Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Empat Puluh Delapan:Mencari bunga warna-warni


__ADS_3

   Matahari sudah sedikit bergeser di sebelah barat. Angin semilir membuat daun-daun pohon bergoyang, cahaya matahari masih menyinari hutan lebat. Banyak sekali burung kecil terbang mencari makan. Tanah kasar yang dipijak oleh kedua siswa-siswi dan kedua pandang mereka melihat kesekeliling, di dalam hati mereka masih ada rasa kesal soal kesalahan paham dari kepala sekolah mereka sendiri.


Yang jelas hari ini mereka berdua mendapatkan kutukan yaitu tidak bisa melepaskan diri dari tubuh orang yang kau benci. Kevin sejak awal masuk kelompok kemah tidak menyukai gadis yang sekarang bersamanya dan menjalani hukuman bersama juga.


Kondisi seperti ini bagi pemuda bernama Kevin adalah suatu yang menyebalkan dan apes banget. Ia melirik sedikit ke Farah, gadis itu masih melihat sekeliling hutan yang sepi dan banyak hewan. Mungkin di tempat terlarang Drak Shadows 36 masih ada binatang buas,ini memang tidak bisa di jelaskan secara detail karena belum ada tanda-tanda binatang buas disini.


Mereka berdua sudah lama saling diam tidak memulai percakapan sama sekali. Farah masih marah dengan Kevin, seandainya ia bekerja sama dengan kelompoknya masalah ini tidak akan terjadi. Ia sendiri juga bingung, mengapa ia bisa menempel dengan pemuda datar seperti triplek dan juga bandel kalau dikasih nasehat.


Kevin menghentikan langkahnya otomatis Farah juga menghentikan langkahnya, menatap Kevin sedikit sinis. "Kenapa kau berhenti?kita kan disuruh sama Pak Ganda mencari bunga warna-warni itu! Malah kamu berhenti."protes Farah berdecih kesal.


Kevin menatap Farah datar sepertinya ia jalan bersama gadis cerewet seperti lebah. "Berhentilah protes padaku! Apa kau tidak berpikir kalau bunga itu ada atau tidak."jawabnya nada jengkel.


"Kan kata Pak Ganda, dia tidak berbohong pada kita dan katanya tumbuhan itu benar-benar ada!"kata Farah tidak mau kalah dengan Kevin. Pemuda itu membuang muka ke Farah, muak dengan gadis cerewet seperti dia. Kenapa waktu di awal pembentukan kelompok yang jadi ketua kelompok bukan Vana.


Kevin mengakui kalau Vana adalah gadis tegas, tidak suka main-main seperti dirinya, berpikir mantang dan tidak suka membuang waktu sama seperti dirinya. Tetapi kenapa harus Farah yang ternyata ia adalah gadis paling cerewet dan tentunya ia melindungi ketua kelompok di sebuah permainan mengejutkan, berakhir menempel bersamanya dan mendapatkan hukuman juga.


Ah rasanya kalau di ceritakan berulang-ulang Kevin bakal merasa bosan.


Kevin menarik tangan Farah kearah barat membuat Farah protes. Namun, Kevin mengabaikan protestan Mak Lampir di sebelahnya. Ah di permainan tadi rasanya Kevin adalah pemuda yang tidak berguna, tidak membantu yang lain mengalahkan Kak Rian merebut botol tersebut. Perannya tidak penting ditambah lagi dengan hukuman seperti ini padahal mereka ingin membantu kelompok lain agar bisa lepas dari tangan perekat ini.


"Kau akan membawaku kemana? Kita semakin jauh dari tempat kemah."kata Farah lagi raut wajah takut bercampur cemas. Kevin menoleh melihat wajah takut dari Farah, terlihat jelas. "Jangan takut, kita tidak akan tersesat. Kalau kau ingin kembali, kita harus mencari bunga itu bersama dan jangan ada pertengkaran."ucapnya memperingatkan Farah, dingin.


Farah mengkerutkan keningnya mendengar kalimat panjang dari Kevin. Ia menghela nafas kasar dan mengangguk pelan, paksa harus menuruti perkataan Kevin. "Baiklah kalau begitu. Sekarang kau jadi ketuanya dan aku akan menjadi anak buahmu sementara ini."ucapnya memutuskan.


"Cih."


