Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Episode enam belas:Ajakan Jay


__ADS_3

  Kelas Multimedia sudah duduk anteng dan tidak ada yang berisik sama sekali. Guru yang berada di depan mengabsen murid-muridnya sebelum memulai pelajaran.


"Maulidya Wahyu Fatmawati!"kata guru tersebut. "Hmm,mana yang namanya Maulidya Wahyu Fatmawati?"katanya lagi sambil menyapu pandang mencari murid bernama Maulidya itu. Salah satu murid angkat tangan dan berdiri,"biarkan saya yang mencarinya bu."kata Fitri tersenyum.


"Cepat kesini ya. Namamu siapa?"ucapnya.


"Fitri."


Fitri pamit keluar kelas untuk mencari Lidya. Ia menuruni tangga sambil bergumam pelan agar tidak merasa bosan. Langkahnya berhenti,"mau nyari Lidya kemana dulu ya?"tanya Fitri pada dirinya sendiri kemudian kembali melangkah ke perpustakaan, siapa tahu Lidya berada disana.


  Kedua mata Fitri melihat Lidya berjalan menunduk,menggengam buku kecilnya itu. Seluas senyum terlukis jelas di wajah Fitri. "Lidya!"teriaknya memanggil dan berlari menghampiri gadis itu.


Merasa namanya terpanggil ia menatap kedepan melihat Fitri berlari kearahnya. Fitri sudah sampai di depan Lidya, nafas ngos-ngosan. "Akhirnya ketemu juga."ucapnya.


"Fit, mengapa kau ada disini?"tanya Lidya langsung dibalas pelototan dari Fitri. "Kau bertanya. Mengapa aku disini?yang jelas aku mencarimu karena kau tidak berada dikelas. Memangnya kau selama ini berada dimana?,nggak balik-balik."Omel Fitri berkacak pinggang seperti emak-emak.


Lidya hanya terkekeh dan menggaruk kepala tidak gatal. Ia bingung harus menjawab apa ke Fitri. "Hmm,aku habis ketoilet bentar tadi. Aku tadi nggak dengar suara bel sekolah."balas Lidya. Fitri menepuk dahinya pelan dan menggeleng. Ia berjalan beriringan dengan Lidya.


"Ya jelaslah nggak dengar bel. Belnya aja rusak. Jadi para guru terpaksa lihat jam setiap menit."Lidya mengangguk,"tadi pagi tidak ada guru yang masuk kedalam kelas kita."


"Karena gurunya nggak masuk."balas Fitri tersenyum miring. Lidya yang melihat senyuman miring Fitri sangat menyeramkan. "Jangan senyum seperti itu,Fit. Menyeramkan."komentar Lidya merinding.


Mereka berdua masuk kedalam kelas dan mulai pembelajaran. Semua murid memperhatikan guru menerangkan. Dan ada beberapa murid yang tidur,bermain sendiri sampai ada yang chattingan. Beni yang fokus memerhatikan guru merasa risih dengan kebiasaan teman-temannya. Tidak tahu kenapa ia sangat risih dengan semua itu, biasanya Beni membiarkan teman-temannya sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Ia menoleh kebelakang melihat gadis berambut pendek sebahu seperti potongan polwan itu asik melihat ke bawa loker meja sambil senyam-senyum sendiri. Beni kembali memerhatikan guru mencoba fokus akan tetapi ia tidak bisa membuat terheran-heran sendiri.


Pandu yang memerhatikan Beni merasa bingung. Ia tidak seperti biasanya tidak fokus belajar. "Oi Ben!"panggil Pandu yang ada di belakang Beni. Beni menoleh,"apa?"jawabnya sedikit sewot.


"Kau sedari tadi noleh kanan-kiri, depan-belakang. Nggak fokus pelajaran, tumben banget."kata Pandu mengerutkan dahi dan terkekeh pelan. Beni menggeleng, menggaruk kepala,"aku tidak tahu. Sudahlah lupakan. Mungkin aku pengen refreshing."kata Beni.


Pandu tersenyum,"baguslah. Aku juga ikut refreshing sejenak sama kau."balasnya.


***


  Lina merasa bosan harus memasang telinga mendengar guru Konseling, Bu Elina. Beliau memberi motivasi buat murid-murid supaya tidak mudah putus asa dan harus giat belajar. Gadis yang ada disebelah Lina menyenggol lengannya membuat Lina menoleh.


"Lin, ikut aku ke toilet dong. Kebelet nih."bisiknya. Seulas senyum menghiasi wajah cantiknya itu. Ia mengangguk mantap. Mereka berdua pamit menuju ke toilet dalam perjalanan mereka berdua tengah asik berbincang masalah pelajaran yang membuat kantuk.


"Wajar aja sih,ngantuk. Kita butuh istirahat siang dan istirahat kedua masih lama,"kata Lina mengecek jam di handphone,"lagi pula kita izin ketoilet,Kay."lanjutnya. Gadis bernama Kay memegang perutnya lalu melesat pergi meninggalkan Lina.


