Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Undangan Makan


__ADS_3

Mereka mengarahkan senjata mereka kepada rombongan Dariel.


salah satu orang yang paling tua tiba-tiba berteriak kencang seruan pekikan perang, orang-orang yang mengepung segera menyerang rombongan dari segala penjuru. Mereka menyerang dengan pisau dan tombak berujung batu yang diasah sangat tajam.


Masing- masing orang dalam rombongan menghadapi dua atau tiga lawan. Dariel menghadapi penyerangnya dengan parang yang kebetulan masih dipegangnya. Ia tidak benar - benar berusaha melukai lawan. Hanya mengelak dan menangkis serangan. Demikian anggota rombongan melakukan hal yang sama karena sudah dapat perintah dari Rahmadi.


Tentara lebih fokus melindungi ahli geologi dan Dariel, ketiga orang ini menjadi prioritas utama. Rahmadi cukup mampu bertarung, karena sudah cukup berpengalaman. Mereka mengulur waktu, menunggu perantara yang belum terlihat batang hidungnya. Beruntungnya Suku Asmat saat itu tidak menggunakan panah beracun. Sehingga mereka masih bisa mengimbangi serangan mereka.


Bagi Dariel, orang - orang pedalaman seperti kembar. Semua mempunyai kulit hitam, rambut keriting dan wajah yang hampir sama. Bahkan riasan coretan putih kuning dan hitam di wajah mereka semakin menegaskan kalau orang - orang yang saat ini mereka lawan adalah kembar identik.


Dia ragu apa benar Rahmadi bisa mengenali perantara diantara tiga puluhan orang yang menurutnya kembar? Mereka sudah mulai terdesak. Kalau mereka tidak benar -benar melawan, bisa - bisa mereka juga yang celaka. Salah satu ahli Geologi mulai kelelahan, ada sabetan tombak merobek lengan baju kanannya. Untungnya tidak sampai terluka. perbandingan yang cukup besar antara rombongan Dariel dan suku Asmat. perbandingannya satu dibanding tiga. Hampir setengah jam berlangsung bentrokan. Rombongan Dariel mulai kelelahan. Harus ada yang melakukan sesuatu untuk menghentikan bentrokan supaya tidak sampai jatuh korban nyawa.


Dariel menangkap salah satu pemuda suku Asmat yang menyerangnya. Dengan tangan kanan ia memiting kedua tangan penyerangnya kebelakang punggung. Sementara tangan kirinya ia pakai menekan pelipis si pemuda. Dariel membiarkan parangnya terjatuh dekat kakinya.


Sementara Rahmadi berteriak - teriak menginstruksikan kepada tentara yang bertarung dekat Dariel untuk ekstra melindungi Dariel. Bahkan dia beringsut mendekati tempat Dariel.


Rahmadi mengumpat kesal melihat kecerobohan Dariel. Namun kejadian berikutnya membuatnya menelan semua sumpah serapahnya.

__ADS_1


Beberapa saat setelah Dariel menekan pelipis si pemuda asmat. Si pemuda jatuh pingsan. Dariel sedikit limbung, namun ia segera menegakkan badannya dan berteriak dengan sekuat tenaga, meneriakkan kata - kata asing. Seketika orang - orang suku Asmat yang menyerang mereka menghentikan serangan. Semua mata tertuju pada Dariel.


Dariel kemudian berkata - kata dengan bahasa aneh, begini kira - kira artinya.


"Kami kesini memenuhi undangan kalian, kenapa tidak ada sambutan yang ramah?"


Ketua suku mendekat. "Kapan kami mengundang kalian?"


"Salah satu orang mu telah datang ke rumah kami. Menjanjikan akan memberikan kami tanah untuk digali." Kata Dariel masih dengan dialeg mereka.


"Tidak ada satupun yang berbuat seperti itu."


Rahmadi mengenali salah satu dari rombongan pemuda pemburu. Pemuda itulah yang mendatanginya di proyek seminggu yang lalu. Rahmadi memberitahukannya pada Dariel.


"Pemuda itulah yang mengundang kami". Kata Dariel sambil menunjuk pemuda yang sudah diberitahukan Rahmadi sebelumnya.


