
Suasana kantin terasa damai dan tenang tidak ada kerusuhan, bangku ketujuh gadis yang duduk di pojok kiri kantin pun tidak bergeming. Mereka diam tidak bersuara setelah bercakap-cakap tentang acara perkemahan.
Bening melipat kedua tangannya diatas meja sebagai bantal, ia tiduran di sana karena bosan. Hana sedari tadi diam menunduk kebawah. Anggi membaca novel yang tadi di bawanya dari kelas. Tera memejamkan mata sedangkan Fitri menguap.
"Aduh lama sekali Lina."keluhnya menguap sekali lagi. Lidya juga merasa bosan, sedari tadi diam dan bergulat dengan pikirannya sendiri.
Pandangnya menatap Eric yang masuk ke dalam kantin dan detik itu juga penghuni kantin yang tentram damai saat kehadiran Eric, semuanya langsung ngacir buru-buru pergi dari kantin ada juga sampai jatuh menimbulkan suara.
Bugh!
Bening yang berusaha tidur pun tidak bisa,"hadeh, berisik amat sih padahal tadi adem ayem lah sekarang ribut seperti ayam."keluh Bening lalu tidur lagi.
Lidya sangat kasihan sama pemuda itu selalu saja ada kerusuhan kalau ia datang. Di sebabkan takut nular kesialan. Eric membeli semangkok bakso di sebelahnya ada murid yang ingin mengambil sambal. Murid itu sudah mengambil sambal, menyendok sambal itu kedalam mangkoknya setelah selesai. Ia membawa mangkok itu dan entah kena apa? Kuah bakso itu bergoyang dan,"Eric awas kuah baksonya!"teriak Lidya mengaba-aba Eric.
Refleks Eric menghindar dan kuah itu jatuh ke lantai. Murid tadi meminta maaf ke Eric kemudian menuju ke bangku. Eric memegang dadanya lega seragam yang baru ganti tadi tidak terkena kuah bakso. Ia sudah tidak bisa beli seragam putih lagi dan mengkucek baju keras-keras, sudah lelah. Mungkin sekarang hari keberuntungan Eric.
Lidya juga bernafas lega Eric dengan cepat refleks dari kuah bakso yang akan mendarat di seragamnya. Fitri tadi kaget dan ingin slow mode tapi Eric sudah refleks. Lidya menatap Eric duduk di bangku kantin menyantap baksonya.
"Hadeh, Eric bahaya juga."gumam Lidya pelan. Fitri menatap ke Lidya,"setiap kali Eric ingin tertimpa musibah kau langsung teriak seolah tahu apa yang akan terjadi,Lid?"kata Fitri dibalas kekehan kecil Lidya.
"Iya, karena Eric yang selalu saja terkena kesialan sampai dijauhi oleh teman-temannya. Herannya ia tidak merasa kesepian tuh."kata Lidya sedikit berkomentar.
Bening mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang mengarah ke Eric yang makan bakso lalu Bening kembali tidur. Hana yang ada di sebelahnya tersenyum dan ia bangkit berdiri. Cantika yang asik maminkan smartphonenya berhenti mencegah Hana,"mau kemana Han?"tanyanya.
"Mau beli sosis."jawabnya menoleh sedikit ke Cantika. Gadis itu bangkit berdiri dan mengikuti Hana membeli sosis.
Fitri mendongak melihat atap sambil setengah berteriak,"aaa, aku bosan! Dimana kamu Lina?"ucapnya sedikit frustasi.
"Habis ini ia akan balik."jawab Lidya menggeleng.
"Kalau tidak balik ke sini. Aku akan menderetnya dengan tumbuhan ku,tenang aja."timpal Tera tersenyum penuh usil.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Kedua kaki melangkah cepat sepanjang koridor mencari pemuda yang ia cari. Beberapa sorotan mata mengarah ke gadis imut dan cantik bisa dibilang mirip barbie karena tubuh langsingnya dan rambut hitam panjang sepanggung itu.
Lina berhenti di lapangan sekolah sambil menoleh kekanan dan kekiri mencari orang itu. Ia berpikir sejenak, 'kalau tidak di lapangan di ruang osis'--batin Lina. Beni Anggara selaku ketua kelas multimedia satu ia juga mencalonkan osis. Anak itu bisa dibilang ingin tanggung jawabnya besar.
