Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Pindah


__ADS_3

Dua hari ini ibu Neta di rawat di rumah sakit. Pagi tadi dokter mengatakan kalau keadaan ibunya sudah sangat baik, hanya menunggu lukanya kering. Perawatan bisa dilakukan dirumah. Sehingga tidak masalah kalau ibu Neta siang ini di bawa pulang.


Selama dua hari ini, Kayra tetap setia menemani ibunya di rumah sakit. Dia benar- benar menunjukkan bakti pada ibu kandung nya. Kayra tidak membiarkan Neta mengalami kesulitan sedikit pun. Seperti saat Neta ke kamar mandi, ia dengan sigap membantu ibunya.


"Bu... gimana, Ibu sudah tidak apa- apa kalau hari ini kita pulang?" Tanya Kayra memastikan keadaan ibunya.


Neta tersenyum, "Aku sudah lebih baik. Luka di dada ibu juga sudah tidak terlalu sakit. Ra... ibu minta satu hal apakah boleh?" Tanya Neta sedikit ragu.


"Ada apa Bu? Permintaan ibu pasti ku kabulkan." Kata Kayra mantap.


"Ra... kita pindah saja ya dari rumah besar." Kata Neta langsung.


"Banyak kenangan buruk dan masa kelam ibu di sana. Ibu ingin membuka lembaran baru. Kita mulai dari awal ya." Neta mengutarakan alasan kepindahannya.


Sesaat Kayra bimbang, rumah besar itu mempunyai banyak kenangan bersama ayahnya. Namun di sisi lain. Kayra ingin berbakti pada ibunya.


"Bu... kemana pun ibu akan pindah. Aku pasti ikut serta. Tapi kalau boleh. Rumah besar jangan di jual ya Bu."


Kayra merasa ikatannya dengan rumah besar sangat kuat. Memori indah bersama ayahnya tidak ingin di buang nya. Rumah besar yang selama ini mereka tinggali adalah saksi bisu kasih sayang nya dengan sang Ayah. Kayra tidak mungkin membiarkan kenangan mereka terhapus dari kehidupannya. Setidaknya biarlah rumah besar itu tetap tegak berdiri. Menjadi monumen bagi dirinya untuk bisa selalu mrngenang ayah yang sangat dicintainya.


"Iya Ra... ibu tidak akan menjual rumah itu. Ibu tahu banyak kenangan mu bersama ayah mu di sana. Kita suruh beberapa orang untuk merawat rumah itu. Jadi kamu bisa mengunjungi rumah besar itu kapan pun kamu mau."


Kata- kata Ibu Neta sangat menggembirakan hati Kayra. Kayra segera memeluk dan menciumi ibunya.


"Trimakasih Bu. Aku mencinta ibu sama besar dengan kasih ku pada ayah."

__ADS_1


"Iya Ra.. ibu juga harus berterimakasih pada mu. Perhatian mu pada ibu juga bagaimana kamu merawat ibu dengan sangat baik. Itu semua mempercepat kesembuhanku." Kata ibu Neta sembari mengelus rambut Kayra.


"Siang ini kita langsung ke rumah baru. Semua sudah disiapkan pak Anas di sana. Mang Ujang juga sudah kasih laporan kalau rumah baru itu sudah siap. Ibu sengaja memilih rumah baru dengan lokasi dekat kampus mu nanti. Jadi kamu tidak perlu jauh- jauh ke kampus nantinya." Jelas Neta bersemangat.


"Iya kah Bu... apa rumah baru kita dekat Universitas Tunas Bangsa?" Kayra mencoba memastikan lagi.


"Iya. Kurang dari dua kilo meter." Kata Neta bangga. Sekali ini ia ingin membahagiakan anak gadis semata wayang nya.


"Ra... sebaiknya kamu cepat menikah dengan Dariel. Ibu melihat, Dariel anaknya sangat baik. Dia juga sangat mencintai mu. Pasti dia akan menjadi suami yang bertanggung jawab. Setidaknya kamu bakalan ada yang jaga."


Ada setitik air mata haru merebak di pelupuk mata ibu Neta.


"Ibu... aku tidak mau berpisah dengan mu. Ijinkan aku sedikit lebih lama tinggal bersama mu." Kayra sudah terbayang. Kalau ia menikah cepat, mau tidak mau ia pasti akan segera berpisah dengan ibunya.


"Semua anak pasti ada waktunya nanti, ia akan menikah dan meninggalkan orang tuanya. Begitupun kamu Ra... kamu gak perlu mengkawatirkan ibu mu ini. Ibu sudah pingin menimang cucu."


"Ayo kita bersiap- siap. Sejam lagi mang Ujang akan menjemput kita."


