Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Empat Puluh Dua:Kekuatan Red Eyes


__ADS_3

Semua murid masih bermain di sungai dengan sepuasnya. Tina selesai bermain air, ia menepi dan duduk di sebelah Vana. Gadis itu melirik mengarah Vana yang sedari tadi diam saja dan pakaian yang dikenakannya sudah basah kuyup tapi Tina tidak pernah melihat gadis di sebelahnya bermain air.


"Hei. Siapa namamu?"ucap Tina ke Vana tapi Vana mengalihkan pandang ke Tina membuat gadis itu berdecih kesal.


"Cih sombong amat kau!"sindir Tina melirik sinis mengarah ke gadis berambut keriting dan warna kulitnya cokelat itu,"tidak aku sangka gadis jelek seperti kau! Bisa sombong juga ya. Tanya baik-baik responnya begitu."lanjut Tina menyindir terang-terangan ke Vana.


Vana mengepalkan tangannya ada orang asing yang menyindirnya seenak jidatnya. Vana kesal, ia melirik balik sinis mengarah ke gadis di sampingnya. Kedua mata Vana menjadi merah dan membuat Tina bergidik ngeri, Vana mendorong Tina keras mengarah ke pohon yang berada di sampingnya menimbulkan suara keras. Murid-murid yang ada di sungai pun menoleh melihat seorang gadis berambut keriting bermata merah dan nyali mereka menjadi menciut seketika.


  Vana melihat Tina jatuh tersungkur ia angkat dengan kekuatannya ke atas udara. Hidung Tina mengeluarkan darah ia membuka mata sedikit melihat seorang gadis menyeramkan dengan kedua mata berwarna merah.


Vana menatap gadis didepannya tajam dan benci,"beraninya kau! Bilang aku jelek!"teriaknya keras. Vana mengangkat Tina yang sudah lemas dan mulai kehilangan kesadaran lalu ia melemparkan Tina seperti memukul bola kasti.


Lalu ada sebuah sinar biru menyelimuti tubuh Tina perlahan turun ke bawa. Mata merah Vana terbelalak melihat ada seseorang yang menyelamatkan gadis tidak tahu diri itu. Vana mulai was-was dan ia merasakan ada bayangan yang berjalan cepat disekitarnya.


Vana memiliki kekuatan bernama Red Eyes,kekuatan paling keras atau brutal dan susah untuk di kendalikan hampir mirip seperti iblis---ia akan membuat orang yang berada didepannya terluka kalau perlu dibuat mati. Gadis itu berteriak kencang memanggil pemilik kekuatan seperti bayangan dan mengancam nyawa gadis yang kini sudah tidak sadarkan diri.


   Di sungai semua murid ketakutan melihat gadis bermata merah tadi, tubuh mereka sangat merinding ketika bertatapan langsung dengan mata merah itu. Zaidan selaku kakak pembina kemah menyuruh semua murid kembali ke tenda karena bentar lagi ada pengumuman penting.


   Lidya masih teringat gadis bermata merah itu mengangkat Tina dan mendorong gadis itu hingga menatap pohon. Kejadian itu seperti terulang kembali di benaknya dan memasang wajah khawatir. Hana menghampiri Lidya dan memcoba tenang. Lina menuntun Lidya kembali ke tenda.


Yusuf mengikuti gadis bermata merah berambut keriting itu dari belakang. Ia bersembunyi di balik pohon mengintip sedikit di balik pohon itu dan melihat gadis yang sudah lemas di lempar dan ingin mengenai pohon dengan cepat Yusuf mengeluarkan kekuatannya untuk menolong gadis malang tersebut.


Gadis bermata merah itu terkejut karena usahanya mencelakai gadis ini gagal. Yusuf membuat orang-orangan yang begerak cepat seperti kilat dan memiliki bayangan hitam untuk mengalihkan perhatian gadis jahat itu. Setelah selesai, Yusuf berlari ke tempat perkemahan memberitahu masalah ini.


  Ia berlari dengan tergesa-gesa melihat semua murid mengarah ke arahnya--tatapan aneh. Yusuf menerobos barisan dan meminjam spiker suara yang ada di tangan kakak pembina. Yusuf naik diatas meja memberitahu murid yang memiliki sesuatu khusus mengikuti Yusuf dan sisanya berada di tenda masing-masing. Banyak orang yang tidak mengerti dengan maksud sesuatu khusus kata Yusuf.


Murid yang memiliki kekuatan, tahu maksud Yusuf. Beni selaku osis menghimbau teman-temannya dan ada beberapa murid sudah mengikuti Yusuf. Pemuda itu melihat gadis bermata merah masih mencari keberadaan sosok hitam yang dibuatnya tadi.


Seorang gadis berambut pendek seperti polwan melihat Vana khawatir. "Vana!"teriaknya berlari mengarahnya. Yusuf mendelik melihat gadis itu mengarah ke gadis jahat.