Seketika sang ketua Suku terkejut karena orang yang dimaksud ternyata adalah anaknya sendiri.

__ADS_1


Si anak ketua suku segera mendekati rombongan Dariel. Ia mengenali Rahmadi. Pemuda itu berkata kepada sang ketua suku kalau ia benar telah mengundang mereka.


Sang ketua suku melunak. Bahkan ia menawarkan Dariel dan rombongan masuk ke rumah Tysem untuk makan bersama.


Di dalam rumah sudah disediakan cukup banyak makanan. Ada sagu bakar, ulat sagu dan daging asap. Sepertinya cukup nikmat. Acara makan siang dimulai dengan menuang air minum berwarna kecoklatan. Mirip seperti susu coklat. Namun saat diminum, seketika membuat rombongan Dariel kecuali Rahmadi merasa tersedak. Hampir saja Dariel memuntahkan air itu. Namun saat ia mengingat untuk menjaga kesopanan pada tuan rumah, ia meludahkan pelan - pelan, mengembalikannya ke gelas bambu. Huekkkk bukan susu coklat tapi air sungai mentah, bagaimana bisa?


Dariel mengeluarkan beberapa makanan dari ranselnya. Dikatakannya itu sebagai hadiah untuk tuan rumah, Sang kepala suku dan anaknya. Sebungkus nasi, dua potong ikan goreng, sambal botol dan empat sachet kopi instan. Saat melihat hadiah Dariel, Kepala suku dan keluarga yang ikut makan bersama saling bertukar pandang kebingungan. Dariel menjelaskannya dengan dialeg mereka sendiri. Saat mereka merasai makanan itu, mereka tertawa kegirangan. Makanan yang aneh namun enak dilidah mereka. Mereka juga terheran dengan kopi yang baru diseduh. Minuman hitam pekat namun menguarkan bau harum dan manis rasanya. Ada canda tawa di tengah acara makan siang.


Berbeda yang dirasakan anggota rombongan team Dariel. Makanan yang disajikan suku Asmat sangat aneh dan rasanya hambar. Mungkin mereka belum mengenal garam. Terpaksa mereka makan cepat - cepat agar segera masuk ke perut. Sama sekali belum bisa mereka nikmati. Terlebih Dariel saat disodorkan kepadanya ulat sagu hidup dan masih bergerak - gerak. Geli melihatnya. Namun sekali lagi untuk kesopanan ia terima dan coba dimakannya. Ternyata rasanya manis dan creamy. Membuatnya penasaran dan mengambil satu lagi untuknya.


Sang kepala suku mengutarakan isi hatinya. Ia memperbolehkan orang - orang mengambil emas, asalkan tidak mengusik kehidupan suku asli.


Sebagai imbalannya, mereka minta dibuatkan bambu air. Dariel yang menerjemahkan itu kepada teman - temannya juga bingung. Baru setelah ia dengar cerita dari anak kepala suku, ia baru mengerti. Rupanya saat si pemuda Asmat dan teman - temannya berburu, tidak sengaja mereka berjalan sampai dekat proyek. Mereka heran saat melihat ada batang kayu setiap kali di sentuh orang langsung keluar air jernih. Sampai saat ada kesempatan mereka mencoba minum air itu rasanya manis dan segar. Air tawar bersih yang sangat sulit mereka dapatkan. Karena sebagian besar sumber air adalah rawa bergambut ataupun sungai berair kuning. Air hujan yang mereka tampung sangat berharga, hanya digunakan untuk ritual acara penting.


Rahmadi menyanggupinya, karena sangat mudah membuat sumur bor dengan pompa mekanik. Namun mengingat tempat suku Asmat ini berada dialiran sungai perlu dibuatkan filter air bersih. Cukup murah dibandingkan hasil yang akan segera mereka dapatkan dari tambang emas.


Acara makan diakhiri. Sang ketua suku menyuruh empat orang untuk menyertai perjalanan rombongan Dariel. Mereka ditugaskan menunjukkan kaki gunung Kwoka yang mereka yakini mengandung banyak emas. Juga letaknya lebih dekat dengan proyek tambang pertama dan cukup jauh dengan perkampungan suku Asmat.

__ADS_1


Mereka segera berangkat, karena hari sudah mulai sore.


__ADS_2