
Kedua mata cantiknya terbuka perlahan pandangannya masih sedikit buram. Setelah pandangnya sudah terlihat ia melihat sekeliling melihat tempat yang sudah tidak di jamak oleh orang lagi. Langit-langit tempat ini pun sudah banyak sarang laba-laba, atap yang berlubang serta tempatnya kotor. Ia ingin pergi dari sini akan tetapi tubuhnya terikat oleh tanaman yang sama seperti dengan kekuatannya. Hanya saja tumbuhan ini seperti tumbuhan gundul atau tumbuh berpuluh-puluh tahun tapi tidak memiliki daun.
Gadis tersebut sudah berkali-kali meronta dan ini sudah malam dalam hatinya pasti semua teman-temannya khawatir. Tera belum pulang bersama mereka atau sebaliknya, panik.
'Aku harap mereka tidak gegabah', batin Tera.
Ia diam sejenak berusaha menenangkan diri tidak panik sendiri. Kalau malam seperti ini tempat ini jadi bertambah lembab dan seram seperti film horor. Tera berusaha untuk melepaskan diri menggunakan kekuatan tumbuhannya juga akan tetapi tidak bisa sebab tangannya diikat.
"Sial!"umpatnya.
Pendengaran Tera menangkap suara pijakan kaki yang berjalan ke arah sini. Ia diam berusaha untuk tahu, siapa pelaku yang berani menculiknya dan mengikatnya dengan kekuatan tumbuhan juga. Apakah benar kata-kata Lidya waktu itu? Kalau musuh sebenarnya itu mengincar pangeran tumbuhan dan Tera tahu siapa pangeran itu serta harus terpaksa berbohong ke Lidya.
Lidya juga tidak percaya dan Tera memutuskan untuk menebus kesalahan karena harus berbohong dan juga tidak memberitahu sejak awal. Cara menembus kesalahannya yaitu menjadi 'umpan' musuh sesuai rencana Lidya.
Indera pendengaran Tera ia tajamkan dan fokus. Langkah kaki itu sebentar lagi mengarah kesini. Angin dingin terus menghampiri Tera membuat tubuhnya sedikit kedinginan apalagi di tempat terbengkalai seperti ini. Banyak jendela dan pintu terbuka, kaca yang pecah.
Mata Tera menyipit berusaha menangkap sosok di hadapannya sebab disini tidak ada cahaya jadi ia harus pandai menebak bahwa sosok itu manusia bukan hantu maupun jin.
"Akhirnya kau sadar juga."ucapnya membuat Tera sedikit lega kalau sosok di depannya ini manusia bukan hantu. Setiap dia melangkah, suara pijakan kaki itu terdengar jelas.
"Siapa kau? Kenapa kau menculikku?"tanya Tera bertubi-tubi. Ia enggan melewati sesi perkenalan dan lebih baik to the point agar Tera bisa tahu renacana busuk musuh yang membuat semua orang menderita, tidak tenang.
"Hahahaha, siapa aku? Apakah kau lupa denganku? Aku tahu,kalau gadis ini adalah tempat persembunyianmu. Bukan?"ucap gadis itu sambil tertawa jahat, menyeramkan. Gadis yang diselimuti kegelapan itu berjalan mengitari Tera seraya melirik ke Tera tajam.
Tera bisa menebak eskpresi gadis itu meski di dalam kegelapan seperti ini. Entah kenapa suasana disini membuat bulu kuduk Tera merinding apalagi bersama gadis gila ini. Apakah waktunya untuk berbohong lagi? Sama seperti Lidya waktu di tangga sekolah.
Sekarang posisi Tera sebagai umpan musuh dan posisi teman-temannya menunggu waktu tepat buat menyerang.
Tera menghela nafas panjang berusaha tenang agar tidak di curigai oleh musuhnya. Lagipula dia tidak tahu ekspresi Tera apakah Tera serius, ketakutan, bahagia atau sedih. Sebuah senyum miring tercipta di sudut bibir Tera, waktunya menjalankan rencana.
__ADS_1
"Iya, aku ingat sekali."jawab Tera atas pertanyaan musuhnya kalau tidak salah Lidya pernah menyebut 'Tomma'. Musuh bebuyutan pangeran tumbuhan dan peperangan mereka berdua, terhenti.
"Bagus. Kalau kau ingat aku, pangeran."katanya berjalan kembali di hadapan Tera, membelakangi. Keysa melirik ke gadis di belakangnya yang memiliki imajinasi pangeran tumbuhan.
"Harusnya aku menculik Lidya tapi jangkrik itu malah menculikmu, pangeran."katanya.
Sebelah alis Tera naik ke atas merasa heran saja kalau musuhnya lebih memilih menculik Lidya bukan pangeran. Bukankah kalau ia berhasil menculik pangeran, tujuannya bakal lebih mudah daripada harus menculik Lidya.
"Bukannya kau beruntung hari ini bisa menculikku bukan Lidya. Dan kita bisa berperang malam ini jika kalau kau mau. Apakah kau menginginkankan itu?"ucap Tera kalimat penuh keyakinan kalau di dalam tubuhnya adalah pangeran tumbuhan yang sebenarnya. Tera sudah mendengar semua kisah pangeran saat ia masih bersemayam di tubuhnya.
Tapi entah sekarang pangeran berada dimana, Tera sangat beruntung bisa berkomunikasi dengan pangeran tumbuhan.
Kepala Tera ia iringkan ke kanan dan berkata,"Tomma."panggilnya pelan membuat mata Keysa membulat sempurna. Gadis itu berbalik dan menambah ikatan kuat di tubuh gadis mungil tersebut.