__ADS_1


Vana melihat salah satu teman sekolahnya itu menatap tajam dan ia mengangkat tangannya ke atas. Gadis tersebut melayang ke udara masih memasang wajah khawatir. "Vana! Sadar! Kau jangan seperti ini!"ucapnya menteskan air mata memohon.


Wajah Vana masih marah ia melemparkan teman sekelasnya. Gadis itu menjerit meminta tolong dengan cepat Yusuf mengeluarkan sihir gelembung. Pemuda tersebut sudah tidak kuat lagi melihat penderitaan semua ini.


"Vana!"teriak Yusuf membuat Vana menoleh mengarah pemuda bertubuh kecil, menatapnya kesal. Tanpa babibu Vana menyerang Yusuf dengan mengangkat tubuhnya tanpa sentuhan. Wajah Vana tidak ada rasa kasihan sama sekali, terliat jelas. Vana mendorong Yusuf hingga menatap pohon, Yusuf meringis kesakitan.


   Murid kesehatan berdatangan dan menolong Tina serta gadis berambut pendek tadi. Vana terus menerus memukul Yusuf tidak ada ampun. Wajah Yusuf sampai terluka dan disudut bibirnya berdarah. Vana sangat senang melihat pemuda asing yang telah menantangnya sudah kalah.


"Hahahaha, kau sudah kalah!"ucapnya tertawa puas.


Tak jauh dari tempat Vana beberapa murid yang memilki kekuatan bingung harus apa karena mereka berhadapan dengan murid memiliki kekuatan sangat brutal dan terkutuk.


"Gawat! Kita tidak bisa mengalahkannya,dia kuat sekali!"


"Iya, kita harus ngapain kalau begini?"


  Semuanya bingung harus berbuat apa. Pemuda berambut oranye Agung memiliki ide ada beberapa orang yang akan mengalihkan perhatiannya sedangkan ia akan melawannya. Ide Agung dibalas anggukan setuju lalu mereka semua berjumlah sekitar 7 orang menyerbu Vana dari semua sisi.


  Sebuah asap putih sangat tebal menyelimuti sekeliling Vana. Musuh yang ia berhasil terkalahkan tiba-tiba saja menghilang membuat gadis itu bingung. Jarak pandang Vana mulai kabur, ia menggunakan mata merahnya agar bisa menembus asap putih ini akan tetapi asapnya terlalu tebal.


"Vana! Sadar! Kau bukan Vana jahat. Vana yang aku kenal adalah Vana yang sifat baik, tegas dan mencintai semua orang. Bukan Vana yang memilki sifat jahat, mencelakai orang dengan brutal tanpa ampun. Sadar Vana! Kau baik bukan jahat."


Terdengar suara seorang gadis dibalik asap tebal ini. Vana mencoba kekuatannya untuk melihat siapa gadis itu saat tahu ia akan melemparnya kalau perlu mati. Vana terus mencari berputar didalam kabut asap yang tebal. Disisi kanannya terlihat ada sosok manusia dengan asap hitam di sekeliling dalam hati Vana sangat senang bisa bertemu dengan bayangan tadi yang sudah mengalihkan perhatiannya membuat gadis tadi tidak mati di tangannya. Kakinya berjalan mengarah ke sosok hitam tersebut.


Asap tebal menjadi tidak terlalu tebal sehingga Vana bisa melihat siapa sosok hitam itu. Ia melihat seluruh tubuhnya hitam dan disekeling tubuhnya hitam,memiliki kuku tajam dan kepalanya menunduk. Gadis itu merasa energi semakin lama semakin kuat karena aura di depannya adalah negatif sama seperti dirinya--Negatif.


Vana menatap tajam mengarah makhluk hitam di depannya yang terus menunduk kebawah tanpa babibu ia juga ingin mengangkat tubuhnya ke atas udara dan mencekiknya. Makhluk itu mendongakkan kepala mengarah ke Vana.


Kedua mata warna berbeda bertemu, Merah dan Hitam. Vana terus menatap mata hitam itu tanpa ada berkedip. Vana ingin mengeluarkan kekuatan yang tidak tertandingi tidak bisa karena saking kuatnya aura negatif milik makhluk hitam yang berada di depannya.

__ADS_1


Mata Vana perlahan menjadi hitam sebelum hitam pekat, makhluk hitam tersebut menghilang dari hadapan Vana dalam hitungan detik. Gadis tersebut jatuh tidak sadarkan diri di sana. Asap tebal menghilang saat Vana tidak sadarkan diri.


     Kevin dan Vin berjalan menghampiri Vana yang tergeletak disana. "Dia memiliki kekuatan paling berbahaya, kekuatan Red Eyes kekuatan brutal dan ia akan terus mencari korban. Kalau Red Eyesnya keluar."ucap Vin ke Kevin.


