Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Episode delapan:Cowok Misterius (1)


__ADS_3

  Cuaca hari ini begitu cerah dibanding hari kemarin sesuai yang di rasakan oleh Lidya. Ia sama sekali tidak tahu mengapa? Hari ini ia begitu senang daripada hari kemarin. Tidak ada efek apapun dan kejadian yang menyenangkan.


"Selamat pagi semua!"sapa Lidya senang melihat keluarganya ikut bahagia di meja makan. Mama tersenyum sambil menyiapkan makanan dipiring lalu meletakkannya di hadapan anak gadis satu-satunya itu.


"Wah senang banget, ada apa nih?"tanya mama menggoda. Lidya hanya menggeleng dan siap menyantap sarapan pagi hari ini,"tidak apa-apa kok hanya senang aja."jawabnya jujur, melahap suapan pertama masuk kedalam mulutnya yang kecil dan imut.


Awan angkat bicara,"oh iya, besok aku disuruh bawa bunga disekolah buat nanam disana dalam program 'penghijauan'."kata Awan memberitahu tugas dari sekolah. Lidya melirik kearah Awan sejenak lalu melahap makanan lagi.


Ayah tersenyum,"nanti bisa kok. Ayah nanti belikan bunga."jawab ayah menyesap secangkir kopi yang tinggal sedikit. Hari cuman bisa menyimak dan memakan sarapan berukuran sedikit jumbo. Terkadang Lidya teheran sendiri melihat porsi makan Hari yang sama seperti porsi makanan orang dewasa. Dan tubuhnya biasa aja tidak ada otot sama sekali.


Hahahaha.


Awan berangkat sekolah terlebih dahulu katanya ia ada yang jemput tak lama kemudian Lidya pamit pegi kesekolah dan tidak lupa mencium punggung tangan ayah dan mama.


"Lidya berangkat dulu ya! Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Mama mengelus rambut Lidya lalu melambaikan tangan ke Lidya sebelum keluar rumah. Jalanan sudah ramai penuh kendaraan yang melaju melakukan aktivitas baru. Lidya tersenyum melangkahkan kaki menuju halte menuju sekolah. Sampai dihalte dan langsung ada bus yang melintas, berhenti di halte. Dengan cepat kedua kaki kurus Lidya naik kedalam bus tersebut disusul orang lain di belakang. Gadis itu melihat ada kursi kosong disana, segera ia duduk di samping wanita paruh baya yang rambutnya sudah putih memakai daster. Ketika Lidya mau duduk, wanita tersebut bangkit berdiri dan turun dari bus. Lidya memandang ibu tersebut lalu naiklah seorang pemuda memakai jaket abu-abu dan memakai tudung kepala. Wajah pemuda itu menunduk ke bawah dan berhenti di kursi yang Lidya tempati seolah tahu, Lidya bergeser dan pemuda itu duduk di sampingnya.


Dalam perjalanan Lidya asik memandang luar jendela bus tanpa menoleh kearah pemuda yang di sampingnya. Ia penasaran banget dengan wajahnya itu? Bus berhenti tepat di SMK Cemerlang. Lidya turun dari bus dan pemuda tadi masih di dalam bus, ia pikir pemuda itu sekolah disini.


Seperti biasa Lidya berjalan sendiri menuju kelas Multimedia. Hari Jum'at ini semua murid terlihat bahagia. Ya hari favorit mereka adalah hari Jum'at dan Sabtu karena dua hari itu pembelajaran sedikit apalagi hari sabtu. Hari sabtu hanya diisi ekstrakulikuler. Ekstrakulikuler yang di pilih oleh Lidya adalah Jurnalis--sebenarnya ia tidak berminat sama sekali dengan Ekstra Jurnalis tapi apa daya hanya itu yang bisa ia pilih. Ia masuk ke jurnalis cuman ingin menulis tidak ingin menjadi reporter.


