Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Sembilan Puluh: Terkejut Karena Tipuan


__ADS_3

"Kau tidak pantas sekolah di sini!"ucap laki-laki itu menginjak lagi punggung Lidya sampai gadis itu meringis kesakitan. Ia melihat ke arah 4 pasang muda-mudi itu yang seenaknya mengejeknya, menjatuhkan dan sekarang di injak.


Ternyata ada jiwa imajinasi yang sombong dan memandang orang hanya sebelah mata saja. Ini sering sekali membuat Lidya ingin menangis karena kasihan pada mereka, lebih menderita makanya mereka mencari orang yang jauh lebih lemah dari kekuatan mereka untuk menjadikan tempat pelampiasan amarah yang selama ini mereka pendam. 


Kedua matanya terpejam, Pandu dan Aska yang melihat itu melotot. Laki-laki itu terkekeh disusul oleh teman-temannya, murid yang menonton banyak yang kasihan pada Lidya. Tiba-tiba ada benda menghantam kepala laki-laki yang menginjak punggung Lidya membuat semua menganga. Laki-laki itu mengumpat memegangi kepalanya yang sakit, ia menyapu pandang melihat pelaku yang bersembunyi di belakang murid yang menonton penindasan ini.


  Ia tersenyum miring, "Woi siapa yang berani melempar benda ini padaku? Jawab!"teriaknya lantang membawa botol kaleng yang mendarat ke kepalanya. Teman perempuan berambut cokelat juga ikut angkat bicara, "Kalau tidak ada yang mengaku. Aku akan menyerang pelaku itu sebab kekuatan jarumku bisa melukai pelaku yang dalam."ucapnya menantang pelaku.


Saat mereka memerhatikan semua murid yang menonton untuk mencari pelaku. Sebuah portal ungu muncul di bawah kaki keempat pemuda-pemudi tersebut lalu mereka mendengar suara perempuan sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam portal itu.


"Kalian lengah untuk apa kalian menantang musuh jika kalian sendiri saja lengah. Dan menunjukkan sifat sombong terlebih dahulu sebelum melakukan pertarungan. Menyedihkan."ucapnya menusuk hati empat pemuda-pemudi tersebut membuat mereka geram lalu hanyut ke dalam portal tersebut.


  Semua murid yang melihat itu hanya cengo saja kemudian datanglah angin semilir yang dingin menerpah murid-murid itu ketika angin tersebut hilang mereka semua, hilang ingatan dan saling berpandangan. Mereka melihat ke depan seorang gadis berambut panjang bergelombang tengah tersenyum seraya melambaikan tangan.


"Hai semua!"sapanya kemudian semua murid menjalankan aktifitas seperti biasa dan beberapa murid kembali ke dalam kelas. Pandu dan Aska juga saling beradu pandang bertanya-tanya kenapa mereka ada di sini padahal tujuan utamanya ingin pergi ke kantin.


  Kedua pemuda tersebut bertemu dengan Lidya yang tersenyum sumringah nggak tahu kenapa kalau di dekat dengan Lidya mereka berdua ikutan tersenyum.


"Lidya!"panggil mereka berdua kompak, gadis itu menoleh.


"Pandu,Beni. Kalian mau kemana?"tanyanya masih tersenyum.


"Kami mau pergi ke kantin. Apa kau juga mau ikut?"Jawab Beni dan bertanya ke Lidya.


"Makasih. Aku mau ke kelas dulu lain kali aja ya."ucap Lidya tersenyum dan berjalan menuju ke kelas. Ketika Lidya sudah menjauh mereka berdua kembali tersadar dan bingung apa yang barusan terjadi.


   Di kelas No Elements terlihat Arkan dan Cantika tengah mengerjakan sesuatu. Lidya mendekati mereka berdua, "buat apa kalian?"tanyanya.


"Oh Lidya. Kami mau membuat mainan. Ya hanya sebagai hiburan saja, benarkan Arkan."jawab Cantika menoleh ke arah Arkan tersenyum. Pemuda berkacamata bulat itu mengangguk dan tersenyum menatap ke Lidya.


Kelas yang tidak terawat dan tidak ada cahaya penghidupan perlahan ada sebuah cahaya kuning terang masuk ke dalam kelas. Suasana kelas berubah menjadi hidup, awalnya bercat putih kini menjadi bercat biru muda dan papan tulis yang kotor menjadi bersih. Bangku-bangku kelas menjadi lebih enak di pandang.


Arkan dan Cantika melongo melihat tiba-tiba kelas berubah menjadi nyaman seperti ini. Radit juga terkejut padahal ia tengah asik melamunkan sesuatu tiba-tiba bangkunya bergerak sendiri. Lidya tersenyum sumringah, "kalau begini kan enak di pandang."ucapnya terkekeh. Arkan dan Cantika memandang Lidya.

__ADS_1


"Barusan apa?"tanya Arkan menunjuk Lidya.


Gadis itu mengerit,"Maksudnya?"Ia tidak mengerti topik yang di bicarakan oleh dua temannya ini.


"Kekuatan barusan? Kau kan nggak punya kekuatan seperti Arkan."celetuk Cantika di balas tatapan tak percaya oleh Lidya.


"Benarkah?"ucapnya balik membuat Cantika dan Arkan bingung. Apa yang terjadi pada temannya dan berpikir bahwa Lidya hilang ingatan. Arkan menatap ke depan melihat Lidya tersenyum tipis, tidak terlihat seperti biasa. Gadis itu sekarang sering tersenyum biasanya cenderung gelisah, serius dan perhatian tetapi sekarang malah sebaliknya.


Lidya tertawa melihat wajah bingung mereka berdua sehingga membuat Arkan dan Cantika ketakutan sedangkan Radit hanya menatap mereka bertiga tatapan malas. Ini sangat membosankan baginya serta drama di depannya adalah drama membosankan dan bisa di tebak olehnya.


Pemuda tersebut menguap lalu angkat bicara,"Kalian berdua jangan terlalu serius menganggap perkataan dia."komentarnya di balas pelototan Arkan dan Cantika tidak paham yang di maksud oleh Radit.


"Apa maksudmu?"tanya Arkan yang sama sekali tidak mengerti meskipun ia jenius membuat apapun tetapi ia tidak pintar menebak.


"Dia adalah penipu."lanjut Radit malas.


"Jangan bilang sembarangan! Radit. Lidya bukan penipu tahu!"kata Cantika membela Lidya dari pikiran kotor Radit yang seenaknya mengatakan kalau ia adalah penipu. Cantika sangat kenal dengan Lidya, ia adalah adik kelas perhatian dan baik hati.


Ia juga sebagai tali penghubung pertemanan dan sering berkata kalau semuanya memiliki kelebihan hanya saja kebanyakan orang selalu saja memandang sebelah mata. "Jangan membuatku naik darah, Radit!"ucap Cantika mulai geram.


Radit begitu santuy sesekali menguap ia rasa tertular dengan Tya yang sering tidur di jam pelajaran dan pokoknya itu ia sering tidur tidak peduli dengan tempat umum sekalipun.


"Hahahahaha."tawa Lidya membuat Arkan dan Cantika melotot tidak percaya. Tubuh Lidya di keliling oleh kupu-kupu hitam yang entah masuk dari mana kemudian kupu-kupu tersebut menghilang dan sekarang ada seorang pemuda memakai pakaian seperti penyihir berdiri di hadapan mereka.


"Tuh kan aku sudah kata. Kalau dia itu penipu yang profesional dariku."kata Radit sesekali menguap melihat tontonan gratis.


"Hehehe. Maafkan aku, oh iya kalian berdua mungkin nggak kenal sama aku. Namaku Tio Wulan Sandi panggil saja Tio."ucapnya memperkenalkan diri dengan seulas senyum menerka di bibirnya.


"Ke-kenapa bisa? Jika kau bukan Lidya terus Lidya kemana?"tanya Cantika kebingungan.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Perpustakaan yang sangat luas dan megah. Seorang gadis tengah membaca buku dengan serius, suasana senyap seperti ini ia bisa membaca dengan serius seraya berandai-andai membangkitkan semua imajinasinya. Gadis itu sesekali tertawa ngakak membaca buku yang di gemarinya yaitu bergenre Fantasi.

__ADS_1


Bagaimana bisa Lidya berada di dalam perpustakan padahal ia tadi di bully oleh murid karena ia tidak memiliki kekuatan seperti murid yang lainnya. Ini berawal saat Lidya memejamkan matanya dan pelaku bully tersebut sibuk mencari orang yang melemparkan botol kaleng tepat di kepalanya.


Tio berubah menjadi tikus dan menghampiri Lidya, siapapun yang melemparkan botol itu ia akan bertambah kuat. Tio memindahkan nyawa Lidya ke tikus lalu Tio berpindah ke tubuh Lidya kemudian dengan perubahan wujud cepat dan penukaran tempat nyawa membuat siapapun orang tidak menyadarinya.


Tio menyuruh Lidya menuju ke perpustakaan lalu masuk ke celah bawah pintu sedangkan Tio sendiri akan berakting kalau perkataan laki-laki itu adalah kesalahan fatal. Kejadian yang di luar nalar dan keberuntungan Lidya hari ini mendapatkan bantuan dari kelas atas sepertinya ia sudah memiliki banyak teman dari pada dia sendiri.


Ketika Lidya sudah masuk ke dalam perpustakan ia berubah menjadi normal kembali. Mulutnya menganga melihat buku-buku yang tertata rapih. Ia berlari ke sana kemari buat menjelajah sekaligus bersenang-senang di dalam perpustakan.


Seperti itulah ceritanya Lidya akui bahwa kekuatan Tio adalah kekuatan yang sangat hebat. Yang membuat ia bertanya-tanya adalah kenapa ia masuk ke kelas No Elements padahal Tio bisa masuk ke dalam kelas Hero Drakness atau Full Unlimited.


Lidya merasa kalau kekuatan Tio tidak ada habisnya. Perlahan lembaran buku terbuka, mata cokelat Lidya membaca deretan paragraf di buku itu. Keasikan membaca sambil senyum-senyum tipis ia tidak menyadari kalau Tio udah ada di hadapannya menyangga kedua tangan sambil menatap wajah serius Lidya.


"Ekhmm. Sepetinya ada serius membaca nih."ledeknya membuat imajinasinya buyar seketika. Ia melihat pemuda berambut biru itu.


"Tio. Kau udah kembali. Bagaimana ekspresi mereka berempat? Pembully itu."tanya Lidya sangat penasaran apa yang terjadi pada keempat itu.


"Tenang saja. Sudah beres. Ada beberapa orang yang tadi menolongmu secara diam-diam. Entah mereka siapa aku tidak tahu mungkin teman-temanmu dan membantuku bertukar tempat."kata Tio.


"Aku juga telah menipu dua temanmu kalau nggak salah namanya Arkan dan Cantika. Beneran, ekspresi mereka bisa wow sebab aku mengerjai mereka dengan wujudmu."katanya lagi.


Gadis itu sudah tidak tahan tertawa sebab ia membayangkan ekspresi keduanya kalau mereka berdua kena tipu. Serta ia juga kagum mendengar Radit bisa membedakan mana yang tipu dan mana yang asli. Sungguh menakjubkan rasanya ingin begini terus akan tetapi itu tidak bisa.


Takut kalau semua musuh bangkit. Di tempat kantin ada tiga orang pemuda tengah bercanda sesekali serius membahas sebuah misi berbahaya.


"Ternyata itu tujuan mereka. Tapi aku tidak sebegitu mendengarnya keburu di tutup."kata Vin membuka suara.


"Mereka itu berusaha untuk mengubah kehidupan mereka dan takdir mereka. Mana mungkin kan takdir di lawan? Walau ada beberapa yang bisa di ubah kalau masalah menjadi rumit. Biarkan mereka saja yang menanggung sendiri."kata Vin sangat bijak.


Kevin menatap Vin temannya itu sesekali anak kecil bernama Abimanyu. "Abi. Apakah kau bisa cari info Lidya secara rinci?"tanyanya pelan-pelan takut pemiliknya marah.


"Jadi kita harus menghentikan anak buahnya terlebih dahulu sebelum ratunya."kata Kevin serius. Seulas senyum terukir jelas di wajah Vin ia sangat setuju.


*Jangan Anggap Kami lemah*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2