
Kayra ingin berteriak minta tolong. Ibunya pasti akan segera datang, kalau saja ia bisa mengeluarkan suaranya. Namun kerongkongannya seperti tersumbat tiba- tiba, hingga tidak ada suara mampu ia keluarkan.
Jantung Kayra berdetak semakin keras. Ia benar- benar ketakutan.
"Ya Tuhan.... tolong aku." Teriak nya dalam hati, namun yang keluar dari bibirnya hanya desahan, hembusan nafasnya.
Kayra ingin memejamkan mata, menghindari pemandangan mengerikan yang terpampang tepat di depan matanya. Namun ia juga takut. Kalau ia memejamkan matanya, bagaimana kalau tiba- tiba wanita misterius itu menyakiti dirinya?
Kayra menebak, wanita misterius itu bukan manusia, tapi kenapa seakan mempunyai tubuh fisik yang terasa nyata. Itu dapat ia lihat bagaimana setiap tetesan darah nya menetes. Juga aroma darah nya benar- benar ia bisa mencium bau amisnya. Sosok wanita misterius yang saat ini meneror nya sangat berbeda bila dibandingkan dengan arwah si kembar Shinta dan Sandra.
Kayra tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa berdiam tak berdaya saat sosok wanita misterius itu menjulurkan tangan ke arahnya.
Tangan itu terjulur kaku, mencekik Kayra dengan kuku- kuku panjang nya.
Kayra berusaha meronta sekuat tenaga, namun badannya seakan membeku. Hingga ia tidak mampu meski hanya menggerakkan ujung- ujung jari nya. Ia hanya bisa mengerjabkan kelopak mata nya.
Apa sebenarnya yang diinginkan wanita misterius dihadapan nya ini? Sekian lama, wanita misterius itu mencekik Kayra tanpa benar- benar berniat membuat Kayra kehabisan nafas. Bisa dibilang hanya menempelkan kuku- kuku panjang di atas permukaan kulit leher Kayra.
Entah dari mana, keberanian Kayra muncul tiba- tiba. Ia tidak mau selamanya harus mengalami teror yang menakutkan ini. Ia mulai berkonsentrasi, membayangkan ada kekuatan yang merambat di seluruh aliran darahnya. Saat ia mulai membayangkan hal itu, bersamaan ia merasakan ada aliran hangat dalam darahnya.
Kayra terbebas dari kebekuan tubuhnya. Ia segera menyambar tangan wanita misterius itu. Menggenggam erat pergelangan kedua tangan wanita itu. Hingga kedua tangan itu lepas dari cekikannya di leher Kayra.
Secepat kilat, Kayra bangun dari posisi rebahannya. Menekan kuat- kuat genggaman nya di tangan wanita misterius itu.
"A....h... Sa.... kit..." Teriak wanita misterius itu tertahan. Membuat Kayra semakin yakin, kalau wanita di depan nya ini adalah manusia biasa, bukan arwah gentayangan.
Wanita misterius itu meringis kesakitan, setiap kali Kayra menguatkan genggaman nya. Kayra melihat perubahannya dengan sangat jelas, meskipun wajah wanita itu di buat menakutkan namun tidak bisa menyembunyikan raut kesakitan nya.
"Siapa kamu???" Bentak Kayra marah. Ia merasa dipermainkan.
Bagaimana bisa ada orang yang sengaja meneror nya saat ia akan menikah? Kenyataan itu benar- benar membuat Kayra kesal. Karena ada orang yang sengaja mempermainkannya. Saat wanita misterius itu tak juga menjawab pertanyaannya, Kayra semakin mengencangkan genggamannya. Kayra tahu itu akan menyakiti lawan nya. Ia tidak menggenggam tangan wanita itu begitu saja namun ada tenaga dalam yang ia salurkan di ke dua belah telapak tangan nya. Pastinya itu akan sangat menyakitkan lawannya.
"Ampun.... lepas.. lepas kan, saya hanya orang suruhan." Kata si wanita misterius menangis terisak.
"Siapa yang menyuruh mu?" Tanya Kayra kembali.
"Ampun... lepas kan saya, sakitt..." kata wanita misterius itu dengan mengiba.
"Katakan siapa yang menyuruh mu? Atau kamu ingin kedua lengan mu ini putus?" Tanya Kayra mengancam. Ia benar- benar tidak sabar pada wanita itu. Ia marah karena merasa wanita misterius itu telah mempermainkan nya dengan teror yang sempat membuat jantung nya nyaris copot ketakutan. Kayra ingin sekali terlepas dari kutukan juga lepas dari melihat hal- hal aneh yang menakut kan.
Semalam Kayra mulai meragukan bahwa diri nya belum benar- benar terlepas dari kutukan. Karena ia masih bisa melihat hantu. Itu lah yang membuat nya sangat kesal. Kayra melampiaskan kekesalan nya pada wanita misterius yang telah menerornya. Ia memegang kuat- kuat tangan wanita itu.
