Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Tujuh Puluh Sembilan: Pertarungan Sengit A&J


__ADS_3

"Pounding Ice!"seru Melviano memukul tanah menciptakan tumbukan ice menuju ke Alvan.


  Pemuda tersebut menghilang dalam sekejap dan berdiri di atas es yang diciptakan oleh Melviano. Melvi berdecih kesal kekuatannya menjadi sampah di hadapan Alvan.


Aska melihat strategi dari matanya untuk menyelamatkan keempat temannya yang berada di genggaman aura hitam Alvan.


   Beni saat ini masih belum berada di posisi utama karena kekuatan tembus pandangnya belum pernah ia latih. Dalam hati Beni menyesali tidak pernah melatih kekuatannya sejak awal kalau akhirnya ia harus berhadapan lawan yang lebih kuat.


"Kalian tidak ada apa-apanya di depanku. Kekuatan kalian lemah dan aku akan menghabisi kalian semua pemilik kekuatan lemah hahaha."ucapnya tertawa jahat, ia meluncurkan banyak serangan dengan sigap mereka berenam menghindar.


  Aska menjelaskan ke semua temannya seraya menghindari serangan lawan. "Kita harus mengalihkan perhatiannya dengan cara menyerangnya supaya ia tidak fokus pada empat orang di sana."jelasnya dibalas angguk mereka berlima mantap.


"Pedang Ice!"seru Melvi mengeluarkan pedang ice dan memulai mengancang-ancang  kuda bertarung.


  Alvan kembali menyerang mereka berenam bersamaan. Melvi dengan cepat menebas aura hitam yang tidak ada habis-habisnya malah menjadi lebih pekat dari sebelumnya dan kelompok Jay terus menerus menghindar tanpa melawan sebab mereka tidak memiliki senjata seperti milik kakak kelasnya.


"Percuma saja kau menebas kekuatanku ini hahahaha. Tidak berguna!"ucapnya angkuh mengeluarkan aura yang semakin menguat membuat Aska, Melvi, Pandu, Beni, Jay dan Nando terjebak di kekuatan hitam tersebut. Seolah ada kekuatan gravitasi.


Alvan menatap mangsanya tersenyum penuh kemenangan dan tajam. Ia memulai memasukkan aura hitam yang pekat masuk ke tubuh mereka. "Sebentar lagi, kalian akan mati di tanganku."ucapnya.


"Arggh!"ringis mereka dan berusaha memberontak namun usaha mereka sia-sia.


  Sebuah cakra biru datang begitu cepat dari arah belakang dan hampir mengenai kedua telinga Alvan. Pemuda itu terkejut, kedua matanya membulat sempurna menyadari kalau ada seseorang menganggu ke fokus an-nya dan melihat kedua cakra yang hampir mengiris daun telinganya melayang ke udara.


   Lalu di lantai atas muncul seorang gadis berambut panjang terurai menangkap dua cakra menatap Alvan penuh kebencian.


"Cih, siapa yang berani ikut campur dengan urusanku? Beraninya kau!"ucapnya geram mengeluarkan jari aura hitam mengarah ke gadis tersebut. Sebuah tumbuhan tiba-tiba tumbuh menghalangi kekuatan Alvan membuat Alvan terkejut.


  Aska dan lainnya tersenyum melihat Tera berhasil menghalangi aura hitam tersebut. Gadis berambut pendek itu keluar dari balik pohon menatap datar Alvan.


"Kau sendirian Alvan. Jadi kau lebih baik menyerah dan kekuatan mereka dari kekuatanmu yang mengerikan itu!"titah Tera menunjuk ke Alvan.


  Pemuda tersebut menyeringai melihat ada mangsa yang lebih unik daripada mangsa yang udah ia dapatkan tinggal menghabisi mereka atau menjadikan sebagai budak.

__ADS_1


"Tidak kusangka ada mangsa yang menarik jadi aku akan menghabisimu terlebih dahulu."ucapnya mengeluarkan kekuatan aura hitam membentuk tumbuhan yang menyeramkan. Alvan menunujuk mengarah ke Tera.


