
Tak berapa lama, Tia terlihat keluar dari ruangan bu Jessie. Membuat Kayra bernafas lega.
"Gimana Tia urusan dengan bu Jessie, apakah semua oke?" Tanya Kayra memastikan.
"Iya Kay... aman. Apakah kita sudah telat untuk ke aula?" Tanya Tia sambil mengajak Kayra berjalan menyusuri lorong menuju aula utama.
"Belum masih lama. Gimana kalau kita ke kantin, Beli jus? nanti aku yang traktir." Kata Kayra. Mereka berjalan mengikuti papan penunjuk. Mereka sudah tiba di kantin, suasana sangat ramai. Sudah tidak ada tempat duduk yang tersisa. Mereka tetap memesan dua cup jus. Jus apel dan jus mangga.
Saat mereka melihat tidak ada bangku kosong, Tia mengajak Kayra menuju ke taman kampus. Di bawah naungan pohon palam mereka duduk di bangku taman sambil menikmati jus yang baru mereka beli.
"Tia... kamu asli orang mana sih?" Tanya Kayra penasaran.
"Aku asli dari Malang, Jawa Timur." Jawab Tia terlihat sedih.
Namun di mata Kayra, teman barunya ini sangat unik. Apa yang terlihat sama sekali berbeda dengan hati nya. Semacam orang munafik yang membungkus kenyataan diri nya dengan sesuatu yang sangat berbeda.
Sempat Kayra ragu berteman dengan Tia. Apakah tidak berbahaya berteman dengan orang seperti itu? Tapi feeling Kayra, Tia tidak bermaksud menipu nya ada rahasia yang sengaja ditutupnya untuk suatu alasan.
"Kenapa kamu terlihat sedih, saat mengatakan kota asal mu? Apakah kamu merindukan kota mu?" Tanya Kayra mengikuti scenario Tia. Ia sangat tertarik dengan pribadi Tia Yovana teman baru nya ini.
Tia sangat pandai berpura- pura, kalau saja Kayra tidak bisa membaca pikiran nya, ia pasti terkecoh.
"Iya Ra... aku kangen sama keluarga ku." Kata Tia. Namun yang di fikiran Tia rasa bersalah kepada Kayra sangat dalam. "Maafkan aku Kay... aku tahu kamu gadis baik. Karena nya semakin sedikit yang kamu tahu tentang aku maka akan lebih baik buat mu." Bisik Tia dalam hati. Sepertinya Kayra sudah mengambil tempat di hatinya sebagai seorang sahabat.
Kenapa sih Tia mesti berpura- pura di depan nya? Ketulusan yang dibingkai dengan kepura-puraan. Buat apa?
"Tiung.....tiunggg..." Suara alaram membahana menggema di seluruh lingkungan kampus.
"Alarm apa itu?" Tanya Kayra kebingungan.
"Sepertinya sudah waktunya kita berkumpul di aula." Kata Tia segera beranjak dari duduk nya. "Ayo Ra... kita kesana!" Tia menggandeng Kayra, mengajaknya segera berjalan menuju ke aula.
__ADS_1
Aula megah dengan kapasitas lima ribu orang, terlihat dipenuhi mahasiswa baru. Aula itu dibiarkan tanpa kursi. Sehingga memberikan ruang cukup luas untuk semua mahasiswa baru berkumpul.
Seluruh ruangan dialasi dengan karpet tebal. Dinding ruangan dilapisi peredam dengan motif elegan. Ruangan berpendingin, terasa nyaman dan sejuk.
Mahasiswa baru sudah banyak yang berbaris rapi berdasarkan jurusan nya masing- masing. Kayra masih kesulitan mencari teman sekelasnya. Namun Tia dengan mudah menemukan barisan kelas mereka.
"Sini Kay..." Tia menarik tangan Kayra menuju barisan. Kayra masih tidak habis mengerti, bagaimana caranya Tia begitu gampang menemukan barisan teman sejurusan nya diantara ratusan mahasiswa? Kayra menurut saja saat ditarik- tarik Tia.
Setelah mereka bergabung dengan barisan sejurusan. Kayra mengungkapkan rasa penasaran nya.
"Tia... kamu hebat, bisa langsung menemukan barisan kita. Bagaimana caranya?" Tanya Kayra setengah berbisik.
"Gampang... itu di depan setiap barisan ada tulisan jurusan kita." tunjuk Tia dengan mendongak kan dagu nya.
