
"Ibu Neta... apa yang terjadi? jangan tinggalkan Kayra Bu! Hik...hik...hik"
Kayra memberanikan diri membalikkan tubuh ibunya. Sekali lagi kejutan kengerian memenuhi pandangannya. Membuat Kayra ternganga tidak mempercayai penglihatannya. Ada sebilah belati perak masih menancap kuat di dada ibunya. Sementara ada beberapa bekas tusukan di sekitar dada dan perut. Meninggalkan noda darah merah pekat. Dari celah- celah belati perak terus mengalir darah merah pekat. Menguarkan aroma khas darah, amis memuakkan. Membuat perut Kayra serasa diaduk- aduk.
Kayra berusaha tetap bertahan. Dengan sekuat tenaga ia berteriak- teriak memanggil orang rumah. Bik Sari, Cerry ataupun Mang Ujang tak kunjung datang. Membuat Kayra semakin panik. Mungkin ibu nya telah memantrai kamarnya, hingga membuat tak ada satupun bisa mendengar suaranya. Satu- satu nya jalan ia meninggalkan sebentar ibunya untuk minta bantuan orang. Namun ia sangat takut meninggalkan ibunya. Ia tidak mau kehilangan lagi.
Badan ibunya terasa masih hangat. Ada tarikan nafas, meskipun sangat samar. Kayra yakin ibunya masih hidup. Kayra membuka kancing baju ibunya. Ia memeriksa keadaan luka perut ataupun dada ibunya. Alangkah terkejutnya Kayra, tidak ada luka tusuk selain tempat belati perak kecil itu bersarang. Seketika fikiran Kayra terbuka. Ibunya punya kemampuan menyembuhkan diri seperti dirinya.
Tanpa pikir panjang, Kayra segera mencabut belati perak itu dari dada Ibu Neta. Seketika darah berhenti mengalir, lambat tapi pasti, luka tusuk yang menganga itu perlahan menutup. Kulit Ibu Neta kembali pulih seperti sedia kala.
Kayra tersenyum lega. Ia masih punya kesempatan bersama dengan ibunya di dunia. Kayra memandangi wajah ibu Neta dengan takjub. Rasa cintanya pada ibu kandungnya teramat dalam. Ada rasa bangga dan kekaguman menyelimuti hatinya. Ia bangga mempunyai ibu yang kuat dan tegar. Sekalipun keadaan ibunya saat ini terlihat mengenaskan. Kayra percaya ibunya punya alasan kuat atas apa yang telah dilakukannya. Mungkin ibunya berusaha menjemput ajal sebagai cara untuk menjamin keselamatan Kayra.
Kayra mengelus rambut panjang ibunya. Menyibakkan anak- anak rambut yang kusut dan berantakan. Ia berbisik pada ibunya.
"Ibu... bangun lah... Jangan pernah tinggalkan Rara dengan cara seperti ini." Air mata Kayra mengalir dari sudut- sudut mata, berebut turun mencari tujuan tempat yang lebih rendah.
__ADS_1
Tak berapa lama, Neta mengerjap. Perlahan ia membuka mata dan mulai menelaah keberadaannya. Apakah ia sudah benar- benar menemui ajal? Suasana sekitarnya begitu senyap. Membuat Neta yakin ia sudah menyeberang ke dunia kematian. Namun saat matanya menangkap sosok Kayra yang memangkunya dengan tatapan mata berbinar, seketika memupus harapan Neta. Ia kecewa.
Neta segera bangun, berusaha meraba mencari belati perak yang sesaat lalu tertancap kuat di dadanya. Belati itu tidak ada. Neta mencari- cari disekelilingnya. Ternyata belati itu tergeletak dekat kaki Kayra. Neta bangun dan secepat kilat menyambar belati perak itu dan menusukkannya kembali ke jantungnya. Darah mengucur deras dari celah luka tusukan. Suara erangan kesakitan seketika lolos dari bibir Neta yang pucat pasi. Kayra terkesiap kaget, tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukannya.
