Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Menikah


__ADS_3

"Ra... ayo kita segera bergegas! Sudah hampir jam 9." Kata ibu Neta mengagetkan Kayra. Ibu nya sedikit heran melihat kegugupan Kayra.


"Rara... kamu baik- baik saja kan?" Tanya ibu Neta penuh perhatian.


"Sedikit gugup Bu." Jawab Kayra menutupi perasaan yang berdesir aneh, setelah melihat sesosok wanita transparan di balik kaca rias nya.


"Apa mungkin ini juga kerjaan Cerry? Anak itu sudah sangat keterlaluan." Gumam Kayra dalam hati. Ia segera mengajak ibu nya untuk turun. Di bawah bik Sari dan mang Ujang sudah menanti. Kayra tidak menyangka melihat pakaian mang Ujang dan bik Sari. Mang Ujang mengenakan setelan jas hitam dilengkapi dasi dan sepatu berkilat. Sementara bik Sari mengenakan kebaya mahal dan rambut rapi tersanggul. Rasa nya Kayra ingin segera menghambur ke arah mereka. Namun tangan Ibu Neta erat megamit tangan Kayra. Membuat Kayra tidak bisa melakukan niatnya.


"Tidak.... hari ini acara bahagia mu. Tidak boleh ada tangisan." Kata ibu Neta melucu. Ia segera menggandeng Kayra menuju mobil. Mereka berempat melaju ke arah gereja, dimana pemberkatan nikah Kayra dan Dariel akan segera dilaksanakan.


Mereka tiba tepat waktu, saat itu Dariel sudah menunggu Kayra di altar.


Kayra diantarkan mang Ujang sebagai wali nya. Membawa Kayra memasuki gedung gereja, dan menuju ke tempat Dariel menunggu. Kayra menjadi pusat perhatian jemaat gereja yang hadir. Gaunnya indah dengan ekor menjuntai panjang, memberi kesan anggun seorang mempelai.


Demikian hal nya Dariel, ia sangat terpesona dengan kecantikan Kayra. Mata nya terus terpaku pada Kayra yang sedang berjalan di dampingi mang Ujang. Tak sabar rasanya menantikan Kayra yang berjalan lambat- lambat ke arah nya. Ingin rasanya ia berlari menjemput Kayra. Namun itu tidak mungkin ia lakukan karena bisa saja membuat acara pemberkatan nikah mereka menjadi kacau. Itulah sebab nya Dariel bersabar berdiam menunggu Kayra.


Dariel terlihat sangat tampan dan gagah, dengan tuxedo putihnya. Terlebih rambutnya dipangkas rapi, memberikan kesan dewasa dan matang.


Acara demi acara berjalan dengan khidmat. Dihadapan pendeta mereka mengikat janji untuk setia menjalin hidup berumah tangga. Dalam keadaan apa pun mereka akan tetap setia. Janji itu ditandai dengan saling memakaikan cincin nikah.


Dariel sedikit gugup, membuat nya sempat kesulitan memasangkan cincin di jari manis Kayra. Beruntung, Dariel bisa menguasai diri. Hingga akhirnya ia pun berhasil.


Acara terakhir dan paling ditunggu- tunggu yaitu kesempatan sang suami untuk memberikan ciuman pada istrinya. Pendeta pun memberikan kesempatan pada Dariel untuk memberikan ciuman pada Kayra.


Dariel refleks memberikan ciuman bibir pada Kayra. Seketika membuat mereka tersipu malu. Sehingga ciuman itu hanya sekejap saja.


Sang pendeta memperkenalkan pasangan suami- istri baru sebagai tuan dan nyonya Dariel Erlangga. Seketika gedung gereja membahana dengan tepukan tangan meriah dari seluruh jemaat.


Prosesi pernikahan telah selesai. Dariel dan Kayra diantarkan terlebih dahulu pulang ke rumah Dariel. Acara baru akan dilanjut malam harinya dengan acara makan malam di rumah Dariel.


Kebahagiaan terus melingkupi kedua pasangan muda itu. Mereka melanjutkan acara french kiss yang canggung tadi di gereja. Saat ini tidak ada yang melihat, membuat Dariel dan Kayra leluasa meluapkan hasratnya. Dariel mencecap bibir manis Kayra, memberikan pagutan cinta di setiap permukaan bibir Kayra.

__ADS_1


"Ra... aku cinta kamu... istriku." Desah Dariel tepat di telinga Kayra. Membuat Kayra merasa kegelian. Kayra tersipu.


"Riel... aku juga cinta kamu." Kata Kayra malu. Kayra tidak menyangka status nya kini sudah berubah menjadi seorang istri, dan bukan gadis lagi.


"Ra... aku akan mengajak mu jalan- jalan, apa cinta mau?" Tanya Dariel sambil memeluk erat istrinya.


"Kemana?" Tanya Kayra antusias.


"Cinta pingin kemana?" Tanya Dariel balik.


