
Hari libur semester ganjil telah datang dan semua murid SMK Cemerlang berkumpul di Alun-alun kota disana banyak sekali murid-murid dari sekolah lain mulai berdatangan membawa barang yang tak kalah berat. Perkemahan gratis ini akan menjadi liburan paling menyenangkan karena kemahnya 4 hari 3 malam. Dan disana juga akan banyak sekali permainan.
Lidya membawa tas besar 2 dan 2 tas berukuran sedang berisikan makanan dan peralatan untuk kemah. Ia dibantu Awan dan ayah membawa barang bawaan yang banyak. Lidya menyuruh menaruh bawa agar tidak berat-berat ia berterima kasih pada adiknya dan ayah. "Makasih ayah dan Awan."ucapnya.
"Iya, hati-hati saat kemah dan jangan sampai lepas dari kelompok karena lokasi Drak Shadows itu luas hutannya yang biasanya dibuat piknik sekaligus kemah buat anak sekolah."kata Ayahnya berpesan dibalas angguk Lidya dan mencium punggung tangan ayah. Mereka berdua pulang ke rumah, Lidya tersenyum dan berbalik melihat banyak orang yang berdatangan di alun-alun.
"Lidya!"panggil seseorang lembut dan Lidya menoleh menyapa balik dengan senyuman mengembang. "Shena!"ucapnya dan mereka saling berpelukan. Shena melihat barang bawaan Lidya begitu banyak.
"Wuh, banyak sekali bawaanmu Lid. Apa kau tidak memintaku untuk membantu?"kata Shena tersenyum.
"Jangan dulu. Karena rombongan SMK Cemerlang belum sampai hanya 2 bus yang satu belum. Aku tadi disuruh oleh ayah langsung ke sini."kata Lidya. Shena membelakkan kedua matanya sedikit terkejut karena sekolah Lidya banyak yang ikut tidak seperti di sekolah Shena hanya beberapa anak saja dan hanya membawa satu bus saja.
"Aku sangat salut sama sekolahmu. Muridnya banyak yang ikut kalau aku tidak ada yang minat padahal kemah itu menyenangkan banget."Lidya tersenyum kecut mendengarnya karena ia sendiri harusnya tidak ikut perkemahan ini apa boleh buat rasa penasarannya sangat tinggi dan diputuskan kalau Lidya ikut. Ia juga merasa sangat khawatir belakangan ini tidak tahu karena apa semoga saja perkemahan ini sangat menyenangkan.
Bus datang dan saat dibuka pintu bus tersebut para gadis paling ribut membawa barang bawaan mereka yang lumayan berat. Shena tersenyum melihat Lina membawa tas berat ia juga tidak kuat. Tera yang berada di belakang Lina kesal.
"Sini aku bantu Lin, biar orang yang dibelakang nggak dorong-dorong."kata Tera mengangkat barang bawaan Lina sekaligus gadis itu menggunakan kekuatan tumbuhannya. Lina hampir saja menjerit dan kesal dengan keusilan Tera yang seenaknya menggunakan kekuatan tumbuhannya.
Lina berkacak pinggang di bawah menatap Tera,"kau ini sedikit-sedikit menggunakan kekuatanmu. Aku kaget tahu. Aku pikir kau akan membantuku secara alami."protesnya dibalas senyum tipis dari Tera, "maafkan aku. Aku terpaksa melakukan itu agar tidak macet di dalam bus."jawab Tera santai dan meletakkan barang-barang ke bagasi bus,tadi ia tidak sempat meletakkannya di sana. Lina berdecih.
Shena memanggil Lina dan gadis itu menghampiri Shena berusaha memeluknya tapi Shena menghindarinya membuat Lina mayun. "Oh Lina, kau lucu sekali kalau memasang muka seperti itu."goda Shena.
"Tidak Tera atau Shena sama saja. Sama-sama nyebelin."sindir Lina kesal. Lidya tertawa pelan,"sudah lah kalian tidak usah banyak bicara. Mending kita jalan-jalan mengelilingi alun-alun kota."Ucap Lidya mengajak Shena dan Lina berkeliling alun-alun.
"Eh Lid. Barang-barangmu ini tidak kau taruh di bagasi bus."kata Lina ke Lidya. Lalu datang Arkan dan Pandu. Mereka berdua tersenyum,"biarkan kami berdua saja yang menaruh barang-barang ke bagasi yang perempuan silahkan jalan-jalan mengelilingi alun-alun."kata Pandu tersenyum.
Dahi Lina berkerut,"kalau berkumpul gimana masa dianterin dengan piring terbang yang Arkan buat?"kata Lina dibalas angguk Arkan.
