
Pintu rumah terbuka Lidya melepaskan sepatu dan kaos kakinya ke rak sepatu lalu berjalan malas menuju kamarnya. Hari yang kebetulan lewat segera menghampiri kakaknya itu.
"Mbak Dia!"panggilnya menarik lengan seragam Lidya. Gadis itu menghela nafas kasar,"ada apa sih,Har?mbak males."ucapnya tidak bersemangat. Hari mendengus,"Carikan mobilku yang hilang. Tadi Hari bermain di tengah ruangan terus hilang."keluh Hari membuat siapa saja yang melihat Hari memasang wajah lesuhnya akan gemas.
Bola mata Lidya berputar malas dan menghela nafas malas, ia tidak bersemangat lagi karena kejadian di perpustakaan. Lidya ingin sekali membaca buku misterius tersebut tapi semuanya harus berakhir karena waktu seandainya ada orang yang bisa menghentikan waktu atau semacamnya Lidya bakal bisa membaca buku itu hingga habis tanpa membuang waktu lama. Hari menarik tangan Lidya menuju ruang tengah dimana semua mobil-mobillan milik Hari sangat berantakan. Lidya berkacak pinggang.
"Ya ampun,Hari. Mengapa semua mainanmu berada disini dan membuat berantakan!"omelnya diacuhkan oleh Hari yang terus mencari mainan mobil yang hilang itu. Lidya merasa jengkel dan tekanannya menjadi naik, ia memegangi kepalanya sambil berteriak frustasi,"Argh!!"
"Mainanku nggak ada!"ucap Hari kesal sambil menendang mainannya seperti bola dan mengenai dahi Lidya membuat nafas gadis itu naik turun berusaha untuk bersabar. Hari yang melihat itu tertawa terbahak-bahak,"Hahahaha!"
"KAU BISA DIAM NGGAK!HAR!"balas Lidya membentak Hari tapi anak kecil itu tidak takut dengan bentakan kakaknya, Hari malah meledek. "Mbak Dia lucu,kena mobilku."ucapnya polos tersenyum menunjukkan gigi yang baru tumbuh. Gigi bawah Hari sudah tumbuh semua hanya tinggal gigi atas yang baru tumbuh dua ditengah-tengah seperti gigi kelinci dengan ukuran sedang.
Lidya berbalik menuju kamarnya dan segera menghempaskan tubuhnya di zona nyaman. Ia meletakkan tasnya ke sembarangan arah dan tiduran diatas kasur,menutup mata. Telinga kanannya ada suara bising yang terdengar dari depan rumah membuat Lidya tidak bisa beristirahat sejenak. Gadis tersebut bangkit dari kasur mendengus sebal berjalan malas keluar kamar menuju depan rumah melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Saat Lidya sudah berada di teras rumah ia melihat ada seorang gadis yang protes pada dua anak kecil. Gadis berambut pendek bertubuh mungil memakai dress selutut hijau matang. "Apa kalian berdua tidak tahu apa? Kalau tumbuhan itu makhluk hidup jangan seenaknya saja memetik tumbuhan apalagi kalian sudah menjatuhkan pot kecil ini."mulut kecilnya itu terus mengomel dan dua anak laki-laki yang ada didepannya hanya bisa menunduk mendengar omelannya.
Gadis itu menarik nafas panjang berusaha tenang,"ya sudah. Kalian boleh pulang dan jangan memetik tumbuhan dan juga merusak lingkungan. Awas aja!"ucapnya setengah mengancam,kedua anak itu mengangguk dan segera berlari dari amukan singa.
Lidya yang memerhatikan dari teras rumah akhirnya memilih untuk menghampiri gadis itu. Menurutnya ia adalah gadis baik dan suka dengan tumbuhan, ini waktu pas untuk mengajaknya pergi membeli tumbuhan untuk kegiatan sekolah. Pasti gadis itu tahu semua tumbuhan.
"Hai!"sapa Lidya sedikit malu lagi-lagi ia menyapa orang yang tidak dikenalnya. Gadis itu yang sedang membersihkan pot jatuh menoleh ke asal sumber suara, ia melihat seorang gadis memakai seragam tengah menyapa dengan seulas senyum. Ia bangkit berdiri dan tersenyum,"hai juga!"balasnya ramah.
"Hmm, aku tadi melihat kau memarahi dua anak kecil yang menjatuhkan pot bunga itu?"ucap Lidya melihat pot yang sudah dibereskan oleh gadis itu.
