
"Ra.... keluargaku mengalami musibah. Apakah kamu mau membantu ku lagi?" Tanya Dariel tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya.
Kayra terdiam, ia tertegun mendegar berita yang disampaikan Dariel.
"Ra.... tolong bantu kak Raka dan papa. Mereka baru mengalami kecelakaan." Dariel memohon bantuan dari Kayra.
Kayra menimbang- nimbang membuat keputusan.
"Riel... ini bukan usahamu untuk memintaku kembali kan?" Tanya Kayra memastikan.
Namun di telinga Dariel, kata-kata Kayra menyinggung perasaannya. Tanpa memberi penjelasan, Dariel membawa babby M pergi berteleportasi. Kayra yang ditinggalkan begitu saja seketika melongo. Ia tidak pernah melihat Dariel saat marah. Baru inilah ia melihat kilatan amarah di mata Dariel.
"Dariel marah??" Gumam Kayra. Seketika ia tersadar, ditepuknya keningnya kuat-kuat. "Kenapa juga aku ngomong kayak itu sama Dariel. Aku benar-benar jahat dan egois." Kayra segera mengambil ponsel dari atas meja. Ia menghubungi ponsel Dariel. Namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Kayra menghubungi telephon rumah Dariel. Seorang wanita menerima telephonnya.
"Hallo... selamat malam. Kediaman bapak Erlangga. Dengan siapa ini?" Tanya wanita di seberang dengan sopan.
"Saya Kayra, bisa minta tolong dipanggilkan tuan Dariel." Kata Kayra mendesak.
"Oh... nyonya muda. Tuan muda barusan pergi ke rumah sakit membawa nyonya Keke." Lapor pelayan di seberang.
"Ada apa dengan kak Keke?" Tanya kawatir Kayra.
"Nyonya Keke terkena serangan jantung. Tadi dikira pingsan biasa. Waktu dokter datang memeriksa, baru ketahuan kalau nyonya Keke terkena serangan jantung. Jadi tuan Dariel langsung membawa nyonya Keke ke Rumah sakit melati..."
Belum selesai pelayan diseberang menyelesaikan kalimatnya. Kayra langsung menutupnya. Ia menyambar jaket jeans untuk menutupi baju tidurnya yang tipis.
Kayra bergegas keluar kamar. Ia memanggil-manggil kakek Ujang.
"Kek....kek... tolong antar Kayra!" Seru Kayra panik.
Nenek Sari yang sedang mengambil air minum di dapur segera menghampiri Kayra.
"Ada apa Ra..?" Tanya nenek Sari penasaran.
__ADS_1
"Nek... di mana kakek?" Tanya Kayra panik.
"Kakek barusan tidur. Nenek panggilkan sebentar." Kata nenek Sari dan akan menuju ke kamarnya. Namun Kayra menahannya.
"Nek, biarkan kakek istirahat. Kayra berangkat sendiri saja." Kata Kayra sambil melangkah cepat-cepat keluar rumah.
"Ra... mau kemana?" Tanya bik Sari panik melihat cucunya tidak memberikan jawaban.
Kayra sangat kalut, ia tidak bisa berfikir jernih. Ia berlari ke luar rumah. Sesaat ia berhenti di garasi. Ia menimbang-nimbang apakah ia akan naik mobil sendiri atau mobil online. Ia memutuskan untuk pesan mobil online. Kayra masih dibayang-bayangi oleh kecelakaan mobil yang pernah dialaminya karena itu membuat ia fobia menyetir mobil sendiri.
Tak berapa lama mobil yang dipesan sudah sampai di depan rumah. Kayra segera naik ke dalam mobil.
"Rumah sakit Melati. Cepat ya pak!" Perintah Kayra pada sang sopir yang membuatnya langsung tancap gas menuju ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, hati Kayra sangat panik. Ia tidak menyangka pada musibah beruntun yang dialami keluarga Dariel. Apakah ini karena dia meninggalkan suaminya?
Kayra tidak habis pikir, awalnya ia berfikir dengan menjauhi Dariel dan keluarganya akan membuat keluarga Dariel aman. Namun kenyataannya?
"Mbak sudah sampai." Kata sang sopir membuyarkan lamunan Kayra.
Kayra berlari, saat ini ada rasa penyesalan yang dalam juga rasa takut yang mendera hatinya. Ia takut terlambat memberi pertolongan kepada papa Erlangga, kak Keke juga kak Raka yang begitu baik padanya.
Saat ia sampai di dekat ruangan IRD, dilihatnya Dariel sedang menangis, terisak sendiri. Kayra ragu-ragu mendekatinya.
"Riel..." Panggil Kayra lirih.
Dariel mendongakkan kepalanya, ia sedikit terhibur saat mendengar suara lembut Kayra.
"Ra... kak Keke..." Dariel tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Riel bawa aku padanya. Ayo kita tolong kak Keke." Hibur Kayra memberi penghiburan.
"Sudah terlambat Ra... kak Keke sudah meninggal." Kata Dariel dengan penuh kesedihan.
__ADS_1
"Riel... kak Raka dan papa?" Tanya Kayra mengharap masih ada kesempatan baginya untuk menolong yang lain.
"E.... kak Raka ju...ga... me..ninggal." Kata Dariel gagap.
"Ya... Tuhan...! Riel.. ma..afkan a..ku." Kata Kayra menumpahkan penyesalannya. Kayra seketika menangis terisak. Apakah ini semua karena kesalahannya. Seandainya ia mendengar permintaan Dariel dari awal, tentunya ia tidak akan terlambat.
Dariel mendekati Kayra, ia tidak bisa menahan diri memeluknya. Dua orang itu hanyut dalam kesedihan mendalam. Sebuah rasa kehilangan yang sama-sama mereka rasakan telah menyatukan hati mereka kembali. Dua hati itu saling berbagi kesedihan.
"Riel... papa... bagaimana papa?" Tanya Kayra saat ia tersadar masih ada anggota keluarga yang mungkin masih bisa mereka tolong.
"Papa kritis, masih ditangani di ruang operasi." Kata Dariel putus asa.
"Riel... ayo kita bantu papa!" Tekat Kayra bulat. Kali ini ia tidak boleh terlambat. Papa Erlangga harus segera mereka tolong.
Dariel mengangguk, ia membawa Kayra berteleportasi ke ruang operasi. Dariel dan Kayra merapat di dinding yang telah di segel Dariel menjadi tempat bersembunyi. Dari tempat persembunyian, mereka bisa mengawasi dengan leluasa. Bagaimana papa Erlangga terbaring lemah.
Ada berbagai macam selang terhubung ke tubuhnya. Dua orang dokter sedang mengoperasi bagian tubuh Erlangga yang terluka. Sementara se orang asisten dokter bedah membantu mempersiapkan peralatan bedah. Sesekali menghapus keringat dokter yang mulai membasahi dahi. Asisten yang lain memonitor alat tanda vital faal jantung dan memastikan kadar anastesi yang masuk ke tubuh pasien.
"Pasien kritis !"
Seorang asisten berteriak tertahan saat melihat tanda vital kerja jantung menunjukkan detakan lemah. Terlihat dari tampilan angka di monitor.
Dariel menuju panel lampu sorot. Ia mematikannya, sementara Kayra meraih tangan papa Erlangga. Ia mengerahkan segala kemampuannya berusaha menyembuhkan papa Erlangga. Namun belum tuntas ia menyalurkan energi tenaga dalamnya. Ada seseorang menyalakan lampu sorot ponsel menyilaukan matanya. Hingga konsentrasinya seketika buyar.
Bersamaan dengan itu, sebuah tangan memeluknya erat dan membawanya berteleportasi, keluar dari ruang operasi.
Dariel membawa Kayra ke taman rumah sakit.
"Hiks... hiks... hik.... Riel... aku belum berhasil menyembuhkan papa." Kata Kayra penuh penyesalan. Ia sangat sedih dengan kegagalan yang diterimanya. Ia merasa terpuruk dalam kegagalannya.
"Ra.... nanti saat ada kesempatan, kita akan coba lagi. Jangan menangis lagi." Kata Dariel mencoba menenangkan Kayra.
Kayra masih saja menangis. Ia tidak bisa menerima semua kejadian yang terjadi pada keluarga Dariel.
__ADS_1
"Riel.... maafkan aku.., maafkan aku." Kata Kayra penuh sesal. Saat ini ia belum bisa memaafkan dirinya atas meninggalnya kak Raka dan kak Keke. Kakak ipar yang sangat menyayangi dan disayanginya. Dua orang sosok kakak yang punya tempat spesial di hatinya.