  Dua pohon tersebut mengeluarkan suara menyeramkan lalu berlari kecil mengarah ke Tera. Gadis tersebut mengeluarkan akar tumbuhan yang berjumlah banyak mengarahkan ke arah dua pohon tersebut. Dua pohon itu berhasil Tera lilit kemudian menghilang seperti abu membuat senyuman Tera terlukis.


  Alvan berdecih ia juga mengeluarkan aura hitam membentuk sama dengan Tera. Selama mereka bertarung dan tidak fokus dengan lainnya. Anggi mengeluarkan empat cakra sekaligus memotong aura hitam yang menangkap empat temannya.


  Alvan terkejut menoleh melihat empat tahanannya berhasil terlepas. Lalu sebuah kilatan seperti cahaya menangkap keempat anak itu dan membawanya pergi.


"Cih!"ia kembali menatap gadis di depannya yang sudah kehabisan tenaga. Ini adalah peluang bagus dan sebentar lagi ia akan menghabisi 7 orang sekaligus dalam artian berhasil membunuh 7 imajinasi.


 


  Yang pasti bosnya bakal senang apalagi target utama, imajinasi yang menjadi pembunuh bos ikut terbunuh. Ia sama sekali tidak tahu, yang mana target di maksud itu terpenting lainnya adalah ia pokoknya berhasil membunuh anak yang memiliki kekuatan tersebut.


Alvan mulai menyerang kembali mengarah ke Tera, gadis itu melotot melihat kekuatan besar dari aura hitam ia tidak bisa mengeluarkan kekuatannya lagi sebab ia sudah lelah. Mata Tera terpejam tidak mau melihat akhir hidupnya.


"Tera!"teriak mereka bertujuh bebarengan, mereka tidak bisa berbuat apa-apa sebab terjebak aura hitam milik Alvan.


  Anggi dan Fitri menoleh ke sumber suara melotot, tidak sempat menyelamatkan Tera.


Suara keras tercipta membuat semua orang memejamkan mata tidak ingin melihat secara jelas. Aska sudah kedua kalinya melihat ini secara langsung setelah Yusuf sekarang giliran Tera. Entah kenapa ia tidak bisa lepas dari aura hitam ini padahal ia bisa menyerap kekuatan aura hitam. Aska mencoba untuk keluar.


"Argg, kenapa aku tidak bisa keluar? Kekuatanku terasa mati!"ucap Aska bersikeras keluar dari aura hitam.


  Beni melihat Aska berkata,"matamu sudah tidak abu-abu lagi, Ka. Makanya kamu tidak bisa menggunakan kekuatamu."


"Apa!"pekiknya lalu berkata lagi,"Jadi ada sesuatu yang sama sekali tidak ku ketahui tentang kekuatan aura hitam ini."


Melvi berteriak kencang ingin keluar dari aura hitam yang menyebalkan ini serta mencari tahu pelaku dibalik semua kekacauan yang telah aura hitam buat.


"Aku tidak akan mengampuni kalian!"


Alvan melihat keenam mangsanya menggeleng pelan, mereka sangat bodoh berusaha keluar dari aura hitam sangatlah tidak mungkin. Karena kekuatan yang berada di dalam tubuh Alvan adalah kekuatan milik Meika yang sudah lama tertanam di tubuh Alvan.

__ADS_1


Ketika kekuatan itu keluar begitu banyak artinya aura hitam tersebut tertanam sempurna dan selevel dengan kekuatan Meika. Di tempat lain Meika sangat senang bisa menjebak keeenam pemuda pemilik kekuatan imanjiasi serta berhasil membunuh seorang gadis yang seenak jidat menyuruhnya untuk kalah.


"Aku tidak akan kalah denganmu gadis bodoh! Karena kebodohanmu, kamu harus mati bersama imajinasi yang singgah di tubuhmu hahahaha!"ucap Meika tertawa jahat menatap kejadian yang berlangsung di SMK Cemerlang dari bola mengkilap.