"Eh iya. Aku orangnya tidak suka melihat tumbuhan menderita. Maksudku aku suka sekali merawat tumbuhan."ucapnya sedikit kikuk dan ia melanjutkan membereskan tanah yang jatuh dari pot kembali ia masukkan. Lidya membantu sedikit dan diletakkan kembali ke tempat asalnya. Mereka berdua tersenyum.
"Nah gini baru enak dipandang."katanya dibalas angguk Lidya.
Gadis itu berterima kasih telah membantunya memperbaiki tanaman itu dibalas anggukan Lidya meskipun masih canggung. Ia mengulurkan tangan ke Lidya,"perkenalkan namaku Teratai putih."ucapnya memperkenalkan diri membuat Lidya sedikit terkejut dengan nama gadis ini, namanya Teratai Putih.
Lidya menyambut uluran tangan memperkenalkan diri,"namaku Maulidya Wahyu Fatmawati. Salam kenal Putih."ucapnya tersenyum.
Tera tersenyum,"aku biasanya dipanggil Tera tapi tidak apa-apa. Kau boleh panggil saja aku Putih."ucap Tera.
"Menurutku kalau dipanggil Tera tidak begitu cocok di telingaku jadi aku panggil Putih saja. Tidak masalah kan?"Tera menggeleng,"tidak apa-apa."balasnya.
"Rumahmu dimana Put?"tanya Lidya kepo.
"Rumahku tidak jauh dari sini,Lid. Apa kau mau main kerumahku?"balasnya dan bertanya pada Lidya sekali-kali mampir ke rumah teman baru, Lidya hanya bisa merespon senyum tipis Tera.
"Lain kali aja Put, aku main kerumahmu."jawabnya. "Aku mau tanya satu lagi."kata Lidya mengangkat satu jarinya, Tera menunggu. "Apa kau besok ada acara?"
__ADS_1
"Tidak!"balasnya cepat.
"Syukurlah kalau gitu. Besok, aku mau mengajakmu untuk membeli tumbuhan buat tugas sekolahku."ucapnya mengajak Tera membeli tumbuhan. Tera memegang dagu kecilnya berpikir dan menatap Lidya yang penuh harap padanya.
Ia menjentikkan jarinya pelan dengan senyuman,"ok aku ikut. Kebetulan sekali aku juga ada tugas sekolah yaitu membeli tumbuhan untuk menanam bersama."jawabnya.
"Seriusan?Bagus tuh. Ngomong-ngomong kau sekolah dimana Put?"seru Lidya lalu bertanya santai ke Tera.
"Aku sekolah di SMK Cemerlang. Kalau kau sekolah dimana?"jawabnya kembali bertanya, Lidya tidak percaya dengan jawaban Tera barusan.
"Kau sekolah di SMK Cemerlang?"Tera mengangguk mantap. "Sama dong. Aku juga sekolah di sana,kelas 10 Mm 01 kalau kamu Put."lanjutnya senang.
"Kalau aku di kelas 10 Marketing dua. Dan aku harus sabar disana apalagi waktu kerja kelompok, itu membuat kepalaku pusing saja."kata Tera menggeleng mengingat kejadian dua hari yang lalu. Lidya hanya bisa merespon kekehan kecil setelah berbincang-bincang dikit. Lidya memustukan untuk masuk kedalam rumah membersihkan diri dan adzan magrib sudah berkumandang.
Tera tersenyum dan membalas lambaian tangan yang ternyata rumah teman barunya berada di depan. Gadis tersebut berjalan cepat menuju rumah sesekali melihat sekeliling terutama tumbuhan yang berada di perkarangan rumah tetangga. Dahi Tera berkerut dan merasa kasihan ada tanaman layu disalah satu rumah berukuran kecil sepertinya pemilik rumah itu tidak pernah menyirami tanamannya setiap menjelang sore.
Gadis itu berlari menghampiri tumbuhan yang layu tersebut,"kondisinya sangat buruk tak lama lagi dia akan mati."ucapnya pelan. Ia melihat sekitar sepi, Tera berjongkok dan menyentuh tumbuhan layu tersebut.
"Hiduplah kembali seperti dulu. Aku tidak mau melihat tanaman layu seperti ini."ucap Tera bersamaan dengan tangan yang menyentuh tumbuhan layu itu mengeluarkan cahaya hijau dan cahaya tersebut menerangi tumbuhan itu. Perlahan tumbuhan layu itu kembali menjadi hijau dan berdiri tegak pada umumnya. Seulas senyum terukir jelas di wajah Tera,"alhamdulilah. Akhirnya tanaman ini bisa hidup lagi."ucapnya bahagia lalu Tera melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
"Fit,An. Apa boleh aku mengajak kelas lain untuk bareng membeli tumbuhan?"tanya Lidya menatap mereka berdua bergantian.