Alasan ia masuk ke osis yaitu ingin bertanggung jawab,simpel banget kan. Lina berhenti nafas ngos-ngosan,ia sudah sampai di ruang osis untunglah larinya sedikit cepat sekarang. Gadis itu ingin masuk ke dalam ruang osis dan dahinya menubruk dada bidang seseorang membuat langkahnya mundur sedikit. Lina menggosok dahinya itu,"siapa yang menghalangi jalanku sih?"gerutu Lina dan melihat ke depan terkejut, seketika tubuhnya seolah membeku.
Pemuda berambut acak-acakan dan rambutnya itu seperti selesai terkena setruman berdiri terus. Lina membatin kalau ia pernah kesetrum listrik atau terlalu banyak memakai minyak rambut sehingga kaku dan tentunya berdiri terus. Pemuda itu tinggi memiliki ekspresi dingin. Dia adalah ketua osis yang memiliki sifat dingin banget bernama Melviano Radhika--11 Multimedia dua.
__ADS_1
"Mengapa kau kesini?"tanyanya dingin.
"Kak Melvi. A-Aku mau mencari Beni. Beni ada kak?"tanya Lina gugup sekaligus takut karena Melvi memiliki kekuatan Es, ia bisa membekukan siapapun yang berani macam-macam padanya atau orang dicintainya.
"Oh Beni. Dia ada di dalam sama Pandu dan Reza."ucapnya dingin lalu pergi melewati Lina saat Melvi melewati Lina tubuhnya terasa dingin sekali seperti es. Setelah ketua osis itu pergi Lina bernafas lega dan menoleh kebelakang bentar melihat Melvi yang berjalan santai dibawah matahari.
'Dia berjalan di bawah matahari kok nggak leleh ya?'--batin Lina.
Kreek
Pintu terbuka dan ketiga penghuni ruang osis yang asik bercanda menoleh mengarah pintu melihat Lina tersenyum,"assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Pintunya jangan ditutup!"kata Reza. Lina menghampiri mereka bertiga.
"Lin,kau sendirian? Mana Lidya, biasanya kau sama Lidya terus."tanya Pandu di tosek sama Reza.
"Kau ini. Berhentilah bicara soal Lidya. Kalau kau suka tembak saja dia,bereskan."kata Reza nada jengkel. Lina yang mendengar itu terkejut,"eh Pandu suka sama Lidya?"
"Eh jangan dengarkan Reza. Itu tidak benar Lin."kata Pandu dan membalas tosekan ke Reza. Beni yang melihat temannya yang tidak pernah akur itu hanya menggeleng, ia menatap gadis didepannya itu.
"Kau kesini mau apa Lin?"tanya Beni.
"Astaga! Ben. Apakah kau ingin merampas semua gadis disini? Kau curang sekali."ucap Reza sedikit shock. Beni melototin Reza seenaknya saja berkata yang tidak-tidak.
"Ben."
"Hmm."
"Aku ingin..."
"Menunjukkan perasaanku padamu."kata Reza di balas tatapan mata tajam membunuh. Reza hanya terkekeh saja.
"Kau bisa diam tidak! apa aku suruh Pandu mematikan pendengaranmu agar kau diam."Beni membentak Reza agar pemuda itu diam. Reza langsung nunduk bersalah dan Beni melanjutkan pembicaraannya ke Lina.
"Aku ingin memintamu menerawang jauh untuk melihat lokasi kemah itu dimana dan berapa luas tempatnya. Karena kan kita bakal kesana dan bertemu dengan murid di berbagai sekolah."pinta Lina menjelaskan tujuan utama menyuruh Beni menerawang jauh.
Beni mengkerutkan dahi dan menggeleng,"maaf Lin. Aku tidak bisa menuruti permintaanmu."
Wajah Lina menjadi murung,"yah, terus gimana?aku ingin sekali melihat lokasinya."nada kecewa.
__ADS_1
Beni mengangkat kedua bahu tidak tahu. "Entahlah, aku tidak bisa menerawang yang jauh banget dan aku rasa kekuatanku itu. Kalau aku tidak pernah pergi kesana jawabnya adalah aku tidak akan bisa menerawang tempat itu."ucap Beni melihat kedua temannya.
Pandu diam sejenak dan ia memiliki sebuah ide. "Aku tahu. Kita coba mendengar ke kantor guru, bentar lagi kan ada rapat membahas tentang perkemahan itu,"kata Pandu semua menatap Pandu serius,"jadi kita harus menguping pembicaraan yang ada di kantor itu."lanjutnya membuat seulas senyum terlukis di wajah mereka berempat.
