
Hari kebahagiaan buat Lidya telah datang setelah menjalani hal sulit yaitu mengalahkan imajinasi jahat dan harus kehilangan dengan orang yang di sayang. Wanita itu memakai gaun pengantin yang indah dan glamour membuat Lina dan Elle yang jadi dayang terpukau dengan kecantikan Lidya. Lalu Tera datang dan menyuruh mereka siap-siap karena pengantin laki-laki akan datang.
"Iya-iya nanti kita bakal turun. Sana hus.. Hus."ucap Elle mengusir Tera seperti kucing. Membuat Tera mengerucutkan bibirnya,"awas saja kau! Elle."balasnya setengah mengacam, menujuk Elle tapi respon Elle malah menjulurkan lidah seolah tidak peduli.
Lidya hanya tersenyum melihat kedua temannya yang sering membuat ulah. Lina melihat Lidya begitu cantik di mata dan sering mengeluarkan pujian. Ia juga iri pada Lidya bisa menikah muda.
Lidya menepuk bahu Lina pelan,"tenang saja. Tunggu Jay datang. Aku yakin, ia datang membawakan surprise padamu."hibur Lidya pada Lina.
"Tapi Lid. Jay sudah tidak muncul saat 6 tahun lalu. Kira-kira dia ada di mana?aku sangat merindukannya. Apa kau masih ingat kata-kata awal saat Mos?"jawab Lina sedikit kesal dan bertanya serius ke Lidya.
Lidya hanya terkekeh. Ia sebenarnya khawatir dengan pemuda the most wanted di sekolahnya itu. Pemuda tampan tersebut menghilang saat setelah peperangan. Jay menghilang bersama Imajinasi yang kembali ke pintu imajinasi. Jangan bilang kalau pemuda yang selama ini mereka lihat adalah imajinasi yang menjelma menjadi manusia sama seperti Tomma yang menjadi seorang gadis bernama Keysa.
Lidya memegang dagu Lina yang nenunduk, ia penuh yakin bahwa pemuda bernama Jay akan kembali menemui Lina. Elle menyuruh Lidya segera turun sebab mobil pengantin laki-laki sudah datang. Lidya sesekali menghela nafas panjang berusaha tenang karena ia sangat gugup bertemu dengan laki-laki yang akan menemaninya sampai mati.
Jantung Lidya berpacu cepat tidak karuan. Dalam hatinya berkata pada Pandu bahwa ia sudah mencintai seseorang setelah dirinya dan cintanya pun sama seperti Pandu. Lidya bisa merasakan itu dan membuat hatinya menemukan orang baru yang mengisi hatinya.
Begitu banyak pernak-pernik pernikahan mengihasi gedung besar ini serta tamu yang hadir. Elle dan Lina mengantarkan Lidya bertemu dengan pengantin pria. Hiasan pintu dimana tempat pertemuan pasangan yang saling mencintai. Lina dan Elle bertukar bunga dengan dayang pria.
Lidya menatap pria tinggi dan tegap berdiri di hadapannya dengan senyuman menerkah. Wanita itu melakukan upacara seperti kemantin baru pada umumnya. Membersihkan kaki suaminya itu buat melangkah masuk setelah itu Lidya memutari suaminya dan berdiri di samping pria itu.
Tera, Cantika, Lina dan Elle merasa senang melihat upacara pernikahan yang sangat sosweet. Mereka berdua meminta restu pada orang tua lalu membaca doa. Setelah itu para tamu bisa menikmati makanan dan berfoto pada pengantin baru.
Lidya tidak henti-hentinya tersenyum menurutnya ini sangat bahagia. Suasana sangat bahagia buat kemantin baru. Pria yang ada di sampingnya mencoba untuk menggoda Lidya.
"Senyumnya itu membuatku terpesona."ucapnya membuat Lidya menoleh ke arah suaminya yang tampan ini.
"Apaan sih. Nggak usah gombal."kata Lidya terkekeh.
"Masih salting. Padahal kita udah status suami istri masih saja salting kayak pacaran aja."jawabnya.
__ADS_1
"Kan nama pacaran itu tetap berlaku tahu wlee!"jawab Lidya sambil menjulurkan lidahnya ke arah suaminya. Mereka berdua saling mengejek di sana tanpa di sadari semua orang menatap mereka terkekeh masih saja bertingkah seperti anak kecil.
"Kalian ini tidak sadar apa?di lihatin semua orang?"ucap Mama Lidya membuat kedua nya berhenti bersikap konyol. Mama hanya menggelengkan kepala.
Vin mengucapkan selamat buat mereka berdua,"selamat ya! William dan Lidya."kata Vin tersenyum.
Satria William Anggara adalah seorang pengusaha luar negeri yang kaya. William dan Lidya bertemu di dalam bus, pertemuan tidak di duga. Pria bertubuh tinggi, tegap,mata biru seperti laut dan rambut lurus yang di pangkas begitu rapi. Sejak awal bertemu mereka berdua mulai jatuh cinta padangan pertama. Tidak hanya pertemuan yang tidak terduga.
Lidya paling terkejut dan tidak menyangka bahwa William, pengusaha kaya dari luar negeri adalah sepupu jauh Prima Pandu Dewana. Dan William ini lebih tua dua tahun dari Pandu jadi setelah William lulus sekolah. Ia langsung merintis usaha dan usahanya pun sukses begitu pesat, William--Ceo muda. Lidya tidak mengira kalau Wiliam adalah sepupu jauh Pandu sebab nama lengkapnya tidak ada nama Dewana malah ada nama Anggara.
