
Liburan panjang semeseter ganjil bisa dibilang liburan panjang menyenangkan. Namun, tidak seperti Lidya rasakan. Baginya liburan panjang setelah berkemah seminggu lalu sesuatu yang membosankan. Ia sering sekali di suruh membeli sesuatu dan paling sering adalah tidak melakukan apapun selain tidur, mencatat apa yang ada dipikirannya dan mengingat-ingat jumlah murid SMA Negeri satu yang banyak sekali murid memiliki kekuatan tidak terduga itu.
Suasana di luar sangat panas membuat tenggorokan mudah kering karena panasnya 30 derajat celcius. Lidya telah menghabiskan tiga botol,merasakan seperti haus darah. Sekali lagi menghela nafas panjang dan beranjak dari kursi belajar menutup jendela dengan tirai supaya sinar matahari tidak masuk ke kamarnya. Duduk kembali melipat kedua tangan di atas meja, tidak melakukan apapun. Keheningan melanda hanya ada suara detik jam.
Tik tik tik.
Lidya mengecek laci meja belajar mengambil kertas yang ada di dalam sana. Lembaran putih dan diambilnya pensil dari tepak. Pensil menari-nari diatas kertas putih itu,mata Lidya dengan telitinya menggambar sesuatu yang menariknya.
Ia tidak mood menggambar tapi hati kecilnya yang terus menerus meminta buat menggambar. Terpaksa Lidya menggambar sesuai apa yang hati dan pikiran kata. Setengah jam sudah berlalu diletakkan pensil tersebut dan melihat apa yang Lidya gambar.
Sosok seorang gadis cantik berambut lurus,menggemaskan memakai gaun pesta yang bagus, raut wajahnya yang datar menatap lurus ke depan. Dahi Lidya mengerit dalam hatinya terus bertanya mengapa ia bisa menggambar seorang gadis cantik dengan wajah menatap lurus ke depan.
Merasa capek ia mengemasi barang-barangnya kembali ke laci meja belajar lalu berjalan menuju kasur empuk. Membaringkan tubuh kecilnya di atas kasur nyaman, menarik selimut menutupi separuh badannya kemudian memejamkan mata perlahan dan terlelap tidur.
Di luar sana sangat sepi dan cuaca begitu panas, orang-orang memilih untuk berdiam diri di dalam rumah daripada keluar rumah. Pedagang minuman sangat laris seperti kacang goreng. Angin berhembus kencang membuat daun-daun bergoyang dan berjatuhan.
Letak di mana perkemahan yang pernah di tuju oleh beberapa sekolah dipilih mengikuti perkemahan gratis. Tanah tiba-tiba berguncang hebat ketika lokasi Drak Shadows 36 keadaan sepi tidak ada seorang pun di sana. Papan peta besar ambruk, daun-daun berjatuhan, sungai mengalir begitu derasnya. Di dalam bawah tanah seorang gadis bertubuh kumuh dengan kedua tangan dan kaki terikat penuh akar menjalar. Ia mengerang kesakitan mengeluarkan energi yang sudah mengumpul dalam dirinya.
Keluar aura hitam dari seluruh tubuhnya akar-akar yang mengikat tangan dan kakinya terlepas. Tanah terbelah menjadi dua bagian bersamaan keluarnya aura hitam yang pekat. Satu tangan mencoba meraih sesuatu pegangangan dan berhasil memegang batu lalu tubuhnya diangkat mencoba naik. Mata gelapnya memandang sekitar, bangkit berdiri dan mengambil beberapa daun untuk dijadikan baju.
Setelah mengubah daun-daun itu menjadi baju seperti dress. Aura hitam pekat perlahan memudar dari tubuh mungilnya, mata hitam pekat perlahan menjadi sedia kala yaitu mata cokelat gelap lentik nan kalem namun tajam, hidung mancung, bibir merah muda cantik,rambut panjang yang tergerai bebas dimainkan oleh angin berhembus kencang.
__ADS_1
Seulas senyum miring terlukis di wajahnya, arah mata cokelatnya melihat sekeliling yang nampak berbeda sekali sebelum ia diikat oleh pangeran tumbuhan dan tertimbun tanah yang mengubur dirinya dalam keadaan diikat akibat kekuatan tumbuhan, Johnny Evans.
Berkat anak-anak yang kemarin berkemah disini serta orang-orang yang duduk buat kamping atau berfoto mengunjungi lokasi ini. Ia ingin mengucapkan terima kasih banyak karena berkat mereka, perkataan benci terhadap seseorang atau perasaan tidak suka membuat energinya perlahan berkumpul. Semakin banyak orang membenci dan perasaan tidak suka ia akan menyukainya.
