Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus Empat Belas: Gantungan Kunci Jangkrik


__ADS_3

  Rambut panjang cokelat sebahu itu menelusuri hutan yang sangat indah, hewan-hewan disini sangat tentram, beberapa kicauan burung-burung berterbangan dengan merdunya. Langkah kakinya terus berjalan dan sorotan matanya terus mencari sesosok pemuda bernama Tio dan beberapa teman bersamanya; Veno, Nia dan Dyah.


  Pandu menggaruk tengkuknya tidak gatal sudah beberapa jam ia berjalan terun-menerus masuk ke dalam hutan dan tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka. Kata Anis, mereka berempat sudah masuk ke dalam pintu imajinasi dan belum juga datang sebab menunggu gantungan jangkrik tiba.


Ia menatap gantungan kunci emas bergambar jangkrik itu lamat-lamat lalu menggenggam erat. Dalam hatinya ia akan menyelamatkan dunia dari imajinasi jahat serta mengembalikan semuanya menjadi sedia kala, tidak seperti ini. Langkah kaki galahnya kembali berjalan tapi ini dengan lari kecil memasuki hutan. Pijakan kakinya terdengar jelas sebab ada ranting, daun kering yang ia injak sehingga terdengar suara langkah kaki.


Hewan-hewan di hutan menatap Pandu yang berlari tanpa tujuan yang terpenting pemuda itu berhasil menemukan keempat temannya tersebut. Dari depan Pandu melihat dua rusa cokelat memakan daun-daun di sana setelah langkah kakinya terdengar, kedua rusa tersebut menoleh mengarah ke Pandu.


Anehnya, kedua rusa itu tidak pergi berlari melihat kedatangan Pandu--bisa saja kan Pandu memburu mereka. Kedua rusa tersebut menghalangi jalan Pandu sehingga pemuda itu terpaksa menghentikan lari kecilnya.


"Kalian pergi, aku buru-buru sangat!"ucap Pandu mengusir kedua rusa tersebut tapi tidak di gubris sama sekali. Ini membuat Pandu jengkel dan khawatir, bagaimana nasib teman-temannya itu. Apakah ia pergi terlalu lama? Karena disini cuacanya cerah benderang, siapa tahu kalau di bumi sekarang sudah malam.


Sedari tadi memang Pandu hanya berlari, berjalan dan tidak menemukan jalan menuju teman-temannya yang memasang gantungan kunci ke suatu tempat. Ia melihat kedua rusa itu yang melihatnya lamat-lamat dan salah satu dari rusa tersebut berjalan mendekati Pandu membuat pemuda itu sedikit mundur.


Rusa tersebut mencium badan Pandu membuat pemuda itu sedikit risih kemudian rusa itu mundur membuat menaikkan sebelah alis, bingung. Rusa tersebut menundukkan kepalanya dan mencium ke tangan Pandu yang mencekal gantungan kunci.


"Kau mau gantungan kunci ini?"tanyanya memastikan mengangkat tangannya sedikit dan kepala rusa itu mengikuti kemana tangan Pandu, bergerak.


Lalu rusa tersebut menoleh mengarah rusa yang bersamanya, rusa tersebut berlari ke arah kanan di susul rusa yang berhadapan dengan Pandu. Pemuda tersebut berlari dan berteriak, "tu-tunggu aku!"ia berlari mengejar kedua rusa yang berlari sangat kencang.


Di tumpukan batu-batu yang rata-ratanya adalah batu besar. Batu yang bertumpuk seperti gapura di sana terdapat ada tujuh pola gambar kunci gantungan dengan gambar yang mirip seperti gantungan kunci di bawa Tio.


Mereka berempat sedari tadi memerhatikan pola gambar tersebut salah satunya pola gambar yang berada di tengah-tengah. Pola itu tidak sebegitu jelas.


"Apa kalian sama pemikiran denganku?"tanya Tio,dahinya berkerut tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya. Ketiga temannya yang berdiri di belakang Tio mengangguk bahwa pemikiran mereka sama dengan pemikiran Tio.


"Pola gambar itu sangat tidak jelas. Tapi yang lain jelas dan itu sesuai gantungan kunci di tangamu."kata gadis bernama Dyah. Iris mata merahnya memerhatikan pola yang tidak jelas itu.


