
"Kamu cewek semalam yang kuantar pulang?" Tanya Alex berbinar. Ia tidak menyangka gadis yang mencuri hatinya semalam adalah mahasiswi sekampus dengan nya.
Seketika senyum Alex mengembang. Hatinya berbunga- bunga memandang kepolosan Kayra.
Kayra hanya mengangguk. Ia merasa tidak nyaman berduaan dengan Alex.
"Apa yang kamu bawa?" Tanya Alex saat melihat Kayra membawa sekuntum mawar di tangan nya.
Dengan kesal Kayra menyerahkan mawar pada Alex. Namun Alex mengacuhkannya. Ia sengaja ingin berlama-lama ngobrol dengan Kayra.
Kayra memutuskan untuk pergi menjauhi Alex. Membuat Alex tidak habis pikir. Ia dijauhi seorang cewek? Padahal selama ini pesona nya selalu bikin cewek-cewek di kampus bertekuk lutut padanya. Bahkan banyak yang rela hanya menjadi pengagum rahasianya.
Tapi gadis ini? Ia memang gadis yang istimewa. Berbeda dari cewek- cewek lain nya. Ia seperti seekor rusa liar yang menantikan pemburu untuk menakhlukkannya.
Alex tersenyum miring. Ia mulai mempersiapkan jurus-jurus jitu untuk menakhlukkan Kayra. Mudah bagi Alex untuk mengetahui nama maupun jurusan yang diambil Kayra.
Sekarang nama Kayra sudah dicatatnya dalam buku kecilnya. Sekarang juga Kayra sudah masuk dalam deretan gadis yang akan diburunya. Ia membuat panggilan kepada beberapa temannya.
Alex menginstruksikan beberapa perintah. Setelah ia selesai menghubungi beberapa temannya ia tersenyum penuh kemenangan seakan- akan apa yang direncanakan nya sudah terlaksana.
Sementara Kayra sudah berlari menjauh dari Alex. Ia mendapat tanda bahaya saat berdekatan dengan nya.
Alex dengan wajah ganteng, senyum tulus juga posisinya di kampus sebagai ketua Badan Eksekutif Mahasiswa. Secara kasat mata ia terlihat sebagai cowok penuh karisma. Namun aneh nya Kayra mendapat sinyal aneh saat di dekatnya.
__ADS_1
Sinyal itu memberikan pengertian pada Kayra. Meskipun Kayra tidak tahu bagaimana ia bisa mengetahuinya. Kayra menangkap sesuatu yang mistis dan kelam. Bahkan ia mendapat penglihatan bagaimana Alex memegang pisau bedah yang berlumuran darah.
Kayra tidak bisa berlama- lama berdekatan dengan Alex. Karena pengihatan mengerikan itu terus datang, membuat perutnya seketika merasa mual.
"Kay.... tunggu... mau kemana?" Teriakan Tia menghentikan nya. Kayra pun berhenti. Ia juga tidak tahu mau kemana. Karena tadi ia spontan berlari saja hanya untuk menjauhi Alex.
Lagi- lagi, Kayra harus menyimpan rahasia sendiri. Ia tidak berani berbagi rahasia dengan orang lain. Itulah yang membuat beban yang dipikulnya terasa makin berat. Andaikan ia bisa mempercayai satu orang saja. Yang jelas bukan dengan Tia. Karena Tia juga punya rahasia terselubung.
"Mau kemana Kay? Kenapa kamu tiba-tiba lari?" Tanya Tia merasa aneh dengan tingkah laku Kayra. Ada yang berbeda dengan Kayra yang dihadapi nya sekarang. Saat ini Kayra menjadi pemurung dan seperti orang linglung.
"Ke kantin aja yukkk... sekalian mengisi perut!" Ajak Tia.
Kayra menurut saja pada ajakan Tia. Mereka berjalan bergandengan menuju ke kantin. Saat mereka baru tiba di kantin, ada yang mengawasi Kayra dengan hati was-was.
Kayra menoleh menatapnya. Ia melihat kearah Devi. Lagi- lagi hari ini Devi mengenakan baju bernuansa pink. Memang tepat nama yang diberikan Kayra kepada tiga cewek itu. 'genk pink' sesuai dresscode mereka.
