
Hari minggu yang sangat cerah banyak sekali orang-orang lari pagi dan bersepeda menuju lapangan Green world yang selalu ramai. Karena ada banyak orang berdagang disana dan permainan seperti memancing,mobil-mobilan dan lain sebagainya. Shena ikut berjalan santai menuju lapangan Green World yang tidak jauh dari perumahannya Purple Shadow, nama yang sangat unik.
Ia sudah sampai di lapangan dan banyak sekali orang beradagang beraneka macam mulai baju, accesories, permainan, mewarnai gambar dan makanan modern. Shena tertarik dengan makanan buah yang dilumuri cokelat dari air mancur cokelat. Ia sangat menyukai makanan manis karena kehidupan itu ada yang pahit jadi Shena memilih makan yang manis saja.
"Bang, beli 5 tusuk buah cokelat."pesan Shena tersenyum. Abang tersebut melayani Shena dengan baik dan senyuman,"terima kasih mbak."
Shena sudah membeli makanan ringan kesukaannya dan kembali berjalan mencari tempat yang cocok buat menikmati suasana dan makanan. Tak jauh darinya disana terdapat banyak kursi berjejer rapi dan ada terop supaya tidak panas akibat sinar matahari. Walau ini masih pagi pukul sembilan, cuacanya panas seperti siang hari.
Shena duduk menghadap ke lapangan yang ramai penuh orang berlalu lalang lalu ia memakan buah berlumur cokelat masuk kedalam mulut, nikmat.
"Aduh,berat sekali."keluh seorang gadis yang menderet galon di tempat ramai ini. Mata Shena menyipit dan ia bangkit dari tempat duduknya,menyimpan makanannya di tas selempang kecil yang sengaja dibawahnya ketika keluar rumah.
"Sini biarkan aku yang menderet galon itu dengan deretannya."ucap Shena tersenyum. Gadis yang sudah lelah pun menoleh dan terkejut siapa yang menawarkan diri membantu menderet galon.
"Shena!"
"Lina!"
Teriak mereka berdua terkejut. Keduanya terkekeh lalu berpelukan. "Aku tidak menyangka kalau kau berada di sini juga,Sen."ucap Lina mengelap keringat yang sudah bercucuran begitu deras. Shena terkekeh,"aku sering jalan-jalan kesini setiap hari minggu. Karena aku tahu,lapangan Green Word ini begitu ramai seperti alun-alun kota."jawabnya.
"Lebih baik kau memberitahu aku jalan sedangkan aku yang menderet galon ini."kata Shena dibalas jempolan dari Lina.
"Ok,itu mudah sekali."
Lina mulai berjalan memimpin dan memberitahu Shena menuju tempat yang disewa Lina untuk berdagang seperti yang lain. Shena mengeluarkan kekuatannya sedikit dan warna rambutnya sedikit berwarna merah jadi sekarang rambut Shena berwarna merah dan hitam, bersilang. Tangan kanannya menderet galon sangat santai untunglah jalannya rata dan terasa empuk seperti kasur. Saat ingin keluar lapangan Shena harus mendorong deretan galon sekuat tenaga karena jalannya tidak dikasih papan kayu alias banyak batu. Lina membantu Shena menarik deretannya jadi Shena tidak mengeluarkan kekuatannya lagi.
__ADS_1
Deretannya sudah keluar dari lapangan lalu kembali menderet menuju tempat es kopyor dan es degan yang tidak jauh. Lina menunjuk warung yang tempatnya berdagang. Sekarang giliran Lina yang menderet galonnya.
"Eh biarkan aku aja. Kan kamu kelelahan Lin."kata Shena.
Lina mesem,"tidak apa-apa Lin. Biar ibuku percaya kalau aku ini adalah gadis kuat bukan gadis lemah."ucapnya menderet dengan pedenya menuju warung yang dihiasi semenarik mungkin seperti karnaval. Shena yang melihat tingkah laku Lina sedikit kekanak-kanakkan itu tertawa pelan. Ia rasa berteman dengan Lina menyenangkan juga dan itu membuat Shena tidak terlalu menyindiri.
"Assalamualaikum ibu!"salam Lina sambil menderet galon tersebut. Wanita paruh baya tersenyum melihat anak gadisnya sudah kuat menderet galon beberapa meter dari sini.
"Gitu dong, kuat. Nggak lelah kan?"kata ibu sedikit meragukan Lina membuat bibir gadis itu mayun. "Ibu tidak asik."katanya. Shena yang melihat anak dan ibu pun tertawa pelan. Ibu Lina melihat di belakang tubuh Lina ternyata ada gadis yang baru ia temui.
"Oh Lin. Apa itu temanmu?"tanya ibu sambil menunjuk Shena. Lina memperkenalkan Shena teman barunya yang ia temui beberapa hari yang lalu saat insiden di jalan raya,"namanya Shena Nabila."Shena tersenyum sambil menyapa ibu Lina ramah.
"Hai Shena. Apa tante boleh minta tolong jaga warung ini sama Lina?"tanya ibu Lina membuat wajah Shena sedikit memerah dan mata berbinar-binar mendengar itu seolah ia mendapatkan pekerjaan dadakan. "Shena mau, te. Daripada aku di sekolah."kata Shena tersenyum.
"Ibu mau nemuin teman ibu bentar."ucapnya berlalu pergi.
Setelah ibu Lina pergi beberapa jam banyak sekali orang-orang membeli es degan dan es kopyor. Pesanan castamer sangat banyak dan membuat kedua gadis itu kualahan. Saat Lina ingin mengambil air ternyata air galonnya sudah habis. Lina menghampiri Shena yang masih melayani pembeli, Lina mencolek bahu Shena dan membuat gadis itu menoleh. "Air galonnya habis,Shen. Dan pelanggan masih banyak serta esnya tinggal sedikit."kata Lina khawatir karena banyak bahan yang sudah habis dan bahan-bahan itu bahan paling utama.
Shena tersenyum, "jangan khawatir. Aku bisa kok melaksanakan dengan cepat."katanya membuat Lina menatap Shena apa dia serius dengan ucapannya. "Beneran?"Shena mengangguk.
"Sini uangnya dan galonnya lalu aku harus kemana membeli es dan air galon itu."kata Shena sudah siap melaksanakan tugas membantu teman. Lina mengambil uang dari laci lalu memberitahu Shena letak toko yang sedikit jauh dari lapangan ini sekaligus penjual es nya. Shena mendengarkan ucapan Lina mengerti dan ia langsung pergi membawa galon yang kosong. Lina menjaga warung dan menyuruh beberapa pembeli untuk menunggu sebentar.
Gadis berambut hitam itu mencari tempat bersembunyi supaya bisa menggunakan semua energinya agar cepat. Ia bersembunyi di balik Batang pohon besar dan mulai berkonsentrasi sejenak. Perlahan rambut hitam milik Shena berubah menjadi merah dan bergelombang. Mengambil nafas dan ia berlari menuju ke toko penjual air isi ulang.
"Beli galon air satu!"ucap Shena yang sudah sampai si agen galon. Agen galon itu mengambil galon isi ulang lalu memberikan uang selembar kertas lima ribu rupiah. Sebelum agen itu mengatakan perlu deretan tapi Shena langsung membawa galon di bahu kanannya dan berjalan cepat membuat agen tersebut melongo dan mengucek kedua matanya.
__ADS_1
"Apa aku tidak salah lihat?"gumamnya pada dirinya sendiri.
Shena sudah sampai di warung Lina membuat gadis cantik itu senang. Lalu Shena kembali pergi untuk membeli es di sebrang jalan sana. Ia berlari cepat ke sana dan berhenti di tepi jalan menengok ke kanan dan ke kiri sudah sepi ia berjalan santai menuju warung bertuliskan penjual Es.
Seperti Shena lakukan sebelumnya ia membawa es batu tersebut di bahu kanannya. Rambutnya semakin lama semakin memerah karena es batu ini tidak hanya berat melainkan dingin. Shena menyebrang jalan dengan mulus lalu kembali ke warung meletakkan es batu itu di sebuah kotak besar dengan nafas ngos-ngosan. Ia langsung duduk lemas di pojok dan rambutnya perlahan menghintam kembali.
Lina sudah melayani pelanggan terakhir dan dagangannya juga sudah habis berkat Shena. "Alhamdulillah, dagangannya habis. Shen."ucap Lina bersyukur saat ia menoleh mendapati Shena duduk lemas di pojokkan,ia mendelik dan segera menghampiri Shena dengan perasaan khawatir.
"SHENA!"teriaknya duduk disamping gadis yang lemas itu.
"Shen. Kau tidak apa-apa? Apa aku telah merepotkanmu membuatmu kelelahan."ucap Lina merasa bersalah menyuruh Shena berlebihan. Shena menggeleng kalau ini semuanya bukan kesalahan Lina sepenuhnya melainkan kesalahan Shena sendiri karena terlalu banyak menggunakan kekuatannya.
"Andai aku kuat sepertimu. Aku akan membagi tugas bersamamu,Shen. Maaf."kata Lina meminta maaf sambil memegang tangan Shena ke pipi mulus Lina.
Shena menoleh,"oh tidak Lin. Itu bukan kesalahanmu ini kesalahanku saja. Dan aku hanya butuh istirahat untuk memulihkan kekuatanku menjadi utuh."kata Shena tersenyum.
"Istirahat disini sejenak. Biarkan aku yang membereskan daganganku."ucap Lina ingin bangkit namun tangannya dicegah oleh Shena.
"Apa kau yakin tidak membutuhkan pertolonganku?"Lina tersenyum, menggeleng. "Tidak. Aku sudah terbiasa membereskan daganganku sendirian kok. Kamu istirahat lah jangan khawatir padaku."kata Lina bangkit berdiri. Shena tersenyum melihat Lina yang hatinya baik sekali.
Seandainya Lina juga ikut gadis kuat seperti dirinya maka ia akan lebih bersemangat berjualan membantu ibunya saat hari minggu. Di lapangan Green World selalu saja ramai pengunjung dan banyak permainan disini, setiap hari minggu dan tidak sedikit orang yang meluangkan waktunya untuk berolahraga dan bertemu dengan teman menikmati cuaca yang cerah seperti ini.
*Jangan Anggap kami Lemah*
Bersambung..
__ADS_1