Fitri tersenyum,"tentu saja boleh lah. Siapa dia?"tanyanya.
"Putih?"
"Ha?"
"Maksudku Tera dari Marketing 2,satu angkatan sama kita. Aku memanggilnya Putih, kalau biasanya dia dipanggil Tera kok."ucap Lidya membenarkan perkataan nama panggilan Teratai. Fitri dan Anggi ber'O' ria.
"Baiklah!"seru mereka berdua lalu mereka bertiga keluar kelas. Tina dan Sarah yang masih berada di kelas berhasil menguping pembicaraan mereka bertiga. Tina merasa iri dengan Lidya, mengapa ia bisa berteman dengan kedua pengurus kelas hingga Lidya bisa bahagia seperti itu.
"Aku tidak suka melihat Lidya senang seperti itu,Sar. Itu sama saja membuatku menderita."katanya sinis dan mengayunkan bibir ke samping.
Sarah yang menompang dagu mengangguk mengiyakan perkataan Tina. "Sama. Rasanya Lidya bakal dibuat special disini. Kita tidak akan bisa membuat Lidya menangis lagi seperti dua hari yang lalu dan Ferdi sekarang... Kondisinya seperti itu, ia sekarang menjadi sedikit aneh."kata Sarah mendengus sebal.
Tina menatap Sarah serius,"bagiamana kita ngikutin mereka bertiga dan kita rampas tumbuhan dari mereka lalu kita injak-injak tumbuhan itu bagaimana?"usul Tina ke Sarah. Gadis tersebut berpikir dan tersenyum miring,melirik ke Tina. "Good idea,Tin!"ucapnya lalu mereka tertawa penuh maksud jahat.
-
__ADS_1
-
-
-
-
Mereka bertiga menghampiri Tera yang sudah menunggu di depan gerbang sekolah. "Putih, apa aku dan lainnya terlambat?"tanya Lidya. Tera menoleh dan menggeleng membuat Lidya bernafas lega, ia pikir terlambat datang. "Aku baru saja sampai disini empat menit lalu."jawabnya tersenyum.
"Tera, apa dikelasmu membentuk kelompok atau individu?"tanya Anggi penasaran.
"Individu. Kalau kalian?"
"Kelompok, masing-masing 3 anak dalam kelompok itu dan sudah disepakati oleh semua anak satu kelas."ucap Anggi sedikit bersemangat.
"Enak. Kalau aku tidak terlalu kompak dan mereka banyak yang memikirkan kegiatannya sendiri-sendiri. Siapa ketua kelas kalian?"tanya Tera berusaha akrab dengan mereka berdua teman barunya setelah Lidya. Mereka berempat menunggu bus di halte dekat sekolah sambil mengobrol masalah 'penghijauan'.
"Beni."ucap Anggi.
"Oh Beni. Dia dulu satu kelompok bersamaku di mos, ia sangat ramah dan jiwa pemimpinnya sangat kental. Mungkin, banyak gadis yang suka sama Beni."kata Tera dan menebak-nebak.
"Entahlah. Kalau itu aku tidak tahu."jawab Anggi. Tak lama kemudian bus datang dan mereka segera masuk menuju tujuan di penjualan tanaman.
Sampai di penyetopan,bus itu berhenti dan mereka berempat turun kemudian mereka menyebrang jalan yang sedikit luas dan tentunya banyak sekali mobil besar yang berlalu lalang. Mereka berjalan seraya mengobrol enteng sambil terkekeh. Cuaca hari ini sangat cerah benderang lalu sampailah di tempat dimana banyak sekali tumbuhan yang berjajar rapi menyejukkan mata setiap kali memandang hijaunya.
Tera sangat menyukai suasana seperti ini dan ia sangat bersemangat. Fitri tersenyum berkomentar melihat Tera sangat bersemangat,"Tera senang banget melihat tumbuhan sebanyak ini."
Tera menoleh kearah Fitri,"iya. Karena tumbuhan itu sangat berarti padaku."jawabnya.
"Oh ya?"
"Iya. Sejak kecil aku sering diajak oleh pamanku menanam tumbuhan diladangnya. Disana aku belajar banyak hal dan sejak itulah aku menyukai tumbuhan jenis apapun."Tera sedikit bercerita ke Fitri tentang asal usul ia menyukai tumbuhan lebih dari apapun. Lidya yang mendengar cerita dari Tera.
Anggi melihat-lihat tumbuhan yang berjajar disana ditemani oleh penjual tanaman itu. Lidya terpuaku dengan tumbuhan yang daunnya seperti di selimuti oleh salju.
"Wah Indah sekali."ucapnya tersenyum.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...
__ADS_1