
Kayra menoleh ke arah suara, ia melihat bik Sari masuk dan segera mendekatinya.
"Non... non Kayra tidak apa-apa? Tadi bibi melihat Non Kayra keluar dari kamar Nyonya Neta sambil menangis?" Tanya bik Sari kawatir.
"Gak papa Bik Sari." Kayra menghapus air matanya, ia tidak ingin membuat bik Sari kawatir.
"Non... Kayra dimarahi nyonya Neta? Sabar ya non..." Bik Sari menyentuh bahu Kayra, mencoba memberikan semangat untuk nya. Kayra hanya mengangguk. Sebenarnya ia tidak ingin berbohong pada bik Sari yang selama ini sangat menyayanginya. Namun ia tidak ingin melibatkan bik Sari dalam keruwetan latar belakang keluarganya. Lebih baik bik Sari tidak tahu apa- apa. Kayra tidak ingin Bik Sari terlibat dan terkena imbas atas kutukan dalam keluarganya turun temurun.
"Non... kalau ada masalah, bilang sama bibi ya. Setidaknya bisa meringankan beban non Kayra." Bik Sari menawarkan dukungannya.
"Iya Bik... trimakasih Bik Sari terus memberikan dukungan buat Kayra." Kayra mengembangkan senyumnya berharap kekawatiran bik Sari bisa hilang. "Bik... Kayra lapar, bisakah bik Sari bawakan makan malam ke kamar? Kalau bisa jangan sampai Bu Neta ataupun Cerry tahu ya Bi?"
"Baik Non, tunggu sebentar ya." Bik Sari segera bergegas keluar kamar Kayra untuk menyiapkan makan malam.
Sepeninggal bik Sari, Kayra termenung. Pandangan matanya mengarah kosong memandang serat-serat halus horden kamarnya. Ia tidak menyangka akan datangnya hari ini. Hari dimana akhirnya ia tahu siapa ibu kandungnya dan terbukanya seluruh tabir latar belakang keluarganya. Namun ada satu hal yang ia belum bisa mengerti. Roh Rorojonggrang yang selama ini merasukinya apakah itu juga roh jahat yang selama ini di sembah oleh keluarganya? Kayra belum menemukan kaitan ke duanya. Helaan nafas berat mengakhiri lamunannya. Kayra memutuskan keluar kamar, ia ingin makan malam bersama bik Sari dan mang Ujang.
Di dapur bik Sari masih sibuk menyiapkan makanan untuk Kayra juga jus apel kesukaannya. Kayra segera mendekati bik Sari.
" Bik... Kayra makan di sini aja bareng Bibi dan Mang Ujang." Seketika disambut anggukan dan senyuman hangat bik
__ADS_1
sari.
"Tunggu sebentar ya non... bibik buatkan jus apel kesukaan non Kayra." Bik Sari melanjutkan membuat jus.
Kayra merasa letih, ia memilih menunggu di ruang makan. Tidak ada hal berarti yang ia bisa lakukan. Ia kembali merenungi kerumitan jalan hidupnya.
"Hai.... Kayra, selamat ya... atas pembatalan pertunangan mu!? Hahahah...Gak usah mimpi tinggi- tinggi karena kalau jatuh pasti lebih sakit. Lebih baik kamu tahu diri, jangan berani - berani dekati Dariel. Kamu tuh gak pantas sama dia. Karena aku care sama kamu aku ngomong ini. Dari pada dapat omongan dari orang lain???" Cerry nyerocos, membuat hati Kayra illfill.
Kayra hanya diam dan tidak memberi respon apa pun. Membuat Cerry menyeringai puas. Cerry merasa sudah cukup mengintimidasi dan menekan Kayra. Ia pun pergi dari rumah untuk merayakan apa saja yang pantas ia rayakan. Cerry memang sangat suka pesta juga dugem. Setiap malam ia kelayapan dan menjelang pagi ia baru pulang ke rumah.
Kayra mengiringi kepergian Cerry dengan pandangan sedih. Ia tidak habis mengerti mengapa ibunya mengangkat Cerry menjadi anaknya? Masih banyak rahasia ibu nya yang belum ia ketahui.
"Oh ya Bik mana Mang Ujang? Panggil dulu Bik supaya kita bisa makan bersama!"
