
"Brakkk" Suara gebrakan pintu menyambut kedatangan Dariel dan Kayra di ruang santai.
Mereka spontan melihat pintu yang di dobrak paksa. Dari balik pintu muncul wajah- wajah penuh kepanikan. Erlangga, ibu Neta, Bik Sari dan mang Ujang.
Kayra dan Dariel tercengang. "Ada apa?" Desah Kayra tidak mengerti.
"Ra... kalian ada apa? Kenapa membuat kami sangat kuatir?" Ibu Neta menghambur memeluk Kayra.
"Kenapa kamu berdarah? Apa yang terjadi Ra... katakan pada ibu!" Neta terkejut melihat tangan Kayra berdarah, juga ada tetesan darah dilantai. Baik Dariel dan Kayra tercenung. Itu darah Dariel, bagaimana ia bisa menjelaskan pada keluarganya?
"Ehm... maaf kan Rara telah membuat kalian kawatir. Sebenar nya... Rara datang bulan. Dan itu darah Rara." Rara menunduk, ia takut ketahuan berbohong. Dariel di dekatnya langsung memeluk Kayra.
"Maafkan kami telah membuat kalian kawatir," Dariel mengungkapkan permintaan maaf nya.
"Oh..." Jawab mereka serempak. Mereka berpandang- pandangan memakhlumi keadaan Kayra.
Tiba- tiba ponsel Erlangga bergetar. Ia pun langsung mengangkat panggilan itu dengan raut muka tegang. Membuat orang- orang diruangan itu terdiam, memberikan ruang agar Erlangga dapat menerima telephon dengan tenang.
Erlangga menerima telephon dari Rumah Sakit milik nya, Rumah Sakit Melati.
"Hallo"
"Ya... apa..." (Raut wajah Erlangga yang tegang berubah bahagia)
"Jadi... aku sudah jadi Kakek... Oh... Trimakasih Tuhan. Ya... baik, aku akan segera kesana!" Erlangga menutup telephonnya.
"Aku... sudah jadi kakek, Keke sudah melahirkan dengan selamat." Kata Erlangga mengulangi info yang baru diterimanya.
Semua orang tersenyum lega. Ikut merasakan kebahagiaan yang dirasa Erlangga.
"Selamat ya Besan... selamat atas kelahiran cucu nya." Neta berinisiatif memberikan selamat kepada Erlangga. Dan segera diikuti yang lain. Kebahagian meliputi semua orang.
"Saya akan ke rumah sakit melihat cucu ku. Apakah tidak apa- apa kalau saya tinggalkan pesta?" Tanya Erlangga minta persetujuan Neta.
__ADS_1
"Oh.. tidak apa- apa besan, kami akan menghendel acara ini sampai selesai." Jawab Neta menghapus kekawatiran Erlangga. Sehingga Erlangga bisa pergi ke rumah sakit tanpa rasa bersalah.
"Dariel... sebaiknya segera bawa Kayra pulang. Biar ibu yang menghendel pesta ini." Kata Neta sungguh- sungguh.
"Baik Bu... maaf, kami pulang dulu." Kata Dariel berpamitan. Mereka pun berpisah. Neta, bik Sari dan mang Ujang bertahan di ruang pesta. Sementara Dariel dan Kayra pulang kerumah diantarkan limusin keluarganya.
"Ra... terimakasih atas bantuan mu ya..." Kata Dariel di tengah perjalanan.
"Tidak Riel... kak Keke juga kakak ku. Kamu tidak berhutang apa pun pada ku." Kata Kayra sambil menyentuhkan jari- jari lentik nya di pergelangan tangan Dariel.
"I love you Ra..." Kata Dariel seraya mendekatkan bibir nya pada bibir tipis Kayra. Hampir saja bibir Dariel menyentuh bibir Kayra. Namun segera dihenti kannya.
"Kenapa Ra...?" Tanya Dariel protes.
"Riel... ada yang tidak beres. Sepertinya kamu sakit. Lihat lah jari- jari mu bergetar!" Kata Kayra saat melihat Dariel tremor, juga wajah Dariel memucat.
"Mungkin karena bertelephortasi membawa mobil ambulan. Membuat tenaga ku terkuras habis." Kata Dariel.
"Ra... aku ingin disembuhkan dengan cara spesial." Kata Dariel genit.
"Kamu bisa menyembuhkan ku dengan ciuman bukan?" Tanya Dariel menggoda Kayra. Membuat pipi Kayra merona tersipu.
"Mana bisa seperti itu? Selama ini aku harus menyentuh lukanya baru bisa menyembuhkan nya." Jawab Kayra ragu.
"Cinta tidak akan pernah tahu, sampai mencoba nya. Bagaimana?" Goda Dariel. Ia tidak menyia- nyia kan waktu. Saat Kayra terbengong mencoba memikirkan ide suaminya. Serta merta Dariel menyambar bibir nya dan mengecapnya. Menikmati kelembutan bibir tipis Kayra.
Kayra tidak menolak, ia pun membalas ******* bibir Dariel. Sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta itu. Saling menyalurkan hasrat nya pada pasangan nya. Tanpa terasa mereka telah sampai di rumah besar Erlangga.
