
Kayra terdiam membisu. Ia belum siap membuka rahasia yang selama ini disimpannya rapat- rapat.
Ibu Neta putus asa. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya memutuskan duduk di samping nenek Sari yang tertidur.
Hati Neta berdesir pedih. Ia tidak tega melihat Kayra yang terpuruk. Tapi kediaman Kayra membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Neta ingin memeluk Kayra, menangis bersamanya. Namun saat ini, sepertinya Kayra hanya ingin sendiri.
Neta memutuskan memberi ruang untuk Kayra. Ya putrinya belum siap untuk terbuka padanya.
Kayra masih terisak. Hidungnya sampai mampet karena lamanya ia menangis. Kesalahannya kali ini benar-benar fatal. Bagaimana bisa roh jahat itu kembali menguasainya? Padahal ia telah menghancurkan wanita ular dalam cermin.
Apakah kutukan itu tidak benar- benar hancur? Saat ini tidak ada yang bisa dilakukannya selain menjauh dari Dariel. Keputusan nya kali ini sudah final.
Kayra jatuh tertidur karena kelelahan. Saat pagi hari dia terbangun, sudah ada makanan diatas meja dan segelas susu.
Kayra beranjak dari tempat tidurnya. Ia menuju ke kamar mandi. Kayra memutuskan untuk mandi, badannya terasa lengket. Selesai mandi, Kayra menuju ke balkon. Ia duduk di sebuah bangku. Lamunannya melayang.
Baru kali ini Kayra merasakan galau yang menyiksa dalam hatinya.
Pandangannya menerawang, mengingat kebahagiaan yang baru dicecapnya bersama Dariel. Dan dalam waktu singkat ia harus melepasnya.
Ibu Neta dan nenek Sari berdiri mengawasi Kayra dari balik pintu kaca. Mungkin Kayra masih perlu waktu lebih lama untuk bisa terbuka kepada mereka.
Ibu Neta mengajak nenek Sari untuk pergi.
Kayra tidak menyadari keberadaan ibu dan neneknya yang sedari tadi mengawasinya. Kayra masuk semakin dalam. Lamunan membawanya semakin terperosok dalam. Tubuhnya seakan tersedot masuk ke dalam lubang hitam. Disanalah ia mendengar suara- suara saling tumpang tindih. Meninggalkan kesan mistis dari alam lain.
Tangan-tangan transparan menggapai-gapai kearah nya.
"Tolong.... selamatkan aku...!" Seru suara melengking menggaungkan penderitaan dan kesakitan yang menyayat.
__ADS_1
Kayra tersadar. Ia tergagap. Kayra menyadarkan dirinya. Kalau ia terus merenungi kemalangan nya, ia akan terseret ke dunia lain. Dan kondisi ini paling tidak disukainya.
Kayra masuk ke dalam kamarnya, ia mengambil tas dan beberapa buku. Ia memutuskan, hari ini ia akan masuk kuliah.
Saat ia turun dari kamar, keluarganya sedang berkumpul di ruang makan. Mereka sedang mendiskusikan sesuatu. Dan saat melihat Kayra turun, mereka terdiam keheranan.
"Ra... kamu mau kemana nak?" Ibu Neta langsung mendekati Kayra.
"Ibu, Rara mau ke kampus." Jawab Kayra.
"Nak... apa tidak sebaiknya kamu istirahat dulu? Supaya kamu pulih dulu nak." Kata ibu Neta menasehati Kayra.
"Kayra ke kampus Bu," putus Kayra. Ia perlu keramaian supaya bisa melupakan kegalauan hatinya.
"Diantar kakek ya Ra..?" Ibu Neta kawatir anaknya akan menghadapi masalah. Jadi sebaiknya biar kakek Ujang yang ngantar.
Sepanjang perjalanan Kayra memilih berdiam diri. Melemparkan pandangan menerawang jauh keluar kaca mobil.
Kakek Ujang sangat kawatir dengan keadaan cucunya.
"Ra... nanti kalau ada apa- apa segera hubungi kakek ya." Kata kakek Ujang mencoba memecahkan kebekuan diantara mereka. Namun Kayra hanya menjawab dengan singkat.
"Ya kek." Kebisuan kembali menyelubungi diantara mereka.
Sesekali kakek Ujang mengawasi Kayra melalui kaca spion. Ia semakin kawatir karena melihat raut kesedihan tergambar jelas di wajah Kayra.