"Iyalah. Aku membawa tiga piring terbang hasil buatanku tuh kemarin aku upgrade sedikit jadi piring terbangku itu energinya dari matahari. Dan kalian tahu kan kalau jalan disini masih belum di kasih magnet seperti ibu kota yang mulai jalannya di kasih magnet jadi semua kendaraan akan terbang tidak memakai roda. Sekarang tumbuhan karet menjadi langkah."jelas Arkan memberitahu apa yang ada di luar sana terjadi.
Shena melongo mendengar penjelasan Arkan yang sangat luar biasa. "Kalau disini jalannya belum dikasih magnet dan mengapa kau buat piring terbang hasil karyamu itu?"tanya Shena.
Arkan menatap gadis yang sama sekali belum pernah melihat di sekolahnya. Gadis berambut lurus berwarna hitam dan berponi. "Bawah piring itu aku kasih papan sketboard magnet dan di sisi skateboard itu aku kasih kaca transparan yang kuat dari benturan keras. Tentu saja piring dan skatboard itu magnetnya saling berlawanan jadi piring itu terbang ke udara."jawab Arkan rinci. Setelah itu Lidya, Shena dan Lina berjalan mengelilingi alun-alun kota.
Banyak sekali lapangan luas dan bangku taman yang siapa saja bisa beristirahat disana setelah berolahraga pagi. Bermain bersama keluarga dan juga membeli makanan jalanan yang banyak sekali disini beraneka ragam. Shena begitu banyak bicara tentang pemuda berkacamata tadi yang hasil penemuannya bagi Shena terlalu tinggi.
__ADS_1
"Anaknya memang suka membuat sesuatu Shen dan hasilnya sangat memukau. Aku pernah dikasih Arkan sabun body wash, sabunnya sangat wangi dan banyak teman-teman kelasku yang bertanya membeli sabun itu."ucap Lina menceritakan sedikit hasil Arkan yang tidak pernah ia lupakan yaitu membuat body wash yang sangat wangi sampai pulang sekolah tetap wangi.
"Sungguh. Luar biasa, ia sangat jenius."komentar Shena sedikit wow.
"Arkan anak Marketing 2."lanjut Lina dibalas angguk Shena,"pantesan. Ngomong-ngomong kalau Arkan buat makanan enak atau tidak ya?"ucapnya memikirkan makanan hasil masakan Arkan. Apakah ia akan berhasil seperti penemuannya si teknologi dan barang prodak kecantikan.
Asik berbincang-bincang dan mengelilingi Alun-alun kota lalu datanglah tiga piring terbang. Lidya tersenyum,"sepertinya kita harus kembali ke sana."kata Lidya dibalas keluhan Lina,"yah, cuman bentar doang mengelilingi alun-alun kotanya."dengusnya.
"Nanti waktu di Drak Shadows 36 kita akan bersenang-senang. Aku penasaran sama permainannya."kata Lidya dibalas dengan Shena. Mereka bertiga naik di piring terbang tersebut. Lidya bilang kalau piring ini akan melaju cepat dan disini juga tidak ada pengangan jadi kedua tangan dilipat kebelakang dan sedikit membungkuk, posisi tubuhnya. Dibalas angguk Shena dan Lina.
Ketiga piring itu melesat cepat menuju ke tempat dimana semua murid berkumpul. Di depan ada belokan ke kanan, Lidya mengasih aba-aba karena ia pernah mencoba piring terbang milik Arkan sebelumnya jadi ia tahu bagaimana cara menyetirnya.
"Tangan kanan turun!"kata Lidya dan tangan kanan ketiga gadis itu turun dan piring terbang tersebut berbelok ke kanan. "Tangan kembali ke belakang."kata Lidya lagi.
Shena tersenyum mengembang,"ternyata karya Arkan ini menyenangkan juga!"kata Shena terkekeh. "Setelah ini kita akan bilang berhenti dan tubuh kita berdiri tegak serta tangan kembali lurus."kata Lidya lagi memberi arahan dibalas angguk kedua gadis kanan-kirinya.
Beberapa meter lagi mereka akan sampai dihitung dari angka mundur. Ketiga gadis tersebut berteriak,"Berhenti!"dan berdiri tegap perlahan piring terbang yang mereka tumpangi perlahan berhenti.
Beni selaku osis,"Lidya, Lina ayo berkumpul dan gadis asing itu kembali ke barisan sekolah asalmu!"ucapnya pada mereka bertiga berlari kecil dan Shena membisikan sesuatu ke telinga Lidya membuat seulas senyum terukir jelas di wajah Gadis kurus.
Semua sekolah dari Smk/Sma sampai Smp sudah berbaring di lapangan alun-alun kota. Di tengah-tengah ada banyak sekali guru dan pembina yang akan mengisi perkemahan besar ini. Ada tepukan pramuka dan yel-yel untuk mengobarkan semangat supaya tidak merasa bosan.