Tidak masalah sudah dua minggu ini ekstra itu Lidya tekuni bersama Fitri,gadis berambut panjang dan cantik itu. "Hai Lidya!"sapa Fitri saat Lidya sampai diambang pintu kelas. Tersenyum membalas senyuman dan sapaan dari Fitri.


"Lid, bagaimana kabarmu?"tanyanya ketika Lidya berjalan di bangku sambil meletakkan tas dikursinya. "Alhamdulillah baik, Fit. Bagaimana kabar mu?"jawabnya dan kembali bertanya pada Fitri.

__ADS_1


Fitri tersenyum,"hehehe, baik juga kok,"jawabnya tersenyum manis,"eh besok hari sabtu masuk ekstra seperti biasa."katanya menepuk bahu Lidya pelan lalu berjalan menuju bangkunya kembali. Lidya mengangguk.


  Pelajaran sudah dimulai, sekarang waktunya pelajaran pembuatan video. Lidya begitu fokus dengan pelajaran ini karena hobbynya mengedit video apalagi foto. Foto sering kali ia edit karena Lidya perlu itu membuat cover buku di aplikasi orenye. Sudah lama Lidya tidak update cerita lagi padahal di draf sudah menumpuk, tinggal update saja.


Pikirannya memutar kembali pada pemuda yang duduk bersebelahan dengan bus itu. Entah mengapa ia ada aneh saja. Mengapa ia tidak memilih kursi lain padahal tadi ada kursi kosong di belakang. Oh mungkin ia risih karena kursi belakangnya ada bapak-bapak tua. Entahlah.


Guru yang mengajar pelajaran multimedia pembuatan video melihat Lidya tidak fokus ke mapelnya. "Maulidya?"panggil Pak Adam melihat Lidya lekat-lekat. Lidya yang tersadar dari lamunanya  terkejut. Tina,Sarah dan Ferdi terkekeh melihat gadis polos itu.


"Perhatikan pelajaran, jangan melamun!"satu peringatan keluar dari mulut Pak Adam. Dibalas angguk lemah Lidya,"Ma-maaf Pak."ucapnya bersalah.


"Bagus!"


Dalam pembelajaran Lidya begitu fokus dengan pelajaran, ia berusaha tidak berpikir cowok misterius itu. Tina yang duduk dibelakang bangku Sarah, memperhatikan Lidya tatapan sinis. Ia merobek kertas kecil dan menulis kan sesuatu disana,kertas itu ia buat bola dan melemparkan ke Lidya mengenai kepala. Lidya langsung menoleh melihat ke Tina.


Tina menggeleng dan kembali menulis papan. Lidya melihat di bawah kursi lipatan kertas yang tadi mengenai kepalanya. Penasaran, Lidya ambil kertas itu dan membacanya.


Suasana hati Lidya menciut begitu saja, ia merasa khawatir banget. Lidya *** kertas itu menjadi bulat dan membuangnya di bawah meja. Ia membenarkan posisi duduknya kembali mengerjakan soal yang diberikan guru. Hatinya terus bicara supaya tidak berada di belakang sekolah karena terancam.


Selesai mengerjakan tugas, ia membalikkan buku dan menulis sesuatu dibelakang buku kalau nanti pulang sekolah tidak terjadi apa-apa. "Ya allah, tolong aku kalau terjadi apa-apa."gumam Lidya yang terus menulis sesuatu seperti sipnosis kecil di sana. Tapi Lidya silang besar digantikan pertanyaan cukup mudah.


'Bagaimana kalau ada orang yang berharap? Harapan itu bakal terkabul?'


Ia tidak tahu mengapa? Pertanyaan hal konyol ia tulis begitu saja. Lidya gelisah dan khawatir. Satu belum selesai ditambah hal baru. Bel istirahat berbunyi semua murid berhamburan keluar kelas bersama teman sebangkunya. Lidya melihat Tina dan Sarah mengobrolkan sesuatu yang menarik sesekali terkekeh.