Selama ini kakek Ujang mengenal Kayra sebagai pribadi yang ceria. Sekalipun Kayra dalam tekanan dan masalah, tidak pernah menunjukkan kesedihan nya. Kayra masih bisa ceria. Namun kali ini, cucunya terlihat sangat sedih. Menunjukkan kalau masalah yang dihadapi Kayra pastilah masalah yang sangat berat.
Mungkin benar, apa yang dikatakan Neta tadi. Kalau saat ini Kayra perlu waktu untuk menata hatinya sampai ia siap terbuka kepada mereka.
__ADS_1
Kebisuan kembali menghiasi sisa perjalanan mereka. Kakek Ujang menghentikan mobil tepat di depan gerbang kampus. Kayra segera turun. Ia bergegas masuk ke dalam kampus tanpa memperhatikan apa pun di sekeiling nya. Bahkan saat Tia sahabat barunya memanggil-manggil namanya, Kayra tidak mendengar nya. Membuat Tia tersengal karena berlari-lari mengejarnya.
"Kay... sehari saja aku gak masuk kuliah, kamu dah melupakan aku?" Kata Tia nyerocos memprotesnya. Saat ia berhasil mengejar dan mensejajari langkah Kayra.
"Kay... gak biasanya kamu diam saja? Ada apa?" Tanya Tia penasaran.
"Enggak ada apa-apa, aku lagi pms saja." Kata Kayra berbohong.
Tia mengangguk memahami situasi tidak nyaman dari Kayra. Mereka terus berjalan menuju kelas mereka. Rupanya hari ini adalah akhir dari masa orientasi. Semua maba diberi tugas untuk meminta tanda tangan dari para senior mereka.
Keseruanpun terjadi, karena untuk mendapat tanda tangan dari para senior ternyata tidak gampang. Masing-masing senior memberi misi aneh- aneh kepada para mahasiswa baru. Baru kali inilah serasa benar- benar mengikutin perpeloncoan. Namun hati Kayra sedang pedih, membuatnya tidak bisa menikmati acara ini.
Sebenarnya Kayra malas mengikuti kegiatan orientasi ini. Tadi ia memutuskan datang ke kampus hanya untuk menghindari pandangan iba keluarganya juga bayang-bayang makhluk transparan yang meminta tolong padanya. Kalau ia mau pergi sekarang sangat tidak memungkinkan. Ia tahu pasti, gerbang kampus selalu terkunci rapat setiap kelas dimulai.
Kayra dengan terpaksa mengikuti kegiatan ini. Seperti tahu kegalauan hati Kayra, Tia mencoba membantu menceriakan Kayra kembali.
Dengan semangat 45 Tia menggandeng Kayra ke sana ke mari demi mendapatkan sebuah tanda tangan.
Tanda tangan pertama didapatnya dari Kak Wisnu jurusan hukum. Ia hanya menyuruh Tia dan Kayra menyanyi. Berkat kepedean dan suara merdu Tia, mereka pun berhasil mendapatkan tanda tangan. Masih ada ratusan nama di form yang belum bertanda tangan. Setidaknya mereka harus dapat sembilan belas tanda tangan lagi kalau tidak mau dapat hukuman. Karena bagi Maba yang mendapat tanda tangan kurang dari dua puluh dianggap sebagai 'Lawbreaker'. Ancaman nya adalah sebentuk hukuman yang pastinya tidak ingin dirasakan para maba.
Tia menggenggam erat pergelangan tangan Kayra. Mengajak Kayra mendatangi sekelompok cowok kakak tingkatnya. Beruntungnya mereka tidak mempersulit Kayra dan Tia. Sehingga dengan mudah Kayra dan Tia mendapat tanda tangan cukup banyak.
Ada pula kakak Senior yang iseng kepada mereka. Nama nya Tika, ia menyuruh Kayra menyerahkan sekuntum bunga mawar pada Alex sang ketua BEM sambil berkata "I love you" itu pesan nya. Sebuah perintah konyol menurut Kayra. Namun akhirnya ia melakukannya juga.
Kayra berlari menghampiri Alex dan menyerahkan bunga mawar itu padanya. Alex masih sibuk dengan catatan di buku kecilnya. Ia mengacuhkan Kayra. Kalau saja ini bukan acara orientasi. Kayra ingin sekali melemparkan bunga itu ke wajah Alex. Namun ia menahan diri. Ia berdiam diri cukup lama.
"Ada apa? Kok diam?" Tanya Alex. Namun Kayra masih bertahan dalam kebisuan. Hingga membuat Alex penasaran dan beralih memperhatikan Kayra. Alex mengalihkan pandangannya dari buku kecil yang sedang ditulisnya. Alex seketika terpana melihat keberadaan Kayra.
"Kamu....?"
__ADS_1