
Hari minggu ini benar- benar merepotkan bagi Kayra. Saat serombongan team EO datang ke rumah. Mereka membuat banyak keributan dan berantakan dimana- mana. Sementara ia punya setumpuk kerjaan yang sudah diberikan Neta dari pagi.
Melihat kesibukan team EO, membuat Kayra penasaran ingin tahu apa sebenarnya yang sedang mereka kerjakan.
Namun Kayra tidak berani untuk mendekati mereka. Sesekali Kayra sembunyi-sembunyi mengintip mereka dari dapur.
Ada enam orang anggota EO, dua orang perempuan dan empat orang pria. Mereka sangat kompak, sambil bekerja mereka saling melempar candaan. Kayra mencuri- curi dengar dan ia pun senyum- senyum sendiri mendengarnya. Dia merindukan suasana seperti ini. Yang tidak pernah lagi ia rasakan semenjak ayah nya meninggal.
Sejenak Kayra terbawa pada kenangan bersama ayah nya jauh sebelum kehadiran Neta dan Cerry dalam hidup mereka. Dimana suatu sore sepulang ayah nya bekerja, Kayra membuatkan bakwan sayur kesukaan ayahnya. Hari itu ia baru pertama kali belajar memasak. Dia membawakan sepiring bakwan panas. Ayahnya begitu senang melihat usaha putrinya. Dengan antusias segera mengambil satu bakwan dan memakannya. Namun saat mengunyah, raut muka ayahnya berubah. Kayra penasaran " Gimana... pa... enak?"
"Hemmmm... enak" sambil terus melanjutkan kunyahannya sampai habis sepotong bakwan.
Kayra penasaran karena saat ia memperhatikan raut muka ayahnya sepertinya, ayahnya tidak jujur. Ia segera mencomot sepotong bakwan dan mengunyahnya, ia sangat kaget mengetahui rasanya sangat asin. Spontan dimuntahkan kunyahannya. "Hwek.... gak enak, asin banget... kenapa Ayah tetap memakannya?" Tanya Kayra penasaran.
"Masakan anak ayah pasti enak, gak apa sedikit keasinan, inikan pengalaman pertamamu masak." Jawab Mahendra sambil mengelus rambut panjang Kayra.
"Ah...ayah bohong, ini gak enak rasa garam. Udah mending Kayra buang aja." Sambil meraih piring hendak dibuang.
"Jangan dibuang, ini masakan spesial anak ayah, nanti ayah mau habisin. Dan lebih enak lagi kalo ditemani teh manis hangat."
Kayra segera berlari kedapur. Bik Sari yang sedang berada di dapur segera menjumpainya dan bertanya. "Ada yang bisa saya bantu non?"
"Ayah mau minum teh Bik, tapi biar aku aja yang buatin." Sambil sibuk menakar gula, Kayra berkata. "Bik.... ajari Kayra masak ya. Mulai besok Kayra mau belajar masak."
"Kalau non Kayra sudah pandai masak, bibik masakin siapa?" Gurau Bik Sari.
__ADS_1
"Kayra khusus masakin ayah, bibik masakin buat aku, bik Surti, mbak Rina, bik Dina,pak Toni sama Mang Danang." jawab Kayra ketus. Merekapun tertawa.
Kayra kembali ke ruang keluarga sambil membawa dua cangkir teh manis. Mereka bercerita dan bergurau, hingga tak terasa sepiring bakwan keasinan buatan Kayra ludes tak tersisa. Sungguh indah kenangan Kayra bersama ayahnya. Tak terasa sebutir air mata menetes dari sudut matanya. Kalau boleh jujur, ia sangat merindukan sosok ayahnya. Kayra ingin sekali mengunjungi pusara ayahnya. Namun apa daya kerjaan yang tak habis- habisnya selalu menghalanginya.
Lamunan Kayra mendadak buyar saat ia mendengar ada mobil memasuki halaman rumah. Seketika ia takut kalau-kalau itu mobil ibu tirinya. Bergegas, ia mulai menyibukkan diri merapikan kulkas. Namun kegiatannya terhenti saat ada seseorang yang menyapanya.
"Mbak.... maaf bisa minta tolong pinjam piring, sendok, gelas dan kalau ada es batu?"
Suara yang familier ditelinga Kayla, ia segera menoleh. Ya... Cowok cakep yang bertemu dengannya beberapa hari lalu di jembatan dekat pemakaman ayahnya. Cowok yang selalu mengisi lamunannya, Yang menghadirkan mimpi indah saat tidurnya. Hingga mimpi buruk yang biasanya selalu datang, tak lagi ada tempat dalam ruang mimpinya. Seketika Kayra terpaku dalam diam, terpesona. Tanpa disadarinya meluncur bisikan dari bibirnya.
"Dariel...."
Rupanya cowok itu juga mengalami hal yang sama. Sesaat ia terpaku seakan tak percaya, akhirnya ia bertemu kembali dengan cewek cantik yang sudah beberapa hari ini telah mengusik harinya.
"Kayra...."
Hingga Dariel memberanikan diri "Kayra, kamu tinggal di sini?"