"Ra.... bunuh ibu... akhiri penderitaan ibu..."
suara lemah Neta membangunkan keterkejutannya.
"Tidak... jangan lakukan ini ibu. Aku mau ibu hidup. Jangan tinggalkan aku Bu..." Seketika air mata Kayra tumpah diselingi isak tangis nya yang menyayat hati.
"Ibu... tidak sanggup menjalani kehidupan seperti ini.. Akhiri ... penderitaan ibu Ra...." suara lemah Neta membawa dilema bagi Kayra. Apakah ia harus menuruti kemauan ibu Neta? Kayra melihat Neta begitu tersiksa. Usaha menjemput ajal yang berat dan menyiksa. Kayra harus mengakhiri semua ini. Ia merasa sangat iba, melihat ibunya menderita kesakitan. Namun ia bukan pembunuh, ia tidak akan mungkin mengulurkan tangannya untuk merenggut nyawa orang lain.
Kayra tidak melepaskan pandangannya pada si gadis yang telah membunuh ibu kandungnya. Kayra sangat marah, namun saat ia melihat baik- baik wajah si gadis. Ia begitu terkejut. Gadis itu memiliki postur tubuh seperti dirinya, rambut dan wajah sama persis seperti dirinya.
Kayra membekap mulutnya.
__ADS_1
"A... aku pembunuh????!!!" ucapnya terbata- bata. Dalam bayangan itu ia begitu terpukul dengan apa yang telah terjadi. Kayra dalam bayangan tertunduk lemas. Kemudian datang lah sosok seorang wanita bertubuh ular.
'Ssstttt.... ssst...' desis wanita ular itu yang melingkarkan ekornya pada tubuh Kayra. Wanita ular itu membelit tubuh lemah nya.
"Kematian satu orang tidaklah lebih berharga dari pada kekayaan, kehormatan dan kekuasaan yang akan segera kamu dapatkan. Bunuh Neta !!! Dan semua itu akan segera jadi milik mu. Bunuh dia! Akhiri penderitaannya! Terima takdir mu menjadi seorang ratu!" 'ssstttt.... ssssttss....' Lilitan wanita ular itu semakin mengetat membuat sesak nafas Kayra.
"Lepas.... lepaskan aku." Kayra meronta meminta lepas dari si wanita ular.
"Aku akan melepas mu, kalau kau berjanji membunuh Neta. Kalau kau tidak melakukannya.... Kamu pasti mati di tangan ku." 'Sssssttt...' Si wanita ular memberi ancaman yang menakutkan. Membuat Kayra merasakan teror yang sangat mengganggu. Ia hanya bisa pasrah dan mengangguk- anggukkan kepalanya. Teror itu menguasai pikirannya seakan menegaskan bahwa Kayra tidak punya pilihan lain. Ia harus membunuh Neta ibu kandungnya sendiri.
Lilitan wanita ular itu mengendor, memberi kesempatan Kayra melepaskan diri.
Di sinilah Kayra berada saat ini. Dikamar ibunya. Sementara Neta ibunya sedang mengerang kesakitan. Mengiba meminta pada Kayra untuk segera mengakhiri penderitaannya.
Tangan Kayra bergetar hebat, saat ia memegang belati perak kecil itu. Keringat dingin mulai menitik di dahinya. Ia merasakan kegentaran luar biasa menguasai hati dan perasaannya. Apa pun yang akan segera ia lakukan adalah sebuah spekulasi. Berhasil tidaknya, Kayra tidak tahu. Ia hanya berharap, dirinya dan ibu nya bisa lepas dari kutukan selamanya.
__ADS_1
Bisikan ancaman wanita ular, semakin menggema di rongga kepala nya.
'ssttt... bunuh Neta... bunuh Neta.... bunuh... bunuh!!!'