Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Bebas


__ADS_3

"Ibu... ada apa? Apakah engkau baik- baik saja?" Kayra mendekati ibu nya, memeriksa mungkin ibu nya sedang menahan rasa sakit.


Neta pun membuka mata. "Ra... sini Nak..!" Kayra mendekati ibunya, langsung disambut dengan uluran dua tangan yang terbuka. Kayra pasrah dan membiarkan ibunya memeluknya. "Ra... kita telah bebas dari kutukan ini Nak." Neta memeluk anak semata wayang nya dengan erat. Akhirnya setelah sekian lama, mereka bisa menghirup kebebasan.


"Ibu, jangan terlalu erat memeluk ku." Kayra mengkhawatirkan luka ibunya. Neta pun mengendorkan pelukannya pada Kayra. Ada rasa nyeri di dada nya. Luka bekas tusukan meninggalkan rasa perih.


"Maaf kan ibu terlalu bersemangat." Neta melemparkan senyum penuh penyesalan. Mungkin Kayra risih mendapatkan pelukan dari nya. Setelah hampir sepuluh tahun ia meninggalkannya. Pelukan yang diberikannya ini bisa jadi membuat Kayra merasa canggung. Hati nya berdesir, semua ini kesalahannya sendiri. Mungkin Kayra perlu waktu lebih lama untuk bisa dekat dengannya. Bisa menerimanya sebagai ibu kandung dan benar- benar menyayanginya.


Seperti tahu kegundahan hati ibunya Kayra mendekati Neta dan mencium pipi ibunya. "Rara gak mau ibu memeluk Rara bukan karena Rara gak mau. Ibu masih sakit, takutnya luka ibu terbuka lagi."


"Iya Ra... seperti nya memang belum sembuh tapi sudah mendingan, cuma tinggal perih sedikit." Neta begitu bahagia mengetahui Kayra tidak menolaknya.


"Bu... Rara suapin ya? Ini tadi sudah diantar makan siang." Rara mendekatkan kotak makan ibunya. Ia menarik sebuah kursi mendekat ke ranjang ibunya.


"Bu, bagaimana posisi baring nya apa perlu sedikit di naikkan?" Kayra memastikan posisi ibunya nyaman untuk makan.


"Ibu ingin duduk Ra." Kayra segera membantu ibunya untuk duduk. Kemudian ditatanya bantal di belakang punggung ibunya. Ia ingin agar ibunya merasa nyaman.


"Sudah Ra.. ibu sudah merasa nyaman sekarang." Neta tersenyum bangga melihat Kayra sangat perhatian padanya. Berbeda dengan Cerry, anak angkatnya. Ia baru teringat kalau Cerry belum terlihat


sejak ia sadar dari pingsannya. 'Biarlah Cerry dengan urusannya, terlebih penting ada Kayra di sisi ku. Ini lebih dari cukup.' katanya dalam hati.


Kayra menyuapi ibunya dengan hati- hati. Dipastikannya lebih dulu, bubur yang disuapkan tidak terlalu panas. Anak dan ibu terlihat sangat akrab. Kadang- kadang terlihat mereka saling bercanda.


Bik Sari, berdiri di depan pintu memandangi keakraban Kayra dan Neta. Ada rasa cemburu menggetarkan hati tuanya yang rapuh. Ada setitik air mata mulai membasahi pipinya yang mulai keriput. 'Wanita asing itu tiba- tiba saja datang mencuri kasih sayang Kayra. Aku tidak akan tinggal diam.' Gerutunya dalam hati. Bik Sari memutuskan untuk pergi lagi membawa bungkusan di tangannya.

__ADS_1


Rupanya Kayra menyadari kehadiran bik Sari. Ia pun memanggil nya.


"Bik Sari sudah datang?"


"Iya Non. Saya belikan makan siang. Non Kayra dari pagi belum makan, takutnya kena sakit mag kalau lambat makan." Kata bik Sari sedikit ragu.


"Bawa sini bik. Kita makan bersama. Bibik belum makan juga, iya kan?" Kayra memberikan suapan terakhir pada ibunya.


"Ra ... makasih. Ibu sangat kenyang." Neta tersenyum penuh kepuasan melihat Kayra sangat berbakti ke pada nya.


"Iya Bu. Kayra berharap ibu cepat sembuh. Dan kita bisa cepat pulang ke rumah." Perkataan Kayra membuat hatinya kecut. Ia tidak ingin kembali ke rumah besar itu. Tempat ia melakukan banyak kejahatan. Neta ingin memulai hidup baru dengan putrinya. Melupakan masa lalu agar ia bisa menikmati kebahagiaan di masa depan. Neta harus memilih waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Kayra.


"Bu.. Rara makan dulu sama bik Sari ya." Pamit Kayra mendekati bik Sari yang sedang mengeluarkan nasi bungkus dari kantong plastik.


"Nasi pecel Non, sama lele goreng." jawab bik Sari.


"Wah pasti enak tuch." Kayra menerima satu bungkus nasi. Segera membukanya dengan antusias. Neta hanya memandangi Kayra dengan senyuman nya yang tertahan. Nasi pecel dan lele goreng adalah kesukaan Mahendra. Rupanya itu menurun pada Kayra.


Kayra begitu lahap menikmati nasi pecelnya. Hingga tidak perlu waktu lama nasi bungkusnya ludes tak tersisa.


"Non, tadi bibik juga belikan jus apel." Bik sari menyodorkan satu cup jus kepada Kayra. Sekali lagi Neta tersenyum tertahan.


'Ra... ternyata kamu juga suka jus apel seperti ibu.' Batin Neta dalam hati. Hatinya terasa hangat. Ternyata ada ikatan yang selama ini tak disadarinya. Anak kandung yang selama ini dijauhinya punya kesukaan seperti diri nya. Neta memandangi Kayra yang sangat menikmati jus apelnya. Tanpa bisa ditahannya air liurnya menggelegak di tenggorokannya. Bertepatan Kayra menoleh ke arah nya.


"Ibu... mau jus apel ?" Kayra menunjukkan gelas plastiknya yang sudah kosong.

__ADS_1


"Lihat kamu menikmati jus, bikin ibu juga pingin. Kalau sudah habis, gak papa Ra. Ibu juga sudah kenyang." Neta mengelak halus. Ia tidak ingin meepotkan Kayra.


"Masih ada satu gelas lagi Non." Kata bik Sari seraya menyerahkan jus apel yang baru diambilnya dari kantong plastik.


Kayra segera menerima jus apel dari tangan bik Sari. Dan dibawanya kepada ibunya. Neta menyambut hangat jus yang diberikan Kayra pada nya.


"Makasih ya Ra..." Neta menyeruput jus apel tanpa susu dan gula. Persis seperti yang ia suka.


Tok.... tok.... tok..


Suara pintu kamar rawat Neta diketuk dari luar. Bik Sari dengan sigap membukakan pintu. Saat Kayra dan Neta menyambutnya dengan pandangan penasaran. Muncullah dua sosok pria diambang pintu.


"Dariel... Om Erlangga..?." Kayra terkejut melihat Dariel dan papa nya datang ke rumah sakit.


"Iya Ra... kami dengar kabar ibu mu sakit, itulah sebab nya kami datang berkunjung." Erlangga menyerahkan buket bunga mawar kepada Kayra.


"Trimakasih Om, bunga nya cantik sekali." Kayra mengagumi buket bunga yang didominasi dengan bunga mawar putih. Ia menyimpannya di atas nakas dekat ranjang ibunya.


Erlangga tersenyum melihat kepolosan Kayra.


"Ra... ini ada bingkisan buah buat ibu." Dariel menyerahkan sekeranjang parsel buah. Keranjang itu penuh sesak dengan beraneka buah- buahan. Ada apel, kiwi, anggur, stroberry, pisang, dan buah pir. Semua terlihat segar sebagai tanda buah berkualitas tinggi.


"Makasih ya Riel..." Kayra segera menerima bingkisan buah dari tangan Dariel. Hatinya terasa sakit. Ia sudah terlanjur minta putus dengannya. Manamungkin Dariel bisa memaafkannya dan memberi kesempatan untuk kembali padanya. Ia harus menerima semua konsekuensi pada keputusannya. Menjauh dari hidup Dariel untuk selamanya.


Dariel melihat sekilas sorot mata Kayra menunjukkan ada kesakitan di sana. Namun ia sama sekali tidak bisa mendengar suara hati atau membaca pikiran Kayra. Semuanya tertutup rapat bagi Dariel. Tak bisa ditembusnya sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2