
Hampir dua minggu sejak kematian kakak iparnya, Kayra dan Dariel tidak masuk kuliah. Mereka masih berat meninggalkan papa Erlangga juga babby M. Bahkan Kayra sudah mulai mempertimbangkan untuk putus kuliah. Ia ingin lebih fokus mengurus babby M.
Sore itu ibu Neta datang berkunjung. Ia kangen pada cucu barunya. Ya Neta merasa sudah menjadi nenek setelah Kayra dan Dariel resmi mengadopsi Miracle Erlangga sebagai anak angkat mereka.
Kayra masih asyik menggendong babby M sambil menikmati indahnya taman belakang rumah besar Erlangga, saat ibunya datang berkunjung.
"Ra... gimana kabar kalian?" Tanya ibu Neta sembari mencium gemas cucunya.
"Kami baik-baik saja. Maaf ya Bu... Rara belum sempat pulang ke rumah. Agak ribet, kalau membawa babby M jalan-jalan. Dia masih terlalu kecil." Kata Kayra penuh penyesalan.
"Iya Ra... gak papa. Kalau ibu kangen, tinggal datang ke sini saja. Seminggu ini ibu agak sibuk ngurusi perusahaan. Untunglah semua urusan selesai tepat waktu, jadi hari ini ibu bisa melihat babby M." Ibu Neta meminta babby M untuk digendongnya. Kayra menyerahkan babby M pada ibunya.
"Ra, itu titipan kado buat babby M dari Cerry." Kata ibu Neta menunjuk paper bag besar yang tergeletak di bangku taman.
"Kapan Cerry tiba di Indonesia?" Tanya Kayra penasaran.
"Cerry belum pulang, ini masih awal masa kuliah. Jadi ia belum bisa pulang. Katanya sih, Cerry senang kuliah di Shanghai. Dia bilang kerasan di sana. Kemarin ia menelephon ibu, minta dibelikan pernak-pernik bayi, katanya buat baby M. Sepertinya Cerry juga bersemangat dengan keponakannya." Neta melemparkan senyum bahagia. Ia sangat bahagia kalau Cerry akhirnya bisa menerima keberadaan Kayra.
Kayra mengangguk, ia pun merasakan kebahagiaan yang dirasakan ibu Neta.
"Bu, aku lihat ya... aku penasaran banget." Kata Kayra sembari merobek kertas penutup kado. Seketika matanya berbinar bahagia. Setumpuk baju bayi dengan bahan katun lembut dengan gambar-gambar yang sangat lucu.
"Bagus banget Bu..." Kata Kayra senang.
Neta tersenyum melihat kebahagiaan anaknya.
"Ra... kapan kamu mulai kuliah lagi?" Tanya ibu Neta.
Mendengar pertanyaan ibunya, membuat Kayra sesaat tertegun.
"Sepertinya, Rara putus kuliah Bu. Rara tidak berani meninggalkan babby M. Ia pernah hampir diculik orang Bu." Kata Kayra gamang.
"Ra... mungkin kami bisa bantu jaga babby M, ada ibu, nenek dan kakek. Kami bisa bergantian menjaganya selama kamu kuliah. Mumpung kamu masih muda, selesaikan dulu study mu." Kata ibu Neta menawarkan bantuan.
__ADS_1
"Trimakasih ya Bu, buat tawaran bantuannya. Nanti Rara akan diskusikan dengan Dariel, seperti apa baiknya." Jawab Kayra bersemangat.
"Permisi nyonya, ini minumannya." Kata seorang pembantu menawarkan minuman pada mereka.
"Trimakasih ya Bik." Jawab Kayra dan Neta hampir bersamaan.
Mereka kembali berbincang-bincang hingga hampir petang. Ibu Neta pun pamit pulang. Sementara Kayra, ia kembali merenung. Apakah ia bisa melanjutkan kuliah atau terminal saja?
"Ra... sudah mulai gelap. Ayo cepat masuk. Kasihan babby M." Tegur Dariel saat ia mendapati Kayra masih asyik duduk termenung di taman.
"Oh... maaf Riel. Gak sadar, ternyata sudah mulai gelap ya..." Jawab Kayra tergagap.
Kayra menggendong babby M, sementara Dariel membawakan kado dari ibu Neta.
"Ra... besok kita mulai kuliah. Sudah dua minggu kita tidak masuk kuliah. Takutnya kita ketinggalan pelajaran." Kata Dariel saat mereka berjalan masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana papa dan babby M?" tanya Kayra galau. Ia masih ragu untuk meninggalkan papa Erlangga dan babby M. Bagaimana kalau saat mereka sibuk kuliah, sesuatu terjadi pada mereka?
