
Mereka berdua sudah sampai di rumah milik keluarga Dewana. Lidya menatap rumah yang lumayan besar dengan cat berwarna cerah kuning-oranye. Pandu menenteng dua kresek kuenya dan mengajak Lidya untuk masuk ke dalam rumah.
Pandu mengucapkan salam,lagi-lagi Lidya terpana dengan isi rumah Pandu begitu besar dan rapih tentunya juga bersih. Terdengar suara pijakan kaki membuat Lidya mengarah ke sumber suara terlihat seorang wanita paruh baya dengan rambut panjang sampai mata kaki,warna rambutnya blonde. Wanita itu terlihat muda dan Lidya yakin kalau umur wanita itu seperti umur mamanya.
Ia tersenyum dan pandangnya mengarah ke Lidya. "Wah nggak kusangka Pandu sudah berani membawa gadis ke rumah."ucap beliau membuat Lidya tertegun mendengarnya ia melirik ke Pandu berusaha menjelaskan semua ini.
"Ini bu,kuenya."Pandu meletakkan dua kresek itu ke lantai lalu ia memperkenalkan Lidya ke ibunya,"Bu, ini teman Pandu namanya Lidya."ucap Pandu. Lidya tersenyum kikuk mengulurkan tangannya dengan senang hati wanita tersebut menjabat tangan Lidya masih tersenyum ramah.
"Kamu cantik,Lidya. Pantas aja, Pandu sering menceritakan kisahmu."katanya membuat Lidya kaget sekali lagi.
"Eh?"
"Sudah-sudah kalian berdua mengbrol di taman belakang sana sambil minum es sirup. Dan ini buat Lidya."ucap wanita itu menyuruh Lidya dan anaknya ke taman belakang. Sebelum mereka pergi wanita itu tidak lupa memberikan kue kotak yang dibelinya tadi ke Lidya. Gadis itu mengangguk dan bilang terima kasih.
Pandu mengajak Lidya ke taman belakang. Bunga bermekaran sangat Indah, semua pot bunga tertata sangat rapih dan mereka semua terlihat sangat segar, enak di pandang. Di cuaca panas ketika melihat pemandangan hijau seperti ini rasanya sejuk apalagi ditemani segelas es sirup segar. Mereka berdua duduk di kursi ayunan menghadap ke tanaman Indah. Lidya tidak pernah berhenti mengatakan kalau rumah Pandu sangat luar biasa dan bagus.
Pandu hanya bisa tertawa kecil melihat sifat Lidya yang tidak pernah ia tunjukkan ke teman-teman sekolah. Sifat anak kecilnya keluar membuat ia terlihat lucu dan ingin sekali Pandu mencubit hidungnya supaya tidak pesek. Lidya menghentikan kalimat pujiannya karena mendengar suara tawa dari Pandu.
Menoleh melihat pemuda berambut panjang sebahu itu tertawa dan tidak menyadari bahwa Lidya memandangnya dengan tatapan kesal. Mendengus sebal sambil melipat kedua tangannya,"huh."
"Kenapa kau tertawa?"tanyanya kesal, membuang muka.
"Hahaha, ternyata kau lucu juga kalau sikap anak kecilmu keluar."ucapnya tertawa sambil memegang perutnya. Lidya semakin lama ngambek dan melirik sinis Pandu. Di dalam hatinya ia sangat malu, kenapa ia secara tidak sadar menunjukkan sifat sebenarnya--anak-anak.
Keterlaluan!
Memang kalau Lidya merasa senang atau kagum melihat sesuatu secara tidak sadar ia akan melebih-lebihkan dan ia juga bertingkah seperti anak kecil. Pasti sekarang kedua pipinya memerah karena malu. Pandu berhenti tertawa melirik kearah Lidya yang masih ngambek padanya.
"Beneran loh. Tadi itu lucu."katanya.
"Itu tadi nggak lucu!"ucapnya ketus masih membuang muka entah semakin lama kedua pipinya memanas, Lidya memejamkan mata mencoba untuk memendam rasa malunya tetapi sayangnya tidak bisa.
"Aku malah pengen cubit hidungmu supaya nggak pesek."kata Pandu menatap semua tumbuhan miliknya,tersenyum tipis. Lidya ingin berteriak kencang saat ini juga, ia benar-benar malu dan Pandu membuat pipinya memanas seperti terbakar.
__ADS_1
Pandu menoleh melihat Lidya duduk membelakanginya,"pasti kau sedang menyembunyikan pipi merahmu,Yah."ucapnya menggoda. Kedua mata Lidya membulat sempurna, ia menoleh ke Pandu dan berteriak.
"IH KAU INI! JANGAN BUAT PIPIKU MERAH. AKU INI LAGI KESAL, JANGAN COBA-COBA MEMBUATKU NAIK DARAH!"
Seperti kilatan besar yang terjadi di sana. Pandu menatap Lidya terkejut ternyata ia juga bisa marah. "Wow! Aku tidak bermaksud begitu."katanya membuat Lidya melipat kedua tangan dan memalingkan wajah.
Kemudian datang Yuli,ibu Pandu menghampiri kedua remaja yang asik memandang tumbuhan indahnya. "Kalian sedang apa nih?"tanyanya membuat Pandu dan Lidya menoleh melihat wanita paruh baya yang awet muda itu.
Lidya diam, bingung ingin mengatakan apa. Tidak enak kalau ia mengaduhkan Pandu ke ibunya kalau putranya ini telah memancing emosinya dan membuatnya malu. Tanpa ada yang bersuara tiba-tiba ibu Pandu menggeleng sambil terkekeh.
