Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
pelarian


__ADS_3

Shinta menyambar tasnya. Ia sengaja meninggalkan hand phone mahal nya di atas meja. Karena ia tahu saat ia kabur nanti, keberadaannya akan sangat mudah dilacak bila ia mempertahankan hp nya. Juga kalau beruntung hp itu akan diambil orang asing dan dibawa menjauh. Sehingga saat Tino melacaknya, ia akan teralihkan cukup jauh. Itu taktik yang terfikir oleh Shinta sesaat yang lalu.


"Ayo Ra... kita kabur!" Shinta menarik tangan Kayra mengajaknya berlari. Kayra yang terkejut dan tidak habis pikir, hanya bisa mengikuti Shinta. Mereka berlari meninggalkan depot. Shinta baru melepaskan genggaman tangannya saat mereka sudah sampai di jalan sepi. Mereka sampai tersengal hampir kehabisan nafas.


"Ratih... ada apa? ngapain kita lari?" Kayra bertanya, sekalipun sebenarnya ia sudah tahu yang telah terjadi. Ia menjaga supaya rencananya benar- benar berhasil.


"Ceritanya panjang, nanti kalau sudah aman aku pasti kasih tahu." Ratih melepaskan wig rambut panjangnya yang dipakainya. Kayra terkejut karena ia tidak menyangka kalau ternyata Shinta memakai wig. Mungkin karena wig yang selama ini dipakai Shinta alias Ratih berkualitas ekspor. Hingga terlihat natural seperti rambut asli. Kini terlihatlah rambut asli Shinta pendek sebahu. Shinta mengambil jaket kulit dan menyerahkan pada Kayra.


"pakai ini!"


Tanpa bertanya Kayra langsung menuruti perintah Shinta. Ia memakai Jaket kulit juga topi yang diberikan Shinta. Sementara Shinta memakai blazer dan kaca mata. penampilan Shinta sekarang terlihat seperti wanita kantoran. Ia membuang dompet bermereknya di tengah jalan sepi itu. Membuat Kayra hanya bisa melongo. Sebegitunya Shinta membuat pengalihan pelarian mereka. Ini berarti lawan yang mereka hadapi sangat lihai. Bukan orang sembarangan.


Shinta dan Kayra melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki. Sampai di sebuah komlek perumahan, mereka berhenti di sebuah rumah minimalis modern dua lantai. Shinta mengambil segepok kunci dari dalam tas ranselnya. Beberapa kali ia mencoba kunci- kuncinya, yang semuanya tidak ada yang cocok. Sampai kemudian datang tiga orang pria mendekati mereka.


"Ratih... ada orang datang!" Kayra memeringati Shinta. Mungkin saja mereka telah salah rumah. Shinta menoleh melihat ketiga pria yang berjalan mendekati mereka.


"Selamat sore mbak...!" Sapa salah satu pria yang terlihat paling tua.


"Iya selamat sore!" Ratih membalikkan badan melihat ketiga pria itu. Sepertinya ia mengenal salah satu diantaranya.


"Oh.... mbak Ratna, baru datang ya mbak?" Tanya si pria berbaju batik.


"Iya pak RT, Seminggu saya pulang kampung, jemput saudara sepupu rencana mau sekolah di sini."


Tiga pria itu tersenyum ramah pada Kayra.


"Sudah kelas berapa?" Tanya pak RT.

__ADS_1


"Baru lulus SMA." Jawab Kayra dengan sopan.


"Oh jadi mau lanjut kuliah disini?" Tanya pak Rt lagi.


"Iya pak." Jawab Kayra.


"Maaf pak, ngobrolnya jadi di luar, kunci- kunci saya tidak ada yang cocok." Shinta menginterupsi. Dan memperlihatkan kunci- kunci yang baru dicobanya.


"Oh iya maaf saya yang kelupaan. Kemarin ada warga yang lagi latihan bawa mobil dan tidak sengaja merusakkan gembok pagar. Kemarin pagarnya diperbaiki dan gemboknya diganti baru. Sebentar saya ambil kan kuncinya di rumah."


Dengan buru- buru pak Rt berlari menuju rumahnya yang berjarak lima rumah dari tempat mereka. Tak lama pak RT datang menyerahkan dua buah kunci pada Shinta.