Kayra begitu kagum dengan suaminya. Meskipun Dariel masih sangat muda, ia bisa dewasa dan penuh pertimbangan dalam membuat keputusan.
"Kalau seperti itu sebuah keputusan yang bijaksana. Oh ya Riel, tadi ibu juga menawarkan bantuan untuk menjaga babby M."
"Kalau begitu, kita bisa tenang saat kuliah nanti." Jawab lega Dariel.
Akhirnya ada penyelesaian untuk masalah yang sempat membebani hatinya.
Setelah menidurkan babby M, Kayra segera menghubungi ibunya. Memberitahukan keputusan Dariel sekaligus meminta bantuan ibu Neta untuk menjaga babby M saat mereka kembali kuliah nanti. Ibu Neta sangat senang bisa menbantu Kayra dan Dariel.
***
"Kay... kamu kemana saja sich? Dua minggu gak masuk kuliah? Katanya kamu sakit ya?" Tanya Tia saat dua sahabat itu makan siang bersama di kantin.
"Iya, maaf aku gak kasih kabar." Kayra merasa sangat bersalah karena harus menyembunyikan rahasia pada Tia. Ia bertekat saat waktunya tepat nanti, ia akan mengungkap rahasianya pada Tia.
__ADS_1
"Kay... aku kan sahabat mu. Setidaknya kabari aku agar bisa menjengukmu saat sakit. Sebenarnya kamu sakit apa? Kok sampai dua minggu?"
Kayra mengangguk dengan enggan. Ada rasa bersalah saat ia menyimpan sebuah rahasia terhadap sahabat yang sudah dianggapnya saudara ini. "Bukan sakit serius kok. Aku cuma perlu istirahat aja." Lagi-lagi Kayra harus berbohong, agar sahabatnya tidak berpikir macam-macam.
"Kay... akhir-akhir ini aku lagi melo. Kamu tidak datang kuliah, gak ada teman curhatku." Kata Tia dengan pandangan sendunya. Seakan ada duka yang dia pendam di sana.
"Sekarang, aku di sini kan? kamu bisa curhat supaya lebih tenang." Kayra menggenggam tangan Tia. Ia berusaha memberikan rasa kepercayaan pada sahabatnya.
"Mantan cowok ku meninggal dalam kecelakaan." Kata Tia dengan raut wajah sedihnya.
Kayra menepuk bahu Tia. Menyalurkan kekuatan dan penghiburan padanya.
"Kay... aku sangat mencintainya. Dua tahun lalu kami putus. Hati ku sakit. Namun lebih sakit saat aku mendengar kabar kematiannya. Hik... hik... hik." Tia hanyut dalam tangisan kesedihan.
"Tia.. sabar ya... Semua sudah diatur Tuhan." Kayra berusaha menenangkan Tia yang mulai terisak.
"Kay... kami pacaran sejak aku masih SMP. Tapi... kak Raka meninggalkanku demi cewek lain. Hik...hik..."
Saat Tia menyebutkan nama Raka, seketika hati Kayra berdesir tidak nyaman. Apakah yang dimaksud Tia adalah kak Raka, mendiang kakak iparnya? Jadi inikah sebabnya, Tia menangis di malam penghiburan itu?
Kayra tercenung dalam lamunan. Bagaimana bisa Tia ada hubungan dengan kak Raka? Seingatnya, Dariel pernah bercerita kalau kak Raka tidak pernah berpacaran. Atau mungkin dia melupakan informasi hubungan Tia dengan mendiang kak Raka? Kayra masih sibuk dengan pikirannya sendiri, saat Tia melanjutkan ceritanya.
"Kay... hubungan kami tidak ada yang tahu. Betapa naif nya aku, mengira cinta kak Raka hanya untukku. Jadi aku meminta agar hubungan kami dirahasiakan. Dan saat kak Raka meminta kepastian cintaku. Aku minta dia menunggu ku. Namun dua tahun lalu dia memutuskanku. Hati ku sakit sekali... dan aku menyesal... " Tia melemparkan pandangan kosong.
"Kay... kak Raka mungkin memang bukan jodoh ku. Dia benar-benar pergi dan tak dapat ku gapai lagi." Tia menangkupkan telapak tangan pada wajahnya. Menyesali masa lalunya.
"Kalau begitu, Tia harus merelakan kepergian kak Raka ya. Supaya dia tenang di atas sana. Juga, kamu bisa move on dan menemukan cinta sejatimu."
Tia mengangguk, tangisannya sudah berubah senyuman merekah.
"Trimakasih ya Kay... kamu sahabat terbaikku." Tia memeluk Kayra.
Dua sahabat itu terhanyut dalam suasana haru dan kebahagiaan yang berbaur jadi satu. Mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka sedari tadi. Pemilik mata itu mengulas senyum sinis.
__ADS_1