"Ke menara Eifel dan taman tulip di Amsterdam." Jawab Kayra manja.


Tiba- tiba tubuh mereka diselubungi cahaya lembut, dan secepat kilat tubuh mereka lenyap dari dalam kamar. Dariel membawa Kayra berteleportasi menyeberangi benua. Saat Kayra membuka mata, mereka sudah berada dihamparan taman tulip yang sangat luas.


"Riel.... dimana kita?" Tanya Kayra takjub.


"Di taman tulip.... seperti nya di Amsterdam." Jawab Dariel ragu.


"Engkau tidak yakin?" Tanya Kayra menyelidik.


Dimana pun saat ini mereka berada, Kayra sangat bahagia. Ini pertama kali nya ia bisa melihat hamparan bunga tulip warna- warni yang sangat indah. Ia pun berjalan kesana kemari untuk bisa melihat dari dekat bunga- bunga tulip yang cantik.


Gaun pengantin yang sedari tadi di pakai sangat tidak nyaman. Ia harus ekstra hati- hati saat berjalan. Supaya gaun nya tidak kotor, juga supaya ia tidak merusak pohon bunga tulip yang dilewatinya.


Dariel mengambil beberapa foto Kayra. Mereka berdua sangat menikmati kebersamaan nya. Canda tawa terus mengalir manis antara ke dua pasangan ini. Hingga tak sadar ada seorang Bapak menghampiri mereka.


"Kumaha anjeun asup?" Tanya si Bapak dengan logat sunda yang kental. Baik Dariel dan Kayra memang tidak mengerti arti perkataan si Bapak. Namun mereka sangat mengenal logat Sunda yang dikatakannya.


"Bapak dari Indonesia?" Tanya Kayra kagum. Ia tidak menyangka di Amsterdam ada orang Sunda.


"Ya... saya orang sini. Asli Bandung. Bagaimana kalian bisa masuk?" Tanya si Bapak keheranan.

__ADS_1


Kayra dan Dariel berpandangan, mereka merasa ada yang tidak beres.


"Maaf ya Neng dan Aden, kami masih dalam pembenahan di sini. Ada beberapa tempat mengalami kerusakan pasca longsor kemarin. Jadi dua hari ini tempat ini tertutup untuk umum. Kalau Neng dan Aden mau foto prewed. Dua hari lagi datang ke sini lagi. Saya persilahkan untuk segera meninggalkan tempat ini." Jelas si bapak.


Kayra dan Dariel, berjalan meninggalkan tempat. Mereka mengikuti Bapak- bapak tadi. Mereka keluar melalui pintu masuk utama. Di atas gerbang terpasang tulisan besar "Taman Tulip Bandung". Kayra dan Dariel tertawa bersama.


Dariel menyenggol lengan Kayra. "Ya beginilah kalau jalan- jalan gratisan, tujuan Amsterdam. Mendarat di Bandung. Hahahaha." Pasangan suami istri itu tertawa geli.


"Kemana lagi kita Cinta?" Tanya Dariel siap menjadi guide buat istrinya.


"Kita pulang dulu ya, pakai baju ini repot sekali. Dan takut nya akan jadi lebih kotor." Kayra menunjukkan ujung- ujung gaun nya yang menyapu tanah. Dariel mengajak Kayra berjalan ke tempat sepi. Disanalah mereka berteleportasi menuju kamar mereka kembali.


Tok...tok...tok..


Terdengar pintu diketuk dari luar.


"Dariel.. Kayra... tidak kah kalian ingin makan dulu?" Teriak kak Keke dari balik pintu.


Kayra segera membuka pintu. "Ya kak...?"


Keke keheranan melihat Dariel dan Kayra masih memakai baju pengantin. "Kalian belum ganti baju?" Tanya nya.


"E... kami ketiduran kak." Jawab Dariel berbohong.


"Tidur? Tapi mengapa baju Kayra kotor begitu? Seperti dari kebun?" Keke sangat penasaran dengan keadaan gaun Kayra yang sangat kotor.


"Mungkin waktu kami foto- foto di taman, tak sengaja baju Kayra terkena tanah?" Jawab Dariel ragu. Semoga kak Keke tidak akan mempermasalahkan ini.


"Dari tadi, papa menunggu kalian di meja makan. Cepat turun ya!" Kata kak Keke, sambil ia berjalan pergi, ia memberikan pandangan menggoda pada Kayra.


"Ya kak... kami ganti baju dulu. Kami akan segera menyusul ke bawah." Jawab Kayra sambil menahan malu.

__ADS_1


"Kak Keke pasti berfikir macam- macam. Gara- gara gaun ku berantakan banget." Kayra segera mengambil baju ganti dan akan masuk ke kamar mandi. Namun dihentikan Dariel.


"Ra... kalau ganti di kamar mandi apa enggak kesulitan? Sini biar suami mu ini yang bantu." Kata Dariel menggoda istrinya.


__ADS_2