"Iya, saya kerja di sini." jawab Kayra sambil menunduk. "Tadi kamu minta tolong apa?" Tanya Kayra mengingatkan Dariel pada tujuannya menemuinya di dapur.
"Oh ... i.....ini, aku bawakan makan siang dan minuman ringan untuk rekan- rekan ku yang sedang kerja. Jadi mau pinjam piring, sendok dan gelas." jawab Dariel sedikit gugup sambil menunjukkan bungkusan plastik besar di tangannya.
"Sebentar aku siapkan ya..... tunggu di depan aja!" Kayra segera menyiapkan permintaan Dariel. Dariel tidak beranjak dari tempatnya. Ia asyik mengamati Kayra yang sedang menyiapkan permintaannya.
Dariel sangat bahagia, akhirnya ia bertemu kembali dengan Kayra.
__ADS_1
Hari kamis yang lalu, sepulang menerima berita kelulusan ia berniat untuk mendatangi rumah Adi temannya yang baru mengalami kecelakaan. Waktu ia melintasi jembatan, ia melihat gadis cantik berbaju seragam lusuh berdiri menangis memegangi besi batas jembatan. Cewek itu pasti sedang putus asa, mungkin dia anak orang miskin yang sangat berharap bisa lulus, mengingat orang tuanya yang sudah banting tulang membiayai sekolahnya namun ia gagal. Ia pikir gadis itu akan melompat dari jembatan untuk bunuh diri. Rupanya perkiraannya salah. Ia benar-benar malu pada gadis itu, karena ia sudah memeluknya. Tatapan gadis itu sangat mempesona, iris coklat terangnya membuat jantungnya berdegup kencang. Ada kesedihan yang samar terbayang dimatanya, membuatnya ingin memeluk untuk sekedar menghiburnya.
"Nona, kalau kamu diberi hidup sama Tuhan jangan pernah disia-siakan apalagi sampai nekat bunuh diri." "Ketahuilah ditempat lain ada orang-orang yang berusaha bertahan hidup namun penyakit tidak memberi kesempatan untuk sekedar menambah satu hari saja masa hidupnya. jadi jangan sekali-kali berfikir bunuh diri. mengerti?"
"A...a....aku tidak ada sedikitpun niatan bunuh diri. Tolong lepaskan aku". Gadis itu meronta jelas kalah kuat dibanding dirinya.
Dariel sekali lagi memandang tepat pada manik coklat mata gadis itu, saat ia melihat tidak ada kebohongan disana ia segera melepaskan tangannya.
kamu. Tapi mengapa kamu di pinggir jembatan yang sepi ini sambil menangis
seperti itu? Apakah lagi ada masalah."
"Ya, aku memang ada masalah tapi aku tak secengeng dugaanmu yang berpikir bunuh diri hanya karena masalah sekecil ini. Maaf aku mau pulang." gadis itu cepat-cepat mengambil sepedanya.
"Aku... Dariel, siapa namamu?" Dariel memberanikan diri untuk berkenalan dengan gadis itu.
"Kayra." gadis itu segera mengayuh sepedanya tanpa menoleh lagi kepadanya. Ada perasan kehilangan dalam hati Dariel. Ia berharap bisa bertemu gadis itu kembali. Dariel berteriak kembali mengharap Kayra masih dapat mendengarnya.
"Kayra senang berkenalan denganmu, sampai jumpa lagi !!!"
pertemuan singkat yang sangat berkesan bagi Dariel. Ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia ingin mengenal Kayra lebih dalam. Ia begitu mengagumi Kayra sosok gadis cantik jelita. Belum pernah sekalipun Dariel merasakan perasaan yang seperti ini. Banyak cewek di sekolahnya yang mengidolakannya, tidak sedikit yang selalu mencari perhatian bahkan ada yang berani dengan terang- terangan menyatakan cinta kepadanya. Namun ia cuek menghadapi mereka, karena memang ia tidak ada rasa.
Berbeda dengan Kayra, ia gadis polos, lugu dan apa adanya. Namun ia telah membuat hati Dariel jungkir balik tidak karuan. pertemuan pertama yang hanya beberapa menit membuat Dariel merindukan Kayra. Ia sangat ingin bertemu kembali dengan Kayra. Tiga hari ia bolak-balik melewati jalanan arah jembatan Merah berharap bisa bertemu kembali dengan Kayra, usahanya sia-sia.
Namun siapa sangka ia bertemu di sini tempat klien yang menggunakan jasa EO milik kakaknya. Kakaknya meminta tolong untuk mengantar makan siang buat karyawannya yang sedang mengerjakan dekorasi di rumah tante Neta. Sebenarnya ia mau menolak karena ingin mencari Kayra. Namun ia ingat kebaikan kak Raka selama ini padamya yang selalu memberi uang saku tanpa diminta, hingga ia gak enak kalau menolak perintah kakaknya. Dan ia sangat bersyukur akhirnya bertemu kembali dengan gadis cantik pujaannya.
__ADS_1
"Hai..... kenapa bengong disini...?" Seseorang menepuk bahunya.