Saat kaca pintu mobil diketuk, mereka serta merta menghentikan kegiatannya. Kayra tergesa merapikan gaun dan rambut nya yang berantakan karena ulah Dariel.
"Tuan, Nyonya, kita sudah sampai." Sambut sang sopir saat Dariel membuka pintu mobil. Dariel hanya tersenyum masam. Kegiatan nya dengan Kayra belum klimaks, tapi kenapa cepat sekali mereka sampai rumah? Rasa nya nanggung banget. Membuat Dariel tidak nyaman.
Sementara Kayra tersenyum malu. Bisa- bisa nya mereka hampir melakukan hubungan suami istri di atas mobil yang sedang berjalan? Memikirkannya saja membuat Kayra malu sendiri.
__ADS_1
Pasangan suami istri baru itu, berpegangan tangan masuk ke dalam rumah. Baru saja mereka masuk ke kamar, Dariel langsung membaringkan Kayra ke ranjang. Seakan membalas dendam, dengan menggebu ia menindih Kayra.
Dariel dan Kayra terbaring lemas, setelah menguras energi beberapa lama. Mereka telah mendaki puncak kenikmatan bersama- sama. Kayra menyembunyikan tubuh polosnya di balik selimut. Dariel pun mengikutinya. Mereka saling berpelukan menyalurkan rasa cinta yang tak pernah ada habisnya diantara mereka.
"Ra... besok pagi kita menikmati matahari terbit dari atas menara Eifel ya?" Tanya Dariel berbisik di telinga Kayra.
"Hmmm..." Kayra hanya mendehem, ia sudah terbuai oleh mimpi. Setelah kelelahan meladeni Dariel.
***
Sementara di rumah sakit, Raka sedang menimang bayi nya. Air mata mengalir deras dari kedua matanya. Erlangga juga ikutan menangis bahagia.
"Raka... selamat ya nak... kamu sudah jadi seorang ayah. Jadi lah papa yang baik. Didik lah putra mu seperti papa mendidik mu. Jangan pernah memukul nya. Karena pukulan hanya akan membuatnya jadi pemberontak." Nasehat Erlangga pada Raka.
"Iya pa... aku akan mendidik nya dengan baik. Seperti papa telah mendidik kami." Jawab Raka. Sembari menyerahkan bayi nya untuk digendong Erlangga. Ia memberikan kesempatan untuk papa nya bisa menggendong cucu untuk pertama kali nya.
Wajah Erlangga seketika berbinar bahagia. Ia sangat bahagia, melihat bayi mungil dalam gendongan nya. Ada sedikit rasa sedih yang menyeruak. Seandainya Jasmin istrinya masih hidup. Pasti ia juga akan sangat bahagia sepertinya.
Dalam hati Erlangga berbisik. "Jasmin... lihat lah cucu pertama kita, apakah engkau bahagia di surga sana melihat cucu mu ini?"
Bayi kecil dalam gendongan Erlangga menggeliat. Bibir nya tersenyum, seakan tahu apa yang dikatakan kakek nya dalam hati.
Erlangga dan Raka yang melihat peristiwa itu ikut tertawa. Bersamaan mereka berseru. "Bayi Miracle" Kata Erlangga dan Raka berbarengan.
"Ya... pa... aku akan kasih nama dia Miracle. Kelahiran nya sebuah keajaiban." Kata Raka tergugu dengan keharuan yang membuncah dalam dada nya. Erlangga hanya tersenyum karena ia belum tahu cerita perjalanan Raka membawa istrinya ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan istrimu?" Tanya Erlangga mencoba mengalihkan perasaan Raka yang dilihatnya sangat melankolis.
Tak disangka, Raka semakin mengeraskan tangisnya. Melihat keadaan Raka yang labil, membuat Erlangga diliputi rasa cemas. Apakah telah terjadi sesuatu pada Keke? Mengapa tadi pihak rumah sakit tidak mengatakan nya. Informasi yang diterima tadi Keke juga bayi nya sehat dan selamat. Apakah Raka yang menutupi kenyataan yang sebenarnya?
Erlangga menyerahkan bayi Miracle kepada perawat yang sedari tadi bersiaga di dekat mereka. Ia segera mengajak Raka keluar dari ruangan bayi.
"Raka... katakan. Apa yang sebenarnya terjadi? Jangan tutupi dari papa mu ini. Percayalah, papa tidak akan apa- apa. Katakan saja supaya lebih ringan beban mu." Kata Erlangga mengantisipasi pada apa pun berita yang akan di dengarnya.
__ADS_1
Raka tertawa sambil menghapus air mata dan ingus nya dengan ujung lengan baju nya.
"Keke sangat baik Pa... sangat baik, ia sehat, ia selamat. Bahkan ia melahirkan anaknya normal tanpa operasi." Jawaban Raka semakin membuat Erlangga bingung. Kalau Keke baik- baik saja kenapa Raka terlihat seperti orang yang tergoncang setelah kehilangan orang yang disayanginya? Apakah Raka terganggu mentalnya?