Pemuda berambut hitam keunguan itu diam, melirik mengarah pemuda yang bisa dibilang auranya menyeramkan seperti dekat dengan sekelompok hantu. Tapi ia harus bersikap biasa saja kalau dekat dengannya seolah tidak terjadi apa-apa padahal daritadi setiap dekat dengan anak ini bulu kuduk Kevin selalu berdiri dan ingin lari terbirit-birit.


Vana membuka matanya perlahan kepalanya sakit dan ada rasa kegelisahan yang sangat besar. Satu yang pertama ia lihat adalah kedua pemuda yang salah satunya, Kevin dan rasanya ada aura yang lebih kuat sekali. Ia bangun dan memegangi kepalanya yang terasa sakit. Kevin dan Vin duduk berjongkok menatap Vana lamat-lamat.


Vana merasa risih,"kalian sedang apa sih? Melihat aku sampai segitunya?"sedikit protes melihat kedua pemuda yang menatapnya tidak biasa.


"Hei! Apa kau tidak sadar? Kau telah melukai hampir semua teman-teman mu dengan kekuatan mematikanmu itu!"komentar Kevin blak-blakan ketika Kevin mau melanjutkan komentar pedasnya lagi jari telunjuk Vin ke atas menyuruh Kevin diam.


"Jangan pancing Red Eyesnya lagi nanti nyawamu bisa melayang."ucap Vin menoleh mengarah Kevin sedikit kesal.


Vana mengusap wajah kasar dan menghela nafas kasar karena kekuatan yang tidak diinginkannya muncul lagi. Setiap kali kekuatan itu muncul Red Eyes, ada-ada saja yang terjadi dan kebanyakan korban luka-luka. Ia tidak tahu mengapa itu bisa terjadi padanya, Vana dianggap iblis maka dari itu ia kesal dan kesal apalagi kalau di olok-olok tanpa henti maka Red Eyesnya akan kembali masuk ke dirinya. Seolah ingin membalas dendam dengan orang yang mengolok-olok.


Vana menunduk penuh kesalahan besar. Vin melihat Vana lamat-lamat karena kekuatan yang ada didalam diri Vana hampir mirip dengannya. Namun, bedanya kekuatan milik Vin membuat orang ketakutan dan menjauh dari dirinya (aura negatif). Kalau kekuatan milik Vana membuat orang terluka dan dijauhi oleh teman-temannya karena sifatnya sangat menonjol ke keras, sombong dan tidak suka melihat orang malas. Jika malas dikit Vana akan ngomel ke kelompoknya dan juga orang lain yang berbuat salah atau melanggar.


   Di tenda palang merah banyak sekali murid yang terluka akibat kekuatan Red Eyes milik Vana. Yang luka berat adalah Tina. Vana berlari masuk ke dalam tenda palang merah dimana banyak murid yang terluka karena dirinya.


  Ia melihat seorang gadis yang terbaring lemah belum siuman berada di pojok. Tidak hanya itu saja tapi delapan pemuda yang terbaring lemah diatas ranjang. Vana berdiri disamping gadis yang tadi mengolok-oloknya membuat hati Vana sakit dan mengundang kekuatan yang belum bisa Vana kendalikan sebaliknya disebabkan kekuatan keras, brutal tanpa ada rasa kasihan dan paling parah adalah dibuat mati.


Satu tetes keluar dari kelopak matanya,"hiks.. Ini semua salahku. Pasti teman-teman semuanya yang ada disini akan membenciku!Andai aku bisa menyembuhkan luka yang aku perbuat. Maka aku.. Hiks."ucapnya diselah tangis.


"Andai juga aku tidak memiliki kekuatan berbahaya ini hingga mencelakai orang-orang sekitar. Aku akan hidup tenang tidak seperti ini!"lanjutnya menunduk meneteskan banyak air mata disana.


  Di dalam tenda Farah dan lainnya berkumpul di sana tanpa ada yang bicara soal kejadian tidak mengenakkan. Farah tidak mengerti ini sering terjadi di kehiduapnnya hampir semua memiliki kekuatan tanpa sebab. Farah tidak bisa menerima kejadian tidak masuk akal tentang kekuatan yang menimpa 60% murid di SMA Negeri Satu.


  Lidya tengah asik menulis di dunia oranye miliknya setelah selesai ia mendengus sebal karena ini menurutnya rumit dan rasanya kualahan harus berhadapan dengan orang memiliki kekuatan seperti Imajinasi. Kata Joe,pintu imajinasi terbuka dan membuat gerbang itu tidak bisa tertutup kembali serta imajinasi-imajinasi itu keluar dari tempat asalnya menuju bumi. Mereka imajinasi akan bersemayam di dalam tubuh seseorang sehingga orang-orang itu memiliki kekuatan.

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung....


__ADS_2