"Ya ampun. Memang Pandu sukanya begitu pada orang. Kalau bicara suka benar dan membuat orang itu malu atau salah tingkah."ucapnya membuat Lidya tercengang mendengarnya. Sebelah matanya memincing mengarah wanita itu.
"Ibuku ini memiliki kekuatan pembaca batin seperti Hana jadi beliau tahu semuanya. Pembaca pikiran juga termasuk, ekspresi menjadi satu. Jadi ibuku itu orang paling peka."jelas Pandu dan Lidya hanya bisa mengangguk. Kemungkinan besar banyak sekali orang-orang yang sudah memiliki kekuatan.
Gadis itu ingin sekali menuju tempat dimana pintu penghubung dunia nyata dan imajinasi berada. Jika pintu itu tidak cepat di tutup maka banyak sekali kejadian yang aneh dan tidak terkendali. Apalagi Alone Imagination, itu bisa menjadi perkara besar bahwa mereka bisa saja menjadi babu para penjahat agar dunia ini tidak damai.
Wanita itu tersenyum,"bagiamana rasa Lidya ke rumah ibu?"tanya beliau membuat Lidya kaget dengan pertanyaan yang di lontarkan. Tentu saja ia merasa senang disini karena tempatnya nyaman dan luas.
"Senang Te. Apalagi disini ada pemandangan indah di taman belakang. Aku sangat menikmati."jawab Lidya tersenyum.
"Terima kasih,Te."
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Gadis itu turun dari sepeda motor dan bilang terima kasih banyak atas tumpangan serta bertamu dirumah Pandu. Pemuda itu mengangguk. "Ibumu sangat ramah. Dan kenapa kau bilang kalau kuenya datangnya terlambat akan dimarahin. Itu tidak cocok loh dengan wajah murah senyum ibumu."kata Lidya.
"Hehehe. Itu tadi sisi baik ibuku kalau saat mode jahatnya keluar bisa-bisa bahaya."kata Pandu sedikit memelankan volume suara ketika kalimat akhir.
Lidya mengangguk, tidak yakin. "Apa itu benar?"tanyanya mengerutkan kening.
"Tidak juga. Tapi benar kalau ibu sedang marah itu benar-benar menakutkan. Aku tidak mau melihat ibuku marah dan sedih saja."kata Pandu membuat Lidya tersenyum bisa melihat sifat Pandu lebih dekat. Ternyata ia seru juga diajak ngobrol walaupun ngeselin.
Lidya menitipkan pesan kalau jangan lupa datang ke rumah Yusuf saat tahun baru dibalas hormat ke Lidya layaknya komandan. Gadis itu terkekeh melihat Pandu dan mencubit lengannya tidak peduli dengan rintihan kecil.
__ADS_1
"Ini pembalasanku tadi."
"Sakit Lid."
"Biarin."
Setelah mengobrol ringan, Pandu pamit pulang melajukan sepeda motornya kembali. Gadis itu melihat punggung pemuda yang asik tapi ngeselin, semakin lama ia menghilang dari pandangnya. Berbalik berjalan menuju ke dalam rumah.
Awan menghampiri kakaknya yang masih meletakkan alas kaki di rak sepatu. "Tadi siapa? Pacar mbak ya?"tudingnya dibalas pelototan tajam ke Awan.
"SEMBARANGAN KALAU BICARA!"Omelnya volume keras.
Awan bukannya takut dengan amarah Lidya, ia malah memancing emosi kakaknya yang menjadi-jadi. Sekarang kepala Lidya sudah penuh dengan uap dan ia mengejar adiknya itu sampai dapat. Awan berlari dengan riangnya sambil kembali menggoda kalau Pandu adalah pacar Lidya.
Gadis itu sudah geram dan terus berlari mengejar tikus di depannya itu. "Awas saja kau!"
Setelah capek main kejar-kejaran dan adiknya itu susah untuk di tangkap akhirnya Lidya berjalan ke dapur mengambil air es lalu masuk ke dalam kamarnya. Hari ini sangat melelahkan dan sore sudah datang,ia melihat langit sore dari jendela.
"Aku ingin tahu. Seberapa banyak orang yang sudah memiliki kekuatan karena imajinasi-imajinasi itu bersemayam pada tubuh manusia bumi."ucapnya pada dirinya sendiri, mengerutkan dahi--berpikir.
"Auh ah, aku tidak tahu."ucapnya berjalan menuju kasur dan menghempaskan tubuhnya di kasur empuk menatap langit kamar. Ia mengambil guling dan dirangkulnya.
Tiba-tiba saja ia terbayang-bayang kejadian tadi rumah Dewana, Pandu. Pemuda itu dengan santainya menggodanya dan dia juga salah-satu teman yang sudah tahu sifat Lidya sebenarnya, bertingkah seperti anak kecil.
Itu memaluhkan.
Lidya menjerit dan menutupi wajahnya dengan guling di rangkulnya mencoba membuang bayangan itu jauh-jauh.
Di tempat rumah Dewana. Pemuda berambut panjang sebahu itu menatap luar jendela dengan seulas senyum tulus. Hatinya bahagia telah mengajak Lidya bertamu dirumahnya. Dan ia belum bisa mengatakan rasa sebenarnya pada gadis itu,Lidya. Bahwa ia telah menyimpan rasa saat pertama masuk dan menyapa Lidya.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...
__ADS_1
A/n
Halo semua pembaca mangatoon. Kalau kalian suka sama ini cerita tekan like atau tekan Cinta (favorit) jika ada saran atau kirtik silahkan tekan Commentnya nanti aku bakal jawab atas kekurangan atau kelebihan nih cerita. See you:)