Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Lubang Serigala


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore saat rombongan berangkat menuju lokasi tambang yang direkomendasikan ketua suku. Keberadaan suku - suku asli tidak bisa dianggap sepele.


Bahkan tidak jarang pembukaan lahan tambang memicu bentrokan dengan suku asli. Mereka tidak tahu menahu mengenai legalitas tambang. Bagi mereka semua sama. Sama - sama mencuri kekayaan yang telah mereka warisi dari leluhur namun tidak pernah bisa mereka nikmati. Selain itu kedatangan orang asing diwilayah mereka menjadi saingan dalam berburu makanan. padahal pendatang jarang yang suka berburu seperti mereka. Kebanyakan pendatang, tercukupi logistiknya dari kota. Jadi tidak perlu bersusah - susah berburu makanan.


perusahaan tambang emas keluarga Dariel sudah mengantongi izin pemda setempat. Yaitu izin usaha pertambangan eksplorasi dan Saat ini sudah meningkat menjadi izin usaha pertambangan operasi produksi. Sebuah perusahaan legal. Namun selembar kertas tidaklah membuat suku asli bisa terbuka menerima pendatang. Mereka sangat menghormati alam dan sangat menjaga kelestariannya. pendatang seringkali menebang pohon yang tidak perlu, membuat jalan dan galian di mana - mana membuat ruang gerak penduduk asli menjadi semakin menyempit. Sehingga inilah yang memicu penduduk asli menunjukkan perlawanan pada para pendatang. Hingga bentrokan antara penduduk asli dan pendatang sering tak terelakkan.


Untunglah perusahaan tambang Erlangga punya mandor seperti Rahmadi. Seorang yang mengutamakan negosiasi untuk mendatangkan keuntungan ke dua belah pihak. Rahmadi keturunan Jawa namun ia lahir dan dibesarkan di Jaya pura. Sedikit banyak ia tahu beratnya kehidupan penduduk asli. Keinginannya untuk mensejahterakan penduduk asli sangat kuat. Ini timbul dimulai pada saat ia masih kecil, keluarganya ditolong oleh penduduk asli Papua. Waktu itu rumah dan gudangnya mengalami kebakaran,Sementara ayahnya sedang sibuk bekerja di ladang. penduduk asli menyelamatkan dia, ibu juga adik perempuannya nya yang masih bayi.


Rahmadi merealisasikan impiannya dengan mendirikan sekolah gratis bagi penduduk asli. Sekolahnya sekarang dikelola istri dan anaknya. Dimana diajarkan baca tulis dan juga beraneka ragam ilmu bercocok tanam dan berternak. Sekolahnya sangat berkembang, bahkan sudah dibuka asrama yang memungkinkan menampung murid dari luar Kabupaten. Semua itu bisa terealisasi berkat sokongan dana dari Erlangga corp. Hal inilah yang membuat Rahmadi selalu bersedia saat diperlukan perusahaan Erlangga,terutama keperluan di lapangan. Seperti saat ini.


Rombongan berjalan menyusuri hutan, Rahmadi mendekati Dariel. Ada pertanyaan yang sedari tadi mengusiknya.


"Tuan muda, kalau boleh saya tahu bagaimana Tuan Muda bisa berbicara bahasa mereka?"


Rahmadi melontarkan pertanyaannya. Karena terus terang saja sekalipun ia sudah tinggal di Papua hampir empat puluh lima tahun. Namun ia belum menguasai bahasa penduduk asli. Sementara Dariel baru pertama kali mengunjungi Papua namun sudah mahir dialeg mereka?

__ADS_1


"Kebetulan saja pak, semester lalu saya dapat pelajaran tentang suku Asmat dan Bahasa mereka." bohong Dariel. Ada kemampuan Dariel meretas memory seseorang hanya dengan menyentuh pelipis orang tersebut. Kemampuannya ini dipakai untuk bisa mempelajari berbagai bahasa dalam waktu sangat singkat. Dia menutup rapat talentanya ini, bahkan orang terdekatnya tidak tahu. Dariel takut dianggap sebagai tukang sihir.


"O.. seperti itu ya?" Rahmadi masih meragukan jawaban Dariel.