"Selamat William dan Lidya. Bentar lagi aku bakal nyusul kalian."ucap Fitri. Anggi menyenggol lengan Fitri,"benarkah, begitu. Kau saja tidak punya pasangan."ledek Anggi membuat Fitri mengerucutkan bibirnya.
"Jangan gitu. Fitri bakal punya pasangan."kata William tersenyum.
"Nah, betul kata William. Aku bakal punya pasangan."jawab Fitri ngambek.
"Jangan gitu dong. Aku hanya bercanda."kata Anggi. Fitri membuang muka melipat kedua tangan, kesal karena Anggi mengatakan itu.
"Siapa kata Fitri masih belum punya pasangan?"
Ucapannya itu membuat mereka berempat menoleh melihat pria yang tak lain adalah Riko.
"Riko?"
Riko tersenyum dan mengucapkan selamat buat William dan Lidya meski cintanya harus bertepuk sebelah tangan. Ini bukan salahnya Lidya, ini adalah salahnya Riko sendiri karena tidak mau mengatakan perasaan sebenaranya padanya.
Padahal Pandu sudah mengajak dirinya bahwa ia dan Pandu adalah saingan, karena sama-sama suka dengan satu gadis bernama Lidya. Dan Pandu juga mengatakan kalau ia tidak dapat Lidya berarti jawabanya adalah Riko yang dapat. Rasa yang dibuat Riko bingung, apa benar ia mencintai Lidya atau tidak? Sudah terjawab di peperangan saat itu.
Ia juga ingat pertanyaan Lidya saat keduanya berada di kafe. Wanita itu seolah tahu sikap perhatian lebih dari Riko.
__ADS_1
"Rik. Apa kau suka padaku? Melihat kau sangat peduli padaku lebih. Apa benar? Kau suka padaku?"tanyanya tiba-tiba. Riko menatap Lidya datar, beda dengan hatinya yang terkejut bukan main.
"Memangnya kenapa kau berpikir begitu?"tanyanya balik memakan camilan menunggu Lidya berucap. Wanita itu hanya tersenyum kecut jadi tidak enak dengan Riko ia tiba-tiba bertanya seperti itu. Riko kira ia kepedean padahal tidak.
"Tidak. Hanya saja aku teringat kata seseorang. Kalau ada lawan jenis yang sangat perhatian padamu lebih dan tidak mau mendengar penolakan darinya, tegas. Itu artinya ia suka. Aku hanya bertanya saja kok, nggak semuanya gitu kan. Hanya saja, aku nanti dikira nggak peka."jelas Lidya panjang lebar ke Riko.
Bodohnya ia tidak mengakui perasaannya dan memilih kata,"tidak, kita hanya rekan seperjuangan 6 tahun lalu. Kau telah menolongku dan aku terlalu jahat padamu selalu cuek."
Lidya tertawa,"hahaha, sampai sekarang. Kau juga cuek dan datar kok."komentar Lidya memasukkan makanan ke dalam mulutnya menatap luar jendela.
Pria itu menggandeng tangan Fitri dan pandangan mereka saling bertemu saat itu juga, Riko menembak Fitri di hadapan para tamu. Membuat semua orang terkejut.
Sepertinya di hari pernikahan Lidya ini menyatukan rasa cinta yang terpendam lebih tepatnya tempat pertemuan jodoh. Lina juga tidak menyangka kalau teman laki-laki seenaknya memutuskan sesuatu tidak melihat tempat dimana ia berada. Membuat wanita bertubuh barbie itu sedih. Lalu ada sebuah telfon di ponselnya dengan segera Lina keluar dari pesta itu sejenak dengan pakaian dayang-dayang pernikahan.
"Halo, ini siapa ya?"tanya Lina pada telfon sebrang sana sebab nomornya tidak di ketahui Unknown. Ini mengingatkannya pada gantungan unknown. Lina terus mengatakan 'Halo' dan sedikit menjauh dari sana.
"Ish, kok nggak ada jawaban sih?"tanya Lina menatap layar ponselnya masih terhubung. Secara tiba-tiba mulutnya dibekap oleh seseorang dan menyeretnya di samping gedung tempat pernikahan Lidya berlangsung. Lina ingin menjerit tapi tidak bisa.
"Sst.. Jangan berteriak. Aku kembali untukmu."bisiknya lembut. Lina menoleh melihat tidak percaya pria yang selama ini ia rindukan, 6 tahun lalu.
"Jay! Apakah ini dirimu?"pekik Lina senang menyentuh wajah Jay, memastikan kalau ini semua tidak mimpi atau halusinasi Lina. Tangan Lina di pegang oleh Jay, mata cokelat mempesona itu menatap mata cokelat terang Lina.
Jay sama sekali tidak berubah, wajahnya pun sama seperti Jay dulu, anting cinta Jay juga masih terpasang di telinga kanannya, rambutnya saja yang berubah menjadi merah gelap. Lina langsung memeluknya erat melepas rindu.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Tamat....
Kaget nggak? Sama suaminya Lidya? Ku jamin nggak kaget. Baiklah, jangan lupa like, vote, commentnya. Makasih yang udah baca awal sampai tamat. Author seneng banget 😭...jangan pindah lapak dulu, epilognya belum up di tunggu😊... Makasih banget yang udah baca buku ini awal sampai akhir.
__ADS_1
Epilog(penutupan) it's coming... (Lihat ke depan guys jangan lihat ke belakang....)