   Waktu cepat berlalu dan matahari sebentar lagi menyembunyikan sinarnya. Keduanya masih mencari keberadaan bunga yang disebut oleh Pak Ganda. Kaki Farah sudah merasa lelah berjalan sejauh ini tanpa ada hasil sama sekali. Farah berhenti membuat langkah Kevin juga berhenti. Gadis itu duduk sambil kaki diluruskan.


"Berhenti dulu, aku capek!"kata Farah menarik nafas dalam-dalam.


Kevin hanya bisa diam dengan wajah datarnya, ia akhirnya ikut duduk disamping Farah sambil melihat tangan kirinya masih menempel lekat di tangan kanan Farah. Ia berharap bisa berakhir kutukan yang tiba-tiba datang entah karena apa, Kevin sama sekali tidak mengerti.


Ia menatap Farah yang memijat pelan kedua kakinya saking pegalnya. Kevin mengerjapkan mata berkali-kali, diam sejenak mencoba berpikir tentang perkataan Pak Ganda soal bunga warna-warni yang dimaksudnya. Bunga warna-warni dalam satu pohon itu mustahil kalau bunga warna-warni dalam lebih dari satu pohon itu menyakinkan. Pantas diterima oleh otak.


Dahi Kevin berkerut memikirkan hal itu kedua kalinya. "Duh, berapa lama kita harus mencari bunga warna-warni itu. Dan kita sudah berjalan sejauh ini sebentar lagi juga malam. Aku juga belum makan siang."kata Farah berkeluh kesah. Kevin melihat Farah yang memasang wajah sedikit kusut, kurang nutrisi makanan.

__ADS_1


Benar juga, kata Farah. Ia dan Farah daritadi belum makan sama sekali. Kevin bangkit berdiri,"Ayo, kita lanjut jalan lagi sambil mencari buah disini. Aku yakin, kalau disini ada buah yang bisa kita makan."kata Kevin yakin. Farah bangkit berdiri sambil membersihkan pakaian dari tanah yang menempel.


"Yo!"jawab Farah setuju.


  Suara pijakan kaki mereka terdengar di hutan lebat ini. Setelah Kevin mencari buah untuk mengisi perut, ia dan Farah akan kembali. Tidak jauh dari mereka berdua ada pohon Apel. Sampai di pohon itu keduanya mendongak ke atas melihat banyak sekali apel yang bergelantungan di dahan pohon tersebut.


"Hmm, bagaimana kita mengambilnya kalau kita sendiri nempel begini?"tanya Farah menoleh ke Kevin. Pemuda itu menatap ke depan,"kita harus berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak."jawab Kevin datar. Farah menggembungkan kedua pipinya dan penglihatannya tidak sabar bisa memakan buah apel yang enak itu. Di dalam perut kecilnya, cacingnya sudah berteriak meminta makan.


Kevin melirik sedikit ke Farah,"Far. Sebelumnya aku minta maaf."ucapnya tiba-tiba membuat Farah kebingungan.


"Minta maaf karena apa?"tanyanya balik tanpa menoleh ke lawan bicaranya.


"Maaf soal waktu perkemahan aku selalu menghilang dan tidak membantu yang lainnya. Fandra dan Agung sampai mencariku kemana-mana tapi aku malah tidak ada disana. Mereka berdua mencariku karena mau meminjam kaos buat anak perempuan mandi di sungai."jelasnya ke Farah. Tanpa disadari oleh Farah sendiri, seulas senyum kecil terukir di bibirnya mendengar cerita singkat itu.


"Dan aku juga sering menjauh sama yang lainnya karena aku memang suka menyindiri sih. Dan aku tidak menyukai kemah ini, aku tidak hobby berpetualangan apalagi namanya Kemah."lanjutnya lagi masih nada dingin dan raut wajah datar. Beberapa helaian rambut acak-acakan Kevin dimainkan oleh angin semilir. Farah tersenyum tipis.


"Tidak apa-apa."


Kruyuk-----


Seandianya ia memiliki senjata sebuah busur, ia tidak akan kesusahan seperti ini. Kevin bertanya ke Farah soal ia memiliki kekuatan apa dalam dirinya membuat gadis itu kebingungan mendengar pertanyaaan, tidak masuk akal.


"Apa kau kehilangan akal,Kev? Mana bisa aku mendapatkan kekuatan yang jelas aku adalah manusia normal. Aku tahu, kalau disekolah kita sudah banyak murid memiliki kekuatan tapi tidak seratus persen punya kan."kata Farah tersenyum miring.


