
Berkali - kali Kayra melirik jam dinding. Sudah jam sembilan malam namun Dariel tak juga datang. Kayra berjalan mondar - mandir di dalam kamar, sesekali mengintip melalui kaca jendela. Tak juga dilihatnya Dariel. Ia merasa tidak nyaman tinggal di dalam kamar sendirian apalagi dalam keadaan gelap - gelapan.
"Riel... cepatlah pulang." Gumam Kayra lirih. Ia membaringkan diri di ranjang, menyembunyikan seluruh tubuhnya dalam selimut. Rasa panas terasa hingga seluruh tubuhnya berkeringat tidak dipedulikannya. Sedari tadi perutnya juga berkeruyuk menahan lapar, ditambah perasaan tidak nyaman menahan buang air. Keadaan yang sangat menyiksa. Coba kalau ada kamar mandi tentunya tidak semenyiksa ini.
Kayra mencoba memejamkan mata berusaha tidur. Berharap bisa sesaat melupakan ketidak nyamanan yang menyiksanya. Namun perutnya terasa semakin perih melilit. Seketika ia ingat pengalaman pahit bersama ibu tirinya yang pernah menyekapnya dan membiarkan kelaparan. Air matanya langsung menetes membasahi bantal.
Kayra tidak habis pikir, ternyata ia tidak sekuat sangkaannya. Sebenarnya hanya rasa lapar sedikit dan ditinggalkan Dariel beberapa jam saja sudah membuatnya baper. Ia merasakan kesepian, takut, cemas , haus dan lapar semuanya datang bersamaan.
Kayra tidak bisa tidur, berkali - kali ia melirik jarum jam yang seakan - akan meledeknya. Ia mendesah dan mengeluh dalam hatinya namun juga ada kecemasan di sana. Ia sangat kuatir jangan - jangan ada hal buruk terjadi pada Dariel. Waktu seakan enggan berjalan. Detik berdetak lambat - lambat. Kayra tidak bisa sabar lagi. Ia ingin berbuat sesuatu tapi apa?
Badannya sangat lengket oleh peluh, karena seharian ia hanya mandi pagi saja. Terlebih ia takut menyalakan AC ataupun kipas angin. Sekarang ia merasa sangat tidak nyaman. Badannya yang gerah dan lengket juga perutnya melilit perih.
__ADS_1
Kayra membuat keputusan, pertama ia ingin menyegarkan tubuhnya. Kayra memberanikan diri keluar dari kamar Dariel. Seperti pencuri, ia mengendap - endap menuju kamar mandi. Ia hanya mengira- ngira saja karena selama ini ia belum pernah tahu letak maupun jalan menuju ke kamar mandi. Dia memilih untuk berjalan kearah deretan mess yang berpencahayaan lebih terang. Sebenarnya bukan karena ia punya perkiraan yang akurat, namun lebih karena ia takut berjalan ke tempat gelap. Terlebih setelah beberapa kali mimpi buruk datang padanya dan semua berkaitan dengan mistis dan kegelapan.
Beberapa kali Kayra bersembunyi di balik bayang- bayang pohon atau bangunan, saat ia mendengar langkah kaki ataupun suara- suara mencurigakan. Kayra kembali berjalan saat dirasanya keadaan kembali aman. Ia berjalan melewati sebuah ruangan besar yang terbuka, mungkin ruang makan karena terlihat beberapa peralatan makan ada di sana.
Ruangan tampak sepi tidak ada seorang pun terlihat di sana. Kayra penasaran ingin tahu ruangan apa sebenarnya. Ia melongokkan kepalanya ke dalam. Sepertinya ruangan baru ditinggalkan buru- buru karena terlihat di sebuah meja dekat pintu ada empat gelas berisi kopi yang masih mengepul dan baru dua yang terlihat sedikit berkurang isinya. Ada sebuah papan catur yang sudah beberapa langkah dimainkan. Kayra sangat menyukai catur. Ia pun melangkah mendekati meja.