Kayra mencoba mencari dua personil genk pink. Tapi ia tidak menemukannya dimanapun. Ia tidak sadar mendesah. "Tumben tiga sekawan terpisah." Dengus Kayra kesal membayangkan perbuatan genk pink kemarin pada nya.
"Siapa Ra..." Tanya Tia penasaran. Rupanya ketidakhadirannya sehari, banyak kejadian yang terjadi.
"Itu... personil genk pink. Mereka kemarin mengerjaiku." Kata Kayra datar. Mereka memesan makanan dan minuman. Yang segera diantarkan ke meja mereka oleh seorang pelayan.
Saat pelayan itu pergi, Kayra melanjutkan ceritanya. "Mereka menyekapku di gudang. Untung ada seseorang yang membukakan pintu. Sehingga aku tidak perlu bermalam di sana." Sekarang ada nada kesal dalam kata-kata Kayra. Ia kesal mengingat bahwa tiga sekawan itu telah memukulnya dengan keras. Ini berarti mereka tidak main- main dan memang bermaksud untuk mencelakainya.
__ADS_1
"Mereka menyekapmu? Apakah sesuatu terjadi sebelumnya?" Tanya Tia mengintrogasi Kayra.
"Semua berawal karena aku menempati bangku mereka. Itu membuat mereka kesal dan melampiaskan kemarahannya dengan menyekapku." Kata Kayra kembali tenang.
"Kusamperin cewek itu, biar ku kasih peringatan. Tidak ada yang boleh menyakiti sahabat ku." Kata Tia berapi-api.
"Tia... itu tidak perlu. Mereka nanti pasti kena getahnya sendiri. Tidak selamanya kejahatan mereka dapat disembunyikan." Kata Kayra menenangkan Tia. Tia bisa menerimanya, bagaimana pun ia harus berhati-hati dalam bertindak kalau tidak mau rahasianya terbongkar. Sehingga apa yang diusahakannya selama ini akan sia-sia.
Kayra dan Tia kembali tenggelam dalam keasyikannya sendiri. Mereka menikmati makanan dan minuman pesanan mereka.
Ada seorang cowok dari jurusan Hukum membawa sebuket bunga mawar dan diletakkannya di atas meja Kayra. Membuat Kayra dan Tia cukup terkejut.
"Apa ini?" Tanya Tia pada cowok itu.
"Ini bunga. Apa kamu tidak bisa melihatnya?" Goda sang cowok.
"Ya... aku tidak bisa melihat kalau itu bunga, karena dimataku itu terlihat seperti sampah?" Sindir Tia pedas.
"Nona cantik... tunggu nanti giliran mu. Bunga ini spesial dikirim untuk Kayra dari Alex sebagai ucapan karena semalam telah menemaninya jalan-jalan. Gak nyangka ya... teman mu itu gerak cepat. Baru beberapa hari sudah bisa menakhlukkan Alex sang ketua BEM." Cerocos cowok alay yang mengirim bunga. Membuat Kayra jengah.
Tia hanya memandang penuh selidik pada Kayra. Ia tidak percaya, mana mungkin Alex sang ketua BEM mengirim bunga pada Kayra. Apakah profil yang dibuatnya tentang Alex salah? Alex sangat ramah kalau urusan profesional tugasnya sebagai ketua BEM namun untuk urusan cewek ia sangat dingin. Jadi mana mungkin Alex memberikan bunga pada Kayra.
Tia memperhatikan Kayra yang berubah jadi serba salah. "Hemmm pasti telah terjadi sesuatu antara mereka." Pikir Tia. Ya sehari ia tidak datang ke kampus membuatnya ketinggalan info pada peristiwa yang terjadi di kampus.
__ADS_1
Seandainya kemarin ia tidak mendapat panggilan mendadak untuk wajib lapor pada atasan nya. Ia pasti bisa mengantisipasi sehingga Kayra tidak perlu menghadapi kesulitan sendiri. Ia jadi merasa bersalah. Ibu Jessie beberapa waktu lalu juga memberikan perintah padanya untuk menolong menjaga Kayra. Namun rasa bersalahnya bukan karena perintah bu Jessie namun karena Tia sudah nyaman bersahabat dengan Kayra. Sehingga ia pun merasa bertanggung jawab dengan keamanan sahabatnya.