"Owh,kirain kau punya. Jika aku tidak menempel denganmu, aku bisa mengambil apel-apel itu."katanya mendongak ke atas melihat apel berwarna merah menggoda.


"Benarkah?"kata Farah sedikit tidak percaya.


"Apa kau ingin, aku menunjukkan caranya dalam kondisi seperti ini?"tanya balik Kevin memastikan kalau perkataan Farah serius. Farah mengangguk setuju.


"Kita harus melakukan sesuatu jika kita tidak melakukan sesuatu. Kita tidak akan kembali ke perkemahan dan berakhir disini. Aku yakin, kau tidak akan pernah terima kalau kau mati karena kelaparan."ucap Farah bijak menatap Kevin yang tersenyum tipis banget.


Aku sedikit tidak percaya kalau Kevin bisa senyum juga meski itu tipis banget, batin Farah.


Kevin mengeluarkan asap putih tebal dari tubuhnya ketika asap itu benar-benar sudah menebal. Pemuda itu menarik tangan Farah mengikutinya melewati tangga terbuat dari asap yang sudah berjajar di depannya. Penglihatan Farah samar-samar menurutnya ini seperti kabut yang biasanya membuat dada sesak. Ia pasrah mengikuti Kevin menuju atas.

__ADS_1


Kakinya merasa menaiki tangga transparan dalam hatinya ia merasa takut kalau terjatuh. Tangan kanan Farah menggenggam erat tangan Kevin membuat pemuda itu sedikit tidak fokus.


"Jangan banyak gerak nanti asap yang di kakimu hilang. Karena membuat sesuatu dari asap butuh kosentrasi yang tidak bisa di ganggu."kata Kevin memberitahukan ke Farah. Gadis itu merasa bersalah telah menganggu konsentrasi Kevin.


"Maaf."katanya pelan.


Kevin menyapu sebagian apel dengan semburan asap yang berubah menjadi gunting membuat apel-apel itu berjatuhan ke bawah. Farah mencoba melihat ke bawah rasanya menyeramkan, lagi-lagi ia menggenggam erat lengan Kevin kuat supaya tidak terjatuh.


Kevin memberitahu Farah sebentar lagi mereka jatuh dari ketinggian membuat gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa takut luar biasanya. Asap yang ada di pijakan kaki mereka berdua hilang dan keduanya jatuh.


Farah berteriak paling kencang dan memejamkan mata takut. Kevin segera mengeluarkan asap dari kedua bawah kakinya karena Farah sudah memegang tangannya erat.


"Sepatu Asap!"serunya secara otomatis kedua sepatunya mengekuarkan asap dibantu oleh angin kecil yang perlahan turun ke bawah. Lalu asap putih tebal perlahan menghilang dan kembali seperti semula. Farah belum membuka matanya dan masih mengenggam tangan erat Kevin.


"Kau boleh membuka matamu,Far."ucapnya. Farah perlahan membuka matanya dan mengecek kalau ia tidak apa-apa.


"Alhamdulillah, kita selamat."ucapnya bernafas lega. Lalu mereka berdua memakan buah apel hasil petikan keduanya. Farah yang paling lahap memakan buah karena ia sangat lapar. Kevin memakan apel sambil memikirkan maksud Pak Ganda masalah bunga warna-warni itu.


"Far. Apa kau tidak merasa aneh dengan bunga warna-warni itu?"tanyanya.


"Aneh sih. Masa ada bunga warna-warni, adanya sih bunga satu warna kalau bunga itu warna-warni tandanya pohon itu lebih dari satu. Aku betulkan?"jelas Farah dan bertanya balik ke Kevin.


"Hmm,itu benar."katanya.


"Bentar lagi. Kita akan mencari bunga itu sampai dapat, aku tidak peduli harus pulang malam yang penting. Kita harus menemukan bunga itu!"seru Farah bersemangat dan Kevin hanya bisa menatap gadis itu datar. Ia telah merasakan ada sesuatu yang janggal tentang Bunga Warna-warni itu sejak awal.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung....


Sedikit note:


Rambut Kevin sebenarnya Hitam tapi kalau melihat dari jauh--warna rambutnya berubah sedikit keunguan.


Hanya itu saja, silahkan tekan suka atau commentnya ^_^ see you..

__ADS_1


__ADS_2