Vin datar.


"Ta-tapi Vin. Kau juga pernah menyelamatkanku dari Ferdi,Tina dan Sarah. Semua itu ada balasnya Vin. Dan pasti ada yang melindungi semua orang dari aura negatifmu."kata Lidya berterima kasih dan membuat Vin terhibur. Ia yakin kalau ada pelindung anti aura negatif yang dimiliki Vin.


Vin menoleh kearah Lidya sedikit. "Itu tidak mungkin. Kau tahu, aura negatif ini membuat orang menjauhi ku meski diriku tidak sejelek muka hantu dari aura itu."Vin kembali berjalan mengabaikan perkataan Lidya.


"Vin! Dengarkan aku!"teriak Lidya tapi diabaikan olehnya. Lidya tidak tahu bagaimana cara menghibur Vin karena aura negatif tersebut.


"Aku tidak bisa membujuk Vin. Vin, percayalah padaku kalau semua itu saling melengkapi kekurangan seseorang."gumamnya menunduk kebawah meneteskan air mata entah mengapa setiap ia melihat orang yang tidak dianggap orang lain dan mendapatkan cibiran seperti Lidya, di masa kelam. Hatinya selalu aja perih karena ia pernah merasakan hal itu.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2