__ADS_1
"Cerry, magician itu yang menyuruh ku. Ampun... ampuni aku. Aku terpaksa melakukannya, karena ia mengancam akan membunuh ku kalau aku tidak melakukan perintah nya." Kata si wanita misterius sambil terisak ketakutan.
Ia sama sekali tidak menyangka, kalau trik magic yang dilakukan Cerry pagi ini gagal. Malam tadi ia sangat takjub pada kehebatan trik Cerry, membuatnya bisa berjalan menembus kaca, juga bisa menghilang tiba- tiba. Namun pagi ini, usahanya menakut- nakuti Kayra gagal total. Ia ketahuan. Dan parah nya genggaman tangan Kayra sangat kuat dan menyakitkan, hingga ia tidak bisa meloloskan diri dari Kayra.
"Nona, aku sudah jujur mengatakan semua nya. Tolong lepaskan aku nona." Si wanita misterius itu mengiba, minta belas kasihan Kayra.
"Masih ada yang ingin ku tanya. Siapa kamu?" Tanya Kayra penasaran.
Wanita itu hanya menunduk, ia merasa takut pada Kayra dan tidak mau ketahuan jati dirinya yang sebenarnya.
"Nona ampun... ampun... tolong lepas kan nona!" Wanita misterius ber make up menakutkan itu terus mengiba, mengharap ia dilepaskan. Ia tidak menyangka pegangan Kayra pada lengan tangan nya sangat kuat, hingga rasanya sendi- sendi tangannya mau terlepas.
Genggaman Kayra semakin mengetat di pergelangan tangan wanita misterius itu. Hingga membuatnya semakin meringis kesakitan. Membuatnya tidak bisa memikirkan cara lain selain mengakui di hadapan Kayra.
"Aku... Rita, aku dibayar Cerry untuk menggagalkan pernikahan mu. Ampun...aku tidak akan berani melakukannya lagi." Kata Rita mengiba minta ampunan Kayra. Ia takut, kalau- kalau Kayra benar- benar mematahkan tangan nya. Ia seorang aktris film horor, tidak akan lucu kalau tangannya sampai patah.
"Segera pergi dari sini!!! Kalau kau melakukan ini lagi, aku tidak segan menyakiti mu sebelum ku serahkan pada polisi." Kayra mengancam dengan sungguh- sungguh. Rita sangat takut pada Kayra namun ada kelegaan di sana. Ia segera lari saat genggaman Kayra di tangannya dilepaskan. Wanita itu kabur lewat pintu kearah balkon. Sudah ada tangga yang disiapkannya sedari semalam. Setelah ini Rita tidak akan berani terima job untuk menakut- nakuti. Sekalipun menakuti seorang wanita, ia takut menerima kesialan seperti saat menakuti Kayra.
Kayra menghela nafas lega. Kelegaan nya kali ini lebih karena mengetahui bahwa si wanita misterius yang malam tadi dan pagi ini meneror nya adalah manusia. Bukan roh penasaran.
Namun sekarang fikiran Kayra diliputi perasaan sedih yang mendalam. Ia tahu kalau Cerry tidak pernah bersikap baik pada nya. Harapan nya suatu saat akan berdamai dan menjadi saudara dengan Cerry seakan sebuah impian yang mustahil. Kayra mulai berfikir, apakah mungkin Cerry ada perasaan khusus dengan Dariel? Hingga ia melakukan teror untuk menggagalkan pernikahannya? Atau hanya karena Cerry begitu membencinya?
Pikiran Kayra buntu. Ia memilih untuk segera ke kamar mandi. Pagi ini awal hidup baru baginya. Ia akan segera menjadi pengantin. Menikah dengan pria yang sangat dicintainya. Dan hari ini ia akan berdandan sangat cantik untuk menghadiri acara sakral nya.
"Ra... kamu belum mandi?" Tanya ibu Neta terkejut.
"Cepat mandi, jangan lama- lama ini sudah siang!" Perintah ibu nya sembari mendorong Kayra menuju kamar mandi.
"Cepat mandinya! Jangan sampai terlambat di acara pernikahan mu sendiri!" Teriak ibu Neta tidak sabar. Ia sedikit ngedumel melihat anak gadis nya belum siap. Padahal dia sudah selesai berdandan sejak tadi.
Ibu Neta mempersiapkan gaun yang akan dipakai Kayra. Ia menghamparkannya di atas tempat tidur Kayra. Menyiapkan sepatu, dan segala asesoris yang akan dipakai Kayra nanti.
Ibu Neta tidak segan tersenyum lebar, ya... anak gadis nya akan menikah sebentar lagi. Ada kebahagiaan besar yang dirasakan nya saat ia mempersiapkan segala sesuatu untuk Kayra.
"Rara.... mandinya jangan lama- lama nak..." Teriak ibu Neta tidak sabaran. Ia melirik ke jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan.
Semua persiapan perlengkapan gaun Kayra juga asesoris dan make up sudah tertata rapi di meja rias.
"Ra.... Rara...." Teriakan Neta kembali terdengar. Ibu nya sudah tidak sabar menunggunya, membuat Kayra mempercepat acara mandinya. Ia keluar dengan jubah mandi dan handuk membungkus rambut basah nya.
"Ayo... sini nak, ibu bantu keringkan rambut mu!" Ibu Neta segera menggandeng Kayra untuk duduk di depan meja riasnya. Dengan cekatan Ibu Neta mengeringkan rambut Kayra. Tangan kanan memegang sisir, sementara tangan kiri memegang hairdryer. Terlihat seperti penata rambut profesional.
__ADS_1
"Kita keringkan dulu rambut mu, make up wajah, baru tata rambut nya. Nurut aja ya Ra... biar cepat selesai." Kata ibu Neta seperti menasehati anak 7 tahunan. Membuat Kayra hanya tersenyum simpul melihat kehebohan ibunya.
Rambut Kayra belum kering benar saat ibunya memasangkan head band. Kayra hanya menurut. Hari ini ia mau jadi anak yang manis, tidak akan terlalu banyak komplain. Ia tahu ibu nya pasti akan melakukan yang terbaik.
"Buk... Sari.." Teriak ibu Neta tiba- tiba, membuat Kayra terkejut.
Bik Sari datang tergopoh- gopoh, langsung masuk ke dalam kamar Kayra.
"Ya... nyonya ada apa?" Tanya bik Sari tersengal.
Neta menghampiri bik Sari dan berbisik kepada nya. "Jangan panggil nyonya, panggil Nak. Apapun hasil tes DNA nanti. engkau tetap ku anggap sebagai ibu ku." Kata Neta dengan senyuman paling hangat nya.
Bik Sari, tersentuh dengan ucapan Neta. Ia hanya mengangguk.
"Buk... ambilkan Kayra makanan dan suapi, aku akan mendandaninya menjadi pengantin wanita tercantik!" Ucap ibu Neta bersemangat. Membuat bik Sari bersegera mengambilkan makanan untuk Kayra dan segelas susu hangat.
Jadilah ke dua orang itu bekerja sama. Bik Sari menyuapi Kayra, sementara ibu Neta mengecat kuku Kayra dan mulai mendandani nya.
Hari ini Kayra diperlakukan bak seorang ratu. Ia hanya duduk manis di kursinya. Sementara ibu Neta dan bik Sari sibuk melayani nya.
Hampir setengah jam, persiapan akhir nya selesai. Ibu Neta terbukti sangat pandai merias. Kayra terlihat sangat cantik. Make up natural dan tidak terlalu tebal membuat Kayra tampil semakin cantik dan segar.
"Cantik...." Bisik bik Sari. Dihadapan nya adalah Kayra cucu nya, terlihat dewasa dan sangat cantik. Dari sudut mata tua nya mengalir air mata kebahagiaan. Ia sangat bersyukur diberikan kesempatan melihat cucu kandungnya sebentar lagi menikah.
Ternyata Kayra melihat tangisan bik Sari, ia pun menghampirinya.
"Bibik.... kenapa bibik menangis?" Tanya Kayra sambil memegang bahu bik Sari yang langsung tergoncang dengan tangisan yang tidak dapat di tahan nya lagi.
"Stop.... Buk... cukup nangis nya, engkau akan bikin riasan Kayra hancur. Dan aku tidak akan bisa memperbaiki riasannya dengan cepat. Engkau tidak mau kan, kalau Kayra terlambat di pernikahan nya?" Teguran Neta seketika menghentikan tangisan bik Sari. Ia kemudian tersenyum lebar, dan menggenggam jemari Kayra yang terbungkus kaus tangan.
"Kayra...Semoga engkau bahagia selamanya ya nak... " Doa bik Sari untuk Kayra. Kayra mengangguk dan mencium pipi renta bik Sari.
Neta yang melihatnya berpura- pura menampakkan wajah kesal. "Apakah engkau cuma mencium Buk Sari saja? bagaimana ibu mu ini?"
Kayra segera mendekati ibu Neta dan menghambur dalam pelukannya.
"Ibu.... terimakasih," kata Kayra tulus. Neta segera melepaskan pelukannya. Ia harus sekuat tenaga menahan diri agar tidak larut dalam keharuan. Yang nantinya akan membuat mereka terlambat berangkat ke gereja. Bik Sari telah lebih dulu turun, untuk mengecek persiapan. Ibu Neta juga memperbaiki tatanan rambut nya yang sedikit berantakan karena kehebohannya mendandani Kayra.
Kayra mematut diri di cermin rias nya, ia sangat kagum pada hasil kerja keras ibunya. Membuatnya terlihat sangat cantik. Ia membayangkan, bagaimana nanti respon Dariel saat melihat nya? Apakah Dariel akan memuji kecantikannya? Membayangkan Dariel yang terpesona padanya membuat Kayra tersenyum.
Namun seketika senyumnya pudar, saat ia melihat ada bayangan seorang wanita di cermin. Bayangan itu terlihat sangat sedih. Seketika tengkuk Kayra meremang. Ia merasa aliran udara dingin berhembus di kulit lehernya. Kayra menoleh, namun tidak ada orang di belakang nya.
__ADS_1
Bayangan wanita itu, sesosok tubuh transparan.