"Hay Kay! Tunggu aku!"Teriak Lina berlari menyusul Kay yang berlari sangat cepat. Mungkin kalau Kay ikut lomba lari ketika ingin ke toilet pasti ia bakal menang juara nomer satu.


  Langkah Lina melambat ketika ia melihat Jay didepan mata, pemuda itu selalu membuat jantung Lina bertebar-terbar tidak tahu kenapa?setiap ia melihat Jay seolah terkesima dengan ketampanannya. Pemuda tersebut menoleh mengarah ke Lina. Lina langsung berbalik badan menyembunyikan pipi merahnya.


  Jay berjalan kearah Lina. "Lina!"panggil Jay. Lina terkejut mendengarnya ini baru pertama kali Jay memanggil namanya tanpa nada dingin sedikitpun. Lina berbalik menatap wajah Jay yang tersenyum sumringah. Mata gadis itu menatap lamat mata cokelat Jay yang menurutnya indah.


"Lina!"ini dua kali, Jay memanggil namanya.

__ADS_1


"Iya,Jay. A-ada apa?"tanya Lina sedikit gugup.


"Nanti pulang sekolah bisa ikut aku tidak?"tanya Jay tiba-tiba membuat Lina berdiri membeku.


"Lina?"panggil Jay lagi berhasil membuyarkan lamunan Lina.


"Bisa tidak?"tanya Jay meminta jawaban Lina.


Gadis itu menunduk,bingung harus menjawab iya atau tidak. Ia sekarang begitu gugup dan detak jantungnya berdetak kencang. Disisi lain ia akan membenahi perkataan dulu yaitu teman, Lina sudah jatuh hati pada Jay saat pertama kali bertemu. Ia tidak ingin mematahkan hatinya karena keputusan dirinya sendiri.


Lina memberanikan menatap wajah Jay yang terlihat bersinar dimatanya. Ia menyunggingkan senyum manis. "Iya, aku mau ikut denganmu."ucapnya.


Jay juga tersenyum. "Makasih,Lin. Nanti aku tunggu didepan gerbang ya."ucapnya dibalas kekehan kecil dari Lina. "Iya, sama-sama. Kan sebagai teman harus saling menemani."kata Lina tersenyum. Jay hanya mengangguk dan pergi kembali ke kelasnya. Setelah Jay pergi,Lina memasang wajah datar dan menggerutu kesal dengan perkataannya barusan. Mengapa ia selalu saja mengucapkan teman ke Jay padahal ia ingin mengatakan pacar. Namun, tidak bisa.


Akhirnya Lina menuju ke toilet menyusul Kay yang sampai sekarang belum balik. Sampai di toilet Lina memanggil nama Kay dan ternyata Kay berada di bilik toilet nomer dua. Lina berandar di dinding sesekali mendengus sebal memikirkan kejadian tadi.


"Kay! Apa kau selesai dengan urusanmu?"tanya Lina ke Kay.


"Perutku mules,Lin."balas Kay berteriak dalam toilet.


"Masih lama atau belum?"tanya Lina tidak sabaran.


"Masih lama. Kau jangan buru-buru.  Ganggu orang lagi pertapa dalam toilet aja!"balas Kay setengah protes.


Lina lagi-lagi menghela nafas sebal. Ia melihat atap memikirkan nanti saat bersama Jay, apa ia akan mengajaknya ke makanan romantis atau ia akan mentraktir ice cream dan nanti ada noda ice cream berada dibibirnya. Jay yang melihat itu bakal menghapus noda tersebut dengan tangan lembut.


Itu sangat indah sekali, aku ingin itu terjadi padaku bersama Jay. Aaaa--pikir Lina menghalu.


"Lihat apa Lin?sampai senyum-senyum sendiri gitu."tanya Kay.


"Lihat ma-"ucap Lina berhenti dan melirik ke kanan mendapati Kay sudah berada disampingnya membuat Lina meloncat kesamping kiri,terkejut.


"Kay!kau mengejutkanku!"ucap Lina.


"Idih, siapa yang mengejutkanmu?habis kau senyum-senyum sendiri sih sampai aku tidak dianggap."kata Kay berjalan kembali ke kelas. Lina tersenyum dan menunduk kebawah,"maaf, aku cuman butuh hiburan. Kamu sih lama banget."kata Lina.


"Biarin."


*Jangan Anggap Kami Lemah*


   Jam sudah menunjukkan angka 3 sore semua murid SMK Cemerlang  berhamburan keluar kelas, pulang. Lidya membereskan semua buku-buku dan peralatannya setelah selesai ia membawa tasnya. Hari ini ia akan mengajak Lina pulang bareng,biasanya Lina di jemput dengan orang tuanya. Kali ini ia akan bertanya pada Lina.