"Apa itu lambang dari gantungan kunci unknown itu."celetuk Veno membuat ketiga temannya menoleh ke arahnya lalu memandang kembali batu tersebut.


"Bisa jadi,"kata Tio,"aku akan meletakkan gantungan-gantungan kunci itu ke batu ini tetapi,"ucapnnya terhenti, alis Veno terangkat sebelah.


"Apalagi? Kita sudah berjam-jam disini loh. Takut kalau di bumi udah besok."kata Veno dibalas angguk Nia.

__ADS_1


"Veno benar. Soalnya firasatku sedari tadi udah buruk."timpal Nia.


Tanpa babibu lagi Tio meletakkan kelima gantungan kunci tersebut ke pola batu itu. Setiap gantungan kunci sudah terpasang batu itu sesekali bercahaya sesuai warna gantungan kunci itu. Nia, Dyah dan Veno terkagum-kagum melihat cahaya-cahaya itu berada di batu tersebut.


"Tinggal dua lagi yang belum."kata Tio menunggu kelompok Ilham membawa gantungan kunci tersebut. Sebenarnya Tio juga khawatir apa yang terjadi di bumi apalagi saat peperangan tiba. Matanya melihat sekeliling, dunia imajinasi ini sangat indah seperti surga.


"Aku penasaran kalau semua gantungan kunci itu sudah terkumpul semua, apa yang akan terjadi?"kata Veno memegang dagunya sembari menatap langit biru dan cahaya matahari, berpikir.


"Ya, dunia akan lebih tentram lah tidak ada kerusuhan lagi. Persis seperti dulu."simpul Nia menyilangkan kedua tangan di dada.


Dari arah barat di sana muncula dua rusa yang datang melompati setiap bebatuan yang besar. Kedua gadis itu sangat antusias melihat hewan rusa yang tidak pernah mereka lihat secara langsung. Tidak jauh dari kedua rusa itu muncula sesosok pemuda yang sudah tidak asing lagi di penglihatan mereka.


"Pandu!"teriak mereka sembari melambaikan kedua tangan ke atas.


Pandu melihat teman-temannya sudah berada di sana lalu kedua rusa tersebut juga menghampiri mereka semua. Pandu melompati setiap batu-batu besar itu dan mendarat mulus dengan kaki mendarat sempurna dan kedua tangan sebagai tumpuan. Ia bangkit berdiri berjalan sembari menyodorkan gantungan kunci emas, bergambar jangkrik.


Tio tersenyum dan mengambil gantungan kunci tersebut dari tangan Pandu lalu memasangkan ke pola bergambar jangkrik. Cahaya emas bersinar lebih terang dari kelima cahaya gantungan lainnya membuat mata mereka sedikit silau dan menghalangi cahaya itu dengan tangan.


"Haaaa!"


*Jangan Anggap Kami Lemah*


   Bumi sekarang sudah hancur, banyak gedung-gedung dan rumah menjadi abu. Semua manusia yang di karuniai kekuatan imajinasi melawan musuh habis-habisan. Tidak peduli dengan teman dekat, saudara bahkan orang tua mereka yang ada di pihak musuh--mati.


  Air mata bercucuran melihat orang kesayangan mereka mati di tangannya sendiri. Orang-orang yang beruntung tidak memiliki kekuatan imajinasi, bersyukur. Apalagi mereka sudah berada di pengungsian dan aman dari serangan musuh.


Keysa tertawa terbahak-bahak melihat kekacauan disini baginya ini adalah hiburan yang menyenangkan. Sama seperti di planet Elementer 100 abad yang lalu dan harus di hentikan selama 500 tahun. Apalagi pangeran tumbuhan berhasil mengalahkannya dan menyegel kekuatannya, ia pikir sudah mati ternyata tidak.


Keysa sangat bersyukur bisa bangkit kembali di dunia berbeda. Dimana banyak manusia-manusia lemah tidak memiliki kekuatan lalu secara tiba-tiba manusia-manusia itu mempunyai kekuatan. Apalagi kekuatan mereka berbeda-beda.


