
Pemandangan hari ini sangat bagus, ia sering memandang luar jendela dari dalam kelasnya melihat semua murid bermain sepak bola saat istirahat. Sedangkan ia tidak tertarik dengan itu entah mengapa ia sama sekali tidak tahu.
"Sendirian aja,Suf?"tanya gadis berkepang dua dibalas pemuda di sampingnya memakai masker.
"Seperti biasakan,Dea."jawabnya singkat. Mereka berdua duduk di depan bangku Yusuf sesekali melihat luar jendela melihat semua beraktivitas seperti biasanya.
"Kemarin saat open house, aku sangat kagum sama SMK Cemerlang meski tidak semua muridnya memiliki kekuatan tapi mereka semua memiliki hubungan yang sangat luar biasa. Tidak seperti kita dulu."kata Dea membuka topik pembicaraan.
Saat salah satu SMA Negeri satu memiliki kekuatan yang bisa dibilang kuat dan tidak masuk akal. Ia diasingkan sama yang lain sehingga anak itu merasa kesepian dan kesepian. Pernah di bully sekali sampai ia menangis mengeluarkan kalimat sumpah serapah seperti pembalasan dendam. Dea yang mengetahui itu antara tidak percaya dan sekarang takut, apalagi sekarang kekuatan yang seperti anak itu menjadi kenyataan dan terjadi pada semua murid SMA Negeri satu.
"Aku ingat ia mengatakan kalau ia akan membalas semua perbuatan kita. Apa yang kita lakukan padanya."ucap Dea memandang luar jendela perasaan takut menjalar ke tubuhnya. Yusuf menatap Dea.
"Jangan bicara begitu. Dia kan sudah keluar dari sini pasti dia lupa dengan tujuan itu. Doakan saja semua baik-baik saja, lagipula kau kan timku."kata Yusuf mencoba menghibur Dea yang udah takut duluan sebelum kejadian itu benar-benar terjadi.
Pemuda memakai jaket dan masker itu menuliskan sesuatu di atas kertas. Kalau dia datang kesini buat balas dendam seenggaknya kita berkerja sama untuk menyadarkan dia. Dan kita semua meminta maaf. Yusuf menyunggingkan senyuman ke Tama.
"Bagus, Tama."kata Yusuf dibalas angguk Tama.
Lalu terdengar notif tanda pesan masuk dengan segera Yusuf mengecek ponselnya ternyata ia mendapatkan pesan dari Lidya. Dibukannya pesan tersebut.
Lidya:
Suf, kemarin aku menemukan gantungan kunci berbentuk kepala tupai setelah mengalahkan monster tupai yang selimuti oleh bayangan hitam. Itu kata Aska. Jadi jelaskan padaku secara rinci tentang gantungan kunci itu?.
Yusuf terdiam sejenak mencoba mengingat-ingat sesuatu. Dea yang memerhatikan tingkah Yusuf sedang memikirkan sesuatu, berkerut--penasaran. "Apa yang kau pikirkan?"tanya Dea pelan, pemuda itu mengangkat tangan ke Dea menyuruh gadis itu diam.
Yusuf memejamkan kedua matanya mencoba mengingat-ingat. Lalu mata kembali terbuka lebar dan mulut setengah terbuka ingin berteriak detik itu juga. Namun, tenggorokannya seolah tercekat sesuatu disana jadi tertahan.
"Suf, ada apa? Katakan sesuatu? Apakah yang aku takutkan akan terjadi?"tanya Dea cepat dan panik, ia benar-benar takut. Tama yang ada di samping Dea berusaha menenangkan gadis itu dengan menepuk-nepuk bahunya pelan.
Yusuf segera membalas pesan Lidya.
Yusuf:
Itukan? Hmm ada kaitannya dengan cerita yang hilang saat Tio membuka pintu imajinasi!
Balasnya singkat ia tidak bisa merangkai kalimat lagi karena ada rasa panik di dalam dirinya. Itu adalah kabar buruk sekali, Yusuf bangkit berdiri dan menata rambutnya sedikit berantakan.
Tama menggunakan bahasa isyarat,mau kemana?. Mulut Yusuf mengantup dan membuka sedikit, "aku harus melaporkan ke Kepsek, Pak Ganda bahwa dunia bentar lagi diambang kehancuran dengan tujuan berbeda."kata Yusuf.
Tama menggunakan bahasa isyarat cepat dengan teliti Yusuf membaca gerakan tubuh Tama dan berusaha berpikir sejenak. Yang dikatakan Tama memang benar. Dari mulut kemulut yang berhasil di dengar Yusuf, ada beberapa orang yang bertingkah aneh seperti di gerakkan oleh seseorang. Dan ada juga hewan peliharaan baik kucing serta jenis reptil tiba-tiba menghilang.
