
Mereka menuju kantin sekolah yang sangat penuh murid, semua bangku kantin penuh tidak tersisa membuat Lidya lesu tidak bisa mendapatkan meja. Lidya ingin mengajak Lina buat kembali ke kelas dan menunggu bel masuk berbunyi. Lina masih sibuk mencari sosok yang dicarinya dan mengabaikan ucapan Lidya. Gadis itu pusing, tidak tahu harus membujuk gimana supaya Lina bisa mendengar ucapan.
Kedua mata Lina menyipit dan berhasil menemukan sosok yang ia cari selama ini. Jantungnya berdebar tidak karuan melihat Jay tengah makan di bangku tengah kantin. Oh tampan nya dia astaga! Batinnya memuji ketampanan Jay.
"Lid. Kau kembali aja ke kelas. Aku mau disini dulu."kata Lina mengusir Lidya secara halus. Ia melirik ke arah gadis disampingnya,"kau mengusirku,Lin?"
"Tidak, aku tidak mengusirmu. Lebih baik kau di kelas aja daripada kau berdiri disini nanti lelah."ucap Lina tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia telah melihat Jay sedang makan dengan kenikmatan. Lidya tidak bisa mengatakan apapun, terpojok. Akhirnya Lidya meninggalkan Lina sendirian di kantin.
Gadis berambut panjang dan cantik seperti keturunan kerajaan itu berjalan seanggun mungkin menuju meja makan Jay. Ia rasa, telah menemukan tipe pemuda yang diidamkan sejak dulu. Dulu waktu SMP banyak sekali cowok yang ingin menjadikan pacar Lina akan tetapi Lina menolak semua. Karena dari ratusan siswa tidak ada satupun tipe pemuda yang tepat sesuai Lina inginkan.
Lina sudah berada di depan Meja Jay memandang cowok tampan yang masih sibuk dengan makanan di santapnya. "J-jay?"panggil Lina melambaikan tangan bermaksud menyapa.
Jay menghentikan aktivitas makannya yang tinggal dua suapan. Ia melihat seorang gadis tadi yang sekarang menyapanya dengan senyuman terbaiknya. Ia menatap Lina datar seperti biasa. Lina tersenyum,"a-apa kau tahu namaku,Jay?"tanya Lina.
Jay tidak menjawab. Lina mengulurkan tangan ke Jay,"perkenalkan namaku Lina Andia panggil aja aku Lin atau Lina. Sesuka Jay."senyumnya. Jay hanya diam menatapnya lekat-lekat.
"Kenapa kau selalu mengikutiku?"tanya Jay dingin.
"Aku cuman ingin menjadi temanmu,Jay."kata Lina berusaha tidak gugup dan kata 'Teman' meluncur seketika dari mulutnya. Dalam hati, ia sedikit kecewa telah mengucapkan teman ke Jay.
Jay menyunggingkan senyum dan berjabat tangan Lina. Pipi Lina padam, tangan Jay sangat hangat dan lembut--tidak kasar. "Teman."katanya lalu melepaskan jabatan perkenalan.
Lina tersipu. Tangannya telah disenyuh oleh pemuda yang diidamkan. Jantung Lina sekali lagi berdebar-debar kali ini 3 kali lebih cepat ingin rasanya pingsan.
"Kau sudah makan?"
"Belum."jawab Lina malu-malu. Berharap Jay mentraktir makanan sebagai teman.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena mejanya penuh semua."jawab Lina. Jay melihat sekeliling dan benar, meja kantin penuh dan banyak sekali murid-murid membawa makanan mereka masuk ke dalam kelas.
"Makan di kelas aja. Daripada makan di sini."ucap Jay memberikan solusi terbaik buat Lina.
"Eh?"ia terkejut. Mengapa ia tidak berpikir seperti itu? Pasti Lidya di dalam kelas kelaparan. Jay memandang Lina sedari tadi terlihat wajah gadis itu gelisah dan bingung.
"Apa kau malas untuk mengantri?"tanya Jay berhasil membuyarkan lamunan Lina. Ia lagi-lagi terkejut dengan Jay. Mengapa ia tahu kalau Lina begitu malas buat mengantri panjang dan di sisi lain memikirkan Lidya.
Di dalam kelas Lidya sangat lemas karena tenaga yang di milikinya sudah habis total. Cacing yang ada di dalam tubuh meronta-ronta minta makan.
