
"Gawat! Aku ketahuan!"teriaknya dalam hati, menggigit bibir bawahnya.
Kran air itu sudah berhenti lalu tumbuhan krokot itu diam disana karena Tera mengehentikan kekuatan tumbuhannya. Lidya dan Lina berlari kecil ke arah kran air yang sudah ditutupi oleh tumbuhan merambat alias krokot. Tera memasang wajah khawatir telah ketahuan sama manusia biasa. Ia telah mengingkari janji pada seseorang. Tera menyusul Lidya dan Lina.
Kejadian aneh ini telah menjadi pembicaraan, informasi ini begitu cepat merambat dan banyak sekali murid-murid mebahas kejadian yang baru pertama kali terjadi. Lina menatap kran air yang sudah di penuhi oleh tumbuhan krokot dan panjangnya sekitar 3 meter.
Pria tadi yang melihat kejadian aneh tumbuhan merambat dengan cepat menuju ke kran air itu dan di wawancari oleh jurnalis SMK Cemerlang,disana ada Fitri. Akan tetapi Lidya tidak ikut bertanya pada narasumber dan ia memilih mengamati ini. Menurutnya ini benar-benar aneh, tidak mungkin tumbuhan krokot memanjang sepanjang 3 meter hanya beberapa detik. Ia rasa, tadi tidak ada tumbuhan yang bertumbuh cepat seperti ini.
Tidak sedikit juga murid-murid mengabadikan kejadian aneh dan dimasukkan ke sosial media dengan caption. Bunga krokot dengan cepat memanjang dengan panjang sekitar 3 meter dan bunga itu melilit pipa kecil menuju ke tombol kran air itu mematikan saluran air. Dengan cepat postingan foto itu menjadi viral hanya dalam berapa detik.
"Mengapa ini bisa terjadi ya?"tanya Lidya berpikir memegang dagunya menatap Lina. Lina menggeleng tidak tahu lalu gadis itu menatap ke wajah Tera yang nampak lesu tidak seceria ini.
Lidya diam mencoba mereplay kejadian-kejadian aneh yang sering terjadi padanya seperti Vin. Pemuda itu memiliki kekuatan aura negatif, barang siapa yang berada di dekatnya ia akan merasa takut. Jika aura itu sudah memenuhi ruangan atau area, orang-orang yang ada di dalam sana menjadi diam tanpa ekspresi atau ketakutan dan lari terbirit-birit. Anehnya orang-orang yang merasakan aura negatif itu seakan lupa dan tidak terjadi apapun.
Kalau Jay George, pemuda memiliki aura yang sangat luar biasa setiap kali menatap wajahnya orang-orang akan berbuat baik atau melakukan hal gila ingin mendapatkan hati Jay. Tapi anehnya orang-orang sekitar yang merasakan itu hanya merespon biasa-biasa bukan hal yang aneh atau semacamnya.
Setelah kejadian tumbuhan dengan cepat tumbuh dan merambat ke kran air dengan tujuan menutup kran tersebut. Orang-orang sekitar ketakutan dan menganggap semua ini "Wow". Kalau menurut Lidya adalah sesuatu yang langkah dan orang-orang dengan cepatnya merespon "Luar biasa" kejadian langkah dan anggapan lainnya. Ini sangat membingungkan. Kejadian aneh yang Lidya dapatkan selama ini dianggap angin lalu kini menjadi serius.
Lidya melirik ke arah Tera yang sedari tadi memasang wajah gelisah, takut. Akhirnya ia menarik pergelangan tangan Tera menjauh dari tempat kejadian dan menarik tangan Tera ke tempat sepi. Mereka naik tangga ke tempat dimana barang-barang perlengkapan pramuka di simpan dan ini adalah tempat yang sangat cocok untuk sesi tanya jawab. Entah mengapa Lidya langsung menarik tangan Tera menuju kesini dan tanpa disadari olenhnya. Sebelum bertanya Lidya menggeleng cepat dan mencoba tidak ragu bertanya pada Tera.
Gadis berambut pendek itu menunduk terdengar suara isakan tangis pelan seperti ia telah melakukan kesalahan besar. Lidya mengehela nafas panjang, tersenyum.