"Ya Non, sebentar saya panggil Mang Ujang." Bik Sari segera bergegas memanggil suaminya.
Makan malam bersama Bik Sari dan Mang Ujang selalu menghadirkan kebahagiaan dalam hati Kayra.
***
__ADS_1
Tiga hari telah berlalu, sejak Kayra pulang ke rumah. Belum pernah sekalipun Dariel menghubunginya atau datang mengunjunginya. Ini bukan kesalahan Dariel. Kayra telah meminta Dariel agar untuk sementara waktu tidak menghubungi ataupun datang ke rumahnya. Sampai Kayra berhasil meluluhkan hati ibu Neta. Pagi ini ada rasa sesal di hati Kayra. Ada kerinduan yang menyusup dalam hatinya. Kayra tidak bisa memungkiri hatinya yang terlanjur terikat pada Dariel. Rasa Cinta yang lekat dan menguasai hatinya.
Kenyataannya Ibu Neta bukan tidak merestui hubungannya dengan Dariel. Namun kutukan dalam keluarganya, membuat Kayra takut menjalani hidup seperti ibunya. Apakah ia bisa menerima kalau kelak ia terpisah dengan putri kandung nya sendiri? Dirinya menjadi sumber musibah bagi keluarga nya sendiri? Disisi lain apakah ia sanggup melupakan Dariel? Ada rasa perih, menyusup masuk dalam hatinya membuat setitik embun menggenangi matanya. Kayra menyadari, ini sebuah keputusan yang sangat berat. Namun ia tidak bisa mundur.
Apapun yang akan terjadi nanti, Kayra percaya ia pasti bisa melaluinya. Kayra telah sekali kehilangan ayah nya. Dan saat ini ia tidak mau sampai kehilangan ibu kandung nya. Ya... ia harus mengubur rasa cintanya pada Dariel. Meskipun itu sangat menyakitkan.
Kayra mengambil Hp nya dari atas nakas dan segera menelephon Dariel. Terdengar suara panggilan terhubung namun tidak juga diangkat Dariel. Beberapa kali ia ulangi panggilan namun tidak juga mendapat jawaban dari seberang. Kayra memutuskan untuk menulis pesan.
'Riel.. maafkan aku, hubungan kita berakhir sampai di sini. Aku memilih untuk taat pada ibu Neta. Semoga kamu menemukan gadis lain yang menyayangi mu dengan tulus. Temukan kebahagiaanmu.'
Kayra segera memencet tombol kirim. Ada sebongkah ganjalan dan sebersit rasa nyeri dalam hatinya. Ia terpaksa melakukannya. Memutuskan Dariel hanya dengan melalui sebuah pesan singkat. Kayra berharap Dariel tidak terlalu terluka. Namun apakah itu mungkin? Ia sangat tahu bagaimana Dariel mencintainya selama ini. Kayra satu- satunya gadis yang dicintai Dariel. Apakah ia sudah menjadi orang jahat, karena keputusannya ini? Bukankah ia lebih jahat kalau membiarkan semua terjadi di depan matanya. Saat ia menjadi musibah bagi rumah tangga nya kelak? Bukankah ia juga mendapat kutukan yang selama ini mengganggunya yaitu saat ia tidak sadar bisa saja Kayra membunuh Dariel. Dilema yang membuat sesak hati Kayra.
Hiks.... hiks... hiks..
Isakan tertahan terluput dari bibir Kayra yang bergetar. Sebuah keputusan berat telah diambilnya. Pengorbanan Kayra demi keselamatan ibu kandungnya.
"Ini keputusan ku sendiri. Aku tidak boleh terpuruk dalam kesedihan." Kayra segera bangkit dan berjalan keluar dari kamar. Ia bermaksud menemui ibunya. Beberapa kali ia mengetok pintu, namun tidak ada jawaban dari dalam. Ia pun memberanikan diri membuka pintu kamar ibu Neta. Ternyata tidak terkunci. Di dorongnya perlahan pintu kamar ibu Neta. Bau anyir darah seketika menyeruak, menyumpal indra penciuman Kayra. Ada firasat buruk mengganggu Kayra. Ia segera menghambur masuk dan mendapati sesosok wanita tertelungkup bersimbah darah.
"Tidakkkkk...."
__ADS_1