Kata Neta mengingatkan Kayra. Kayra segera bersiap dan mengumpulkan barang- barang perlengkapan ibu Neta. Di masukkannya semua barang- barang kedalam koper dan paper bag. Barang- barang nya tidak terlalu banyak, sehingga sebentar saja Kayra sudah menyelesaikannya. Kayra mendekati ibunya yang sedang duduk di sofa.


"Ibu... dua hari ini, aku belum melihat Cerry. Ibu sudah menghubunginya kalau kita hari ini pindah?" Tanya Kayra.


"Ya aku sudah menelephonnya tadi pagi. Mungkin sebentar lagi ia akan datang." Jawab Neta menenangkan Kayra.


"Apakah Cerry tidak keberatan ibu ajak pindah?" Kembali Kayra mengeluarkan segala kekawatirannya.

__ADS_1


"Aku tidak mau pindah kemana pun. Biarkan aku tetap menempati rumah besar!"


Tiba- tiba Cerry sudah muncul dihadapan mereka.


"Ayolah Cerry, apa tidak sebaiknya kita tinggal serumah saja." Kayra mencoba membuat Cerry mengubah keputusannya. Cerry sedikit pun tidak menanggapi ajakan Kayra.


Neta juga mencoba memberi pengertian kepadanya. "Cerry maafkan mama ya... kalau ada salah. Atau mungkin mama telah membuat mu kecewa. Mama sangat menyayangi mu. Mama ingin kita tinggal serumah untuk saling menjaga."


Namun sepertinya Cerry sudah bulat dengan keputusannya. "Tidak, kalau aku sudah memutuskan aku tidak akan mengubahnya" Kata Cerry ketus. Ada luapan kekecewaan di nada suara Cerry.


Kayra dan Neta terdiam. Mereka berharap, pada waktu nya nanti Cerry akan berubah pikiran dan mau bersama- sama dengan mereka kembali.


Terdengar ketukan pintu. Mang Ujang muncul dari balik daun pintu. Mang Ujang segera membawakan koper Neta untuk di bawanya ke mobil. Sementara Neta, Kayra dan Cerry mengikutinya dari belakang.


Setibanya mereka di parkiran, Neta memeluk Cerry. Sepuluh tahun kebersamaan mereka dan sekarang mereka harus berpisah karena keras hatinya Cerry. Sebenarnya berat bagi Neta, namun ia sadar kalau Cerry sudah dewasa. Itulah sebab nya Neta memilih untuk memberikan kebebasan pada Cerry anak angkatnya. Pertimbangan lainnya, ia juga ingin menikmati sedikit waktu kebersamaan nya dengan Kayra anak kandungnya sendiri. Sebelum Kayra menikah nanti.


"Cerry, mama menantikan mu di rumah ya sayang. Kamu tetap anak mama, selama- lama nya kamu tetap kesayangan ku." Diikuti kecupan lembut dikening Cerry. Cerry sekarang yakin, kalau wanita di depannya ini benar- benar Neta mama angkatnya. Sekalipun wajah mereka sama sekali berbeda namun kasih sayang yang diberikan mama Netanya saat ini tetap sama. Cerry tersentuh hatinya.


"Iya ma... kalau aku kangen nanti, aku pasti datang ke rumah menemui mama." Kata Cerry menghibur Neta. Mereka pun berpisah. Kayra dan Neta naik mobil mang Ujang. Sementara Cerry pulang ke rumah besar dengan mobilnya sendiri.


Setelah setengah jam dalam perjalanan, akhirnya mobil mereka sampai di sebuah rumah minimalis. Halaman rumah cukup luas dengan taman hijau asri. Meskipun rumah dua lantai itu tidak terlalu besar namun tetap bisa di sejajarkan dengan rumah mewah. Terlihat struktur bagunan cukup kokoh dan keberadaan dinding kaca bening yang mendominasi membuat rumah terlihat modern minimalis. Kayra segera turun dari mobil untuk mengagumi keindahan rumah barunya.


Pertama kalinya Kayra memandang rumah baru mereka, seketika ia dibuat jatuh cinta. Ia sudah membayangkan berada di kamarnya sendiri di lantai dua. Ia akan menyempatkan diri untuk setiap sore akan bersantai di balkon sambil membaca novel vaforitnya. Juga di temani segarnya segelas jus apel. Sambil menikmati indah nya matahari senja. Kayra tersenyum membayangkan semuanya itu.


Saat matanya menjelajah mengamati balkon terbuka di lantai dua, Kayra mulai memikirkan untuk menanam beberapa tanaman gantung disana, agar balkon tidak kelihatan gersang dan monoton. Tiba- tiba pandangan matanya bersirobok dengan sepasang mata yang mengintip dari celah horden di salah satu ruangan lantai dua.

__ADS_1


Kayra semakin penasaran. "Milik siapa sepasang mata itu?" gumam Kayra lirih.


__ADS_2