"Putih?kenapa kamu menangis?"Tera hanya membalas gelengan dan terus menangis.
"Put? Apa kau tahu semua ini. Siapa yang melakukan itu semua? Kalau kamu jujur, aku tidak akan menyeretmu ke ruang bk kok. Aku dan kau berteman dengan baik."tanya Lidya sekaligus membujuk Tera supaya berbicara untuk menjelaskan semua ini.
Tera menatap wajah Lidya. Dan Tera mengusap wajah dari air matanya. "Hiks.. Hiks.. Ya-yang.. Hiks."ucap Tera masih dalam isak tangis. "Keluarkan semuanya dulu. Lalu ceritakan apa yang terjadi?"tanya Lidya menyuruh Tera menyudahi tangisnya dulu sebelum bercerita.
__ADS_1
Setelah puas menangis, Tera mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Menatap wajah serius Lidya yang menunggu penjelasan darinya. Sebenarnya Tera sudah tahu kalau gadis di depannya dan sudah menjadi teman beberapa hari lalu adalah penulis yang menciptakan kekuatan ini. Tera mendengar tentang banyak hal dari Pangeran Tumbuhan,Johnny Evans namanya.
Tera tersenyum menatap ke Lidya. "Sebenarnya aku yang melakukannya. Aku telah menyuruh tumbuhan krokot berjalan dengan memanjangkan tangkai untuk merambat menuju kran air dan mematikannya. Dan takdir berkata lain tukang kebun itu melihatnya membuat kekuatanku dilihat oleh manusia biasa seperti lainnya. Dan aku melanggar janji milik pangeran tumbuhan."jelas Tera panjang lebar dan tersenyum tulus ke Lidya.
Kedua mata Lidya melebar mendengar kata Pangeran Tumbuhan dari mulut Tera. "Siapa pangeran tumbuhan itu? Jangan bilang kalau Johnny Evans."tanya Lidya melarang Tera menyebut nama Johnny di hadapannya. Gadis itu berbalik badan dan melihat masih banyak orang berkerumun di sana melihat tumbuhan krokot yang masih melilit di kran air tersebut.
Ia jadi ingat perkataan Danu saat Lidya setelah menyelesaikan permainan labirinnya. Perkataan itu teringat jelas dipikiran Lidya dan kini kata-kata itu kembali terdengar dengan suara membisik.
"Lid. Aku ingin bicarama padamu bahwa ada orang yang ingin menyalah gunakan imajinasinya untuk mengelabuhi orang-orang sekitar terutama pemuda-pemudi."
Tapi Lidya menjawab perkataan Danu adalah kebohongan besar maksudnya masa ada imajinasi menjadi kenyataan, itu benar-benar diluar nalar dan orang yang mempercayai itu dikira gila telah menganggap dunia imajinasi itu kenyataan. Dan untunglah Lidya saat itu tidak mengatakan kalau dunia imajinasi adalah nyata pasti ini ada asal-usulnya. Ia tidak berharap semua imajinasinya menjadi kenyataan dan teringat akan sesuatu di buku kecilnya. Ia pernah mengatakan kalau ingin imajinasinya menjadi kenyataan dalam artian bisa berteman dengan mereka,nyata. Jika ini benar kenyataan, terpaksa ia akan menjaga rahasia besar ini dari siapa pun.
"Jika kau tidak percaya, ya sudah. Yang pasti jangan terkejut kalau ada beberapa temanmu yang memiliki kekuatan mulai tingkat rendah sampai tinggi. Dan sebentar lagi aku akan pergi menjadi Danu lain di dunia ini."
"Aku harap kau bertemu dengan pangeran tumbuhan dalam bentuk berbeda. Sampai jumpa."
Lidya balik badan menatap Tera berdiri diam raut bersalah. Gadis itu tersenyum memegang tangan Tera membuat Tera menatap wajah manis Lidya. "Ini bukan salahmu. Biarkan orang mengetahui kekuatanmu. Aku tidak menyangka kalau kau memiliki kekuatan hebat ini dari pangeran tumbuhan."hibur Lidya membuat Tera kembali tersenyum lalu memeluk erat Lidya.
Tak lama kemudian Tera melepaskan pelukannya. "Terima kasih banyak,Lid. Kau memang teman terbaik."balasnya terkekeh.