  Di sebelah Meika ada seorang gadis lain tersenyum tipis,"aku akan membantumu dengan cara memainkan sebuah boneka bertarung."ucapnya terkekeh geli.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


   Kedua mata tajam milik Alvan mengarah ke asap akibat serangannya itu lamat-lamat mencoba memastikan kalau mangsa uniknya tersebut sudah mati tepat di genggamnya. Asap-asap itu perlahan menghilang, kedua matanya melebar melihat ada dinding besar hitam yang menghadang serangan besarnya.


  Tidak mungkin serangan besar itu terhalang hanya karena dinding hitam tersebut. Sungguh tidak mungkin.


"Sorry, aku terlambat datang. Jujur, saja sih ini merepotkan melawan lawan yang tidak jauh beda dari kekuatanku."ucap seseorang berjalan dengan santainya masuk ke lapangan yang kini menjadi area pertarungan besar-besaran. Matanya melihat sekeliling betapa banyak kerusakan-kerusakan bangunan akibat serangan dari lawannya.


"Kau tidak buruk juga ternyata."komentarnya terkesan mengejek.


"Kau mengejekku ka ha! Adik kelas laknat!"serunya kesal mengepalkan kedua tangan yang tiba-tiba terangkat seperti dikendalikan seseorang. "Apa karena kau berhasil menghadang jalanku dengan membangun dinding hitam itu. Kau bisa mengejek seenaknya!"lanjutnya membentuk aura hitam menjadi Palu besar.


  Sekuat tenaga Alvan menghantam Palu tersebut ke tanah membuat sebuah guncangan besar. Beberapa bagian gedung mulai runtuh dan genteng-genteng tergeser sampai ada yang jatuh.


"Hantaman Palu aura hitam!"seru Alvan kembali menghantamkan Palu ke tanah membuat guncangan sama-sama besar. Vin kehilangan keseimbangan akibat guncangan kuat ia jatuh dan sikut kananya tergores sedikit.


Alvan menghantam palunya bertubi-tubi membuat gedung sekolahan hampir roboh. Semua orang yang ada di kelas masing-masing saling berpelukkan dan berdoa agar terlindungi dari bahaya. Lidya yang diam saja merasa takut. Takut kalau teman-temannya terluka apalagi suasananya semakin buruk.


  Ia harus melakukan sesuatu, Lidya mengambil ponselnya kemudian membuka aplikasi dunia oranye. Membaca kembali buku faded ia mendapatkan feeling bahwa ada kaitannya dengan cerita Faded karyanya. Ia sudah membuat 2 buku faded dan buku keduanya masih bisa dibilang menggantung.


Jika ada kaitannya di buku karyanya berarti memang ia harus benar-benar ikut terlibat mengurusi imajinasi yang membuat ia kualahan. "Kita mulai Lidya tunjukkan kalau kau adalah seorang penulis sejati."ucapnya dalam hati.


  Lidya berjalan menuju tengah lapangan tempat perkelahian yang baginya tidak ada ujung-ujungnya. Dalam pikiran gadis itu ia ingin mengakhiri semua ini dan tidak ada kelanjutan buku lagi yang artinya memang sudah tamat. Awan hitam semakin lama semakin pekat dan gelap.


   Seluruh wilayah menjadi takut dan terus berdoa serta menjadi perbincangan di breaking news. Lidya harap orang yang memiliki kekuatan seperti teman-temannya tidak menjadi sorotan publik cukup kekuatan dari musuh saja yang berhasil, jangan imajinasi baik ikutan juga.


  Fitri dan Anggi melihat Lidya berjalan ke tengah lapangan terkejut, apa yang di pikirkan oleh Lidya. Fitri ingin berlari membawanya ke tempat aman, Anggi menepuk bahu Fitri pelan dan menggeleng. Mereka berdua terpaksa memerhatikan dari kejauhan apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung...


__ADS_2