
Riko masih memerhatikan kedua gadis itu yang tengah mengobrol ringan. Pemuda itu berjalan sedikit mendekat dan mengambil sampah tepat di depan kakinya perlahan pendengarannya mendengar apa yang mereka berdua bicarakan.
"Kalau masuk kelas kita seperti biasa makan di kantin mengobrol bareng."ucap Hana terkekeh.
"Iya. Dan aku harap ada banyak event nanti. Ada lomba menulis cerpen tema bebas, ingin saja aku ikut."harapan Lidya tersenyum di balas angguk Hana.
"Sepertinya banyak sih, acara. Kau tanya aja sama Beni dan Pandu kan mereka berdua anggota osis juga."kata Hana, Lidya menepuk jidatnya mengapa ia sama sekali tidak ingat kalau kedua makhluk menyebalkan tersebut adalah anggota osis.
"Astagfirullah. Aku sampai lupa dengan mereka berdua. Lebih baik aku simpan dulu deh nunggu masuk sekolah saja."ucap Lidya terkekeh lalu menggeleng kemudian mereka berdua masuk ke dalam panti.
Pemuda itu mengeritkan kening, dalam hati menggerutu kesal ia kira mereka membahas sesuatu yang penting masalah apa gitu. Ternyata tidak sesuai dengan harapan.
Sial!!
Umpatnya dalam hati. Seseorang menepuk pundak Riko pelan membuatnya terkejut. "Ada apa Rik?kau sudah selesai dengan tugasmu?mari sampah yang di genggamanmu itu aku buang."ucap Arsa. Riko melihat gelas plastik di genggamannya lalu ia berikan ke Arsa.
"Terima kasih."ucapnya dingin lalu meninggalkan Arsa yang diam disana memerhatikan sifat pemuda tersebut sangat dingin ngalahin Melvi.
"Dih dingin banget."gumamnya pelan dan ingat sesuatu yang sempat lupa. Arsa berteriak ke pemuda dingin tersebut mengatakan kalau sebentar lagi sarapan. Riko berhenti dan menoleh sedikit kebelakang kemudian kembali berjalan mengacuhkan teriakan Arsa.
"Cih, sombong amat."
Para gadis merasa senang setelah selesai menyiapkan makanan super besar akhirnya selesai juga. Anggi mengambil spiker untuk memanggil yang lain untuk berkumpul di belakang panti, sarapan. Semuanya terlihat senang dan tidak sabar menyantap sarapan. Tera menyuruh yang lain baris dan bergantian, tidak boleh mengambil nasi terlalu banyak karena nanti yang lain tidak bakal kebagian.
__ADS_1
Setelah baris-berbaris mengambil makanan beberapa anak sudah selesai sarapan. Lidya sangat menikmati sarapan yang lezat. Lina juga ikut menikmati sarapannya dengan lahap. Cantika merasa senang kalau melihat teman-temannya sangat menyukai makanan hasil resepnya.
Ya, hampir semua makanan disini adalah resep ala Cantika. Sebenarnya ia sangat menyukai memasak tapi kebanyakan tidak dianggap. Ia sendiri tidak tahu. "Jimin."lirihnya tersenyum miring. Gadis di sebelahnya berhenti dengan aktivitas makannya setelah Cantika kembali menyebut nama Jimin.
Ia menelan makanannya lalu bertanya,"Kak Can. Kenapa kau selalu memanggil Jimin?"tanya Lidya membuat Cantika tersedak dan segera mengambil air putih di depannya meneguk sedikit lalu menoleh ke arah Lidya, penuh tanda tanya.
Lina yang makan pun ikut berhenti menatap kedua temannya,"ada apa?"tanyanya.
Cantika diam dan menggeleng. Ia belum tahu siapa yang sering di sebut itu. "Aku tidak tahu siapa dia?rasanya ia itu ada di sekelilingku maksudku ia seperti ada disisiku. Entah apa alasannya aku sering menyebut nama Jimin."ucap Cantika jujur. Sudah lama sekali ia sering memanggil nama Jimin.
Awalnya Cantika merasa aneh ia tiba-tiba menyebut nama tersebut lalu semakin lama ia sering sekali menyebut nama tersebut setiap kali ia kesepian dan lega. Cantika masih merasa asing sering menyebut nama Jimin berkali-kali.
"Apa dulu kau pernah berteman dengan pemuda bernama Jimin?"tanya Lidya melahap satu suap makanannya masih menatap Cantika yang terdiam mencoba mengingat-nya.