"Sama-sama."
Di bawah tangga ada seorang gadis bertubuh tinggi, rambut panjang terurai berhasil menguping pembicaraan mereka berdua. Kedua matanya melebar tidak percaya kalau Tera, gadis yang gemar tanam menanam dan pokoknya berhubungan dengan tumbuhan. Memiliki kekuatan tumbuhan dan ia juga bisa menggerakan, mengambil barang dengan tumbuhan yang ia miliki.
Seulas senyum terukir jelas di wajah gadis itu lalu ia berlari memberitahu guru konseling, Bu Elina. Lidya dan Tera turun tangga, hati Tera sangat lega karena Lidya bilang pangeran tumbuhan tidak akan marah kalau Tera sudah ketahuan oleh semua orang.
Lidya harap semua ini demi kebaikan Tera dan bisa menolong orang dengan kekuatan tumbuhan dimilikinya. Terdengar suara teriakan dari Bu Elina memanggil nama Tera. Tera terkejut kalau namanya dipanggil oleh Bu Elina yang kini menunggunya di depan ruang guru. Ludahnya ia telan dan menggoyangkan lengan Lidya.
__ADS_1
"Aduh gimana nih Lid?"tanyanya khawatir.
Lidya mencoba menenangkan Tera, "tidak apa-apa. Sana ke Bu Elina pasti beliau cuman bertanya saja."Tera menatap wajah Lidya.
"Beneran?"di balas angguk Lidya.
"Beneran Put. Kamu kesana gih. Aku akan berdiri disini mengawasimu."kata Lidya mendorong pelan Tera agar berjalan ke Bu Elina yang sudah menunggu kedatangannya. Lidya tersenyum sesekali Tera menoleh kebelakang melihat wajah Lidya yang tersenyum yakin kalau Bu Elina hanya ingin bertanya tidak akan macam-macam.
Tera sudah berdiri di depan Bu Elina yang menatapnya dengan dahi berkerut. Jantung Tera berdetak lebih cepat dari sebelumnya ia sangat deg-deggan dan pikirannya sudah berlarian kesana kemari, negatif. Bu Elina menatap serius wajah Tera yang berubah menjadi lebih gelisah.
"Apa kau yang melakukan semua ini, Teratai?"tanya Bu Elina nada keseriusan tanpa ada celah sedikitpun untuk bercanda. Bibir bawahnya ia gigit mencoba tidak gugup dan mengangguk sebagai jawabannya.
"Iya. Saya yang melakukan itu Bu?Saya cuman ingin mematikan kran air saja tidak lebih!"kata Tera cepat dan ada wajah takut kalau Bu Elina berpikir yang tidak-tidak.
Dahi Bu Elina lagi-lagi terlipat melihat tingkah laku Tera dan mendengar ucapannya seperti orang bersalah. "Teratai. Kau tidak usah takut. Ibu hanya bertanya saja, apa benar kau yang melakukan itu?"
"I-iya."
Bu Elina tersenyum dan menepuk bahu pelan Tera. Gadis itu menoleh kekanan melihat tangan Bu Elina menyentuh bahunya lalu melihat wajah Bu Elina yang nampak bahagia. "Apa ibu percaya padaku?"tanya Tera ke Bu Elina.
"Tentu saja. Ibu percaya dan itu sangat hebat. Jaga baik-baik kekuatanmu dan jangan dibuat kejahatan ya!"ucap beliau ramah lalu kembali ke ruang kantor. Tera melongo tidak percaya kalau Bu Elina hanya bertanya saja tidak menyuruh menunjukkan keseluruh murid SMK Cemerlang.
Dalam benak Tera, informasi ini akan cepat menyebar luas dan mereka akan tahu siapa yang melakukan ini. Tera menghampiri Lidya dan menari-nari kesenangannya. Gadis yang tadi menguping pembicaraan mereka terlihat kesal karena Tera tidak dihukum atau menyuruh membuktikan kekuatannya.
"Aku tidak percaya apa yang dikatakan oleh gadis itu? Kekuatan...hmm apa mereka terlalu banyak berimajinasi sehingga disangkut pautkan di dunai nyata. Dasar!"ucapnya menyindir mereka berdua.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung....