Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus Delapan: Kelompok Radit dan Tio


__ADS_3

  Beberapa kelompok Radit menuju ke tempat dimana tempat Tera di sekap. Ya, sebab salah satu temannya bisa mengetahui kekuatan musuh dan kelemahan musuh dari mata oranyenya. Radit sangat bersyukur bisa berteman dengan mereka.


Abimanyu memperingatkan pada yang lain waspada sebab ia merasakan aura paling lemah  tetapi ia tidak mengetahui banyak atau tidaknya. Radit selaku kekuatannya Alone Imagination jadi ia bisa merasakan aura yang begitu banyak, dimana-mana.


Matanya melihat sekitar waspada. Ia menyuruh para penyihir menurunkan semua ke bawah. Setiap kelompok terdapat penyihir sebab mereka akan membantu dan mengobati luka-luka temannya.


Mereka bersepuluh memilih berjalan masih tingkat ke waspadaan. Radit tahu, jika mereka semua melewati jalur udara--musuh akan membuat teman-temannya terjatuh dan cidera. Maka dari itu lebih baik berjalan kaki, meskipun cidera tetapi tidak sebegitu parah dan masih bisa bertarung.


Para kelompok kesatria, tangan mereka bersiap-siap memegang pedang kalau ada musuh menyerang mendadak. Mereka bisa menarik pedang itu kapan saja. Oranye eyes milik Abimanyu melihat sekeliling ia ingin mengatakan sesuatu.


Sebuah panah melesat ke arahnya. Penyihir yang berdiri tidak jauh dari Abimanyu mengeluarkan kekuatannya.


"Power Breath Fire!"


Panah tersebut dimakan api menjadi abu, kedua mata Abimanyu melotot. Seketika keluar segerombolan Alone Imagination yang memiliki umur tak jauh dari mereka.


"Rintangan apa lagi ini?"ucap Radit malas. Oh ayolah, setiap kali ia bertemu dengan kata pertarungan. Radit tiba-tiba saja merasakan aura kemalasan lebih besar.


Tubuh pemuda tersebut memancarkan kegelapan penuh kemalasan. Radit sering sekali menguap.


"Hoam..."ucapnya merentangkan kedua tangannya ke atas lalu duduk bersila, menyangga kepala dengan tangan kanan.


Abimanyu yang melihat Radit malah bermalas-malasan semuanya sudah bertarung melawan musuh.


"Hei! Kenapa kau malah bermalas-malasan seperti ini! Apa kau tidak lihat di depanmu?"ucapnya protes sebab Radit yang tadi memimpin mereka jalan serta memimpin kelompok. Sekarang malah bermalas-malasan.


Abimanyu menatap Radit, ia tidak bisa melihat secara jelas dan menebak kekuatan paling lemah dari yang lemah, Alone Imagination. Ia pikir kalau kekuatannya sudah lemah yang hanya bisa melihat kelemahan dan kelebihan kekuatan musuh, serta tidak bisa menyerang musuh. Namun sayangnya, masih ada yang di bawah kekuatan miliknya.


"Diamlah kau! Aku sekarang tiba-tiba malas sekali. Hoam."ucapnya sambil menguap lagi, ia melirik ke Abimanyu sejenak.


"Kau duduk di sisiku saja. Aku akan melindungimu."kata Radit yang jelas tidak masuk akal dan pasti mereka berdua akan mati kalau hanya duduk bermalas-malasan tanpa ada yang melawan.


Pasrah, Abimanyu akhirnya menuruti kata Radit--duduk di sebelahnya seraya menonton semua teman-temannya sedang melawan musuh.


Sring!


Sring!


Suara adu pedang dari kesatria terdengar seperti suara musik dalam perang kecil ini. Di tambah lagi dari serangan penyihir yang tidak ada henti-hentinya menyerang.

__ADS_1


"Power Sword Air!"


Sebuah pedang udara tercipta kemudian ia mengayunkan pedang tersebut ke arah musuh. Angin berhembus sangat kencang mampu menerbangkan salah satu musuh begitu jauh. Lalu salah satu dari mereka, musuh. Menghampiri Abimanyu dan Radit yang duduk santai di pertengahan pertarungan. Ini sangat gila, pikir Abimanyu mulai panik.


Musuh tersebut mengeluarkan tombak yang seperti malaikat pencabut nyawa. Pemuda tersebut panik dan menyuruh melakukan sesuatu ke Radit. Tapi Radit hanya tersenyum simpul menatap musuh berlari ke arah mereka. Mata Abimanyu melebar memperlihatkan iris mata yang masih mode Oranye Eyes ketika mata mereka tidak sengaja menatap satu sama lain.


Seketika mata musuh itu memejamkan mata dan terjatuh, meringis kesakitan akibat melihat mata oranye-nya secara langsung. Abimanyu melihat musuh yang sudah jatuh tersungkur akibat menatap matanya.


Melongo sejenak berusaha untuk mengingat sesuatu. Dan ia sadar kalau orang lain tidak seharusnya menatap mata oranye-nya secara langsung. Ini pernah terjadi saat ia bertemu dengan Vin, pertama kalinya.


Radit tersenyum tanpa melirik Abimanyu, memuji pemuda di sampingnya. "Bagus juga, kekuatan matamu itu."


"Biasa saja. Aku sempat lupa kalau mataku ini tidak boleh dilihat secara langsung."kata Abimanyu sedikit terkekeh.


"Hoaam.. Uh jadi seperti lihat matahari secara langsung dong."simpul Radit sesekali menguap lagi di balas kekehan Abimanyu. Lalu pemuda itu meminjam paha Abimanyu menjadi bantal sementara waktu.


"Bangun Radit! Kau jangan tiduran saat situasi begini!"protesnya ke Radit. Sayangnya pemuda itu sudah tertidur di paha Abimanyu membuat si pemilik mendengus.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


  Kelompok yang dimana di pimpin Tio sudah bergerak menuju tempat pintu imajiasi berada. Tio dalam wujud burung elang terbang memimpin. Pemuda itu memilih terbang daripada jalan kaki. Semua teman-temannya berada di belakang naik kendaraan kereta sihir.


  Akhirnya mereka bertujuh sudah sampai tempat lokasi pintu imajinasi. Anis, membenarkan kacamatanya melihat sekeliling tidak ada tanda-tanda letak pintu imajinasi.


  Tya melihat sekeliling dengan mata berkali-kali ingin terpejam, ingin tidur. Tetapi pertama kalinya gadis itu merasa tidak bisa tidur meski ngantuk selalu menghampirinya. Tio berubah menjadi wujud manusianya lagi.


Angin semilir menerpah wajahnya dan membuat beberapa helaian rambut birunya menari-nari sesuai arah angin. Ia menatap keenam temannya itu.


"Pintu imajinasinya ada di sini. Jadi kalian perhatikan dan ikut aku masuk ke dalam mencari tempat gantungan kunci ini."ucap Tio pada keenam temannya sembari menunjukkan kelima gantungan di genggamanya.


"Tapi Tio. Gantungan itu hanya lima bukan tujuh kalau pun kelompok pertama, Ilham. Sudah mendapatkan gantungan jangkrik itu. Kita masih tidak bisa menutup pintu imajinasi."kata Cindy dibalas anggukan mantap Anis.


"Iya, kata Cindy benar. Bagaimana caranya kita nutup pintu imajinasi kalau gantungan kunci itu kurang. Apalagi gantungan unknown itu tidak di ketahui keberadaannya."timpal Nia.


"Apa kalian tidak percaya dengan teman-teman lainnya?"tanya Tio balik menatap mereka berenam bergantian. "Besok, mereka akan berperang melawan musuh yang selama ini bersembunyi kemudian menantang kita!"lanjut Tio serius.


Matanya melihat mereka berenam yang mayoritas perempuan dan untungnya ada dua laki-laki jadi ia selamat. Veno, angkat bicara dan menyakinkan pada yang lain kalau gantungan unknown akan ditemukan secepatnya supaya pintu imajinasi bisa tertutup rapat, serta semuanya berakhir mulus.


"Kekuatan kita hanya sedikit jadi Lidya memutuskan untuk menugaskan kita terlebih dahulu sebelum perang di mulai besok. Dan besok, kekuatan besar akan melawan dua musuh itu. Lidya, tidak bermaksud pilih kasih karena kekuatan kita lemah atau masih di bawah,masih standard."jelas Tio panjang lebar.

__ADS_1


"Lidya hanya khawatir sama kita. Huh.."lanjutnya menghela nafas sejenak,"...jadi kita harus yakin kalau kita bisa menutup pintu imajinasi."matanya melirik mengarah ke penyihir, Anis.


Gadis itu sedikit terkejut lalu menunduk, salah. Tio mengucapkan pada yang lain sesuai rencana di buat resmi. Mereka mengangguk. Pemuda itu berbalik, berdiri membelakangi mereka berenam. Tangannya mencoba merabah benda tak kasat mata yang di depannya.


Tangannya menyentuh sesuatu yang transparan dan tangan Tio seolah masuk ke dalam dimensi lain. Seulas senyum terukir di bibir Tio sedangkan ekspresi yang lain hanya cengo bahwa pintu imajinasi, benar.


"Veno, Nia dan Dyah. Ikut aku masuk ke dalam sedangkan sisanya berjaga-jaga!"titah Tio dibalas angguk oleh yang lain.


-


-


-


-


-


-


-


    Seseorang tersenyum miring melihat tontonan yang ada di benda berbentuk bola. Bola tersebut menampilkan gambar perjuangan kelompok Ilham dan Radit melawan anak buahnya, Alone Imagination.


Lalu ia melirik gambar satunya lagi yang menampilkan gambar Lidya melihat semua teman-temannya bersikeras latihan buat melawannya esok hari. Dari semua  gambar tersebut, mereka semua tidak menyadari satu rencana yang dibuat oleh Keysa.


"Aku harus mencari pangeran tumbuhan, asli. Akan tetapi aku memiliki sebuah kejutan tanpa kalian sadari."kata Keysa pelan hampir membisik menciptakan senyuman miring di bibir tebalnya.


Kemudian datanglah Meika bersama anak buah lainnya kalau mereka sudah memasang apa yang di suruh oleh Keysa. Sesuatu itu sudah di pasang setiap sudut dan membuat kehancuran besar. Serta berbagai jebakan yang sudah di pasang tanpa di sadari oleh mereka.


Karena yang memasang jebakan tersebut itu adalah golongan Alone Imagination. Keysa tidak menyangka aja kalau sampah seperti mereka (Alone Imagination) bisa di manfaatkan sangat mudah serta suruhan sebagai budak, mudah sekali. Kekuatan mereka yang sangat lemah juga membuat keuntungan besar bagi Keysa.


Buat menghabisi Pangeran Johnny, Lidya bersama imajiansinya.


"Kekuatan paling lemah dari yang lemah. Aku jadi tidak sabar, melihat semua imajinasi yang bertarung denganku."ucapnya menoleh mengarah ke Meika tidak lupa mengedipkan sebelah mata tanda rencana licik, Keysa dan Meika.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung...

__ADS_1


Silahkan Like dan commentnya, dan votenya ya🙌 see you...


__ADS_2