Dari pencarian Yusuf kemarin bersama dua temannya; Dea dan Tama. Tidak ada satupun pencuri hewan masuk ke dalam rumah atau lainnya dengan secara misterius mengilang. Kamera pengawas pun tidak membantu jadi Yusuf menyimpulkan bahwa pencurian hewan saat itu bukan manusia biasa melainkan manusia yang memiliki kekuatan.
Serta manusia yang seperti dikendalikan oleh seseorang, itu masih di pertimbangkan. Mungkin, ia bisa bertemu dengan Lidya atau Aska masalah bayangan itu.
"Musuh sepertinya mulai bergerak."kata Yusuf pelan yang masih bisa didengar oleh Tama dan Dea.
__ADS_1
"Tapi Suf. Kita semua, anak-anak lainnya belum mengusai kekuatan mereka dengan baik. Kalau di game itu disebut noob."kata Dea menyebut satu hal fakta.
Yang dikatakan Dea itu benar. Sehebat-hebatnya murid SMA Negeri satu hampir semua murid belum menguasai kekuatan masing-masing dengan baik. Kebanyakan dari mereka, kekuatannya sering hilang kendali apalagi kalau kekuatan itu berbahaya. Seperti salah satu kelompok kekuatan elements eyes.
-
-
-
-
-
-
Knock! Knock! Knock!
Terlihat seorang pria tengah menyibukkan diri membaca dokumen dan berita kemarin tentang manusia aneh seperti di kendalikan oleh seseorang layaknya boneka. Itu membuat pikiran pria tersebut seolah pecah.
Knock knock
Ketukan pintu dari luar kembali terdengar kali ini dengan suara memanggil nama pria tersebut.
"Pak Ganda, apa kami boleh masuk? Ada laporan."ucap Yusuf dari balik pintu.
Ganda menarik nafas panjang dan menyuruh mereka masuk kedalam kantornya. Mereka bertiga duduk di sofa yang sudah disediakan dan pria tersebut bangkit berdiri dari kursinya menuju ke sofa menghadap tiga muridnya ini. Mereka memang sering memberikan sebuah laporan atau informasi penting terkadang juga anggota osis.
"Itu Pak. Ini dari teman saya yang sekolah di SMK Cemerlang. Dia kata, mendapatkan gantungan kunci dari monster yang di kalahkan oleh temannya. Monster itu berupa tupai dan tubuh tupai tersebut diselimuti oleh bayangan hitam. Apa itu ada kaitannya tentang manusia aneh seperti di gerakkan oleh seseorang layaknya boneka?"jelas Yusuf panjang lebar dan bertanya apa ada sangkut pautnya yang terjadi belakangan ini.
Pria tersebut diam sejenak,bingung harus mengatakan apa. Ia menghela nafas berat menatap mereka bertiga bergantian. "Lebih baik, kalian bertiga menjadi mata-mata sekitar mencari informasi terbaru dan jangan beritahu siapa-siapa. Hanya kalian dan saya saja, kalau sudah terkuak semuanya baru di bicarakan sama lainnya."putus Pak Ganda dibalas angguk mengerti mereka.
"Dan bilang ke temanmu,Suf. Kalau terjadi apa-apa beri laporan ke kamu, apa yang terjadi."
"Baik, Pak Ganda. Aku akan menuruti perkataan anda."jawab Yusuf dengan bahasa formal.
"Hmm. Apakah kita boleh menjalankan mata-mata hari ini?"tanya Dea tersenyum ke Pak Ganda.
"Iya. Tapi hati-hati kalau ada orang yang gerak-geriknya aneh, lawan dan mencari tahu jelas. Tapi jangan di lawan semua nanti kalau orang itu keadaan mabuk gimana? Bisa panjang masalahnya."kata Pak Ganda dibalas angguk lainnya.
"Tama. Pasti kau menyukai tugas ini?"tebaknya ke arah Tama. Pemuda memakai masker hitam disamping kiri Yusuf, membalas anggukan pelan.
***
Mereka bertiga mulai menjalankan misi mata-mata dan ketiganya sudah sampai di kota, dimana banyak sekali orang berlalu-lalang. Dea melihat banyak sekali toko dan restoran menurutnya disini keadaannya baik-baik saja. Ia melihat Yusuf yang juga mengamati sekitar.