Lidya berjalan menuju kelas Lina,10akuntansi 1. Sampai dikelas Lina, ia mengintip dari ambang pintu Lina masih menyatat sesuatu di buku tulisnya. Lidya menunggu Lina didepan kelas sambil duduk dimeja panjang. Setiap depan kelas ada kursi panjang untuk duduk santai.


  Beberapa menit kemudian Lina keluar kelas,Lidya bangkit berdiri. "Lina!"panggilnya membuat pemilik nama itu menoleh ekspresi terkejut.


"Eh Lidya?mau apa kau ada disini?"tanya Lina kebingungan. Tidak seperti biasanya Lidya menunggunya pulang.

__ADS_1


"Mau pulang bareng kau lah,Lin. Apa kau sekarang dijemput ortu atau tidak. Kalau tidak, bareng sama aku. Kebetulan kita satu arah."kata Lidya tersenyum. Lina terlihat kebingungan harus mengatakan kalau hari ini memang sengaja ia tidak dijemput ortu karena ia akan pulang bersama Jay.


"Iya, aku sekarang tidak dijemput sama orang tuaku."balas Lina, pergelangan tangan Lina ditarik oleh Lidya terpaksa Lina pasrah.


"Baguslah kalau gitu!"jawab Lidya senang banget.


Mereka berdua berlari kecil menuju gerbang saat sampai di gerbang Lina melihat Jay dikerumuni oleh para gadis sampai Jay kualahan. Langkah Lina terhenti dengan mata yang fokus mengarah ke sana. Lidya yang menarik pergelangan tangan Lina ikut tertahan dan ia menoleh melihat Lina fokus melihat sesuatu. Mata Lidya mengarah kearah pandang Lina melihat para gadis sedang berteriak histeris disana dan memanggil nama seseorang Jay.


"Jay!"panggil Lina pelan. Lidya menoleh mungkin ia mengambil hari yang tidak tepat.


"Hmm,Lin. Aku pulang sendiri aja. Semoga kau berhasil ya nanti kalau jadian kasih aku pajak jadian."ucap Lidya berlalu pergi, Lina yang sadar kalau Lidya melarikan diri berteriak,"Lidya!"


Lina mendengus sebal,"anak itu kebiasaan menggodaku saja."ucapnya kesal, pipinya merah merona.


Ia melangkahkan kaki mengarah kerumunan para gadis itu yang seenaknya menganggu Jay. Pemuda tersebut kualahan mengagapi permintaan para gadis sebanyak ini, mereka ingin foto bersama dan ada juga ingin menyentuh tangannya.


"Kalian pergi dari sini!"usir Jay pada mereka semua tapi para gadis ini semakin menggila dan berteriak histeris membuat Jay menutup kedua telinganya tapi itu semua sia-sia.


"Jay, I love you!"


"Jay,kau ganteng banget sih."


"Jay. Ajak aku makan bareng dong."


"Jay, kau jadi ketua kelas ya?idaman banget sih."


"Jay!"


"Jay!"


Lina menerobos masuk kedalam kerumunan terebut tidak peduli dengan protesan para gadis asing ini. Ia melihat Jay menutup kedua telinga mencoba tidak mendengar teriakan histeris para gadis gila ini. Lina berjalan mendekati Jay dan menghadap para gadis yang datang-datang menganggu Jay.


"Kalian semua pergi dari sini!"teriak Lina membuat para gadis yang meriaki nama Jay berhenti dan tatapan mereka yang awal tergila-gila dengan ketampanan Jay kini berubah menjadi tatapan tajam mengarah ke Lina.


"Siapa kau!beraninya mendekati Jay!"protes salah satu gadis ke Lina.


Jay yang menutupi kedua telinga dengan tangan dan memejamkan matanya,mendengar suara Lina yang membantunya mengusir semua gadis gila ini. "Aku adalah temannya Jay dan kalian semua pergi dari sini, jangan membuat Jay risih dengan kehadiran kalian."ucap Lina tegas,menatap mereka bergantian.


"Jika kalian tidak mendengarkanku maka jangan harap bisa melihat ketampanan Jay selamanya."lanjut Lina penegasan. Semua gadis tidak bisa berkata apapun mereka semua bubar barisan. Jay yang melihat itu terkejut sekaligus senang bisa bebas dengan kejaran gadis gila yang selalu bilang ketampanannya.


"Makasih,Lina."kata Jay. Lina menoleh kearah Jay tersenyum,"sama-sama."balas Lina menatap kedua mata Jay. Lina lagi-lagi terkesima dengan Jay, ketampanannya seolah bertambah ketika ia melihat mata indah Jay.


"Lin!"panggil Jay. Lina sadar dari lamunanya dan menunduk berusaha menyembunyikan pipi merahnya.


"Ikut aku kepakiran."ajaknya. Lina menatap kedepan dan kedua kakinya tidak bisa bergerak.


Apa yang terjadi padaku?-batin Lina.

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung....


__ADS_2