"Tenang ini hanya pembagian kelompok saja dan bus kalian tetap. Ini hanya pembagian saja nanti kalau sampai kesana langsung berkumpul sama kelompok masing-masing. Kalian tetap di bus masing-masing sekolah."kata pembina tampan itu. Semua bernafas lega.
"Kakak putar lagu dan kalian harus menemukan kelompok acak dari sekolah berbeda-beda sebanyak 8 sampai 10 orang,campur laki-laki perempuan tidak apa-apa. Murid SMP juga sama ya."kata kakak pembina itu. Mereka semua bubar barisan dan menjadi lingkaran. Tiga lingkaran besar karena murid SMP bisa dibilang banyak yang minat.
Lagu diputar dan semua murid berhamburan membentuk lingkaran kecil serta berteriak memanggil temannya untuk bergabung di kelompoknya. Lidya bingung harus mencari kelompok mana karena semua sudah berlarian mencari kelompok.
"Hei!"teriak seorang gadis menyuruh Lidya masuk ke dalam kelompok yang masih tiga orang saja ditambah Lidya menjadi empat orang.
"Farah, kita cuman 4 orang. Kita juga butuh laki-laki biar bisa masuk ke kelompok kita."kata gadis berambut panjang pirang. "Teriak apa gitu Sele!"suruh Farah ke Selena.
"Sini siapaun itu masuklah kelompok kami karena orangnya kurang!"teriak Farah sudah lelah teriak-teriak tapi tidak ada satupun yang ingin masuk ke kelompok tersebut. Lidya menoleh melihat Bening sedang kebingungan, bingung harus masuk ke kelompok mana karena mereka sudah penuh.
"Bening! Sini!"teriak Lidya. Bening gadis berhijab itu berlari kecil dan menggandeng tangan Lidya. Bening sangat senang kalau ia mendapatkan kelompok. "Kurang 5 orang lagi."kata Farah lesu.
__ADS_1
Bening tersenyum dan berkata,"tenang saja. Aku harap ada 5 laki-laki yang berlari kesini untuk melengkapi kelompok kita. Kelima laki-laki itu sangat aktif dan senang berkemah."kata Bening yakin, ketiga gadis di depannya itu tidak yakin apa yang dikatakan oleh Bening.
"Apa kau yakin? Jangan berharap ada lima laki-laki yang berlari kesini. Kau tahukan, ini banyak sekali kelompok dan mana mungkin ada lima laki-laki yang datang kesini. Jangan banyak berharap, harapan itu tidak akan terkabul dalam lima detik."ucap gadis berambut keriting berkulit cokelat mengejek kemampuan Bening. Gadis itu hanya tersenyum tipis,"terima kasih telah mengejekku setidaknya lihat lah di sana!"ucap Bening dan menunjuk mengarah ke seorang pemuda berlari kearah kami.
Pemuda tersebut tersenyum dengan nafas ngos-ngosan,"akhirnya aku mendapatkan kelompok yang belum penuh juga."ucapnya menyunggingkan senyum membuat terlihat manis. Ketiga gadis itu melongo. Tiba-tiba di sebelah Selena datang seorang pemuda tinggi berkulit cokelat dan rambutnya jambul berwarna oranye.
Sebuah asap datang ketika asap itu menghilang ada seorang pemuda datar dan ia melirik mengarah ke Farah, tidak suka. Lidya mengerit melihat pemuda satu ini. Dari arah timur ada dua pemuda bermuka sama dan tidak bisa membedakan mana yang adik dan mana yang kakak, mereka benar-benar sama dan keduanya masuk ke dalam kelompok Lidya bersamaan musik dimatikan.
Kakak pembina bilang amati kelompok masing-masing dan tulis nama kelompoknya. Kakak pembina tersebut memberikan satu kertas dan pulpen kesetiap kelompok. Farah menyatat nama serta asal sekolah.
Nama kelompok:
-Farah Azizah Maulida dari SMA Negeri satu.
-Natalia Selena dari SMA Negeri satu.
-Alvana Saputri Nanda dari SMK Kesehatan.
-Bening Anjarsari dari SMK Cemerlang.
-Maulidya Wahyu Fatmawati dari SMK Cemerlang.
-Kevin Putra Samuel dari SMK Negeri satu.
-Agung Mahendra dari SMA Elang.
-Fandra Daniel dari SMA Prestasi.
-Arka Samana dari SMK Maju.
-Arsa Samana dari SMK Maju.
Setelah menulis semua data nama kelompok Farah mengumpulkannya ke dalam kotak lalu mereka semua naik bus dan mulai berangkat ke lokasi tujuan...
Drak Shadows 36
__ADS_1
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...