Lina berkerut,"biasanya kalau orang yang selalu nyebut namanya itu tandanya rindu. Ingin bertemu dengannya cepat-cepat. Kak Cantika,"kata Lina menyahut menatap Cantika, gadis itu menatap Lina. "Apakah kakak pernah bermimpi sesorang yang mengaku jadi Jimin?"tanya Lina dibalas gelengan pelan.
"Apa kau merasa punya kekuatan?"Lidya kembali bertanya ke Cantika, serius.
"Tidak. Aku aja tidak tahu kalau aku punya kekuatan atau tidak. Yang aneh itu aku sering mengucapkan nama Jimin."ucapnya menyangga pipinya dengan tangan kiri dan tangan kanan bermain kuku.
Lidya dan Lina saling beradu pandang, Lidya sangat bingung karena sudah banyak imagination menjadi nyata dan kebanyakan dari mereka itu bukan dari karakter yang di ciptakan olehnya. Untung saja beberapa temannya seperti karakter yang diciptakannya tapi tetap saja membuat kepala Lidya pecah ingin sekali mencari pintu penghubung dunia imajinasi agar semuanya tidak nyata seperti sekarang ini.
Sungguh Lidya menjadi kualahan dengan imajiansinya sendiri dan harus kena beban dengan imajinasi oang lain. semua teman-temannya belum tahu bahwa dirinya adalah penulis dan karakter yang diciptakan berhasil menjadi kenyataan. Seandainya pintu imajinasi itu tidak terbuka dan terhubung ke dunia nyata pasti semuanya tidak akan pernah terjadi.
__ADS_1
Takut kalau musuh-musuh yang di ciptakan oleh Lidya hidup atau musuh-musuh dari penulis lainnya. Dunia ini bakal hancur. Lina melihat keringat dingin mengucur deras di pelipis Lidya.
"Lid. Kau berkeringat dingin?"ucap Lina menepuk punggung tangan gadis itu membuatnya sadar. Cantika menatap Lidya dan meminta maaf,"maaf kalau membuatmu bingung dan sedikit takut kalau aku keseringan menyebut nama Jimin."
"Bukan itu!"ucap Lidya cepat sambil mengusap keringat dingin dengan punggung tangannya. Dilihatnya yang benar saja, ia berkeringat lumayan banyak. Betapa takutnya ia terhadap kehancuran.
Ia sudah berharap banyak hal dengan tahun ini kalau tidak akan ada kejadian buruk yang terjadi tidak ada nama 'Kehancuran'. Cantika mengerit kalau bukan karena ia sering menyebut nama Jimin terus apa?. Mereka bertiga hening sejenak.
Lidya menghela nafas kasar menatap bergantian Lina dan Cantika. "Aku hanya khawatir kalau ada sesuatu hal buruk yang terjadi itu kata feeling ku saja. Aku tidak terlalu yakin."ucapnya tangan kanan Lidya di genggam oleh Lina menyuruhnya untuk tenang dan tidak perlu terlalu yakin dengan hal yang belum terjadi.
"Jangan yakini kalau kejadian tersebut terjadi. Insyaallah kejadian itu tidak akan pernah terjadi,semua akan baik-baik saja. Aku yakin itu."kata Lina menyakinkan Lidya. Gadis itu tersenyum ke Lina teman saat mos sekolah sampai sekarang.
"Terima kasih."ucapnya dibalas senyuman menerka.
Lidya tersenyum miring ke Lina, "bagaimana malam tadi ha? Kau dengan Jay hmm."godanya dan Cantika menimpali perkataan Lidya barusan membuat Lina salah tingkah serta kedua pipinya kembali merona.
"Pipinya memerah tuh."ucap Cantika menunjuk kedua pipi Lina sambil terkekeh.
Lina menunduk dan menyuruh mereka berdua diam menggodanya. "Kalian diamlah, aku malu tahu kalau ingat kejadian itu."ucapnya nada kesal.
Di sisi lain tidak jauh dari mereka bertiga duduk seluas senyum menerka di bibirnya. Informasi secara perlahan akan terkumpul. Kemungkinan ia bisa menunda mencari tentang Lidya dan lebih baik fokus mengarah orang sekitar gadis itu.
"Aku akan perlahan memberitahu ke orang yang aku temui bahwa rencana berubah dan memberitahu kalau rencanaku lebih tinggi, mempercepat daripada dia. Uh."--batinnya melihat mereka bertiga.
__ADS_1
-Jangan Anggap kami lemah-
Bersambung....