
Kayra mengepalkan tangannya.
"Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah mau menikah dengan Mu. pangeran kecil tak tahu diri. Sekalipun aku mati, aku akan menitis dan membalaskan dendam keluarga ku padamu!" Kayra berteriak putus asa.
"Roro Jonggrang, Kau sudah sangat mengecewakanku. Ku kutuk Kau jadi
batu." pangeran Bondowoso menggumamkan mantra kutukan. Seketika tubuh Kayra membeku. Sukmanya terhempas keluar dari raganya yang membatu. Melesat cepat seperti anak panah dilepaskan dari busurnya.
"Aaaaaaaaaa.............."
Teriakan Kayra membuat ruang ICU tempat ia dirawat seketika porak - poranda. Semua alat - alat medis beterbangan seperti kena ****** beliung. Seketika Kayra tersadar, ia merasakan rasa sakit yang teramat sangat menikam sekujur tubuhnya. Sekali lagi ia berteriak. Semua selang - selang yang tertancap di tubuhnya ia lepaskan dengan sekali hentakan juga semua perban yang menutupi tubuhnya luruh seketika. Secara menakjubkan tubuhnya yang luka - luka ber regenerasi dengan sangat cepat. Tulang - tulangnya yang patah dan remuk tersambung dengan sempurna, luka - luka terbuka menutup dan kulit yang terkelupas pulih seperti sedia kala.
Kemarahan Roro Jonggrang menguasai hatinya. Rasa kebencian membara dalam dadanya dan ingin ia lampiaskan pada semua benda di sekelilingnya atau apapun yang akan ia jumpai. Namun tiba - tiba saja sepasang tangan kuat memeluknya, menyeretnya melewati dimensi ruang dan waktu.
Diluar ruangan ICU tempat Kayra dirawat ada beberapa body guard yang menyamar, juga perawat yang sedang piket. Mereka mendengar keributan berasal dari kamar rawat Kayra. Mereka segera berlari dan alangkah terkejutnya saat melihat kekacauan yang terjadi.
"Apa yang terjadi? dimana pasien?"
Mereka kebingungan dan mencoba memeriksa ke beberapa tempat. Mungkinkah ada yang menculik pasien? Salah satu body guard segera berlari menuju ruang pengawas untuk memeriksa cctv. Sementara dua orang lainnya terus memeriksa lorong juga ruangan - ruangan dekat ruang ICU tempat Kayra dirawat Hasilnya nihil, tidak diketemukan petunjuk apapun. Bahkan dari CCTV tidak diketemukan petunjuk apa - apa, karena seketika CCTV mengalami gangguan.
Hari sudah cukup larut kepala body guard segera menghubungi tuannya.
"Selamat malam tuan, ada kekacauan terjadi di ruang ICU dan tiba - tiba non Kayra menghilang." Lapor sang kepala body guard.
"Ya saya kesana." jawab Sang Tuan.
Kepala body guard setelah menghubungi bosnya, segera memanggil teman - temannya dan menginstruksikan perintah. Mereka kembali menyisir semua ruangan dan lorong Rumah sakit bahkan sampai ke parkiran. Namun tetap nihil, tak ada hasilnya.
__ADS_1
Setengah jam kemudian Erlangga dan Dio sampai di rumah sakit. Mereka segera berjalan menuju ruang ICU tempat Kaira dirawat. Saat kepala body guard melihat mereka, ia segera berlari tergopoh-gopoh menyongsongnya. Kepala body guard memberi laporan dan membukakan pintu ruang ICU.
Erlangga dan Dio sangat terkejut melihat kekacauan yang terjadi. Semua peralatan medis berserakan seakan baru tertimpa angin ribut. Terlihat perban yang berserakan disekitar ranjang. Juga Darah dan infus menetes meninggalkan jejak yang mengerikan. Tidak ada jejak kaki yang tertinggal. Erlangga terdiam sebentar, ia menggeleng - gelengkan kepala tidak bisa berfikir. Erlangga menarik nafas dalam - dalam sebelum membuat keputusan.
"Dio tolong urus semua kekacauan ini. Pastikan semua yang mengetahui masalah ini tutup mulut dan jangan lupa beri tahu keluarga Kayra kalau dia dipindahkan mendadak ke Singapura atas perintah direktur rumah sakit." kata Erlangga datar.
"Untuk body guard yang tidak bisa menjalankan tugas dengan baik, beri pelajaran supaya mereka tidak berani mengulangi kecerobohannya." Erlangga memberi tekanan pada setiap kata - katanya menunjukkan kemarahan yang meluap.
"Baik Tuan." jawab Dio sambil menganggukkan kepalanya.