  Keysa melihat beberapa cahaya-cahaya dengan warna berbeda-beda perlahan masuk ke dalam tubuh manusia. Dan itu adalah fakta yang menurutnya menjengkelkan. Jadi ia memutuskan menyelidiki sesuatu seluk-beluk cahaya-cahaya itu dan setelah itu ia menyunggingkan senyuman penuh pembalasan dendam serta berpikir bahwa pangeran tumbuhan terlahir kembali di dunia ini. Sama seperti dirinya.


Keysa tertawa terbahak-bahak melihat ia sudah membunuh beberapa manusia yang sok-sok an menyelamatkan dunia dan akhirnya mati terbunuh secara mudah.

__ADS_1


"Sia-sia saja latihan kalian kalau mati dengan mudah."ucapnya meremehkan. Keysa terus mengeluarkan kekuatan tumbuhan gundul yang menakutkan dan tidak ada habis-habisnya imajinasi-imajinasi itu saling menyerang satu sama lainnya.


Matanya melihat sekeliling berharap ia menemukan manusia yang memiliki kekuatan tumbuhan, dan pasti itu adalah pangeran tumbuhan. Keysa berhasil melihat  gadis kecil sekitar umur 10 tahun yang memiliki kekuatan tumbuhan.


"Pasti itu pangeran tumbuhan."gumamnya menghampiri gadis kecil itu yang melawan musuh.


Gadis bersurai cokelat dengan manik hijaunya terus menyerang musuh-musuhnya dengan kekuatan tumbuhan. Tidak peduli ia masih kecil harus terjun ke medan perang sebab ia terus berambisi untuk menyelamatkan dunia, tidak peduli dengan nyawa.


"Halo gadis kecil."sapa Keysa membuat gadis kecil tersebut menghentikan serangan tumbuhannya dan menoleh ke kanan melihat gadis remaja tersenyum menyeringai seram, ingin membunuh gadis itu.


Gadis kecil tersebut sama sekali tidak takut dengan musuh di hadapannya ini. Ia malah menatapnya dengan tatapan datar tanpa ada ekspersi apapun, benar-benar datar.


"Mau apa kau datang kesini?"ucapan dingin itu keluar dari bibir mungil gadis kecil tersebut dengan beraninya mengatakan hal itu di hadapan Keysa langsung.


Keysa tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan gadis kecil itu yang beraninya mengatakan sedingin es. "Wah ternyata mulut mungilmu itu tajam juga. Baiklah, gadis manis. Aku akan bermain denganmu."ucap Keysa semanis mungkin.


Ia menatap tajam gadis itu padahal ia ingin bertanya apakah pangeran tumbuhan berada di dalam diri gadis itu. Akan tetapi akibat mulut mungil tajam itu, Keysa mengurungkan niatnya dan langsung ke inti yaitu membunuhnya.


Monster-monster pohon itu kembali datang menyerang ke gadis kecil tersebut. Gadis kecil bernama Tasya itu hanya menatap datar tangan monster yang cepat atau lambat melukai tubuh mungilnya.


Ketiga tangan monster pohon itu ingin mencekal tubuh mungil Tasya. Gadis tersebut mencekal tangan monster pohon itu menggunakan tangan mungil yang sudah di selimuti oleh kekuatan tumbuhannya berukuran besar. Iris hijaunya bertambah hijau.


  Seluruh tubuh Tasya berubah menjadi monster tumbuhan yang di tengah-tengah, Tasya singgah. Keysa hanya melotot tidak percaya melihat gadis kecil itu bisa menyatu dengan tumbuhan monsternya apalagi ia seperti Ratu. Keysa menggertakkan giginya kesal dan ia menyuruh monster-monster tumbuhannya menyerang gadis kecil itu sampai mati.


Keysa memilih untuk berlari menyelamatkan diri dari gadis mungil yang ternyata adalah monster. Tasya tidak akan melepaskan orang yang telah membuat kekacauan di tempat kelahirannya dan juga tempat untuk ia hidup. Tumbuhan miliknya mencegah Keysa untuk pergi.


Keysa melotot melihat tumbuhan di depannya adalah tumbuhan pemakan serangga. Ia menelan silvanya susah payah.


'Sial apakah aku harus mengeluarkan rencana itu sekarang tapi masih belum waktu yang tepat!'---batin Keysa berjalan mundur dari tumbuhan pemakan serangga meskipun begitu tumbuhan tersebut akan melahapnya, cepat atau lambat.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2