Tera mengerang kesakitan membuat Keysa tersenyum puas,"terimalah akibat telah memanggil nama asliku. Aku tahu kalau di dalam tubuhmu adalah pangeran tapi jangan sekali-kali kau memanggil nama itu!"amarahnya menambah tekanan dalam ikatan tumbuhan yang melilit tubuh Tera.
"Ma-mana Akhh!"ucap Tera kesakitan merasa Keysa berlebihan telah menyiksa pangeran maka mau tak mau ia sedikit melonggarkan ikatan yang melilit tubuh Tera.
Tera berhenti merintih kesakitan namun ada rasa perih di sekujur tubuhnya. Karena tumbuhan ini seperti ada pisau atau semacam duri kecil-kecil yang tidak akan segan-segan menggores kulit halusnya.
"Ke-kenapa kau tidak langsung membunuhku saja?"tanya Tera pada gadis di hadapannya. Ia ingin sekali melihat wajah gadis itu tapi kegelapan menghalangi penglihatannya apalagi tidak ada satupun lampu di sini.
"Kalau aku membunuhmu sekaligus pangeran yang ada di tubuhmu. Aku tidak akan merasa puas untuk kehidupan keabadianku di masa depan telah mengalahkan pangeran semudah itu."jawabnya enteng.
Tera terkejut mendengarnya dan dia berusaha berpikir keras akan tujuan yang berhasil ia kuak semua tujuannya.
"Jadi untuk apa kau menculikku, mengikatku seperti ini kalau kau tidak membunuhku juga! Itu akan tetap sia-sia dan kau tidak akan puas di masa depan keabadianmu."kata Tera mengalihkan pandang ke arah lain, pura-pura kecewa. Padahal Tera menyindir gadis di hadapannya ini dengan kata-kata yang seolah pangeran kecewa berat.
Keysa menatap gadis di hadapannya meski pandang penglihatannya tidak cukup jelas. Keysa bisa menebak kalau gadis itu merasa kecewa berat begitupun dengan pangeran. Tidak menyangka saja kalau pangeran akan kecewa mendengar ia, Tomma tidak membunuhnya saat seperti ini.
__ADS_1
Di dalam hati Tera terus-menerus mengatakan kalau musuh pangeran itu bodoh. Jelas-jelas semua orang itu tidak bisa hidup abadi di dunia kalau hidup di akhirat baru bisa hidup abadi.
Keysa tertawa lagi membuat Tera menggerutu kalau ia di culik oleh gadis gila yang sama sekali tidak ia kenal sama sekali.
"Anggap saja aku menculikmu sebagai umpan untuk kawan-kawanmu yang akan datang kesini. Aku yakin, kalau salah satu dari mereka adalah Lidya. Gadis yang tidak memiliki kekuatan kalau aku berhasil membunuhnya maka... Semua imajinasi miliknya akan hilang termasuk pangeran tumbuhan." ucap Keysa memberitahu tujuan tanpa diminta lagi oleh Tera untuk apa tujuannya untuk menculiknya.
Perkataan barusan seperti tersambar petir bagi Tera. Tidak sengaja air matanya lolos membasahi pipi mulusnya. Ludahnya ia telan kasar.
"Jadi itu tujuanmu?"gumam Tera menunduk dan Keysa mengangguk.
"Benar. Aku memilih jalan yang paling mudah bukan pangeran. Kalau begitu, besok kita bertemu lagi disini. Mimpi indah yah."kata Keysa berlalu pergi meninggalkan Tera yang terikat disana tanpa bisa menggunakan kekuatan tumbuhannya.
Tangan Tera mengepal ingin sekali meninju wajah gadis itu dan menantangnya di sini. Berperang dengan kekuatan Elements Eyes.
"Ketahuilah kalau kau tidak akan pernah mewujudkan mimpimu menjadi makhluk abadi. Dan targetmu itu akan membuatmu tersadar akan apa yang selama ini kau perbuat."ucap Tera menahan amarah.
Aura yang berada di tempat itu perlahan menjadi kuat membuat siapa saja merinding. Di sekeliling ruangan yang di tempati oleh Tera, dinding-dinding itu berubah menjadi tumbuhan merambat dan tumbuh bunga-bunga indah.
"Teman-temanku, tidak selemah kau kira! Tomma!"teriak Tera lantang dari tempat terbengkalai itu. Kedua matanya menjadi berwarna hijau dan rambut pendeknya berubah menjadi panjang berwarna hijau dengan hiasan bunga warna-warni seperti putri.
Tumbuhan yang mengikat Tera sudah hanyut tergantikan ayunan yang terbuat dari tumbuhan. Rasa nyeri dan luka di tubuh Tera sembuh. Gadis itu ingin keluar dari tempat ini tiba-tiba saja tubuhnya terpental jauh untung saja kekuatan tumbuhannya menangkap tubuh Tera.
"Ternyata aku salah menilai musuh yang tadi berdiri di hadapanku. Ia membangun penjara yang megurung imajinasi kuat agar tidak bisa menghalangi jalan tujuannya."kata Tera menyadari kalau Keysa telah merencanakan semua ini dengan kematangan.
Beberapa meter dari markasnya sebuah senyum terukir jelas di wajah Keysa. "Sudah kuduga kalau gadis itu memiliki kekuatan seperti pangeran. Hampir saja aku termakan aktingnya yang bagus itu. Ternyata pangeran masih berada di dunia luar."ucap Keysa yang menyadari kalau gadis di tangkapnya bukan pangeran sebenarnya.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung....
__ADS_1