Sore ini cepat sekali hari menjadi gelap. Mendung tiba - tiba menggulung dan memuntahkan hujan yang sangat lebat. Rombongan kocar - kacir mencari tempat berteduh. Saat melihat ada ceruk batu, mereka serentak berlari memasukinya. Rupanya sebuah gua batu yang cukup dalam.


Hujan disertai angin kencang memaksa mereka masuk lebih dalam. Namun langkah mereka terhenti seketika saat mendengar suara - suara erangan binatang buas. Suara erangan srigala menghadirkan kengerian yang sangat mencekam. Dengan sigap dua orang tentara mengokang senjata dan melangkah maju terlebih dahulu.


Dorrrr.....dorrrr.....dorrr


Suasana dalam goa kembali sepi. Sementara hujan diluar semakin deras. Mereka memutuskan beristirahat, menyalakan


api. Malam ini mereka terpaksa bermalam di goa. Empat orang pemuda suku asli segera mengumpulkan puluhan bangkai srigala. Mereka tidak menyia - nyiakan daging buruan. Segera mereka menguliti dan menyayat dagingnya dan memisahkan dari tulang - tulangnya.


Lamat - lamat Dariel yang belum tertidur pulas mendengar bisik - bisik mereka. "Kalau aku punya senjata punya orang kulit putih itu akan ku buru orang - orang di galian supaya cukup stock daging untuk semua orang di rumah selama setahun." Kata salah satu pemuda. Tiga orang lainnya tertawa lirih. Jantung Dariel berdebar ngeri. Ternyata suku Asli yang bersama - sama mereka adalah kanibal? Ia harus memperingatkan Rahmadi dan yang lain.

__ADS_1


Pagi hari saat langit baru menampakkan semburat mentari, Dariel terbangun. Saat ia membuka mata, anggota rombongannya sudah melakukan berbagai aktifitas. Para tentara sudah bersiap di depan goa, Rahmadi menikmati kopi dan sebatang rokok filter. Sementara ahli Geologi sedang merapikan alat - alat yang dibawanya.


"Perkiraan waktu tempuh kita ke titik survey sekitar setengah jam lagi. Orang -orang suku asli sebelum mereka pergi tadi pagi, mereka menunjukkan jalan pintas ke tujuan kita." Kata salah satu orang tentara.


"Kearah mana kita akan pergi?" tanya Dariel mendekati tentara itu.


"Kearah Timur." sambil menunjukkan arah yang di maksud.


Dariel membuka mata batinnya, yang ia lihat jalan ke arah Timur melewati jurang curam dan cukup dalam. Bagi orang biasa seperti mereka tidak akan mungkin bisa melewatinya. Ia jadi bergidik ngeri bahwa ada kemungkinan mereka telah dijebak?


"Dari rombongan kita belum ada satupun yang pernah berjalan ke hutan sejauh ini. Sebaiknya sebelum kita berangkat, dua orang tentara akan memeriksa jalan ke Timur apakah aman untuk di lewati?" Kata Dariel sambil menoleh ke arah Rahmadi meminta persetujuan.


"Ya, benar sebaiknya kita hati - hati." Sambil memberi perintah melambaikan tangan pada dua orang tentara di dekatnya. Dua orang tentara itu segera berangkat untuk menyisir jalan. Dan benar mereka mendapati jurang yang cukup curam dan dalam. Mereka segera berbalik ke tempat Dariel berada. Namun tiba - tiba mereka mendapat serangan dari puluhan suku asli membawa tombak batu. Beruntung mereka dilengkapi rompi anti peluru, hingga luka yang mereka dapatkan tidak fatal. Dua orang tentara itu segera melepaskan tembakan dan membunuh semua penyerangnya. Dengan nafas terengah, dan kelelahan dua orang tentara itu segera berlari kembali ke gua.


Dariel dan rombongan sudah bersiap di mulut gua. Mereka mendengar rentetan tembakan, dan mengira kalau dua orang tentara yang diutus mendapat serangan serigala. Hingga mereka bersiap untuk memberi bantuan. Namun saat mereka hendak menyusul, terlihat dua orang tentara itu berlari mengarah ke mereka.

__ADS_1


"Suku asli itu menjebak kita."


__ADS_2