Ternyata memang ada tulisan di depan barisan nya. Sebuah papan tulisan yang tidak terlalu besar. Dari tempat nya berdiri tidak terlalu kelihatan. Kayra kembali kagum pada sahabat baru nya itu.
"Hebat nya kamu Tia..." Kayra menjawil lengan Tia yang terlihat serius saat berbaris. Dia hanya memberikan senyum sebagai jawaban untuk Kayra.
"Cari aku ya?" Tanya Dariel bertelepati.
"Iya, kamu dimana?" Tanya Kayra sambil menoleh mencoba mencari keberadaan Dariel.
"Aku di samping kiri mu." Jawab Dariel kembali.
Kayra menoleh ke samping kirinya, ternyata benar. Dariel ada di sana sedang tersenyum melihat Kayra. Membuat Kayra langsung memalingkan wajah nya dengan pipi yang merona. Jarak yang terbentang diantara mereka cuma satu meter. Namun rasa- rasanya seperti puluhan kilo meter hingga tak tergapai.
"Cinta, sepulang dari sini nanti jalan- jalan ya." Ajak Dariel masih dengan telepati.
"Jalan- jalan kemana?" Tanya Kayra ragu.
"Ke mana pu cinta ingin...!" Kata Dariel sungguh- sungguh. Hari ini ia ingin sekali menyenangkan istrinya.
__ADS_1
"Oke... kita beli es krim dan menikmatinya di taman. Bagaimana?" Tanyaa Kayra.
"Kemanapun cinta mau, aku bersedia. Keujung bumi pun aku tidak keberatan." Kata Dariel mulai melemparkan gombalannya.
"Ih... gak mauu... ntar salah alamat atau di usir penjaga. Aku lebih suka jalan- jalan normal seperti orang normal." Kata Kayra mengultimatum.
"Cinta... suami mu ini normal lho. Mau bukti? Ayo kita buktikan di ranjang!" Kata Dariel menantang.
"Waduh... kok sampai ke situ? Udah ah... bahaya ngomong ngelantur sama Dariel...." Kayra segera membentengi batin nya agar Dariel tidak bisa lagi menembus ke dalam pikiran nya.
Saat tahu apa yang dilakukan istrinya. Dariel sengaja mencari perhatiannya.
"Uhuk.... uhuk..." Dariel pura- pura batuk. Mengetahui keisengan suaminya, Kayra tidak bisa menyembunyikan tawa nya dalam senyuman.
Tia menyikut nya. "Kamu kenal cowok kedokteran di samping?" Tanya nya memastikan.
Kayra menggeleng. Ia belum siap membuka pernikahan nya pada sahabat baru nya.
"Kay... jangan mudah membuka hati pada cowok, kalau tidak mau terluka." Bisik Tia.
Perhatian mereka kembali fokus pada ketua BEM yang sedang memberikan pidato di depan. Kalau dilihat- lihat, ketua BEM itu sedikit mirip dengan Aliando, artis idola Kayra. Sempat ia terpesona. Namun ia ingat janjinya pada Dariel. Kayra pun menghela nafas dalam- dalam dan berbisik pada hatinya. Supaya ia tidak sekali- kali mengidolakan cowok lain. Hanya ada Dariel satu- satunya di hatinya.
Rupanya ketua BEM yang mirip Aliando itu sejurusan dengan nya. Membuat nya harus ekstra jaga hati. Seketika rasa bersalah melingkupi hati nya. Ia merasa sudah menyelingkuhi Dariel. Kayra mengetok jidat nya berharap pikiran- pikiran aneh pergi dari kepalanya.
"Kay kamu kenapa sih? aneh banget." Tegur Tia bisik- bisik.
"Gak papa... cuma mau buang pikiran gak berguna ini dari kepala ku." Kata Kayra sedikit kesal.
Tepukan meriah membahana mengakhiri pidato sang ketua BEM. Dengan senyuman menawan, ia turun dari podium mini, sembari melambaikan tangan. Lebih mirip calon presiden yang sedang kampanye memenangkan suara.
Membuat ratusan bibir para wanita menyunggingkan senyum simpati dan terpesona. Sementara para pesaingnya yaitu para pria menatap dengan pandangan iri. Tak terkecuali Dariel. Ia sangat kesal, jangan sampai pria itu merebut hati istri tercintanya.
__ADS_1
Kalau bisa ia akan bikin papan pengumuman, agar tak seorang pun menggoda istrinya. Namun sayang nya ia sudah terlanjur janji pada Kayra untuk merahasiakan hubungan mereka. Mau gimana lagi? ia harus ekstra menjaga Kayra.