Akhirnya pintu gerbang bisa terbuka.


"Mari silakan masuk Bapak- bapak, saya buatkan minum." Dengan ramah Shinta mempersilakan tiga pria itu untuk masuk ke rumahnya.


Ratih dan Kayra masuk ke dalam rumah. Seketika Kayra terkagum dengan isi rumah Shinta yang terlihat elegant dan hangat.


Kayra langsung menghempaskan pantatnya di sebuah sofa di ruang tamu. Rasanya penat sekali. Ia menikmati kelembutan dan empuknya sofa putih tulang yang didudukinya. Sementara Shinta segera menuju kamarnya. Dan tidak berapa lama sudah kembali menemui Kayra. Shinta sudah berganti dengan babydoll pink bergambar kucing lucu.


"Kayra kamar mu dilantai dua yang ada tulisan "SanTy". Shinta menunjuk sebuah kamar di lantai dua.


"Ya... trimakasih banyak. Ratih, kamu dah banyak bantu aku." Jawab Kayra.


"Di lemari ada baju- baju ganti bisa kamu pakai." Kata Ratih lagi sambil ikut duduk di sofa dekat Kayra.


"Apakah kamu mau jelasin sesuatu?" Tanya Kayra memancing Ratih.

__ADS_1


"Ya... aku akan ceritakan sesuatu. Tapi gak asyik kalo gak ada cemilan dan soft drink nya."


Shinta kembali beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke dapur. Ia membawa sebotol besar Fanta strowbery dingin, gelas dan sekotak brownis.


"Wah.... asyikkkk." Kayra berbinar melihat brownis yang dibawa Shinta. Sudah sekian lama ia tidak makan kue favorit nya.


"Sebenarnya masih kenyang. Tapi aku gak bakalan bisa nolak pesona brownis." Kayra tersenyum lebar memamerkan gigi putihnya. Merekapun menikmati brownis dan soft drink sambil bertukar cerita.


"Nama asliku Shinta, aku punya identitas ganda. Nama lain ku: Ratih, Ratna, Intan dan banyak lagi nama- nama lain yang bahkan aku pun sudah lupa. Semua itu untuk menutupi kejahatan ku." Shinta menghela nafas panjang mengingat sepak terjangnya di dunia kejahatan yang selama ini dilakukannya.


"Aku sudah sangat jahat, banyak gadis tak berdosa ku jebak." Kayra terkesiap pada pengakuan jujur Shinta.


"Sejujurnya aku lakukan ini demi Sandra, ternyata ia tidak pernah suka pada semua yang telah ku lakukan." Sekali lagi Shinta menghentikan ceritanya dan kembali menarik nafas dalam - dalam seakan ada bongkahan yang menghalangi jalan nafasnya.


"Nama aslimu Shinta? Dan siapa Sandra" Tanya Kayra menuntut kejujuran Shinta.


"Sandra adalah saudara kembar ku. Ia lahir lebih lambat beberapa menit dari pada aku." Seketika raut wajah Shinta terselimuti kesedihan yang mendalam.


"Dia sudah meninggal."


"Shinta.... Aku melihat arwah seorang gadis berdiri di dekat mu. Ia tidak mirip sama sekali dengan mu. Namun ku rasa dia ada hubungannya dengan mu. Baju dan rambutnya basah..." Kayra langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ada kejutan yang baru disadari Kayra.


"Ya Tuhan... apakah aku benar- benar bisa melihat arwah?" Kayra tidak percaya pada apa yang terjadi pada dirinya. Ya... ia benar- benar melihat sesosok transparan seorang gadis belasan tahun. Arwah itu berdiri dekat Shinta. Tatapannya kosong tidak ada kehidupan di sana. Ada air terus menetes dari rambut dan tubuh arwah itu. Namun tidak meninggalkan bekas sedikit pun.


Shinta menatap Kayra dengan tatapan takjub. "Apakah rambutnya pendek sebahu? Kulitnya putih? umurnya sekitar tiga belas tahunan?" Shinta memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Kayra hanya mengangguk mengiyakannya.


"Apakah kamu melihatnya sejak kita ketemu di kereta?" Tanya Shinta kembali meluapkan rasa penasarannya.

__ADS_1


__ADS_2