Dalam sekali pandang ia bisa memperkirakan langkah terbaik untuk memenangkan permainan catur itu. Tangannya terulur menggerakkan pion catur. Catur selalu memikat hatinya membawa kenangan indah bersama ayah yang sangat disayangi. Seketika air mata menitik dari ujung matanya mengingat masa - masa indah yang telah dilaluinya. Kayra tersentak dan tersadar, ia harus segera pergi dari tempat itu sebelum ada yang melihatnya.
Kayra akhirnya tiba diujung lorong dan disana berjajar kamar mandi umum. Ia pun menghela nafas lega. Segera ia memilih satu kamar mandi yang terlihat paling bersih dan segera mandi cepat- cepat. Selesai mandi ia segera memakai baju ganti. Ia berharap saat ia kembali ke kamar tidak akan ada kendala.
Kayra berjalan cepat menyisir jalan yang dilewati tadi. Saat ia sampai di depan ruang makan terdengar keributan di dalamnya. Rupanya mereka meributkan permainan catur. Salah satu pemain tidak terima dan merasa dicurangi. Hampir saja mereka berkelahi, untunglah ada salah satu yang menjadi penengah. Merekapun mengulangi permainan catur dari awal. Kayra mengelus dadanya bersyukur bahwa keisengannya tidak sampai membuat orang berkelahi. Ia berjalan cepat, ingin segera sampai ke kamar Dariel.
__ADS_1
Nafasnya terengah- engah. Kayra sangat senang setelah sampai di kamar Dariel dengan aman. Segera ia menyimpan baju kotor dan peralatan mandinya dipojokan ruangan. Kayra merapikan tempat tidur. Ia teringat masih ada sisa satu donat bertabur keju, ia segera menghabiskannya. Sebotol air mineral langsung habis diteguknya. Mengobati rasa dahaganya semenjak siang. Kayra mengelus perutnya yang terasa kenyang. Makan malam yang sangat nikmat walaupun hanya dua biji donat dan sebotol air mineral.
Kayra merebahkan tubuhnya diatas kasur. Mencoba berdamai dengan kegelapan di dalam kamarnya. Ia mencoba melukis apa saja yang terbayang di benaknya dan menorehkannya pada kanvas tanpa warna. Kayra melukis di udara kosong menciptakan guratan- guratan cat tanpa warna. Kayra membayangkan sebuah taman bunga dan sebuah sungai kecil yang mengalirkan air jernih.
Ia menghapus gambaran yang sudah dibuatnya dengan melambaikan tangan seakan menghapus papan tulis. Kemudian ia menggambar hati dengan jari - jarinya dan menuliskan nama Dariel di sana. Hatinya sangat terhibur, ada senyuman menghiasi bibirnya. Terlebih saat terkenang pertemuan pertama, kedua dan pertemuan - pertemuan lain dengan Dariel yang membuat hatinya menghangat. Dariel adalah cinta pertamanya yang membuatnya jatuh cinta.
"Riel... aku sangat mencintaimu.... Jangan pernah meninggalkan ku." Desah Kayra berbisik pada udara dingin di sampingnya. Kayra membayangkan ada Dariel berbaring di sampingnya. Saat membayangkan ada Dariel di dekatnya, membuat Kayra merasa nyaman. Hingga tidak disadari, ia terlelap dalam tidur dan mimpi indahnya.
Saat tengah malam terasa belaian di rambut Kayra. Membuat Kayra terjengit dan langsung terbangun. Di hadapannya Dariel duduk di pinggir ranjang, memandangi dan membelai rambutnya. Namun melihat kacaunya penampilan Dariel membuat Kayra beringsut menjauh hingga tubuhnya menempel di kepala ranjang. Kayra menggigil ketakutan.
"Riel.... a... apa yang ter... jadi...pa... pada mu? Tanya Kayra gagap.
__ADS_1
"Rara.... it's oke. Aku baik - baik saja...."