"Jadi kita harus ke kantor guru dong?"tanya Reza dibalas angguk Pandu.
"Yup tapi kita berempat duduk di kursi panjang depan kantor saja nanti aku akan mempertajam pendengaran kalian agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan."kata Pandu melihat ketiga temannya bergantian.
"Beni juga, menerawang apa yang terjadi di ruang guru itu."lanjut Pandu menepuk bahu pelan Beni.
Mereka berempat; Beni,Pandu, Lina dan Reza duduk di bangku panjang di depan kantor. Mereka semua sibuk dengan kegiatan masing-masing ada yang membaca majalah, koran, main game dan Lina hanya berdiam diri memilih menyimak. Pandu sudah menyalurkan kekuatan pendengaran tajam ke Beni, Lina dan Reza. Beni memilih untuk mendengar saja ia malas untuk menerawang.
"Kita akan membahas perkemahan gratis yang akan dilaksanakan saat libur sekolah. Dan sekolah SMK Cemerlang terpilih untuk mengikuti perkemahan gratis yang akan diikuti 5 sekolah SMK/SMA dan 5 sekolah SMP jadi ini perkemahan yang besar."ucap Bu Mega Kepala Sekolah SMK Cemerlang.
Lina mendengarkan seksama apa yang dibahas tentang perkemahan. "Perkemahan itu lokasinya di Drak Shadows nomer 36 dan membutuhkan waktu selama 3 jam."
Pandu segera tidak mengaktifkan kekuatannya dan kembali normal. Kedua mata Lina sedikit melebar,"Drak Shadows. Bukanya itu lokasinya jauh dan menyeramkan."katanya bergidik ngeri.
"Jangan takut itu hanya namanya saja."ucap Reza pede, ia bangkit berdiri dan berjalan maju menoleh kebelakang,"kau tahu blok purple Shadows kan? Ya seperti itu lah hanya namanya saja yang menyeramkan tapi biasa saja."lanjut Reza nampang gaya.
Beni tersenyum dan membenarkan perkataan Reza bahwa itu semua benar. "Benar kata Reza. Lokasinya itu jauh tapi disana kita bersenang-senang. Aku pernah datang kesana tempatnya luas dan sering kali dibuat piknik dan juga berkemah."jelasnya menatap Pandu dan Lina.
"Seriusan? Kalau gitu. Aku akan memberitahu teman-temanku. Terima kasih Beni, Pandu dan Reza."ucap Lina tersenyum lalu melesat pergi menuju kantin.
Di kantin mereka bertujuh sudah mulai bosan menunggu Lina sangat lama. "Nih anak ketiduran di jalan atau gimana sih? Lama banget."gerutu Fitri tidak sabaran.
Lidya menghentikan gambarnya lalu menatap ke wajah Fitri. "Nanti juga datang kok. Aku tadi sudah berpikir secara matang kalau aku akan pergi ke kemah untuk mencari apakah hanya murid SMK Cemerlang dan SMA Negeri yang memilki kekuatan."kata Lidya menjelaskan sedikit tujuan ikut kemah.
Anggi yang mendengar itu terkejut begitupun Tera dan Bening. "Ha, SMA Negeri juga punya kekuatan?wah, jadinya gimana tuh? Aku juga ikut penasaran."komentarnya menutup buku novel.
"Aku harap mereka baik-baik dan kemahnya juga menyenangkan. Ah nggak sabaran aku tuh."kata Tera senang.
Lalu muncula Lina dengan nafas ngos-ngosan. Fitri langsung ngedumel ke Lina karena ia perginya lama dan mereka telah menunggu satu jam sampai kantin sudah mulai sepi. Lina terkekeh dan memberitahu bahwa lokasi kemahnya berada di Drak Shadows 36 dan menempuh perjalanan selama 3 jam. Semua ketujuh gadis itu terkejut tidak percaya.
"Lama sekali 3 jam!"kata Cantika sedikit shock.
"Baiklah, lokasinya sudah di temukan dan bisa dibilang aman kan Lin?"kata Hana memastikan bahwa tebakannya itu benar tentang lokasi itu. Lina mengangguk mantap.
"Jadi kita harus kompak kalau kemah itu menyenangkan."lanjutnya.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung... .