Makan! Makan! Makan!
Beri aku makan!
Lalu ada orang yang meletakkan makanan di atas meja. Lidya terdiam sejenak, mengangkat kepala sedikit melirik kesamping melihat nasi bungkus terletak tepat di sampingnya dan satu es teh. Seulas senyum terlukis di sudut bibir Lidya. Lina datang dan berkata,"ini makanan buatmu. Aku tadi sengaja mengantri lama di kantin buat membelikan makanan buatmu."kata Lina dibalas ucapan terima kasih banyak dari Lidya.
Gadis bertubuh kecil agak mirip barbie itu mengambil makanan yang dibeli oleh Lina dan segera dibuka serta dilahapnya dengan nikmat. Seulas senyum terlukis jelas di bibir Lina, ia sengaja memberikan makanan buat Lidya karena tahu, bahwa Lidya sangat kelaparan.
Jay tadi yang mengantri membelikan makanan dan Lina mengucapkan terima kasih banyak. Makanan itu dari Jay, teman baru di SMK Cemerlang. Demi cinta dan teman,Lina akan melakukan apapun. Ia sangat terpana dengan ketampanan Jay.
Rambut hitam, mata cokelat terang dan tajam seperti elang, ia punya sebelah ating berbentuk cinta. Dia juga baik sekali dan sangat peka dengan teman apalagi sama pacar. Benar-benar pemuda idaman para gadis.
Lina melihat Lidya melahap makanan sangat luar biasa, mungkin ini efek kelaparan terlalu berlebihan. Sekali lahap makan banyak banget. Berapa menit sebelum bel masuk berbunyi Lidya berhasil menghabiskan makanan itu tidak tersisa.
Lidya bersendawa pelan melirik senang ke Lina. "Makasih Lina, makanannya."
__ADS_1
"Iya, sama-sama."
"Maaf,membuatmu mengantri makanan lama banget dan ngerepotin kamu."lanjut Lidya terkekeh merasa tidak enak aja sama Lina. Lina terkekeh pelan.
"Tidak usah minta maaf. Aku ikhlas kok, anggap aja itu tanda maafku telah mengusirmu secara halus. Tadi emosiku terlalu muncak."kata Lina menunduk menyembunyikan blushing kejadian tadi di kantin.
"Bagaimana dengan Jay? Apa yang kau bicarakan bersama Jay?"tanya Lidya penasaran banget sama Lina dan Jay.
Lina menatap ke depan, kedua pipi kembali memanas. "Ti-tidak! Aku tadi hanya bilang aja padanya kalau aku..."ucapnya terhenti dan menggigit bibir bawahnya tanda gugup.
"Bilang apa hayo pasti kau diterima ya jadi pacar Jay."kata Lidya menebak sambil mengejek Lina.
Lina memukul pundak Lidya pelan. "Jangan bilang gitu ih!"Gadis itu terkekeh melihat Lina salah tingkah. Hadeh, jatuh cinta saat mos memang.
Tet.. Tet.
Bel masuk telah berbunyi,semua murid yang berada di luar kelas bergas masuk ke dalam dan duduk seperti sedia kalah. Jay masuk ke dalam kelas,kedua matanya memandang Lina dan tidak lupa senyuman menggoda milik Jay.
Lina membalas senyuman dari Jay dan matanya terus melihat langkah pemuda itu sampai di bangkunya. Aku ingin cepat-cepat menjadi miliknya, batinnya seperti kebelet boker. Lidya hanya diam saja,pura-pura tidak tahu dengan teman yang di sampingnya ini.
Menurut Lidya tentang Jay. Memang ganteng dan sempurna tapi Lidya juga bisa jatuh hati ke Jay saat perkenalan tadi di depan. Meski Jay tampan, namun tidak ada yang membuat Lidya senang dalam diri Jay. Entahlah apa yang terjadi pada Lidya.
Memang kalau masalah cinta dan jatuh hati pada orang lain. Lidya itu sangat sulit membukakan pintu hati pada orang lain, tidak hanya memilih tampan dan kepintaran nya. Ia tidak bisa jatuh cinta pada orang lain kalau cahaya dalam diri orang itu tidak menyala atau tidak memiliki kharisma yang yang sangat kuat. Supaya Lidya bisa tertarik.
*jangan anggap kami lemah*
Bersambung...
__ADS_1