Lidya menarik nafas dalam-dalam berusaha tidak khawatir tentang tulisan tadi. Mungkin itu orang-orang jail saja. Ia memasukkan semua barang-barang ke dalam tas, berdiri tegak hendak keluar bangku. Pemuda yang waktu itu membela Lidya saat dibully Sarah dan Tina berjalan melewatinya, tubuh Lidya tiba-tiba merinding.


Aura pemuda bernama lengkap Vin Imanuel sangat negatif bagi Lidya. Tapi murid lainnya tidak menyadari aura dari Vin yang negatif. Apa hanya halusinasi Lidya? Entahlah. Lina sudah berdiri diambang pintu kelas sambil melambaikan tangan ke Lidya.

__ADS_1


Ini waktunya curhat sama Lina-batin Lidya.


Kantin sekolah hari ini begitu sepi dan tidak terlalu ramai seperti hari senin sampai kamis. Tidak tahu kenapa selama hari Jum'at kantin selalu sepi dan hanya beberapa murid saja memilih makan dikantin terkadang mabar sama genk.


Lina tidak memesan makanan ia menunggu Lidya membuka suara karena Lidya daritadi memasang muka murung, khawatir dan lain sebagainya pokoknya campur aduk. Lina menopang dagu dengan kedua tangannya,mengerucutkan bibir memasang wajah lucu sampai rambut yang didepan menutup sebagian wajah cantik Lina.


Lidya mengambil nafas sebanyak mungkin menghilangkan rasa gugup dan takutnya itu. Setelah selesai, ia menatap wajah Lina yang siap untuk mendengarkan curhatan hati Lidya.


"Lin. Lama-lama aku merasa aneh pada murid disini deh dan merasa tidak enak gitu."kata Lidya berwajah murung banget, "rasanya aku ingin pin--"


"Nggak!"putus Lina tegas, berdiri tegak dihadapan Lidya dan membuat murid yang berpenghuni dikantin tertuju di bangku Lidya dan Lina. "Nggak akan aku biarkan! Kau keluar atau pindah dari sekolah ini!"katanya penegas.


Lina duduk di samping Lidya memeluk dari belakang, "mengapa kau berpikir begitu?"tanya Lina serius menyuruh Lidya menatap wajahnya. Lidya mendongak melihat wajah Lina begitu serius terlihat jelas dari auranya kalau Lina memasang wajah serius terlihat menyeramkan sekali. Mungkin bisa menakuti tikus dimalam hari.


Mulut Lidya mengatup rapat tidak ingin Lina tahu apa yang dipikirkannya sekarang. Ini bukan waktu yang tepat. Lina menggoyang tubuh Lidya supaya teman mosnya ini berbicara, ia tidak mau salah satu temannya dimusuhi.


"Kalau kau tidak bicara dengan jujur. Maka aku akan mencari orang yang telah memojokkanmu!"ucap Lina bangkit berdiri hendak pergi mencari orang yang memojokkan Lidya sampai depresi ini. Dengan cepat tangan Lina ditarik oleh Lidya,mencegah dan menyuruh duduk di samping. Lina terkejut pada Lidya, bisa menarik paksa untuk duduk disampingnya kembali.


Lidya menggeleng melarang Lina mencari orang tersebut, ia tidak ingin mereka terluka. Lina cemberut,"tapi mereka itu telah mencemooh dan menjelek-jelekkan mu. Kau jangan terlalu baik deh, sama mereka. Jika aku jadi kau, aku akan menonjoknya."kata Lina mengepalkan tangan kanan, siapapun yang berani padanya maka kepalan tangan ini bakal mendarat di wajahnya.


Lidya tersenyum,"iyain. Kau kan gadis kuat,Lin."katanya.


Lina terkekeh dan menutupi wajah,malu. "Kau ini, Lid. Percaya aja kalau aku ini kuat. Aku tidak kuat seperti apa yang kau kira."jawabnya masih menutupi wajah.


"Eh?"


*Jangan anggap kami lemah*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2