"Aku akan menghancurkanmu pangeran. Selama aku bertempur denganmu kau beraninya mengalahkan Tomma. Yang dikenal kejam dan sangat menyukai nama kehancuran. Aku akan membuat semua orang di sini membencimu bersama teman-temanmu sekalian. Karena dunia imajinasi sudah berubah menjadi nyata!"ucapnya bernada kesal mata menatap ke depan penuh pembalas dendam dan tidak ingin kejadian masa lalu terulang kembali. Menghela nafas kasar, "termasuk planet Elementer yang di ciptakan oleh gadis yang sama seperti dulu di tahun 2017."lanjutnya tertawa jahat membuat semua burung terbang mencari tempat baru dan nyaman.
Keringat dingin merembes di pelipis gadis yang tertidur pulas. Matanya berusaha untuk memejamkan mata dan posisi tidurnya berpindah-pindah,ke kanan dan ke kiri mencoba tidur nyenyak. Tetapi tidak bisa. Nafasnya mulai naik turun. Bayangan-bayangan menyeramkan terbayang dalam pikirannya,kedua telinganya samar-samar mendengar sesuatu.
Bayangan-bayangan yang sama sekali sepenuhnya tidak terlihat jelas masih buram tetapi gerakannya perlahan terlihat dan suara jeritan,pijakan kaki cepat--orang berlari serta suara seperti bom terdengar jelas.
Dom.
Dinding runtuh menghantam ke tanah membuat menjadi beberapa kepingan. Suara itu...masih tergiang di kedua telinga Lidya, tangan kanan meremas kuat selimut yang menyelimuti tubuhnya. Kepalanya menoleh ke kanan-kiri berusaha mengusir bayangan dan suara mengerikan darinya.
"Itu siapa?"suara gadis lain dengan nada bingung, heran dan menghela nafas kasar seolah beban yang dulu sudah selesai dan kini ada masalah beban baru datang.
"Tomma?"ucap seorang pemuda terdengar tidak percaya apa yang dilihat olehnya.
"Kau masih berutang tempur denganku, Pangeran!"teriaknya semakin menantang pada pangeran.
Tangan Lidya meremas kuat selimutnya, nafasnya naik turun, bibir kecilnya terbuka sedikit lalu berteriak kencang.
__ADS_1
"Argh!!"erangnya keras dalam kamarnya. Dengan paksa kedua matanya membuka lebar dan berganti posisi menjadi duduk.
Jantungnya berdebar-debar, keringat dingin menguncur deras di pelipis,mata terbelalak shock dengan apa yang terjadi beberapa menit lalu. Suara nafas terdengar jelas.
"Hhh!"
Pintu kamar terbuka lebar disana berdirilah wanita paruh baya dan kedua adiknya; Awan dan Hari. Wanita tersebut berlari kecil duduk di samping anak gadisnya itu memeluknya bentar. Tangannya memegang kedua pipi Lidya menyuruh menatap wajah mama.
"Kamu kenapa? Kenapa kau tadi berteriak kencang sampai kedengaran dari luar!"ucap Mama khawatir dan mengecek seluruh anggota tubuh Lidya bahwa anak gadisnya itu tidak terjadi apa-apa. Lidya yang masih shock dengan kejadian barusan berusaha untuk menenangkan diri dan menjawab pertanyaan dari mamanya.
"A-aku tidak apa-apa kok ma. Ha-hanya mimpi buruk."ucap Lidya gugup, bibir masih gemetar karena ketakutan yang luar biasa. Baginya mimpi barusan sangat menyeramkan meskipun samar-samar tapi rasanya itu nyata. Ia seolah pernah melihat kejadian itu tepat di depan matanya.
Awan menyodorkan segelas air putih ke kakaknya tersebut. "Minumlah air ini supaya bisa menenangkanmu."ucapnya. Lidya menerima sodoran gelas air putih dari adiknya lalu meminumnya sedikit dan kembali ke tangan Awan.
Mama menghela nafas lega kalau anaknya tidak terjadi apa-apa, ia memegang dada ada rasa syukur di sana dan matanya melihat ke atas lega. Benar-benar lega.
"Syukurlah tidak apa-apa. Kalau ada apa-apa bilang aja ke mama."ucapnya lagi dan memeluk Lidya. Ketika mama dan kedua adiknya pergi keluar kamar. Lidya menyentuh jantungnya yang masih berdetak kencang, pikirannya berputar kembali tapi tidak bisa.
Rasa kekhawatiran melanda. Lidya berusaha berpikir positif bahwa semua itu hanya mimpi buruk semata dan tidak akan terjadi apa-apa baik dirinya maupun teman-temannya terutama Tera. Karena Tera memiliki kekuatan tumbuhan serta pangeran juga disana,di dalam raga Tera.
'Ya allah, jaga Putih. Jangan sampai ia kenapa-napa dan jangan sampai mimpi burukku adalah petaka bagi teman-temanku yang memiliki kekuatan dan yang tidak memiliki kekuatan. Itu sangat menyakitkan.'---batin Lidya berharap.
__ADS_1
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...