"Terus kita ngapain? Kalau keadaan disini masih baik-baik saja."kata Dea meminta pendapat sang ketua.
__ADS_1
Yusuf menghela nafas panjang, menggeleng tidak tahu. Tama menepuk bahu Dea mengatakan dengan bahasa isyarat kalau ia ingin jalan-jalan sebentar. Yusuf mengangguk,"jangan jauh-jauh nanti aku sulit mencarimu kalau ada apa-apa."ucapnya dibalas hormat ala kapiten ke Yusuf lalu Tama berlari kecil meninggalkan Dea dan Yusuf.
"Tama, sukanya mencar dan dia itu terlalu misterius."komentar Dea melihat punggung Tama yang semakin lama, menghilang dari pandangnya.
Yusuf tersenyum tipis,"biarin saja. Lagipula ia seperti aku dulu,misterius apalagi di katain kalau aku itu hantu."ucapnya mengingat saat ia direndahkan sama murid lain.
"Dan kau juga patah hati. Miris sekali."komentar Dea melirik Yusuf yang membuang muka ke arah lain dan sedikit protes pada Dea.
"Jangan bahas itu!aku sudah move on tahu!"ketusnya.
"Hahaha, canda. Hmm mending kita ke cafe aja, aku pengen minum kopi soalnya."kata Dea.
Pemuda berjaket mengenakan masker itu melewati gang sempit dengan lari kecil,mempercepat langkahnya. Di depan ada tembok yang agak tinggi dengan cepat ia melompat dan berhasil mendarat mulus, berbelok ke kiri. Selama perjalanan ia belum menemukan keanehan atau gerak-gerik dari manusia aneh yang akhir ini banyak dibicarakan.
Lalu langkahnya berhenti saat melihat ada jajanan dari pedagang kaki lima, pisang cokelat. Tama menghampiri gerobak tersebut dan penjualnya menoleh,"mau beli pisang cokelatnya berapa?mas?"tanyanya.
Tama menggunakan bahasa isyarat menanyakan harga jajanannya berapa? Tapi penjual tersebut sama sekali tidak paham apa yang di maksud Tama. Dahi penjual itu berkerut bingung.
"Maaf mas? Saya nggak paham bahasa isyarat?"tanya penjual tersebut.
Tama memberi isyarat tangan, menunggu seraya mengambil buku note kecil dan bulpen di saku celananya. Sang penjual berpikir dua kali, loh kok dia dengar apa yang aku cakap kalau dia bisu?. Seperti itulah pikirnya.
Tama dengan cepat menuliskan sesuatu di kertas note tersebut lalu menunjukan ke penjual jajajan.
Harga satu pisang cokelatnya berapa?
"Seribuan."
Tama kembali menuliskan lagi. Ada rasa apa aja selain cokelat.
"Ya, namanya aja jualan pisang cokelat mana ada rasa lain mas?"kata penjual tersebut mengerut bingung. Ada-ada saja yang di tanyaain.
Oh kirain ada selain rasa cokelat. Kalau gitu aku beli enam pisang cokelat.
Itu tulisan terakhir dari Tama dengan semangat penjual tersebut melayani pelanggan anehnya. Ya, bagaimana nggak aneh---dia bisa mendengar tapi tidak bisa bicara?.
Penjual tersebut memberikan pesanan Tama lalu pemuda itu memberikan uang pas ke penjual pisang cokelat. Badan sedikit membungkuk sebagai ucapan terima kasih. Penjual itu bingung melihat Tama yang membungkuk,ia ikutan membungkuk kemudian Tama berdiri tegak, setelah itu pergi.
Penjual pisang goreng itu hanya bisa menatap pemuda asing dengan tatapan orang bodoh.
Suara derap kaki cepat yang diciptakan oleh Tama, ia berlari kecil seraya meneteng kresek berisikan enam pisang cokelat buat kedua temannya. Namun langkah terhenti, saat ingin berbelok ke gang sempit yang tadi ia lewati. Tama memilih untuk bersembunyi dibalik tembok bangunan dan melihat ada tiga pria dewasa dengan gerak-gerik aneh mengunci anak kecil yang ketakutan memeluk boneka bear kecil di genggamannya.
"To-tolong aku!"ucap gadis kecil itu ketakutan menutupi separuh wajahnya dengan boneka bearnya.
Tiga pria tersebut perlahan mendekati gadis itu dan ingin mencekalnya. Kedua mata Tama terbelalak lebar dan berubah menjadi hitam.
Elements Eyes---Black Eyes, Assasint.
__ADS_1
*Jangan Anggap Kami lemah*
Bersambung....