Erlangga segera melangkah menuju ruangan pribadinya. Ia benar - benar kalut, pikirannya seperti benang kusut. Ia sama sekali tidak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi? Sambil menikmati kopi pahit, ia mencoba membuka logika. Kalau Kayra diculik tidak mungkin lolos dari pengawasan anak buahnya. Hal yang paling mungkin, Kayra menghilang. Ya bukan menghilang dalam arti kiasan tapi menghilang secara harfiah. Tubuh Kayra menghilang dan mungkin akan muncul di suatu tempat seperti pesulap. Sekali lagi Erlangga hanya geleng - geleng kepala karena mana ada magis di dunia nyata. Ia kembali pada pemikiran awal, penculik nya sangat pandai. Tapi cepat atau lambat ia pasti bisa mengungkap nya. Erlangga segera menyeruput habis kopi pahitnya.
Sementara Dio memberi perintah kepada anak buahnya untuk segera membersihkan ruangan Kayra. Mereka bekerja dengan cekatan hingga tidak sampai lima belas menit sudah selesai dan rapi.
Saat pembersihan selesai datang seorang wanita paruh baya yang segera menengok kearah ruangan Kayra. Ruangannya kosong? Ia terkejut dan spontan menangis keras. Memancing perhatian Dio yang segera menghampirinya. Ia mengenali wanita itu sebagai pembantu Kayra.
"Non Kayra.... mana Non Kayra? hiks.... hiks... hikss..." Bik Kayra menangis tersedu - sedu ia membayangkan hal buruk telah terjadi pada Kayra. Hatinya sangat sesak. Ia takut kehilangan Kayra. Ia tidak rela.
"Oh... non Kayra? Tenang Bik, Non Kayra baik - baik saja. Maaf saya belum sempat mengabari keluarga Non Kayra. Sejam lalu non Kayra di terbangkan ke Singapura untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif." Kata Dio berbohong.
"Kenapa Rumah sakit membuat keputusan tanpa sepengetahuan keluarga?" Tanya bik Sari meragukan jawaban Dio.
"Ini sesuai dengan permintaan ibu pasien untuk memberikan penanganan juga dokter terbaik." Jawab Dio sedikit jengkel.
"Rumah sakit apa di Singapura? Supaya saya bisa menyampaikan kepada nyonya." Tanya bik Sari mencoba mengorek informasi.
"Kami sudah memberitahukannya kepada ibu pasien. Lebih baik ibu segera pulang, hari masih terlalu pagi." Dio berusaha mengusir bik Sari dengan halus.
__ADS_1
Perasaan bik Sari masih tidak enak, entahlah ia merasa pemuda di depannya sepertinya tidak jujur padanya. Bik Sari segera menelephon Neta majikannya. Setelah beberapa lama berdering akhirnya, telephonnya diangkat juga.
Neta diseberang menjawab dengan malas - malasan.
"Ada apa bik? mengganggu orang tidur saja."
"Nyonya, non Kayra dipindahkan ke Singapura."
"Ya, mereka sudah kasih tahu. Ada yang lain?" Tanya Neta dengan menahan kantuk.
"Tidak nyonya, itu saja."
Neta segera mengakhiri panggilan dan kembali tidur. Hari ini sangat melelahkan. Tengah malam pesta ulang tahun Cerry baru selesai. Saat mulai terlelap ada panggilan dari rumah sakit. Dan sekali lagi dapat gangguan dari telephon bik Sari. Benar - benar mengganggu. Ia mematikan telephon dan segera kembali tidur.
Sementara bik Sari mengambil nafas dalam dan menghembuskannya kuat - kuat. Ya, hanya dia yang khawatir. Ia menggumam, ibu tiri memang kejam tidak peduli sedikitpun dengan keadaan non Kayra. Bik Sari pun melangkah pergi, ia sedikit lega. Ada harapan Kayra akan mendapatkan perawatan terbaik di luar negeri. Ia sangat menantikan kesembuhan Kayra, kembali berkumpul bersamanya untuk bahagia selamanya. Bik Sari menemui mang Ujang yang masih setia menunggunya di parkiran. Mereka kembali pulang ke rumah dengan harapan baru untuk kesembuhan Kayra.
***
Dio segera mengumpulkan perawat dan dokter yang menangani Kayra. Ia harus menuntaskan pekerjaannya sebelum pagi tiba.
***
Setelah sadar dan sembuh dari luka - luka bekas kecelakaan. Hati Kayra membara dengan kemarahan dan keinginan untuk balas dendam pada Pangeran Bondowoso atau titisannya. Ia ingin melampiaskan kemarahannya dengan menghancurkan apapun yang ada di dekatnya. Namun mendadak ada tangan kuat yang menyeretnya melewati dimensi ruang dan waktu.
"Aaaaaaa......."
Kayra tiba - tiba sudah berada di sebuah gua.
__ADS_1